+ -

Pages

Senin, 30 Januari 2017

tentang Hari ini

alhamdulillah..

setelah menunggu selama kurang lebih 7 tahun, akhirnya misi di Jogja bisa terselesaikan.  Terimakasih untuk siapapun yang mendoakan saya hingga sampai di bagian akhir perjalanan sementara ini.

Iya sementara, barusan saya baru ujian tertutup, yang cukup membuat saya kliyengan dikeroyok selama tiga jam oleh sembilan orang penguji yang benar-benar ahli di bidangnya.  Sementara saya yang statusnya masih santri hanya bisa terkagum-kagum bahkan saat menyimak semua pertanyaan-pertanyaan mereka.

Jadi meskipun sudah dinyatakan resmi.. ehm.. masih banyak masukan-masukan yang harus saya perhatikan untuk perbaikan sebelum nanti kembali mempresentasikannya di ujian terbuka, yang yaa mudah-mudahan dalam waktu kurang lebih satu bulan ini bisa kelar.  Doain (lagi) ya!

Pesan promotor utama saya yang saya inget barusan justru di bagian: kamu istirahat dulu dua hari, hari ketiga langsung garap perbaikan, secepatnya!  

Keren sekali kan pesan beliau.

Jadinya kan dua hari ini saya harus patuh dengan petuah beliau.  Serial Goblin sudah menanti untuk dilanjutkan ditonton, kebetulan sekali #lho

Eniwei, beruntung sekali saya bisa sekolah di tempat keren ini, lebih keren lagi karena diberikan jalan untuk menyelesaikannya, ketemu rekan-rekan seperjuangan yang mendukung & memberikan semangat, ketemu banyak orang pinter, ketemu guru-guru yang hebat, dan yang jelas perjalanan panjang ini banyak membukakan mata & hati saya akan banyak hal.


Mungkin demikian dulu. Sekali lagi, terimakasih untuk siapapun, untuk apapun, yang telah membantu perjalanan saya selama ini.  Maturnuwun.


p.s.
Tuhan, gaya becandamu seringkali tak saya mengerti, sungguh..
5 blog auk: Januari 2017 alhamdulillah.. setelah menunggu selama kurang lebih 7 tahun, akhirnya misi di Jogja bisa terselesaikan.  Terimakasih untuk siapapun yang ...

Minggu, 29 Januari 2017

tentang H-1 Redemption

Tak terasa tengah mala sudah lewat, sudah menjelang jam dua dinihari disini, hujan sudah lama berhenti, itu artinya hari ini resmi hari minggu. 

Artinya sehari lagi adalah senin, yang mana jam delapan paginya adalah waktunya melakukan tanya jawab, yang mana saya sama sekali tak mau membayangkan prosesnya saat ini, sama sekali tak berminat.  Biarlah waktu menjawabnya #halagh

Alih-alih stress, seperti tuduhan beberapa rekan kuliah yang bilang saya ga bisa tidur nyenyak dan ga enak makan. Nyatanya saya tidur masih tak tau diri dan makan juga alhamdulillah lumayan, malah laper lagi sekarang.  Saya bilang bahwa titik stress saya mungkin sudah terlewati, sampai-sampai saya sudah seperti mati rasa haha absurd.  Temen-temen asrama lebih-lebih seperti bingung melihat saya yang seperti begitu santai saja.  Lah, trus saya harus gimana?

Yang menjadi perhatian saya sekarang ini justru smoga saya inget untuk menyetrika kemeja putih, meminjam dasi dan membersihkan sepatu yang jarang terpakai itu.

Lalu, sekarang saya malah teringat akan salah satu film favorit saya dan orang-orang : shawshank redemption, tentang seorang pegawai bank yang dituduh membunuh lalu dipenjara bertahun-tahun hingga memutuskan untuk kabur dengan cara yang sangat jenius.

Cerita-cerita pelarian orang jenius dari penjara selalu menarik perhatian saya, seperti juga serial Prison Break yang keren itu.  Semua punya kesamaan: kesabaran, rencana, keberanian, bantuan teman dan berada dalam tekanan ditambah dengan keberuntungan.  Kombinasi yang keren menuju kebebasan.

Sementara saya sekarang? cuma bermodalkan bantuan teman, berada dalam tekanan, berusaha sabar namun sama sekali tak punya rencana apa-apa saat ini dan berusaha berani untuk melewatinya dengan tetap mengandalkan keberuntungan.  Ya mirip-mirip dikit lah.

Sudahlah, mari bersiap menghadapi hari senin, postingan ini distop sampai sini dulu deh, ntar lama-lama makin keliatan ngaconya.
5 blog auk: Januari 2017 Tak terasa tengah mala sudah lewat, sudah menjelang jam dua dinihari disini, hujan sudah lama berhenti, itu artinya hari ini resmi hari ming...

Sabtu, 28 Januari 2017

tentang H-2 Moana, Angkringan dan Rindu

my island is dying
- moana

di postingan saya sebelumnya, saya sudah bilang kalo saya seringkali mikir sendiri, atau istilah kekiniannya: baper, jika nonton film yang berlatar hutan dan semacamnya, eh ternyata saya menemukan hal itu lagi di film Moana.

Mari saya ceritakan hal-hal random setelah nonton film apik itu:

Saya membayangkannya terlalu jauh, kepikiran bumi yang sekarat dan marah karena kenyamanannya terusik, lalu marah, lalu bikin semuanya suram dan sekarat, sampai muncul pahlawan yang ditunggu: Moana dan Maui.

Kenapa harus dua orang? karena manusia tak bisa berjalan dan hidup sendiri, harus punya seseorang yang bisa mengingatkan dan membuat semangat untuk mencapai tujuan.  Saat seseorang yang diharapkan bisa memberi semangat itu pergi, dengan alasannya sendiri, akhirnya cuma bisa bengong di kapal yang dia di tempat.  Itu yang dirasa Moana saat ditinggalkan Maui yang merasa tak bisa membantu lagi saat senjatanya rusak dan tidak sakti lagi.

Untungnya ada neneknya yang kembali mengingatkan akan tujuannya semula, yang percaya akan tujuan kemampuannya.  Ayah Moana yang melarangnya pergi jauh juga ga salah juga sih, alasannya karena ingin dirinya aman, selain trauma masa lalunya juga.

Te Kā is actually Te Fiti without her heart, kata wikipedia. Jadi seseorang yang sebaik hati apapun, kalau sudah merasa hatinya hilang, bakal bisa ngamuk-ngamuk ga karuan.  Keren sekali kan kesimpulan saya?  Proses ngebalikin haii Te Fiti yang hilang itu yang menarik, harus mengarungi lautan, belajar mengendalikan perahu, belajar membaca arah lewat bintang.  Ah bagian membaca bintang ini malah mengingatkan saya pada Ikal yang belajar tentang navigasi dengan Weh di buku Edensor-nya Andrea Hirata.

Bagian yang tak saya mengerti tapi bikin saya terhibur adalah kehadiran ayam jantan yang aduh itu anehnya bukan kepalang, hobinya makan batu, dan mematuk-matuk tak tentu arah.  Tapi toh nyatanya ayam ajaib itu pula yang menyelamatkan hati Te Fiti saat nyaris jatuh ke laut.

Film ini lagi-lagi mengajarkan untuk mengenali diri sendiri, itu kalau tidak salah saat neneknya Moana menunjukan lagi tujuannya semula, mengingatkan kembali jatidirinya, pokoknya begitu deh.

Oiya, kalo tidak salah saat nonton film ini, di menit 50-an gitu, tetangga saya ngajak sepedaan ke angkringan yang non mainstream, menurut saya.  Karena waktu bukanya justru saat pagi sampai siang, lha biasanya kan angkringan kui bukanya sore sampai malam.  Tadi cuma makan nasi kucing, plus semacam potongan bakwan, lalu tahu bacem, sate telor puyuh dan kue singkong yang manis, tambah minum coklat hangat, lho kok banyak.  Itu juga makan berdua teman dengan menu yang kurang lebih sama, berdua cuma habis Rp. 15.000,-.

Soal makanan ini, saya tiba teringat akan kejadian tadi malam, yang tiba-tiba lapar karena memang belum makan.  Saya malah kebayang makanan yang biasa saya makan kalau singgah di kota hujan itu.  Saya rindu makanan itu, rindu suasana makan yang nyaman di lantai dua rumah sepupu. Entah kapan saya kesitu lagi, menginap semalam dua malam, menikmati hujan yang sering datang lalu menyempatkan waktu berkeliling kebun raya, tempat yang tak pernah bosan-bosan saya kelilingi walau bikin pegel saking luasnya.

Kemudian, saat ini, tiba-tiba playlist di SMPlayer saya memutarkan lagu Anyer 10 Maret-nya Slank.  Lagu yang dulu sering saya puter saat rindu di kamar kos yang sempit seharga dua puluh ribu tanpa plafon tanpa jendela, belasan tahun yang lalu, saat jauh dari orang yang saya sayangi, tanpa henti, tanpa lelah.

Begitu saja, sementara di luar sekarang hari menjelang mendung lagi, dan saya masih belum bikin powerpoint untuk hari senin #lho

Sudahlah, kacau sekali postingan ini.
5 blog auk: Januari 2017 my island is dying - moana di postingan saya sebelumnya, saya sudah bilang kalo saya seringkali mikir sendiri, atau istilah kekiniannya...

Jumat, 27 Januari 2017

tentang h-3 ingatan-ingatan

saya menuliskan ini sehabis menonton episode terakhir dari Sherlock musim keempat.  Ada beberapa bagian yang menarik memang, tapi nyatanya saya tidak terlalu antusias.. Saya pikir paling nanti ada kelanjutannya lagi.  Tapi, paling tidak saya akhirnya jatuh cinta (lagi) pada tokoh kedua setelah Irene Adler : Eurus.

beberapa saat setelah menamatkannya, saya kembali terusik dengan berita kemari tentang diksar, pendidikan dasar mapala, atau kalau di mapala saya dulu disingkat latdas: pelatihan dasar.

saya bisa bilang panitia diksar yang berujung kematian kemarin itu..argh mau bilang goblok ya kesannya kok terlalu merendahkan, kaya saya ini pinter aja.. ya pokoknya begitu lah.  Saya beberapa kali mengalami urusan junior-senior gitu, fisik,  otak dan mental saya beberapa kali dihantam habis-habisan, dan memang perlu waktu untuk kembali pulih.  Tapi untungnya saya tak mengalami yang namanya kontak fisik.

