Langsung ke konten utama

Postingan

#selintas malam

..patah hati tidak mesti dari cinta yg ditolak kan? - @cyraflame -  Angkringan di depan hotel itu memang tidak seramai di tempat lain, tapi justru itu yang selalu menjadikan tempat pilihan mereka, yang seringkali duduk bersebelahan sambil memandang barat jalan. Sabtu malam itu baru beranjak menuju pukul sembilan, segelas jahe panas dan setengah gelas kopi susu, tak ada menu kopi arang di situ, minuman favoritnya Bumi.  Obrolan yang random, ada sisa-sisa bungkus nasi kucing yang terlipat rapi, tusuk sate usus dan undur-undur juga sekilas aroma bermacam makanan di belakang mereka. Lebih banyak Bumi yang bercerita saat itu, tentang kerjaan baru yang jaraknya seratus kilo di utara Jogja, juga tentang rindunya akan kota kecilnya ini, sehingga terus memaksa untuk pulang tiap akhir pekan, seperti sekarang.  "Yakin, cuma rindu kampung halaman?". Tiba-tiba Air nyeletuk.  "Menurutmu?" Bumi membalas singkat, sambil menatap sekilas lelaki di sampingnya.  Lalu, hening se
Postingan terbaru

#selintas lagi

..mana ada garis sejarah yg sempurna, bahkan untuk yg #selintas saja... - @cyraflame -  Gg. Kinanti, temaram selepas magrib, night rider hitam itu masih terparkir satu meter di depan gang yang lampunya baru saja nyala.  Pengendaranya yang bermata cerah itu masih menunggu, tak lama, sampai terdengar langkah yang ritmenya sudah dihapalnya, dan selaliu berhasil mendebarkan rongga jantungnya. "Yuk.."  Seperti biasa, singkat saja.  Konfirmasi atas janji yang sampai di telepon genggamnya sejak siang tadi, untunglah shift nya berakhir tepat sore hari.  Bumi menyerahkan kendali si hitam pada Air, sejenak kemudian melaju ke timur sesampai jalan besar langsung menuju perempatan kampus, kampus mereka. Sesampai bunderan, tak jauh menuju selatan beberapa ratus meter, putar balik sebelum akhirnya parkir di barat jalan,  sebuah bangunan bernuansa putih gading.  Masuk ke dalamnya sambil mencari tempat duduk yang kosong. Itu adalah kedai favorit mereka, yang jualan utamanya adalah cokelat. 

Kaebu & bubin.

 ..sampai sekarang, bubin LantanG tetaplah penulis favorit, rasanya apa-apa yang terkait dengan bubin dan karyanya, seperti menjadi semacam obsesi bagi saya.   Saya begitu senangnya saat tak sengaja menemukan ruas jalan Cijagra Satu di Bandung, jalan yang namanya ada di Jejak-jejak Anak-anak Mama Alin. Apalagi saat akhirnya menjejakkan kaki ke Bandar Lampung, kota yang ingin saya datangin sejak lama, kota kelahiran bubin.  Sampai-sampai saya berjalan kaki sekitar 5 kilometer di siang yang lumayan terik di pusat kota.  Panasnya siang terkalahkan oleh nama-nama jalan yang sebelumnya cuma saya tau di karya-karyanya bubin.  Menyusuri Jl. Raden Intan sampai berujung ke Gg. Manggis dekat Pasir Gintung.   Sampai akhirnya di novel terakhir bubin, yang lebih seperti memoar hidupnya kala keluar dari Kompas demi idealisme dan menggelandang di Amerika: Kisah Langit Merah.  Di novel itu ada sebuah benda yang menarik perhatian saya.  Itu adalah sebuah gitar yang saya bahkan baru tau merknya. Kaebu.

