Langsung ke konten utama

Postingan

tentang kordinasi

aku pernah melontarkan pernyataan, bahwa masalah pekerjaan di sektor birokrasi ini bisa diselesaikan dengan memperhatikan dua hal, yaitu komitmen pimpinan dan koordinasi yang baik.

lha, pas aku ngomong gitu sama bos, malah diremehkan, yaudah. Itu biar buat ntar bahanku untuk diklat aja #lah

Lah, nyatanya gitu, dari pengalaman dan pengamatan kerja selama ini ya gitu.  Ujung-ujungnya dari semua kegiatan ya di kebijakan, kebijakan yang buat ya pimpinan.  Terus kegiatan juga bisa jalan dengan baik kalo koordinasi antar lini bisa berjalan dengan baik pula.  Percaya deh, beberapa unit pemerintahan yang pernah saya datengin karena keberhasilannya dalam pelaksanaan publik ya karena dua hal itu.

Mentah sekali memang.  Tanpa teori. Tapi kenyataannya begitu.
Asudahlah.
Postingan terbaru

tentang dendam pendendam

saya ternyata, barusan sadar, kalau sudah punya dendam, bisa saya rawat sampai bertahun lamanya, dan susah luntur, bahkan ada yang sewaktu-waktu muncul dan membara lagi.

tak bagus memang, tapi saya memang pendendam.

yang masih baru bisa dibilang lucu, saya kesel sama ibu-ibu komplek.  omongannya bikin kesel.  akibatnya saat barusan warga komplek ngadain bikin sate bareng2, saya ga mau ikutan - dengan sadar.  karena takut emosi lagi, dengan omongan orang yang susah ditakar.

mungkin, satu dendam kesumat saya, yang lumayan bikin hal positif di masa-masa berikutnya adalah, saat seorang adik kelas bilang di depan saya, kalau tiada bisa orang meneruskan sekolah kalo ga punya duit.

itulah salah satunya yang bikin saya terus nekat sekolah, walau terseok-seok.  saya mau ngebuktiin, duit bukanlah segalanya, dan tak harus punya duit banyak untuk sekolah. ada beasiswa dll.

ya saya baru sadar kalau saya seorang pendendam yang akut.
melelahkan memang.

tentang kota tanpa rasa seni

berulangkali aku berpikir, rasanya kota ini- mungkin lebih tepatnya provinsi ini, tempat aku tinggal sejak lahir, adalah tempat yang paling tidak mempunyai cita rasa seni di negeri ini.

mungkin akibat dulu dibuai oleh kekayaan alamnya, hutan yang hijau dan lebat, yang setelah dihabiskan entah oleh siapa, kemudian terbuai oleh batubara yang entah kenapa banyak sekali bermukim di bumi ini.  Kemudian setelah batuhitam itu tak begitu menggoda, ramai-ramai orang menanam tanaman yang konon rakus air, sawit.

aku pikir, karena apa-apa sudah tersedia dan murah, maka tak banyak yang berusaha membuat kreasi apapun atas hidup, diam tak berbuat apa-apapun di sini sudah bisa hidup.  Beda dengan di pulau seberang, yang sepertinya manusia akan mati jika tak bergerak.

anehnya, juga tak ada alam yang benar-bernar perwujudan citarasa yang cukup tinggi.  Sepertinya Sang Pencipta tak tertarik menciptakan sudut-sudut yang cukup bagus digunakan untuk bersantai.  Taman Nasional tak punya, pantai keruh kecok…

tentang (tu)lisan

..saya sebenarnya menyadari, akar masalah dari setiap persoalan yang menyangkut hubungan manusia dan sekitarnya adalah sesuatu yang bernama komunikasi.  Segala yang tak disampaikan dengan baik, via lisan maupun tulisan- ujung-ujungnya mesti bikin riweuh.  Pokonya gitu lah.

Karena itu, saya selalu ngiri dengan orang dengan kemampuan komunikasi yang baik, dan biasanya orang semacam itu sabar, baik bertutur kata maupun menuliskan ide-idenya.  Jujue sajalah, ini saya nulis salahsatunya akibat baca postingan (yang lama ga apdet) di blognya mas nuran.