Okelah dipaksa ini itu, dimarahi dengan mulut comberan para senior, disuruh push-up, menggulingkan badan sampai nyaris muntah, dan kerjaan fisik lainnya.  Tapi tak pernah senior saya sampai menghantam fisik secara langsung .

Senior-senior dimanapun, yang berpikir menghantam juniornya dengan tangannya, saya pikir pasti sedang mabok, kalo ngga bisa dibilang gila.  Demikianlah, begitu saja.  Kesel saya.  Beraninya sama orang yang diam tak melawan.  Coba ikut pertandingan karate aja gitu, biar sama-sama saling menghajar, sampai mati pun tak masalah.

Jadi keinget sesuatu, tiga hari lagi pun, saya bakal dihajar oleh senior-senior, ini lebih mengerikan, saya bakal dihajar secara ilmiah.  Hal yang sebenarnya sangat saya kuasai.  Untungnya ajangnya fair, lebih seperti pertandingan bela diri, saya diberi kesempatan untuk membela diri dan menyerang balik  Walau sepertinya kecil sekali kemungkinan itu terjadi. Gimana mau menyerang balik, saya ini ibarat prajurit kurang ilmu melawan pasukan jenderal yang sakti mandraguna.  Duh, gusti nu agung..

Sebenarnya saya sendiri tak suka konsep seniorijunior begitu.  Manusia pada dasarnya sama saja sih, cuma beda di ilmu dan pengalaman.  Udahlah, mari berangkat.

update:
Sesampai kampus, eh kok sepi, yaiyalah masih jam 7.  Mari kita coba iseng lakukan seperti apa yang pernah diposting oleh salah satu pengunjung blog ini: mb anggi, yaitu menuliskan 30 fakta tentang aku yang semoga saya bisa inget sebanyak itu.  Mari kita mulai..
  1. Tak begitu suka dengan pelajaran bahasa Indonesia sejak mendapatkan nilai D tak harus mengulang waktu kuliah dulu hanya gara-gara jawaban saya penuh coret-coret dan tak pake tip ex untuk memperbaikinya, padahal temen saya yang saya kasih contekan malah lulus, beh!
  2. Gara-gara nomor satu itu di atas, saya juga benci dengan tip ex.
  3. Suka penasaran dengan jenis minuman atau makanan yang belum pernah dicoba, sedikit aneh pun tak mengapa, misalnya pas nyoba belalang goreng, saya masih penasaran pengen nyicipin kalajengking goreng, tapi kan adanya cuma di China eh atau di Jepang ya mbuh, liat di tipi gitu.
  4. Kalau sudah nemu menu makanan enak (dan murah), saya bakal balik kesitu-situ lagi berkali-kali sampai bosen, tak ada batasan waktu untuk itu.
  5. Lebih milih tidur daripada makan disaat lapar tapi ngantuk.
  6. Pemarah yang bisa meledak sewaktu-waktu jika penyulutnya tepat.  Anger management saya parah memang.  Salah satu sifat diri sendiri yang tak disukai, sering bikin menyesal sendiri dan ingin dihilangkan.
  7. Tak pernah punya seorang sahabat.  Rasa-rasanya begitu. Kawan banya, kawan baik ada beberapa, tapi kalau seorang sahabat, rasanya belum pernah, definisi sahabat apa toh? #lah
  8. Tidak begitu suka dengan sepatu, lebih-lebih pantofel.  Saya lebih suka sandal gunung atau sendal jepit.  Pakai sepatu hanya gara-gara kepaksa saat kerja atau musti berhadapan dengan dosen, atau saat kadang-kadang harus pakai sepatu cleat saat bersepeda.  Sekarang pun saya pakai sendal gunung.
  9. Tidak tahan dingin, lebih-lebih dingin AC, naik kereta ekonomi saja skarang terasa begitu menyiksa karena ac-nya mesti disetel maksimal.  Naik bis juga sekarang saya hindari karena kadar ac-nya kadang biadab.
  10. Suka pilek saat bangun tidur, untunglah skarang bisa teratasi dengan rutin minum air jeruk nipis, walau akhir-akhir ini mulai males-malesan lagi bikinnya
  11. Masih tak bisa move on dari serial anak-anak mama alin-nya bubin LantanG, saya mungkin sudah baca ratusan kali buku-buku tipis itu.  Saya sampai-sampai punya masing-masing dua eksemplar untuk tiap bukunya. Satu set di Jogja, satu setnya lagi di rumah dan saya simpen di kotak khusus.
  12. Jarang sarapan, kecuali benar-benar dalam keadaan lapar atau pas malemnya males makan.  Ini kenapa kembali ke topik makanan.
  13. Pernah berantem tak sengaja dengan monyet waktu SD, dan saya menyerah kalah setelah mendapatkan gigitan di nadi tangan kanan dan kaki sebelah kiri, lukanya abadi sampai kini #halagh
  14. Akhir-akhir ini suka baper kalo nonton film yang alur ceritanya disangkutpautkan dengan hutan, misalnya Pete's Dragon dan Jungle Book.  

5 blog auk: Januari 2017 saya menuliskan ini sehabis menonton episode terakhir dari Sherlock musim keempat.  Ada beberapa bagian yang menarik memang, tapi nyatanya s...

Kamis, 26 Januari 2017

tentang H-4 Setelah Sherlock episode 1 musim keempat ..

..mikir tak begitu lama, akhirnya saya putuskan untuk menghentikan 'proyek ngomongin kegagalan diri sendiri' itu.  Sementara biar saya simpan untuk diri sendiri, lagian siapa yang peduli dengan kisah hidup saya sih haha

Saya sepagi tadi, bukannya mempersiapkan segalanya menuju empat hari ke depan, malah menyelesaikan episode pertama dari serial Sherlock musim keempat yang tertunda sejak kemarin.  Tetap saja saya puyeng dengan segala deduksi dan gaya becandaan mas Sherlock kui.  Sir Arthur Conan Doyle memang hebat.

Saya pikir tak ada yang perlu dibanggakan dari hidup ini, lebih-lebih dari kegagalan, btw saya pengen ngisi angket yang saya dapatkan dari blog mb lulu yang beberapa kali mampir ke blog ini, tapi ga janji saya bisa ngisi sejujur beliau haha.

Random sekali postingan kali ini, tapi inilah dia, aturannya katanya : Rules: Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with 100 Truths about you. At the end, choose 15 people to be tagged

Itu kan seharusnya, terserah yang ngisi sih dan saya juga ga bakal ngetag siapa-siapa, jadinya kaya fesbuk dah.  Jadi gini..

WHAT WAS YOUR:
1. Last beverage: tadi malem, nasi pecel pake lele, belum sarapan ini.
2. Last phone call: honey, istri saya
3. Last text message: Pesan WA ke pengelola kuliah, isinya "maturnuwun."
4. Last song you listened to: Grenade - Bruno Mars
5. Last time you cried: Err..kmaren dikit pas nonton Dear Zindagi hihihi

HAVE YOU EVER:
6. Dated someone twice: Kayaknya belum pernah.
7. Been cheated on: Pernah...
8. Kissed someone & regretted it: Ngga pernah, ngga pernah nyesel maksudnya.
9. Lost someone special : pernah..
10. Been depressed: pernah.
11. Been drunk and threw up: sedikit mabok pernah, sampe muntah belum

LIST THREE FAVORITE COLOURS: 
12. Hitam
13. Hijau
14. Biru

THIS YEAR HAVE YOU:
15. Made a new friend: Belum.
16. Fallen out of love: Ya.
17. Laughed until you cried: Belum, masih januari ini #lah.
18. Met someone who changed you: belum, belum pulang lagi euy.
19. Found out who your true friends were:  belum lagi...
20. Found out someone was talking about you: ngga, lah siapa saya...
21. Kissed anyone on your friend’s list : ngga.
22. How many people on your friends list do you know in real life: entahlah, ga pernah mikirin..
23. How many kids do you want to have: 4, dan sdh kesampaian :D
24. Do you have any pets: Ngga punya.. tapi banyak binatang liar di sekitar rumah, kobra aja ada :|
25. Do you want to change your name: kayaknya ngga.
26. What did you do for your last birthday:  tidur kayaknya, eh apa jalan2 ya, lupa euy.
27. What time did you wake up today: 4 subuh.
28. What were you doing at midnight last night: nonton Sherlock
29. Name something you CANNOT wait for: lulus kuliah & pindah rumah
30. Last time you saw your Mother: tiga bulan yang lalu kyknya :(
31. What is one thing you wish you could change about your life: belajar gitar lebih bagus.
32. What are you listening to right now: lagu terakhir- jingga.
33. Have you ever talked to a person named Tom: Ada, tom kucing di android anak2 yang suka latah itu,
34. What’s getting on your nerves right now: jadwal ujian....
35. Most visited webpage : blog saya inilah hehehe
36. Whats your real name : Rd. Sya'rani
37. Nicknames : abang, One, Rd, Edo, iwan, rapper, gubernur, Oji,
38. Relationship Status : Married with 3 sons and 1 daughter.
39. Zodiac sign : Libra
40. Male or female?: Male
41. Elementary? : SDN Sungai Lakum 2
42. Middle School? : SMP Negeri 13 Bjm
43. High school/college? : SPP Neg Plh/Forestry Univ Lambung Mangkurat
44. Hair colour: Hitam
45. Long or short : Pendek, tp rencana mau manjangin lagi
46. Height: 162 cm
47. Do you have a crush on someone? : Ya
48: What do you like about yourself? : Cuek sama hal2 ga penting.
49. Piercings : Nope
50. Tattoos : Nope
51. Righty or lefty : Kanan lah.

FIRSTS:
52. First surgery : Belum, ngga mau.
53. First piercing : ga ada
54. First best friend : Iris Jitni NP
55. First sport you joined : Senam kesegaran jasmani XD
56. First vacation : Pagatan
58. First pair of trainers : Apa ini?

RIGHT NOW:
59. Eating : Belum, baru makan keripik pisang.
60. Drinking : minum air jeruk nipis ahaha.
61. I’m about to : ke kampus.
62. Listening to : lagu Iwa K - bila kau ada di sini.
63. Waiting on : tgl 30, biar semuanya usai.

YOUR FUTURE:
64. Want kids? : Sudah punya.
65. Get Married? : Sudah.
66. Career? : pemilik warung onlen dan offlen.

