Langsung ke konten utama

Postingan

alternatif pengganti ms office

kala ngerjain disertasi, beberapa tahun yang lalu, saya bersikeras ngga pake aplikasi bajakan, dari OS, aplikasi SEM sampai office.  Jadi aja dulu maksa pake Debian, jadinya pengganti office pun disesuaikan.  Walau pada beberapa titik, saya kepaksa juga make ms office-nya windows, terutama pas mau ngeprint di rental/ percetakan.  Layoutnya bisa berubah je, mengesalkan memang.

Andalan saya kadang Libre, kadang WPS. WPS sih lebih mirip dengan dan kompatibel dengan officenya windows.  Tapi di beberapa bagian saya lebih suka Libre, terutama untuk aplikasi pengolah kata.

Hedeh ribet menuliskannya ternyata. Udah gitu aja dah.
Postingan terbaru

daftar yang ingin kukerjakan beberapa hari ke depan

menikmati musik, menikmati ampli, beli solder-- demi amp zishan yang kendor.  Lalu beli eh tadi sudah beli amplas tapi entah lupa naro dimana, itu untuk bikin meja rencananya sih.  Entah kapan realisasinya.

Sementara menamatkan laporan kerjaan kantor juga tampaknya senin saja lah, detlennya toh ditunda (tolong bagian ini jangan diconto...)

Ohiya, pilox item atau putih baiknya, untuk setang Soloist yang parkir di kantor.  Itu juga kudu perlu amplas juga tampaknya.

Apalagi? Ituu, nulis untuk di koran kapan juga jadinya hay aku?

Masih banyak daftar untuk dikerjakan, bikin disertasi kawan untuk dijadiin buku itu juga, rencana entah dari kapan yang belum jadi-jadi, hedeh.

Belum lagi merapikan pernak pernik peralatan di rumah, dan melengkapinya, juga belajar mbengkel sepeda lebih baik lagi.

Banyak pokoknta.  Deretan buku juga banyak yang belum dibaca, belum lagi belajar lagi, persiapan untuk.. yang entahlah kapan mulainya itu hehe

Wah aku bakal sibuk selalu.

biarlah orang berkomentar kalau harusnya begitu tapi kan..

banyak yang tidak tahu kenyataannya gimana, atau gimana kalau kita berada di posisi orang lain itu.

gini-- oke deh ini hedeh kembali ke masalah virus itu lagi-- banyak yang menyarankan orang-orang untuk di rumah saja, baik-- kita yang cukup uang, mungkin tak mengapa untuk jaga diri di rumah tidak kemana-mana, duit kita cukup untuk persediaan makanan dan lain lain.  Pernah ga kepikiran, orang-orang yang di jalan itu, tak mungkin cuma untuk iseng atau bersenang-senang, sebagian mungkin demi mencari uang, untuk hidup.  Tak semua beruntung seperti kita euy.  Kalaupun menyarankan orang lain untuk tinggal, ada ngga kompensasi, atau jalan keluar, atau solusi gitu untuk mereka biar bisa hidup di rumah (itu juga kalau punya rumah) tapi mereka juga punya sesuatu untuk dimakan.

Itu satu, belum lagi, aku lihat yang banyak berkomentar, adalah orang kota, kebanyakan di kota, kebayang ngga di desa, atau di tempat yang tiada sinyal tau atau peduli dengan apa yang mereka ocehin?  social distancing?  S…

semoga negeri random ini bertahan

serba salah sekarang ini, mau liat berita isinya monoton: tentang virus yang sedang naik daun itu, yang sudah jelas mengerikan tapi ajaibnya masih banyak orang yang menganggapnya hal remeh temeh tiada guna.  asli kesel sama orang-orang yang abai, yang berpikiran "gak perlu tindakan preventif, toh masih belum ada yg positif tertular...."

so, jadi nunggu wabah merebak dulu baru ambil tindakan?

dan, mau ngomel tapi yang berpikiran gitu juga orang yang berilmu, mau gimana lagi.  Di satu sisi beberapa orang yang ngaku pemimpin, ngasih edaran, bikin himbauan, tapi setengah-setengah- setengah hati, meminta orang menjauh dari keramaian tapi dianya sendiri ikut mendukung acara yang mengumpulkan orang banyak.