Saya sih, jangankan ngomong, bikin status di sosial media saja seringkali rancu, isinya ngaco, ya gitu-gitu lah.  Apalagi postingan di blog ini- wah semau-maunya, entah sejak kapan pengen nulis yang sedikit terarah gitu, tapi ya akhirnya tetep saja akhirnya sesuai mood. Maksudnya pas mood ya nulis pas males- dan seringnya gitu- ya udah ga nulis.

Ini juga sebenernya tentang apa juga.  Intinya kemampuan komunikasi saya jele' .  Sering misund…

tentang kepemimpinan

..saya selalu meyakini, bahwa kepemimpinan itu adalah mengenai seni dan bakat seseorang, bagaimana pun dipelajari tak akan pernah bisa dilakukan dengan baik.  Kalau ada yang bilang: kan manusia dilahirkan sebagai khalifah di muka bumi ini.  Iya, itu benar, tapi kadar kepemimpinan manusia itu beda-beda, ada yang cuma mampu RT, Desa, Lembaga, dan ada yang mimpin satu negara.  Padahal yang paling susah ya mimpin diri sendiri.

Dulu, salah satu unsur tesis saya adalah kemimpinan, terkait dengan kerjaan, walaupun ga sepenuhnya murni neliti tentang leadership-nya, karena benar kata pembimbing saya, kepemimpinan sulit untuk dinilai secara langsung, lebih-lebih dikuantifikasi.  Sebuah konstruk yang dapat lumayan terukur lewat analisa multivariat, itupun saya selalu menyangsikan validitasnya, lebih-lebih dulu sempat ragu karena yang menjadi objek riset adalah kepala kantor.  Untunglah hasilnya cuku valid dan reliabel.

Lah, malah nostalgia soal penelitian hehe.  Kembali ke paragraf awal.

Intinya…

tentang I'm neither here nor there

judul di atas itu adalah tulisan di foto profil akun twitternya Ferry Irwanto- nama asli dari bubin LantanG.  Akun yang cuma pernah ngetwit tiga kali, ttg milih pak Jokowi:

Sukabumi-BSD 2 jam cuma buat JKW4P. Nyetir 175 di tol jagorawi cuma buat JKW4P. Nyoblos pertama saya buat JKW4P. — Ferry Irwanto (@Ferry_Irwanto) July 9, 2014 tentang sedikit gerutuan:

Sleepless nights. Foodless days. City of the damned. — Ferry Irwanto (@Ferry_Irwanto) July 31, 2014 satu lagi, tentang nanyain seseorang- mungkin urusan bisnis.

Hidupnya mungkin sepi, karena idealismenya.  Saya pernah dengar cerita tentangnya, yang benar-benar idealis dalam artian sebenarnya.  Apa yang menurutnya tidak boleh- maka itu benar-benar tidak boleh.  Mana yang bukan haknya- maka itu harus ditolak.

Keras dengan dunia. Yang tak sepikiran dengannnya, berujung pada kehidupan yang sepi.  Tidak sejalan dengan pikiran dan keinginan orang-orang.

Mungkin aku sekarang sedang merintis arah jalan ke situ.  Walau tak seidealis panutanku…

tentang fiksi yang berlalu

..malam baru saja benar-benar menampakkan jatidirinya, walau tak benar-benar senyap, di dermaga buatan, yang tak seberapa jauh dari tempatnya duduk dan menikmati sebotol minuman hitam, masih ada beberapa orang yang belum menuntaskan obrolannya.

suara ombak menyusup, dan ujung buihnya terlihat datang cepat-cepat, lalu mundur pelan-pelan, menyisakan pasir yang basah, padahal laut sedang tidak pasang. Otaknya beku. Langit sedang gelap, bintang yang ada tak mampu menembus pekat sepenuhnya.

Pikiran rasanya masih penuh dengan siang yang lengang, jalanan yang sepi, air laut yang memamerkan jernihnya tosca,  langit yang cerah - lalu kenapa tenggelam sendiri di tengah malam?

pernah tidak merasakan, kaki ingin lebih jauh berlari, tangan ingin lebih lebih banyak menuliskan cerita, ingin lebih lama bercerita, tapi energi seakan-akan sirna, raib entah kemana, lelah yang entah.

02.30
arlojinya berpendar.  kakinya malah melangkah, ke batas semu antara ombak dan pasir yang bertemu,  berjalan ke barat…