WHICH IS BETTER:
67. Lips or eyes : Eyes
68. Hugs or kisses : Kisses haha.
69. Shorter or taller : Shorter...
70. Older or Younger : Older
71. Romantic or spontaneous : spontaneous
72. Nice stomach or nice arms : Stomach
73. Sensitive or loud : Loud
74. Hook-up or relationship : relationship
75. Trouble maker or hesitant : trouble maker

HAVE YOU EVER:
76. Kissed a stranger : No,
77. Drank hard liquor : Kayaknya pernah.
78. Lost glasses/contacts : sering.
79. Sex on first date : Ngga.
80. Broken someone’s heart : Ngga lah
82. Been arrested : Hoh, ngga, jangan sampe :|.
83. Turned someone down : Bisa jadi
84. Cried when someone died : Pernah
85. Fallen for a friend? : mungkin iya.

DO YOU BELIEVE IN:
86. Yourself : Seringkali ngga :|
87. Miracles : Yup.
88. Love at first sight : Percaya aja.
89. Heaven : Iya lah.
90. Santa Claus : Ngga.
91. Kissing on the first date : bisa jadi, kalo orang sih maksudnya.
92. Angels : Iya.

ANSWER TRUTHFULLY:
94. Had more than 1 girlfriend/boyfriend at a time : Ngga lah
95. Did you sing today? : Ya.
96. Ever cheated on somebody? : Ya.
97. If you could go back in time, how far would you go? : Taun 2010, biar bisa kelar kuliah cepet huhuhu
98. If you could pick a day from last year and relive it, what would it be? : awal taun, lebih fokus ngejar tugas akhir gitu bro
99. Are you afraid of falling in love? : Ngga.
100. Posting this as 100 truths? : Iya.


Ya begitulah, mungkin postingan saya tayangin bentar aja, sebelum saya revert to draft lagi, serasa telanjang saya posting ginian hahaha
5 blog auk: Januari 2017 ..mikir tak begitu lama, akhirnya saya putuskan untuk menghentikan ' proyek ngomongin kegagalan diri sendiri ' itu.  Sementara biar ...

Rabu, 25 Januari 2017

tentang H-5 Dear Zindagi

Film yang barusan selesai saya tonton itu, adalah film yang sejak tayang di blitz beberapa minggu yang lalu pengen saya tonton tapi tidak kesampaian sampai akhirnya tidak tayang lagi.  Syukurlah akhirnya bisa nonton donlotannya #eh.  Ohiya kata google: Zindagi is actually an urdu word which means life.

Film yang mengisahkan tentang seorang Kaira, seorang perempuan muda pintar dan cantik namun sedikit temperamental yang sedang galau dengan kehidupannya, beberapa kali putus dengan pacar, kemudian mengalami patah hati karena lelaki yang diinginkannya justru tertarik dengan orang lain, lalu mempunyai masalah dengan orangtua, sampai akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang sebenarnya sangat disukainya.

Saat pulang kampung, memutuskan untuk terapi ke seorang psikolog bernama Dr. Jug. Sesi terapi inilah menurut saya sebenarnya inti dari film sepanjang kurang lebih dua setengah jam ini.  Rasanya saya baru kali ini nonton bagaimana sebenarnya proses terapi itu.  Di waktu 01.10, si psikolog berkata:

saat memahami dirimu sendiri,
pendapat orang lain tidaklah penting

Ah, ternyata ini adalah tentang gnothi seauton.  Menarik, filmnya mengalir, dan tak ada terkesan menggurui, justru menyuruh kita belajar dari diri sendiri, membuat keputusan yang tepat, membuat manajemen waktu dan perasaan ..

Entah di menit ke berapa, psikolog itu berkata sesuatu, bahwa berdasarkan sebuah studi, ada sekitar 150 orang yang berarti dan terkait dalam kehidupan seseorang.  Setelah saya cari-cari, ternyata itu mengacu pada teori Dunbar's number. yang diperkenalkan oleh Robin Dunbar, seorang antropologis yang mengaitkan batas kognitif hubungan sosial dengan ukuran rata-rata otak manusia.

Kemudian katanya ada sekitar 50 orang yang mungkin sangat akrab hingga akan diundang makan malam, lalu sekitar 15 orang yang entahlah berubah-ubah dalam beberapa kesempatan, hingga tersisa 5 orang teman yang sangat penting dalam kehidupan ini.  Kaira diminta menyebutkan 5 orang yang dimaksud ini, dan nyatanya dia agak kesulitan menentukan orang kelima.

Begitulah, ending menarik dan membuat sedikit mikir dan film ini lebih tentang hubungan denga orang lain, berdamai dengan orang sekitar dan lebih jauh lagi: berdamai dengan diri sendiri.

Tak rugi kok kalau ada waktu luang nonton film ini.  Begitulah.
5 blog auk: Januari 2017 Film yang barusan selesai saya tonton itu, adalah film yang sejak tayang di blitz beberapa minggu yang lalu pengen saya tonton tapi tidak ke...

Selasa, 24 Januari 2017

tentang H-6 : Gandhi the Man

Saya terus terang, justru semakin ingin mengenal sosok Mahatma Gandhi setelah menonton film Lage Raho Munna Bhai, yang tokoh utamanya dipaksa menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Gandhi dalam kehidupannya.  Padahal dia sendiri sejatinya adalah seorang preman kambuhan yang sedang jatuh cinta dengan seorang penyiar radio.  Ohiya, sutradara dan produser film itu adalah orang yang sama dibalik suksesnya film 3 idiot.

Baiklah cukup tentang filmnya ya.

Sekarang kembali pada sosok Gandhi, yang sederhana dan super pemaaf, bagaimana tidak, bahkan pada orang yang menembaknya pun dia memberikan maafnya sebelum akhirnya tewas.  Lelaki luhur yang mengajarkan arti cinta dengan cara sederhana.

Ajaran Bapu, panggilan lain dari Gandhi, adalah manisfestasi dari butir dasa dharma pramuka: suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, dalam arti yang sesungguhnya.  Gandhi tak hanya berteori dan berbicara tapi juga melakukan apa yang dia ajarkan di kehidupan sehari-harinya.

Sedikit banyak, pandangannya membuka mata & pikiran saya akan arti kebenaran.  Inti ajaran Gandhi ada pada dua hal: yaitu satyagraha dan ahimsa.

Inti dari satyagraha adalah resolusi konflik, pencapaian kebenaran & kedamaian melalui jalan ahimsa, yaitu cara nonviolence, tanpa kekerasan.  Mungkin jika di filsafat ilmu, satyagraha adalah sebuah ontologi dan ahimsa sendiri merupakan epistimologinya.

Cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan itu, seperti hal yang terlihat sederhana tapi terus terang akan sulit dilakukan jika tak mengerti makna sebenarnya. Nyatanya value dari Gandhi berhasil membuat India merdeka, membuat orang-orang menyerap makna ajarannya tanpa merasa terpaksa, tapi lebih karena merasa bagian dari ajaran itu sendiri.

Haduh mumet sekali ternyata menjelaskannya.  Mungkin suatu saat silakan dibaca sendiri di buku Gandhi the Man karya Eknath Easwaran, saya sih baca terjemahannya yang terbitan Bentang.  Ini salah satu buku biografi terbaik yang pernah saya baca.

Setelah saya menamatkan membaca buku itu, saya baru sadar bahwa beberapa waktu terakhir ini, sebenarnya saya sudah menemukan nilai-nilai Gandhi pada beberapa orang yang saya kenal.  Orang-orang yang menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah.  Orang-orang yang lebih memperhatikan sisi yang baik dari daripada memikirkan sisi buruknya. Orang-orang yang berpikiran bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan setara.  Orang-orang yang berpikir dengan rasa cinta dibandingkan rasa murka.  Orang-orang yang punya konsep bahwa jauh lebih penting memperbaiki diri sendiri sebelum punya niat memperbaiki orang lain.  Orang-orang yang berasumsi bahwa kedamaian dan kenyamanan bukanlah monopoli satu pihak saja.  Orang-orang yang lebih memikirkan kewajiban daripada haknya.

dari Gandhi saya belajar, bahwa kebenaran itu ada, dan harus diperjuangkan, tanpa harus melalui kekerasan.  Sedikit lebih dramatis, justru dari Gandhi saya lambatlaun makin ngerti akan hakikat cinta.

Demikianlah.
5 blog auk: Januari 2017 Saya terus terang, justru semakin ingin mengenal sosok Mahatma Gandhi setelah menonton film Lage Raho Munna Bhai, yang tokoh utamanya dipaks...

Minggu, 22 Januari 2017

tentang H-8

Seharusnya, kedatangan keluarga, paling tidak memberikan semangat lebih untuk melanjutkan studi.  Saya memang menikmati masa-masa mengantar anak-anak sekolah, hidup dengan keluarga lagi selama dua tahun lebih di kampung orang seharusnya sangat menyenangkan.

Saya memang dodol, karena ada kejadian yang sayangnya saat ini masih harus saya skip dari bagian cerita saya.  Anggap saja semua berlalu begitu saja, bahkan sampai tak terasa si sulung sudah masuk SMP, Q yang waktu itu kasih berstatus si bungsu tak terasa sudah masuk TK, dan bang Ai tau-tau sudah kelas 3 SD saja, tahu-tahu honey sudah menyelesaikan kuliahnya, tahu-tahu saya ditinggal sendiri lagi di Jogja.

Salah siapa? Ya salah saya sendiri lah.  Sampai tak terasa si bungsu lahir di 2014, bahkan proposal riset saya belum rampung-rampung.  Kemana saja saya?  Hingga surat peringatan dari kampus datang, saya diberi peringatan keras, diminta segera menyelesaikan apa yang saya mulai empat tahun yang lalu, atau dipersilakan mengundurkan diri.

Seharusnya saya sudah menyadari sejak lama kalau ada sesuatu yang tidak beres, kehilangan tujuan, pikiran yang entah kemana, sangat tidak profesional sekali.  Saya sungguh mengkhianati janji dengan banyak pihak.

Seakan-akan tidak kapok dengan pengalaman masa lalu, saat di S1 pun saya dulu pernah terancam hal mengerikan bagai mahasiswa yang bernama ancaman drop out.

