Langsung ke konten utama

Postingan

napas yang cukup

sebenernya apa sih hakikat sebuah kata bernama : 'cukup' itu?  Apa memang manusia tak pernah berkenalan sungguh-sungguh dengannya, atau memang tak pernah sampai pada titik dimana dirinya merasa cukup.

Bagi saya, mungkin nanti suatu saat, kata itu akan datang menghampiri, saat anak-anak sudah selesai dengan urusan sekolahnya (yang padahal ga ada yang bakal tau kalau bakal berlanjut lagi suatu saat kelak hihi), lalu sepanjang hari menikmati waktu, bersepeda seharian, mengutak-atik sepeda, atau sibuk membasuh motor legenda di pekarangan yang tak begitu luas, atau berusaha bertukang membuat benda-benda apa saja dari apa saja di halaman belakang, atau iseng meraparasi apapun.

Lalu duduk di sore hari berdua di teras, sambil minum teh tawar tentu saja, bercerita tentang apa saja dengan istri di kursi kayu, sambil sesekali menengok halaman-halaman buku-buku fiksi yang seperti tak selesai-selesai.

Intinya menikmati sisa waktu, tanpa ada keinginan untuk menambah apapun lagi yang krusial…
Postingan terbaru

tentang resolusi 2020

baru saja november, yang hujan, sudah teringat akan resolusi yang terakhir bikin kapan ya?

pokoknya tahun depan aku ingin pindah rumah lah, apalagi pas tau kmaren atap rumah bocor, ya gara-gara seng pelapisnya pada lepas bagian tengahnya, jadi aja kamar tengah tau-tau basah. selain takut akan kayu-kayu yang sepertinya semakin parah dimangsa rayap-rayap iblis menjelma ke penjuru dunia..

puyeng jg ngitung2 bahan bangunan yang tiap tahun makin meninggi (yaiyalah), tapi mari semoga mewujud nyata. selain itu- masih saja ingin memiliki astrea legenda, motor yang paling nyaman yang pernah aku rasakan sepanjang hidup. kalo ga ketemu ya paling tidak astrea apa sajalah yang masih bagus.

lalu ingin beli gitar, .. bentar-bentar, ini sebenernya resolusi apa bucket list toh?  apa aja lah.  gitar butut di kamar ini entah sudah berapa tahun adanya, sampai-sampai saya beneran lupa itu sebenernya gitar punya siapa haha

itu saja udah.

napas absurd.

angin maret begitu kering, dedaunan kuning berbaur rontokan rerumputan di lantai bumi yang mewangi vetiver, dan Albizia saman tak peduli, tetap pongah dengan hijaunya tapi juga tak mau merunduk, mungkin malu dengan sepasang kaki yang bertautan di rindangnya yang menghalau panasnya siang yang sebentar lagi usai..

itu adalah sabtu di akhir minggu kedua, akhir masa libur, akhir masa bertemu, akhir masa kembali mengurai rindu, tak lepas juga pelukan dan sesekali lembut hangat di keningnya, berbaur matanya yang sembab hingga berpulas bening perlahan mengalir di pipinya yang merona jingga.

kontras dengan langit yang sepenuhnya biru.

bibir mereka lekat, tak bertautan, kala tak kentara, tangan kanan Zi perlahan mengeluarkan belati kecil dari slingbang yang sedari tadi tergeletak di sisi mereka, perlahan pula digoreskannya, ya hanya digoreskan saja pada punggung lelakinya yang lembab..

Zi melepaskan ciumannya, menatap mata lelakinya yang sayu, menciumnya sekali lagi, matanya sembab.  lalu lari…

tentang Love for Sale 2

akhirnya, penasaran juga nonton kelanjutannya, setelah nonton kekejian mb Arini Kusuma terhadap bang Richard di bagian pertamanya.

di sekuelnya ini namanya berubah jadi Uni Arini Chaniago, masih berbasis love.inc, perusahaan berbasis  mobile yang masih misterius keberadaannya, saking canggihnya.

ceritanya sih berputar-putar di seputar jodoh yang tak kunjung datang pada anak kedua dari ibu siapa sih namanya lupa, yang tak kalah pusing dengan jodoh anak pertama dan ketiganya.  Sampai kemudian datanglah Arini..

bagian yang paling bikin penasaran di film ini bagi saya adalah, saat tetangga depan rumahnya si Adipati Dolken ngasih tebak-tebakan tentang pohon, dan ga dikasih jawabannya, menyebalkan sekali hedeh.

mungkin, sedikit kebalikan dari film pertama, menurut saya, kalo di bagian pertama lelakinya yang baper, di film ini kebalikannya.  Selain itu, filmnya mengalir begitu saja, dan menyenangkan karena setingnya kebanyakan di rumah yang ada di sebuah gang beserta kehidupan sekitarnya, ja…

jejak 1997.

22 tahun sudah berlalu kawan.
pertamakali menyeberang lautan ke Jawa Dwipa, menjejak tanah dan pengalaman baru.  Menghirup udara yang belum pernah kita rasakan.  Melihat hirukpikuk yang sebelumnya cuma bisa dilihat dari layar televisi dan terbaca di lembaran koran.

Praktek hutan tanaman yang tak sampai dua minggu, untuk dilanjutkan , dengan urusan masing-masing.  Aku sendiri ke arah barat, naik Kertajaya, atau Kereta Gaya Baru, persisnya lupa.  Menuju ibukota dari Lempuyangan, menikmati kereta api ekonomi tak lelah, sampai di ujung rel: stasiun Jakarta Kota.  Cukup sebentar untuk kemudian berganti kereta listrik, KRL dengan tiket seharga sembilan ratus perak.  Menuju kota hujan, kota yang aku impikan sejak lama untuk di datangi, untuk menemui dirinya, dirimu.

(bersambung kapan2)

tentang leptop dan debian yang menyertainya

leptop fujitsu saya sudah ringkih bener, banyak scratch dan batrenya tak juga sempat terganti, mungkin suatu saat akan saya bawa ke Jogja saja, ganti layar dan batre sekalian.

dan soal OS, saya masih setia dengan debian, satu-satunya sistem yang saya percayai saat ini, basic, ringan dan nyaris tak pernah ada masalah saat menggunakannya. dan tentu kinerjanya masih yahud untuk leptop yang usianya sudah berapa abad ini.

barusan iseng ngecek, lah skarang sudah ada versi 10.1 nya, dengan code name buster.  hmm jadi tertarik pengen upgrade.  Tak tahu diri sekali ya, sudah tahu leptop ringkih, penasaran aja pengen apdet sana sini hehe.

tapi bentar, saya ya kudu gugling juga, wong lupa lagi perintah-perintahnya haha dasar awam.