antara sekolah, ular berbisa & anak kucing

Saya dulu sekolah di jurusan peternakan, jadi selama 3 tahun belajar teori & praktek tentang hewan-hewan (piaraan).  Menarik sih sebenernya, teori-teori diajarkan lengkap, dari anatomi sampai reproduksi, juga tentu saja sampai urusan pakan dan rantai pemasaran. Semua hewan (ternak) diajarkan, kecuali babi, yang cuma dibahas sekilas, karena sekolah tidak menyediakan ternak babi & kandangnya.  Yang ada di lahan praktek cuma sapi, kerbau, kuda, ayam, kambing, puyuh, kalkun dan bebek - banyak ya hehe Tentu saja saya menyerap ilmu ternak dengan kurang baik, minat saya agak kurang, di samping saya takut sama darah dan tak terlalu berani dengan praktek yang melibatkan hewan ruminansia, jadilah cuma dapet ilmu ternak pas-pasan. Lepas sekolah, tidak lagi kuliah di jurusan ternak, malah sengaja menyasarkan diri ke kehutanan.  Secara umum ya mempelajari pohon dan kerabatnya. Toh ternyata ada bagian yang tak begitu jauh dari sekolah.  Selain belajar tentang biologi tentu saja, ternyata ada

patah hati di Bali

Ini bukan kisah yang sudah terjadi, maksudnya bukanlah patah hati yang terkait cinta-cintaan atau romansa apalah.  Jadi, ceritanya, eh ini bukan cerita tapi beneran nyata.  Seorang temen buka cafe di Bali.  Mini cafe katanya.  (Dulu) ada akun IG-nya segala, dan saya yang bukanlah tipe orang yang suka nongkrong di cafe, ntah kenapa seneng dengan vibe  cafe itu.  eh cafe apa kafe sih, ah gitu deh.  Sepertinya menyenangkan pesen makanan sambil menikmati salahsatu sudut tempat itu. Bahkan diam-diam saya tandain lokasinya di maps, dan saya sudah punya rencana, jika suatu saat ada kesempatan lagi ke pulau dewata itu, salah satu destinasi utamanya adalah nyemperin itu tempat.  Yang menyenangkan sepertinya, bukan sekedar titik lokasi, tapi juga keadaan area sekitar situ.  Padahal tentu saja saya sekalipun saya belum pernah ke situ. Tiba-tiba sekali, secara mendadak, owner nya mengumumkan bahwa per hari ini, cafe tersebut tutup dikarenakan satu dan lain hal, walau tidak membuka kemungkinan baka

#secarik

“Hey, tolong jadilah yang tidak pemaaf”*  Sebaris kalimat itu, muncul setahun kemudian, setelah episode soda di sudut warung internet, di kota mereka yang beranjak dan semakin tua. Muncul begitu saja di kotak pesannya, begitu tiba-tiba tanpa sempat sadar untuk mencernanya. Wanitanya sering menyebut dirinya sendiri sebagai bumi, yang selalu ditutupi luruhan dedaunan beragam warna dan selalu berubah seiring musim. Menyamakan dirinya dengan segala macam kepasrahan atas apapun yang diberikan air yang sedang rajin turun dari langit. Sepotong nama yang akhirnya menjadi julukannya.  Dan, mungkin memang sebaiknya tidaklah ada awalan, jika hanya akan dipungkasi dengan sebuah akhiran. Tapi manusia, selalu tidak akan pernah tahu jumlah tikungan dan jarak yang harus ditempuh, sampai akhirnya percaya bahwa semua sudah tercatat dan tak pernah menjadi sebuah nisbi. Sepenggal sore itu..   / Bukit Bintang. Sore pelan-pelan sebentar lagi menjelma menjadi gelap, bertukar waktu dengan malam tanpa

#selintas

..selamat pagi dari selintas kabut, embun dan secarik matahari.. * sepotong kalimat itu terus saja membayanginya, susunan beberapa kata sederhana namun selalu saja berhasil membuat pagi hari terasa hangat dan penuh. Entah ditujukan bagi siapa frasa indah itu, tapi selalu saja seakan-akan itu hanya untuk dirinya, untuk sejenak waktu yang pernah dinikmatinya bersama, pada suatu ketika ..   /   Godean, pagi itu baru sedang dimulai, tapi seperti akrab dengan langit siang yang lebih dari sekedar hangat. Di sebuah bangunan utara jalan utama, di depan salahsatu deretan komputer, seorang lelaki sedang menghentikan kesibukannya di keyboardnya, sementara kaleng soda di depannya sudah nyaris tandas. Lalu bergegas ke meja kasir di dekat pintu masuk. Sambil sibuk merogoh kantong belakangnya, berucap sekenanya.   "Sodanya satu lagi." "Dingin?" Selarik suara halus melempar tanya.  Keningnya berkerut, dan saat mengangkat mukanya, tiba-tiba saja menemukan senyum yang tertahan m