Bukannya cepat-cepat bergerak, yang ada malah pasrah, hah! Pasrah dengan cara yang salah di waktu yang salah.  Baru bergerak setelah dosen promotor yang baik hati dan tak lelah menyemangati saya itu memanggil saya, itu pun juga setelah ketua pengelola studi juga berkali-kali menelepon saya.

Sungguh tak patut ditiru.  Sampai titik ini, saya kembali harus menarik napas untuk melanjutkan cerita saya.. Saya malu, aseli..
..

(bersambung)
5 blog auk: Januari 2017 Seharusnya, kedatangan keluarga, paling tidak memberikan semangat lebih untuk melanjutkan studi.  Saya memang menikmati masa-masa mengantar ...

Sabtu, 21 Januari 2017

tentang H-9

Akhir tahun 2009 adalah hal yang tak terduga, usulan untuk melanjutkan sekolah saya disetujui oleh kantor.  Masalahnya adalah, pendaftaran sekolah untuk semester ganjil rata-rata sudah ditutup di bulan Agustus.  Tetapi sesuai rencana awal, akhirnya saya memutuskan untuk tetap mendaftar ke Brawijaya, kemudian sempat ikut TPA dan TOEFL disitu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur.

Mundur karena dua hal: yang pertama, biaya sekolah disana naik secara signifikan gara-gara akreditasinya yang konon jadi A.  Hitungan sekilas tampaknya beasiswa ga bakal nutup hidup disitu selama setahun.  Kemudian alasan yang kedua, sya di PHP-in seorang teman, yang awalnya janji mau ngebantuin soal kos selama di Malang, tapi menjelang hari H katanya sudah dipake orang lain.  Baiklah, ga masalah juga sih sebenarnya soal ini.  Tapi dijanjiin bertahun-tahun untuk kemudian dibatalkan itu kan sungguh nganu.

Batal ke Malang, saya memutuskan untuk nyoba balik ke almamater tercinta Airlangga, tapi katanya tidak buka pendaftaran untuk semester genap, mikir alternatif lain ke Bogor juga ngga buka, ke Depok saya belum cukup mental.  Sampai akhirnya Abdi, seorang sahabat yang sedang sekolah di Jogja memberi saran untuk mendaftarkan diri saja ke jurusan yang sedang dia ikuti.

Akhirnya lapor kantor, lalu disetujui, kemudian saya mendaftarkan diri, dan ternyata diterima.  Saya masih ingat saat datang ke Jogja di awal 2010 tanpa sempat berpikir macam-macam, saya pikir tak sempat mengikuti kuliah semester itu karena jadwal kuliah sudah telat dua mingguan. Ternyata kata ketua jurusan masih bisa dan sempat.  Buru-buru pulang ke rumah lagi, karena saat itu ngga kebayang langsung diterima jadi cuma bawa ransel kecil semacam orang mau melancong saja.

Semuanya begitu mendadak, tiba-tiba saya sudah sekolah lagi, ngekos lagi di tempat Abdi.  Sahabat yang ngedukung saya abis-abisan selama di Jogja, sampai kos saya dibayarin setengah tahun sama dia coba, belum lagi proses pendaftaran yang lancar dengan bantuannya.  Padahal dia sendiri saat itu sedang dirundung beberapa masalah menjelang ujian akhirnya.

Begitulah, sampai tak terasa semester awal terlampaui, walau diakhiri dengan sakit beberapa hari menjelang ujian, yang menyebabkan saya harus pulang dan ijin untuk menunda ujian beberapa mata kuliah.

Semester berikutnya, seorang dosen nawarin untuk ikut penelitiannya yang nanti hasil risetnya adalah berupa tugas akhir sebagai syarat kelulusan.  Saya lapor, submit jadi anggota timnya.  Awalnya memang disetujui, sampai-sampai saya ngambil mata kuliah khusus yang diampunya, sampai akhirnya di akhir semester dia berubah pikiran, meragukan saya haha yaudah akhirnya saya ganti dosen pembimbing.  Ganti topik riset lagi.

Materi kuliah memang cuma ada dua semester, sisanya ya ngurusin penelitian, kemudian melaporkannya dalam bentuk tulisan untuk kemudian dipertahankan di sidang akhir yang akan saya hadapi enam hari lagi.  Sesederhana itu sebenarnya.  Harusnya sekitar tiga tahun bisa terselesaikan, tapi nyatanya saya perlu waktu lebih dari dua kali lipat waktu normal.

Saya seringkali bilang ke teman-teman, kalau keterlambatan lulusnya seseorang saat sekolah itu bukan gara-gara sistem, atau salahnya dosen, atau apapun.  Semua adalah kesalahan yang bersangkutan, sistem bisa disiasati, dosen bisa diajak ngobrol.  Apapun masalah harusnya ada jalan keluar, malas mencari jalan keluar itulah masalah sesungguhnya.

Perjalanan panjang saya saat kuliah S1 selama tigabelas semester rupanya  masih belum cukup untuk dijadikan pelajaran, nah sampai bagian ini, saya mesti menarik napas panjang, lalu pelan-pelan rasa malu datang.  Tapi yasudahlah, niat awal saya nulis ini kan biar bisa dijadikan catatan untuk diri saya sendiri, yang seringkali tak mau berubah menjadi baik.  Juga mungkin sebagai penyemangat bagi yang sedang sama-sama berjuang sekolah demi masa depan dan menemukan masalah di sepanjang perjalanan.

Masalah bakal selalu ada, cara menghadapinya itu yang seringkali saya lalai.  Bagian terburuknya adalah, seringkali saat menemui masalah, bukannya dihadapi tapi malah dihindari.  Kesalahan fatal.

Oh iya, saat pertamakali konsultasi dengan dosen pembimbing, saya masih ingat salah satu petuahnya:

kuliah di Jogja itu hati-hati lho mas, bisa bikin hanyut lalu lupa waktu, tapi bagaimanapun, mau cepet atau santai itu tergantung dirimu bagaimana menyikapinya

Awalnya saya menganggap itu adalah petuah biasa, tapi menurut saya ada benarnya.  Iklim di Jogja sangat beda dengan waktu saya di Surabaya, di sini jargon everyday is sunday benar-benar terasa.  Suasananya bikin hanyut, etapi sekali lagi jangan salahkan Jogja yang memang nyaman sedari dulu kala, yang tak bisa mensiasati hidup disini itulah yang salah, termasuk saya lah tentu.  Larut dalam hidup disini, literally..

Setahun lebih berlalu, proposal riset saya buntu, belum fix juga, sampai akhirnya keluarga saya nyusul ke Jogja, kebetulan honey, istri saya juga dapet beasiswa dari kantornya dan keterima di Universitas yang sama, cuma beda fakultas.  rencana awalnya sih nanti lulusnya bisa bareng trus pulang kampung bareng.  Tapi manusia memang bisanya cuma bikin rencana..

(bersambung)
5 blog auk: Januari 2017 Akhir tahun 2009 adalah hal yang tak terduga, usulan untuk melanjutkan sekolah saya disetujui oleh kantor.  Masalahnya adalah, pendaftaran s...

Jumat, 20 Januari 2017

tentang titik kritis biografi

ada dua kata inti dari judul postingan kali ini, dan saya ingin bercerita tentang dua kata tersebut.

yang pertama adalah biografi, salah satu hal yang menjadi minat saya sejak dahulu, jangan tanya persisnya kapan, saya juga lupa.  Faktanya saya sangat suka dengan cerita kehidupan seseorang, yang memang sudah terkenal di media maupun cerita hidup teman-teman saya, bahkan kisah hidup seseorang yang baru pertamakali saya kenal pun.  Silakan bercerita tentang perjalanan hidupmu, saya mungkin akan tahan berjam-jam mendengarkannya, lalu diam-diam mencatat poin-poin pentingnya dalam pikiran saya.

Menurut saya, kisah hidup siapapun selalu menarik untuk diikuti, terkadang juga untuk dipelajari.  Makanya, kalau ke toko buku, saya nyaris tak pernah absen untuk menengok rak buku tentang biografi.  Nyatanya saya pun (pernah) punya koleksi buku tentang perjalanan hidup seseorang, sebut saja Abdul Qadir Jailani, Umar bin Khattab, Steve Jobs, Einstein, Margaret Thatcher, Soeharto, Chico Mendes, Dan Brown, Kurt Cobain.. eh rasanya baru segitu buku yang (pernah) saya punya.

Tak cuma buku yang secara eksplisit bercerita tentang hidup seseorang, buku yang bercerita tentang perjalanan hidup seseorang secara implisit pun sangat menarik perhatian saya, seperti buku perjalanannya Agustinus Wibowo, karya-karya Andrea Hirata, kisah-kisahnya Pidi Baiq, buku tentang pengalaman Butet Manurung bersama orang rimba, atau kisah hidup seorang Dahlan Iskan.

Lompat ke kata kedua, yaitu titik kritis.  Kaitannya dengan biografi seseorang adalah pada beberapa buku yang ditulis saat seseorang yang menjadi objek tulisan sudah berada di puncak keberhasilannya.  Lalu isi biografinya tentu tentang perjuangannya sedari bukan apa-apa untuk kemudian menjadi siapa.

Ada beberapa yang menarik, yang memang alur ceritanya alami, jadi memang sekedar ingin bercerita tentang perjalanan hidupnya yang berdarah-darah untuk mencapai hidup yang lebih baik. Tapi ada pula yang cenderung bercerita tentang bagian hidupnya yang baik-baik saja untuk diceritakan, eh kali ini sih rasanya wajar ya, dan saya tak begitu suka membaca yang semacam ini.

Sampai sekarang, rasanya jarang sekali membaca kisah seseorang saat berada tepat di titik kritis hidupnya, saat benar-benar dalam situasi yang tidak nyaman.  Salah satu contohnya mungkin adalah kisah Chico Mendes, yang isinya adalah hasil wawancara dengannya saat membela para penyadap getah karet yang lahannya dikuasai paksa oleh mafia peternakan di Acre.  Sebelum hidupnya berakhir dengan 60 butir peluru yang menghujani tubuhnya di sore hari akhir tahun 1988.

Lalu?