di sisi lain, terlalu aware juga dianggap lebay, hedeh serba salah.  belum lagi tetangga-- ini nih yang paling bikin kesel, sudah tau baru datang bepergian dari negara yang urutan kelima di dunia sebaran korban virusnya, malah wara-wiri kesana kemari sejak awal mendarat di sini,…

tentang corona, sosial distance dan pekerjaan

ya mau gimana lagi, virus itu memang bandel dan merusak tatanan hidup manusia yang selama ini merasa baik-baik saja.  Dan kerjaan semua orang ritmenya jadi rada ngaco, belum lagi kudu ngejaga jarak dengan sesama manusia. dan sebagian besa kejadiannya itu tentu di kota-kota besar yang kerumunan manusianya tak terhingga.

lalu barusan saya liat apdetan twitternya mang @ifNubia, yang sekarang sibuk bikin pisau dan bertani.  Beliau pernah saya temuin waktu mampir di rumah mas Andi di Jogja, sejatinya dia itu pelatih sepeda.  Asik juga sekarang liat kesehariannya.

Dan kebayang eh kepikiran sih, kalau di desa gitu, di sawah, yang namanya social distance ya biasa, mana ada sawah yang rame, mana ada orang yang nanem padi atau memanennya dempet-dempetan? hehe  dan jarang juga perasaan petani sakit-sakitan, wong olahraga nyaris tiap hari, ada aja yang dikerjain.

Mungkin aku merubah hidupku gitu aja ya, cari sawah atau kebun, sambil buka bengkel sepeda, dan ke keramaian cuma sesekali, paling cuma…

tentang paman Tyo

kenapa tiba-tiba membicarakan beliau?

ini gara-gara mas Zam, tiba-tiba membagikan tautan ke blogombal, yang dikelola paman-begitu panggilan akrab untuk beliau. Tentu saja ini semacam sinar mentari yang tiba-tiba datang menyirami bumi saya yang sedang suram -- oke, sekali lagi gaya bahasa saya awur-awuran, pokoknya demikian deh.  Saya seneng sekali, sungguh.

Tentu saja blog dengan gaya bahasa yang selalu menggelitik untuk dibaca itu- walau kebanyakan postingan singkat dengan foto-foto yang sekilas tampak sederhana namun jadi penuh makna dilihat dari sudut pandang penulisnya, eh yang moto, ah pokoknya itu lah- saya masukin feedly.  O menyenangkan sekali bakal banyak bahan bacaan yang menyenangkan untuk beberapa waktu ke depan.  Lha saya baru tau kalo sudah lama aktif lagi je, taunya dulu pake ekstensi dot org kalo tidak salah ingat.

Eh padahal judulnya tentang paman Tyo ya, kenapa malah jadi tentang blogombal.

Sedikit nostalgia, dulu saya cukup sering beli majalah Komputer Akt!f, kemar…

terlalu tua untuk patah hati

patah hati terjadi karena apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. itulah kenyataannya.  apa yang ada dalam otakku tidak sesuai dengan apa yang aku lihat dengan mataku. ini adalah tentang sistem kerjaan yang sekarang aku hadapi, berkali-kali kecewa ternyata membentuk ketidakpedulian, sedikit aroma kebencian dan kelakuan buruk saat kenghadapi masalah: melarikan diri dan pikiranku menyendiri.

sampai tadi pagi, tiba-tiba pikiranku ngobrol sendiri, berkata mungkin sedikit tidak adil bagi orang lain, yang terpaksa ikut merasakan efek dari kepatah-hatian itu.  walaupun masih ada sedikit denial.  nyatanya aku juga membuat pembenaran atas kesalahanku sendiri, ditambah cara komunikasi diriku yang jelek, yang juga kerap menjadi sumber masalah.

baiklah, one more day,  besok deh aku keluar dari pelarian ini, mencoba berpikir lebih baik lagi. dan memang rasanya sudah terlalu tua untuk meresapi sesuatu yang bernama patah hati, atau jangan-jangan itu gara-gara nyatanya selama ini tak perna…