Dulu saya pernah membayangkan seseorang mewawancarai saya, lalu menjadikannya tulisan tentang (sebagian) hidup saya hehe sok-sokan jadi orang terkenal ceritanya.  Nyatanya saya pernah diwawancarai dua teman untuk kemudian diposting di blog mereka.  Satu di blog Elia Bintang, satunya lagi di blognya Kimi. Itu saja sudah sangat menyenangkan, lebih dari sekedar menyenangkan malah.  Karena dua orang itu adalah sebagian kecil dari contoh orang-orang pintar & keren yang hidup di jaman ini, ditanya-tanya mereka lalu dijadikan sebuah tulisan itu sungguh sebuah kehormatan bagi saya yang cuma proton di alam semesta ini.

Lalu terpikirkan, kenapa saya juga tidak menuliskan cerita hidup saya sendiri, paling tidak sebagai catatan bahwa saya pernah menjalani hidup yang ajaib dan rada absurd, dan hal itu ditulis saat benar-benar berada di fase kritis hidup saya.

Dan rasanya, saat ini cukup tepat untuk menuliskannya.  Pokoknya gitu deh, mungkin nanti pas saya lagi senggang akan berbagi cerita-cerita ajaib saya dan gimana sejarahnya sampai-sampai saya bisa terdampar di kota berhati mantan nyaman ini sampai tak terasa jumlah tahunnya mencapai the lucky number seven. Nah, ujug-ujug saya malah jadi teringat kisah epik Seven Years in Tibet..

*kemudian hening*

Saya sendiri sebenarnya takut menuliskan hal ini sekarang, soalnya seminggu terakhir ini adalah benar-benar batas akhir cerita panjang sekolah saya.  Sekalian ngasi kabar kalo seminggu lagi saya mau defense, tuh kan malah jadi terkesan sombong dan katro banget, lah sesekali saya kasi pengumuman sekalian minta doa di blog saya ngga apa-apa toh hihihi

Ya ya ya semacam itulah pokoknya...  menarik rasanya menceritakan tentang diri sendiri, terutama lebih pada kegagalan yang dialami alih-alih fokus pada kesuksesan yang tak jelas tolok ukurnya, smoga masih ada yang mau membaca tulisan genre aneh ini ahaha

(bersambung)
5 blog auk: Januari 2017 ada dua kata inti dari judul postingan kali ini, dan saya ingin bercerita tentang dua kata tersebut. yang pertama adalah biografi, salah s...

Rabu, 18 Januari 2017

pada sebuah Teluk

Hari masih pagi, pagi yang berkabut, Tanjung Karang masih sepi.  Rei masih mengerjapkan matanya saat mendengar notifikasi pesan pendek masuk ke telpon genggamnya.

Setengah sadar membaca pesan singkat, matanya setengah terbelalak, tapi perlahan senyumnya juga melebar, tanpa pikir panjang jemarinya bergegas mengetik balasan.

5 blog auk: Januari 2017 Hari masih pagi, pagi yang berkabut, Tanjung Karang masih sepi.  Rei masih mengerjapkan matanya saat mendengar notifikasi pesan pendek masuk...

tentang ulat gendut

tiga bulan terakhir ini, sudah tak terhitung saya makan siang, kadang sarapan, di warung makan bernama aneh ini: warung ulat gendut, silakan aja searching di google map, atau di instagram atau dimanapun, pasti ketemu

Menu yang sering saya pesan adalah ayam goreng saus kacang, plus sayuran sebagai pelengkapnya.  Rasanya menurut saya sih enak, soalnya saya selalu pesan menu itu pas kesitu, jikalau habis sebagai gantinya paling pesan gado-gado yang rasanya juga enak.

Yang menarik, menurut saya, selain rasanya, porsi makanannya presisi sekali.  Jadi tak kedikitan, tak juga berlebihan, seingkali tepat saat saya menikmati suapan nasi terakhir, tepat saat itu juga ayam dan sayurnya habis. 

Ohya warungnya kecil saja, letaknya di pinggir jalan, di sebelah kios fotokopian, selatan jalan kira-kira duaratusan meter arah timur dari perempatan Brimob.

Bagian menarik lainnya adalah, harga menu disitu rata-rata tak sampai sepuluh ribu rupiah.  Menu favorit saya itu sendiri dibanderol cuma Rp.9000,-, biasanya saya ples air es, cuma nambah gopek.

Yang pernah saya coba selain ayam goreng, ya gado-gado, dan lotek, dan es campurnya yang porsinya banyak tapi harganya cuma limarebu doang itu.

Oh satu lagi, disitu selalu tersedia koran untuk saya baca sambil menunggu pesanan saya dateng, dan tak pernah menunggu begitu lama juga untuk itu.

Salah satu warung makan yang saya rekomendasikan di Jogja pokmen.  Selain warung pecel Magetan bu Ramelan di timur Amplaz, nantilah saya ceritakan kapan-kapan soal pecel yang maknyus kui.

Nah, tiba-tiba sehabis menulis ini, saya kok mendadak pengen kesitu, pas pula ini waktunya warung buka biasanya, lagian bukanya cuma sampai sore kok.

Mari kita beranjak kesitu..
5 blog auk: Januari 2017 tiga bulan terakhir ini, sudah tak terhitung saya makan siang, kadang sarapan, di warung makan bernama aneh ini: warung ulat gendut, silakan...

Selasa, 17 Januari 2017

tentang seni menikmati kopi

Salah satu ilmu yang baru saya dapatkan selama di Jogja adalah cara menikmati minum kopi, tanpa gula.  Faktanya saya bukanlah penggemar kopi, saya ini aslinya fans berat air putih dan teh.  Minum kopi cuma sesekali pas pengen, dan itu kejadiannya juga jarang sekali.

Saya dulu mikirnya, orang yang minum kopi tanpa gula itu aneh, dan saya pikir kopi itu rasanya cuma satu: pahit.  Ternyata setelah diminta temen saya mencicipi kopi yang katanya berjenis arabika, nah di bagian ini saya lupa yang ngajarin itu temen yang mana haha.

Saya coba minum pelan-pelan, eh ternyata ada rasa sedikit asam di samping pahitnya, dan ternyata bisa diminum tanpa gula sampai habis.  Saya merasa aneh sekaligus merasa senang, bisa menemukan cara lain menikmati sesuatu yang dulunya menurut saya ya biasa saja.

Etapi sungguh, saya toh taunya cuma kopi robusta yang kata temen saya yg rada ahli soal kopi kalo jenis itu emang cuma enak kalo diminum pake gula, dan kopi arabika yang ada asam-asamnya yang selalu mengingatkan saya pada merek nescafe.  Lidah saya tak begitu sensitif seperti orang-orang yang sampai bisa membedakan rasa kopi Lembang, kopi Lampung atau kopi mana pun yang asalnya beda-beda.

Satu-satunya yang rasanya beda menurut saya adalah kopi ganja yang dikasih seorang temen, efeknya bikin kepala sedikit berat dan bikin laper, toh akhirnya saya ga bisa menghabiskan stok yang dua ons lebih itu, sisanya saya kasihkan ke salah seorang temen, dan sudah habis aja katanya gitu, eleuh..

Menurut saya sih, seni menikmati kopi ataupun minuman dan makanan lain itu ada pada cara memaksimalkan panca indera saat menikmatinya.  Jika itu bisa dilakukan, apapun terasa lebih nikmat dari biasanya.

Bahkan tak sekedar terbatas pada menikmati makanan dan minuman, apapun terkait dengan panca indera dan perasaan, jika bisa dinikmati bener-bener, beuh, efeknya luar biasa.

Misalkan berjalan, lari, bersepeda, bergerak, bekerja, mengetik, posting, membaca, belajar, bahkan melakukan pekerjaan yang paling membosankan: menunggu, atau kegiatan yang nyaris sepanjang hidup dilakukan setiap manusia: mencinta ...

dan..semua itu, pada dasarnya adalah hakikat dari kalimat favorit saya satunya lagi:  

carpe diem,  

seize the day, nikmati hari ini..nikmati dengan sepenuh hati, maka apapun akan terasa nyaman di otak, hari dan hati..

bukankah begitu?
5 blog auk: Januari 2017 Salah satu ilmu yang baru saya dapatkan selama di Jogja adalah cara menikmati minum kopi, tanpa gula.  Faktanya saya bukanlah penggemar kopi...

Senin, 16 Januari 2017

tentang fiksi yang rada liar

buka-buka arsip lagi, ternyata saya pernah bikin fiksi lain yang agak-agak nganu alur ceritanya,
lagi-lagi saya lupa judulnya, alurnya juga saya lupa, kapan bikinnya apalagi..
...
...
/

5 blog auk: Januari 2017 buka-buka arsip lagi, ternyata saya pernah bikin fiksi lain yang agak-agak nganu alur ceritanya, lagi-lagi saya lupa judulnya, alurnya juga...

tentang fiksi yang ngambang

dulu, beberapa tahun yang lalu, saya pernah membuat cerita fiksi, yang entahlah bagaimana prosesnya, mengalir aja gitu tanpa ada kerangka cerita yang jelas, akhirnya endingnya ngambang, beberapa malah ada yang belum nyampe ending sudah ga jelas lagi juntrungannya.  Salah satunya adalah cerita di bawah ini, yang judulnya pun saya lupa, atau malah memang belum dikasih judul, entahlah 😁

...

/bagian pertama

Pengumuman pada para penumpang untuk segera menaiki pesawat terdengar lagi, Jo malah sibuk memasang earphone, hanya satu lagu di playlistnya yang diputar berulang-ulang sejak dua jam yang lalu, saat kakinya berat menuju area departure.

Wajahnya datar menatap deretan orang-orang yang seperti tak sabar keluar dari ruang tunggu 1E. Hingga tersisa tiga empat orang yang tersisa di antrian, baru dengan malas-malasan menaikkan ransel prensnya ke pundak, dengan langkah yang tak ringan terseret. Menunjukkan boarding passnya pada petugas yang tersenyum sekilas.

Baru beberapa saat berjalan, langkah terhenti, menoleh ke belakang, kembali berharap wajah yang diharapkannya ada disitu untuk kemudian menahannya pergi. Lima detik kemudian nafasnya terhembus berat, menapak lagi. Pesawat di hadapannya sudah bersiap membawanya pergi, bersama semua mimpi indahnya, Jo membetulkan earphonenya lagi. Leaving on the jet plane kembali mengisi udara. Tiba-tiba dia merasa sendirian terhenyak di 14E.

Sepuluh menit saja setelah duduk perlahan terdengar suara ‘take off position’. Seatbelt terpasang erat, pesawatnya yang membawanya pun perlahan membumbung. Menengok keluar jendela, menatap ke bawah, berusaha mengira-ngira titik keberadaan seseorang yang harus ditinggalkannya.Tapi cepat semua terlihat mengecil, menjauh, sampai pandangannya hanya menatap gumpalan-gumpalan awan di langit tanpa batas. Memejamkan mata sejenak lalu membukanya perlahan, hawa pendingin udara tiba-tiba menyergapnya, reflek kedua tangannya merapatkan sweaternya. Menatap sekilas dan memberikan senyum tipis pada seorang lelaki yang duduk tepat di sampingnya, kembali lalu berusaha memejamkan matanya, berusaha melupakan jejak-jejak ingatan yang tersisa.

/ bagian kedua

Elang masih duduk diatas Thunder merahnya. Matanya masih menatap ke arah satu titik bersayap yang menjauh ke langit utara, untuk kemudian lenyap dan menghilang, hanya luas biru yang tertapis matanya, perlahan terasa ada sebuah rasa yang bernama: hilang, mungkin sinis menertawakan hatinya sendiri. Dan perlu empat belas menit untuk menyentak alam pikirannya kembali ke dunia sadar. Untuk kembali meyakinkan bahwa tak ada perlu sesal. Bahwa berusaha saling melupakan adalah yang terbaik. Walau dia tau, hatinya sendiri yang akan mengkhianati janjinya.

/ bagian ketiga

Jo masih merasa berada di ambang kesadarannya, saat merasa sekelilingnya bergetar hebat. Sayup telinganya mendengar pengumuman untuk tetap tenang, mendengar bahwa keadaan cuaca dalam keadaan tidak baik. Matanya berusaha dipejamkan lagi, tapi guncangan tak juga berhenti, malah terasa semakin hebat. Lampu tanda sabuk pengaman harus terpasang masih berpendar diatas tempat duduknya. Seorang pramugari melintas di koridor, walau terlihat tenang, paras cantiknya tertangkap mata Jo menyiratkan cemas yang tak kentara.

/ bagian keempat

Motor merah itu seakan marah pada jalanan, melumatnya tanpa jeda. Pikirannya tak mau diam, tak bisa dihentikan. Pun saat ada thunder lain yang tiba-tiba menyalipnya. Reflek memasukkan kopling, memasuki persneling tertinggi. Mengejarnya entah untuk apa. Speedometer perlahan mendekati angka seratus. Thunder hitam di depannya tinggal beberapa meter lagi. Zigzag melewati dua truk yang terasa lambat. Elang melupakan kecamuk otaknya, yang muncul hanya mendahului penyalipnya. Hingga tiba di belakang Pajero hitam yang terlihat melambat, tapi tidak dengan dua thunder yang seperti tertunggangi setan, terus melaju. Pajero terlampaui cepat, tapi dari arah depan sebuah tronton yang juga melaju tak memberikan jalan, Sedetik kemudian lalu Elang merasakan nafasnya terhenti.

/bagian kelima

Delapan hari sebelumnya. Dua sosok itu berjalan bersisian, tangan kanan yang satu erat menggenggam tangan kiri disampingnya, menyusuri jalan sambil tertawa-tawa.

Kepikiran ga sih kita selamanya kaya gini?” Jo menoleh pada El. Tawa pun seketika hilang.
Aku merasa ngga akan...” sebuah jawaban singkat. Sekarang senyum pun musnah.
Apa tadi katamu?” Jo mencondongkan wajah ke lelakinya.
Kita ga akan pernah bisa jadi satu dalam hidup”
Jo terperangah.

Ngomong apa sih kamu El?” paras manisnya lenyap, hanya ada tatap tajam. Elang diam, balas menatap lekat sepasang mata lebar di sampingnya. Menarik nafas. Lalu tiba-tiba tertawa keras-keras.
Kamu ga asik kalo kaget gitu”
Jo merengut.

/ bagian keenam

Gubeng baru ditinggalkan dua puluh menit, lelaki muda itu dengan jins lusuh dan kaus hitamnya itu sudah gelisah. Menatap mozaik disepanjang pinggir rel dengan pandangan bosan. Kursi paling ujung. 1A, samping jendela, ditinggalkannya. Malah menuju lorong di ujung gerbong tujuh. Sore baru dimulai, tapi entah kenapa lorong itu terlihat sepi, hanya ada seorang gadis yang berdiri tepat di depan pintu toilet, sebuah daypack hijau menempel erat di punggungnya. ‘eh, seorang gadis, berdiri?’

/ bagian ketujuh

Lembab didominasi dipterocarpaceae dan shorea yang menaungi lantai hutan yang hening, tersibak oleh sepasang kaki yang tampak sendirian berjalan dalam diam. Sesekali sandal gunungnya membasah saat tak peduli menjejak genangan air di jalan setapak, pagi tadi hujan sudah menghias alam memang. 

Kedua tangannya memegang handle carrier 60 liter yang erat terbalut protector. Tubuh yang terbungkus flanel kotak biru hitam berlapis raincoat jaket terus berjalan saja. Matahari belum tepat di atas kepala, masih satu jam menuju tengahnya hari. Tersirat sekilah senyum di wajahnya, membayangkan sosok yang mungkin sedang sibuk mempersiapkan makan siang di pertigaan sungai lembah yang lama diakrabinya. Gemuruh sungai yang seperti buas memuai malah membuat matanya makin berbinar.

tunggu aku”, bisiknya.
..

 ..
..

Gitu aja, saya lupa rencana endingnya bakal gimana, mungkin suatu saat akan saya bikin kelanjutannya, mungkin, tapi entahlah.  Yang jelas membaca cerita bikinan saya di atasa, saya kagum sama diri sendiri jadinya, pernah bikin scene kayak gitu ckckck *mengagumi diri sendiri

kemudian hening..
5 blog auk: Januari 2017 dulu, beberapa tahun yang lalu, saya pernah membuat cerita fiksi, yang entahlah bagaimana prosesnya, mengalir aja gitu tanpa ada kerangka ce...

Minggu, 15 Januari 2017

tentang Gnothi seauton



minggu pagi ini, masih ada sisa-sisa gerimis yang sedari sore kemarin membasahi Jogja, yang akhirnya membuat rencana sepedaan ke Kaliurang terpaksa batal dan ditunda.  Akibatnya saya sekarang bisa menikmati koleksi-koleksi video klip hasil donlot di youtube sembari membaca buku berjudul Happiness Inside karangan Gobind Vashdev, buku pemberian teman saya unidede yang katanya bagus.

Isi bukunya tentang pencerahan, kesabaran, mengenal diri dan orang lain dengan lebih baik, dan tumben-tumbennya saya dengan nyaman membaca buku genre ini.  Biasanya kan bacaan saya ga jauh-jauh dari novel, fiksi dan sesekali literatur tugas akhir #lah

Bacaan saya terhenti di halaman 87, di baris kelima yang membahas frasa yang saya kenal sejak sekitar dua puluh tahunan yang lalu, salah satu frasa favorit saya selain carpe diem.

Frasa yang saya maksud adalah gnothi seauton, :  saya kenalnya justru karena itu tulisan tercetak gede-gede di bagian depan kaos saya yang berwarna putih, yang saya beli pake uang beasiswa saat sekolah dulu kalau tidak salah.  Dulu sih ngga ngerti makna sebenernya hehe, yang saya tau cuma tulisannya keren.

..know thyself, mengenali diri sendiri, bagi saya adalah makna literal yang sederhana, tapi sekaligus mungkin hal rada berat yang saya abaikan sejak dulu, mungkin hal ini terkait dengan tentang value yang saya ulas sebelumnya.

Seorang teman pernah memberi saran yang menarik, kurang lebih begini:

coba untuk mengenali diri sendiri dulu lebih baik, sebelum memutuskan untuk mengenal orang lain

saya mengartikannya semena-mena dengan... ya jangan sok-sokan menilai orang lain kalau menilai diri sendiri saja tak berhasil, ngaca adalah kunci!

Lalu setelah saya menuliskan satu frasa itu panjang lebar, apakah artinya saya sudah mengenal diri saya sendiri dengan baik dan detil?  Ajaibnya tidak, atau mungkin belum.  Saya pikir proses mengenali diri sendiri pun adalah sebuah proses belajar yang perlu waktu tak berbatas.

Saya pikir, gnothi seauton  adalah sebuah proses dalam mencari value dari diri sendiri, biar kita punya harga diri, punya sikap, punya jatidiri, punya sesuatu untuk dipertahankan, biar orang lain suatu saat tidak akan memandang rendah pada diri kita, paling tidak membuka mata orang lain bahwa pada dasarnya manusia itu posisinya sejajar di muka bumi ini, tak pantas saling merendahkan atas dasar apapun.

Jadinya, hidup ini tak terpaku pada hal-hal yang hanya bersifat aksesoris, seperti pangkat, jabatan, kedudukan dan segala masalah klise lainnya, oke di beberapa sisi mungkin ada gunanya, tapi apa coba yang lebih berguna dan berharga selain harga diri sendiri? tak ada.

di buku Compettitive advantage, pak Michael E. Porter mengatakan bahwa, salah satu hal penting yang harus dilakukan dalam menentukan tujuan akhir sebuah proses, yaitu indentifying value activities.  Mengidentifikasi artinya proses pemilahan antara hal-hal yang dianggap penting.   Hal ini juga nantinya terkait dengan penentuan sesuatu yang bernama core competence, yang menjadi arah awal untuk melangkah mencapai tujuan yang diinginkan.

Soal core competence mungkin sekilas bisa dibaca di a Handbook of for Value Research  yang disusun oleh mas Raphael Kaplinsky dan kang Mike Morris.  Sebenernya sih hal ini merefer ke bukunya Gary Hamel dan C.K. Prahalad yang berjudul Competing for the Future, tapi saya belum punya buku aslinya atau ebooknya.  Lah, malah ngelantur ke literatur.  Pokoknya begitulah.

Menurut saya sih, ya gitu kalau sudah tau inti dari diri sendiri, rasanya emang hidup ini bakal ga begitu berat untuk dijalani, ya paling tidak karena tahu kapasitas diri, jadi bisa mengarahkan kaki kemana mau melangkah.  Walaupun tahu selalu bakal ada resiko dalam setiap langkah, tapi paling tidak sudah bisa menyiapkan segala macam rencana A sampai Z untuk mengakalinya.  Hidup ini emang harus diakalin kadang. Ah istilah yang aneh, pokoknya begitulah.

Dan lagi-lagi, ini sebagai pesan, agar siapapun hidupnya tidak seperti saya, yang apa-apa cuma bermodal nekat dan keberuntungan, termasuk dalam memutuskan untuk terus sekolah tanpa perencanaan yang matang, jadinya yaa nganu gini, pokoknya jangan sampai ada lagi yang mengambil langkah salah seperti saya deh.

Walaupun kalau saya pikir-pikir, kalau saya dulu mikir panjang dan tak nekat, mungkin saya juga ga bakal sekolah lagi deh, lah malah absurd.

Jadi ya begitu saja rasanya, tulisan tak tentu arah ini, yang paling tidak mengajak diri sendiri untuk menyanyikan lagu lama Koes Plus..

Buat apa susah...
Buat apa susah...
Lebih baik kita bergembira

Eh, nyambung nggak? yaudahlah mari lanjut nyanyi, ayo yang di ujung sana mana suaranya?
5 blog auk: Januari 2017 minggu pagi ini, masih ada sisa-sisa gerimis yang sedari sore kemarin membasahi Jogja, yang akhirnya membuat rencana sepedaan ke Kaliura...

Jumat, 13 Januari 2017

tentang sepeda yang berangkat sekolah

..mungkin cerita saya kali ini terkesan riya dan pamer, tapi tak apa-apalah sesekali, tapi sungguh kejadian tadi pagi hari di lampu merah seputaran jakal membuat mata saya tiba-tiba berkabut..

kira-kira pukul enam pagi tadi, saya sudah begitu rajin ke tempat fotokopi, demi bikin fotokopi lah, sekalian ngejilid tugas akhir yang kebetulan detlen  dan harus disubmit tepat hari ini,  dan empat tempat fotokopi kompakan saja menolak keinginan saya.

Ada yang tak punya kertas sampul sesuai warna yang saya inginkan, ada yang katanya kekurangan petugas, ada yang saatnya ganti shift, ada yang katanya ngga bisa cepet, sampai akhirnya jam tujuh lewat sedikit semua terselesaikan, walaupun harus menunggu selama dua jam, ada-ada saja..

beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya, saya memutuskan untuk memberikan sepeda saya ke salah satu tempat yang saya pikir suatu saat akan berguna bagi anak-anak yang tinggal disitu.

Sepeda yang tidak bisa dibilang bagus juga sih, sebenarnya malu menitipkan sepeda saya kesitu, barang yang kurang bagus kok ya dikasihkan, tapi yasudahlah, walaupun butut sepeda itu kuat kok..

sampai tadi pagi, saat lampu merah di perempatan MM UGM, tiba-tiba mata saya tertuju pada anak sekolah yang sedang menaiki sepeda berwarna kuning kebiruan.  Saya kenal sepeda itu, kenal betul..

Saya benar-benar bersyukur, ternyata apa yang saya niatkan agar bisa berguna untuk orang lain, ternyata menjadi kenyataan.

Seorang anak yang sekolah dengan sepeda yang sering saya pakai dulu, membuat dada saya penuh, entahlah mata saya pun terasa hangat..

Saya benar-benar nggak tahu kenapa tumben-tumbenan saya sok mellow sepagi itu, saya cuma merasa, mungkin gara-gara sepeda butut saya itulah, saya sepagi ini bisa memenuhi salah satu janji saya untuk mengejar detlen yang hampir impossible dan membuat saya tak bisa berpikir berhari-hari, kecuali memikirkan alternatif lain untuk kabur melarikan diri dari tempat kerja sekarang,..

Saya berpikir, mungkin ada terselip doa-doa tak sengaja dari pengendara sepeda itu untuk saya, entahlah..

Saya mungkin cuma senang, sepeda saya sekarang punya joki barunya, yang rajin ke sekolah, yang saya tahu jaraknya sekitar empat kilometer dari tempat parkir sepeda itu..  Saya senang sepeda saya dipakai untuk menambah ilmu..

Itu saja, saya tak tahu harus bercerita apa lagi..
5 blog auk: Januari 2017 ..mungkin cerita saya kali ini terkesan riya dan pamer, tapi tak apa-apalah sesekali, tapi sungguh kejadian tadi pagi hari di lampu merah se...

Kamis, 12 Januari 2017

tentang Values

Salah satu bagian penting dari tugas akhir yang saya kerjakan adalah mengenai value, iya, sebenarnya intinya ada di kata itu.

Dan dari salah satu literatur yang saya baca, buku yang berjudul Interpersonal Skills in Organizations yang disusun oleh Suzanne de Janasz, Beth Schneider, dan Karen Dowd, ada bagian yang jelas sekali tentang values ini:



Itu merupakan bagian yang disebut mereka sebagai clarifying values, menentukan dengan jelas apa sebenarnya ingin dicapai dalam hidup ini.  Beruntunglah siapapun yang sudah bisa mempelajari dirinya sendiri sejak lama, dan bisa menentukan tujuan hidupnya dengan jelas, lebih-lebih yang tahu apa sebenarnya nilai dari dirinya sendiri.

Hal ini, yang sepertinya saya abaikan sejak dulu, hidup saya benar-benar mengikuti falsafah lagu Bengawan Solo yang dijadikan theme song iklan paralon :... air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut..


Saya menganggap hidup teruslah dijalani, mengikuti takdir yang sudah digariskan, dan terus menganggap apa yang terjadi dalam hidup saya tak lebih karena keberuntungan-keberuntungan yang memang sudah digariskan ..

Walaupun, samar-samar saya mungkin bisa melihat values hidup saya selama ini yang ternyata .. ya saya belum pernah benar-benar mikir tentang hal itu sebelumnya.  Sampai mungkin minggu-minggu terakhir ini, kembali memaksa saya untuk lebih berpikir lebih baik lagi, agak bisa berbuat lebih baik lagi buat orang lain..

Lebih-lebih,di halaman berikutnya , masih ada sepotong kalimat yang merupakan kelanjutan potongan definisi clarifying values di atas, yaitu :


..for achieving your goals

Nah, kembali ke saya, yang hidupnya selama ini konyol sekali, cuma bermodal keyakinan, kenekatan dan keberuntungan itu, sepertinya mengabaikan hal itu juga.  Walaupun, sebenarnya tujuan hidup saya itu sederhana sekali : bisa bikin orang lain seneng dan berusaha tak merugikan orang lain dalam bentuk apapun..

Tapi, bagaimana tujuan sederhana itu bisa dicapai, kalau soal values aja asal-asalan.  Lebih lanjut, Janasz et al, menguraikan bahwa ada dua tipe values terkait dengan keyakinan seseorang (individual's belief system), yaitu instrumental values yang menjelaskan tentang apa ya, semacam perasaan yang ingin dicapai dalam proses pencapaian tujuan, seperti keberanian, kejujuran dan hal-hal baik lainnya selama proses pencapaian tujuan akhir.

Kemudian satunya lagi adalah terminal values .  bagian terakhir dari tujuan hidup, ya kebebasan, kekayaan dan semacamnya.

Belum cukup definisi values itu masih ada klasifikasi lainnya, yaitu.. nah ini dua kalimat favorit saya : tangible dan intangible values.  Hal-hal yang bisa terukur dengan dengan jelas dengan standar tertentu dan yang tidak bisa terukur dan memiliki standar yang berbeda-beda bagi tiap orang, misalnya cinta #halagh

Mungkin, saya pikir saya harus dibikin sadar akan hal ini, dengan cara seperti sekarang ini.  Biar deh sesekali buka aib disini.  

Dari beberapa kali proses saya menjalani pendidikan, selepas SLTA, saya pikir mungkin hanya sewaktu saya ngambil magister saya bisa dengan jelas menentukan apa tujuan kuliah saya: kuliah tepat waktu sesuai jatah waktu beasiswa saya.  Dan, toh itu bisa tercapai dengan lumayan baik.

Kembali ke masa sebelumnya, saya menghabiskan waktu tigabelas semester untuk lulus sarjana, pencapaian yang luar biasa bukan? Walau saya sama sekali tak menyesalinya, karena syukurnya waktu itu biaya kuliah masih logis dan saya banyak mendapatkan hal-hal luar biasa selama waktu kuliah yang tak kalah luarbiasa (dan memalukan itu).  Terkadang hal ini saya jadikan senjata untuk memberikan semangat pada kenalan atau kawan yang merasa stuck dengan pendidikannya, saya biasanya bilang kalau hidup mereka (yang beberapa ngeluh kuliah kelamaan lima tahun dan IPK cuma tiga lebih dikit, pengen saya sentil di hidung deh rasanya hahaha) masih masih bisa diperjuangkan.

Dulu, tujuan saya sederhana, pokoknya lulus dengan IPK di atas 2,5, coba itu, bikin standar aja sampai putus asa gitu.  Tapi alhamdulillah target saya toh tercapai, kan 😀

Kemudian sekarang, secara sengaja, sedari awal sebenarnya saya sudah menetapkan standar yang salah akan tujuan sekolah saya sekarang ini.  Konyolnya, baru menyadari dengan sesadar-sadarnya hal tersebut di saat-saat skarang yang menurut  Linkin' Park : closer to the end.. 

Values, goals, saya pikir juga, selain sesuatu yang ingin dicapai dengan usaha, juga merupakan do'a-do'a yang cepat atau lambat akan dikabulkan oleh yang maha kuasa.  Toh, doa menurut saya tak hanya berupa ucapan permohonan tapi juga perbuatan.


Tapi, sekali lagi, sungguh saya tak menyesali perjalanan belajar yang sudah sampai sejauh ini, walaupun mungkin di mata orang lain, tambahan waktu kuliah selama tujuh tahun itu sungguh nganu sekali. 

Ya manusia di dunia ini kan beda-beda, ada yang mungkin pintar dan sangat pintar sekalian, yang sejak lama bisa menentukan nilai dan tujuan sehingga hidupnya bisa sangat terpola dengan keren.  Beda dengan saya yang begitu bodohnya sehingga harus belajar bertahun-tahun, literally, sehingga baru bisa ngerti esensi hidup.

Saat ini, satu hal yang saya pelajari, belajar memang tak kenal batasan, dan tak mengenal satu pola baku, tiap orang punya polanya masing-masing.

Bagi yang iseng membaca tulisan saya ini sedari awal sampai akhir, saya cuma titip pesan, jangan pernah takut untuk mengambil keputusan akan jalan mana yang akan ditempuh saat sudah menentukan tujuan.  Dan kalaupun merasa jalan hidup kalian penuh sandungan saat belajar, silakan hidup saya dijadikan pelajaran, bahwa perjalanan hidup saya dalam belajar dan mencari nilai bukanlah contoh yang tidak begitu baik untuk diikuti.

Tak ada yang sia-sia dalam proses belajar, tentang apapun, dan bagaimanapun, pasti ada nilai-nilai yang tanpa disadari bakal didapatkan dalam perjalanan, dan beberapa mungkin akan memperkaya pengalaman dan menambah pencerahan akan tujuan akhir hidup.

Akhirul kalam, sedikit quote yang menurut saya keren, karena barusan tadi pagi saya bikin di tumblr, dan saya pikir tumben-tumbenan keren kalimatnya hihihi



Begitulah, selamat menjalani hidup, selamat belajar tanpa mengenal batas, dan selamat menentukan values dan goals dalam hidup kalian.  Smoga smuanya sukses ya.
5 blog auk: Januari 2017 Salah satu bagian penting dari tugas akhir yang saya kerjakan adalah mengenai value , iya, sebenarnya intinya ada di kata itu. Dan dari sa...

Senin, 09 Januari 2017

KoeiSenin : Inteligensi


Saya baru ingat kalau punya buku terakhir dari serial Supernova yang berjudul Inteligensi Embun Pagi.  Dan saya juga rasanya sudah lama nggak bikin kuis di blog ini.  Jadinya karena nunggu hari jum'at masih lama, saya bikin Koeis Senin saja deh.

Hadiahnya ya satu buku koleksi saya itulah, jika ada yang berkenan memilikinya silakan menjawab pertanyaan singkat di bawah ini.  Jawaban yang terbaik akan mendapatkan buku iti.

Pertanyaan kuis kali ini adalah : apa sebenarnya inteligensi itu, tapi harus dikaitkan dengan pengalaman hidup kalian.

Gampang sekali, bukan?

Silakan saja dijawab di kolom komentar jika ingin meramaikan pagi ini.  Terimakasih.
5 blog auk: Januari 2017 Saya baru ingat kalau punya buku terakhir dari serial Supernova yang berjudul Inteligensi Embun Pagi.  Dan saya juga rasanya sudah lama n...

Sabtu, 07 Januari 2017

tentang blog yang berantakan

Seorang kawan pernah bertanya : "bagaimana ya caranya biar blog rame..

Mungkin, maksudnya biar banyak pengunjung, yang mungkin indikatornya bisa dilihat dari banyaknya komentar yang masuk.

Saya pun tak bisa menjawabnya, lah blog saya ini aja sepinya luar biasa, dan entah sejak kapan ya begini-gini saja kok.  Tapi toh nyatanya saya menikmatinya saja, namanya blog kan memang catatan pribadi, yang dibuka untuk khalayak ramai *deuh bahasa saya haha

Lagian, menurutku, seriusan, blog sekarang bukanlah hal yang hits seperti beberapa tahun yang lalu, dimana internet belum diramaikan oleh bermacam platform sosial media.  Tempat dimana semua orang lebih banyak dan cepat berkicau dan mendapatkan respon dengan instan pula.

Manusiawi lah, orang menulis dengan segala usaha yang menguras pikiran dan waktu, tentu sedikit banyak ya ingin ditanggapi.  Masalahnya adalah beberapa orang sering tak sabaran menunggu respon dari pembacanya, juga sebaliknya pembaca yang memberi komenter juga tak sabar menunggu respon dari penulis.  Apalagi, seperti saya ini, pemilik blog dengan konten yang seringkali tak terpola dan berantakan, apa coba yang bisa saya harapkan *lho malah nganu

Maksud saya, blog ini bisa tetap saya isi saja rasanya sudah sangat bersyukur, artinya saya masih bisa berpikir dan menuangkan isi pikiran saya dalam bentuk tulisan disini,  lebih sebagai pengingat saya saat memikirkan sesuatu, seabsurd apapun.

Nah, kalau ada yang berkomentar, saya anggap saja itu bonus perhatian dari pengunjung yang mungkin masih rajin membaca tulisan-tulisan saya disini *GR

Menurut saya sih, teruslah menulis, toh setiap blog pasti mempunyai ciri khasnya tersendiri (dan mungkin) punya penggemar tersendiri.  Yakinlah bahwa sebenarnya setiap blog pasti ada pengunjungnya, terlepas dari mereka mau memberi komentar apa tidak dalam setiap postingan, itu masalah lain.

Sedikit pesan saya pada siapapun yang merasa punya blog: teruslah menulis, setiap tulisan pasti punya punya ranah pembacanya.

dan jikalau suatu saat mungkin merasa tulisanmu begitu berantakan, silakan tengok blog saya ini sebagai bahan perbandingan biar sadar kalau tulisan kalian itu jauuh lebih baik dan rapi dari tulisan-tulisan saya yang seringkali berantakan dan entah sejak kapan ada masih belum juga menemukan jatidirinya hahaha
5 blog auk: Januari 2017 Seorang kawan pernah bertanya : "bagaimana ya caranya biar blog rame.. Mungkin, maksudnya biar banyak pengunjung, yang mungkin indika...

Jumat, 06 Januari 2017

tentang asrama

apa yang terbayang tentang asrama di benak kalian?  Sebuah rumah besar dengan banyak kamar dan banyak penghuni dan banyak cerita ..

ohiya saya sudah pernah bercerita tentang hal ini sebelumnya, kok. 
5 blog auk: Januari 2017 apa yang terbayang tentang asrama di benak kalian?  Sebuah rumah besar dengan banyak kamar dan banyak penghuni dan banyak cerita .. ohiya ...

Rabu, 04 Januari 2017

tentang seseorang

Mas Wahyu namanya, usianya mungkin sekitar 4-5 tahun di atas saya, tapi wajahnya, gimana ya seperti memancarkan semangat positif saja saat lama-lama ngobrol dengannya.  Saya ketemu tak sengaja, saat duduk memasang sepatu di area kampus.  Tak lama setelah menyapanya, kami tiba-tiba saja terlibat percakapan yang menyenangkan.  Sebenarnya tepatnya saya yang dengan senang hati mendengarkan cerita-ceritanya.

Dua kalimat yang saya ingat, saat pertama ketemu beliau:

  1. Sayang ya mas kalo waktu kita ngadep Allah terbuang dan sia-sia
  2. Allah itu ada mas, dan selalu membantu kita kalau kita dekat dengannya.

Saya rasanya dikasih bachagi telat di uluhati, saat beliau dengan dengan tenangnya bilang gitu sebelum akhirnya bercerita tentang hidupnya.

Hipotesis saya (halagh)bahwa masih banyak orang baik dan jujur di muka bumi ini, semakin diyakinkan dengan dipertemukannya saya dengan beliau.

Hidup saya yang saya pikir rada jungkir balik sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan kisah hidupnya.  Tapi sungguh, melihat keikhlasannya menjalani hidup, dengan banyak ataupun sedikit harta, dan hanya berpegangan pada garisan dari-Nya, itu sungguh luar biasa.

Dan usahanya yang selalu ingin bersih dalam pekerjaan, tidak mau memakan hak orang lain, tapi di sisi lai juga menghargai apapun sikap orang lain, yang penting dia tetap pada prinsipnya untuk hidup jujur dan amanah.

Saya selalu saja, senang menceritakan oran-orang keren seperti beliau.  Orang yang menjalani hidup dengan sikap, dengan keyakinan bahwa hidup ini akan baik-baik saja jika kita juga berlaku baik pada hidup itu sendiri, dan tentu mensyukuri apa yang ada, bukan hanya bisa bermimpi tapi lupa diri.

Mungkin, suatu saat akan saya tulis lebih detil tentang kisah hidup beliau, entah dalam bentuk apa. 
5 blog auk: Januari 2017 Mas Wahyu namanya, usianya mungkin sekitar 4-5 tahun di atas saya, tapi wajahnya, gimana ya seperti memancarkan semangat positif saja saat l...

Selasa, 03 Januari 2017

musholla bukan untuk tidur

Pada beberapa kali perjalanan saya yang jaraknya lumayan jauh, beberapa kali saya terpaksa singgah di beberapa tempat untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.  Dan tempat favorit untuk ngaso adalah pom bensin dan masjid.

Seringkali karena lelah yang tak tertahankan, saya kadang merasa perlu tidur beberapa waktu di tempat persinggahan.  Masalah yang sering mengganjal di benak saya adalah, seringkali terpampang tulisan :

dilarang tidur di musholla

malah pernah saya temui di sebuah pom bensin, yang dalam jam-jam tertentu, mushollanya digembok.

Saya tak tahu atas dasar alasan apa larangan tersebut, mungkin ada yang pernah jorok tidurnya atau gimana, tapi saya rasa, mana ada orang yang tidur tanpa pakaian lengkap dalam musholla, maksud saya entahlah, di bagian mana mengganggunya orang yang tertidur dalam musholla. Soalnya, sungguh tempat yang paling enak untuk tidur di musholla gitu ya di bagian sudut atau paling samping.

Aduh kenapa pagi-pagi saya malah menuliskan hal ginian,  Karena saya tiba-tiba teringat, beberapa minggu yang lalu saya melepas lelah dalam musholla yang terpampang peringatan begitu.  Tapi toh saya tak peduli karena saya ngantuk berat dan lelah sekali.  Untunglah saya tak diusir.
5 blog auk: Januari 2017 Pada beberapa kali perjalanan saya yang jaraknya lumayan jauh, beberapa kali saya terpaksa singgah di beberapa tempat untuk istirahat sejena...

Senin, 02 Januari 2017


I get it, you like to live like a shark.
swimming straight forward,
never looking back, and that's cool, man.
Sharks are cool.
But even if a shark
could make a choice...
I mean, if it had a brain
that was developed enough to
make a conscious decision,
I don't know the science behind it...
But if it could choose
between swimming forward,
all the time, or stop
and taking a moment to reflect.
 
 
Hey, what I'm saying is,
it's okay to step back,
reflect, look at the past,
come home, and let it remind you
what it is that makes you you.
Even if it's complicated.


 
 MacGyver.2016.S01E10 18:13
5 blog auk: Januari 2017 I get it, you like to live like a shark. swimming straight forward, never looking back, and that's cool, man. Sharks are cool. But e...
< >