Langsung ke konten utama

Postingan

motor salah bengkel

 maunya tu ya kalau ke bengkel, dikasih tau rusaknya apa, jadi kalo kudu turun mesin ya jangan dipasang dulu sebelum hasil diagnosis kelar, biar saja semacam general check up gitu. bukannya apa-apa sih, jd perlu waktu aja sudah dibongkar pasang eh kudu dibongkar lagi karena masih ada yang rusak, jadi memperbaikinya bertahap dan jadi lama. walaupun akhirnya jadi tahu sih kalau rusak seperti itu lagi nantinya sudah bisa antisipasi. intinya kudu sekali lagi ke bengkel sih besok hedeh. yang sabar ya tor
Postingan terbaru

soal reuni saat menunggu pejabat lama

 kemarin datang ke acara tanam pohon yang dihadiri oleh banyak orang, yang mengundang petinggi di provinsi ini. Orang sudah pada ngumpul, nunggu berjam-jam eh yang punya hajat malah entah dimana kok ga dateng-dateng.   Tamu kan raja ya, berhubung aku selaku tamu sedang berjiwa raja, rasanya sudah cukup sabar menunggu nyaris tiga jam sebelum memutuskan untuk pulang ke kantor karena tak jelas keberadaan petinggi tersebut. Begitu mudahnya ya bikin orang menunggu.  Lu pikir situ artis favoritku apa? Untung selama menunggu itu banyak ketemu kawan, cerita-cerita kesana kemari. Salah satu adalah tentang reuni besar-besaran tahun depan. Aku tentu saja menjawab tegas bahwa tak bakal ikut.  Kawanku membujuk, sudahlah tak usah keras kepala katanya. Kataku bukan sekedar itu, reuni gede-gedean, tujuannya ndak jelas , ujug-ujug ngumpulin banyak angkatan, EO-nya juga ndak jelas, mintain duit ke tiap angkatan.  Perasaanku ga enak, sih.  Itu aja.  Jadi ngapain ikut acara yang serba ga jelas?  Sesederha

Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Kemarin nonton Vindes yang bintang tamunya Nopek, komika yang sedang naik daun.  Dia ada bercerita tentang pengalamannya terpuruk, lalu mengikuti petuah Ust Yusuf Mansur, tokoh yang sekarang sedang dicerca banyak orang.  Kontras, ya. Kata Nopek selama setahun dia tirakat, sepertinya juga rajin shuha, sholat tepata waktu dan entah apa lagi, cuma diceritakan sekilas.  Terus katanya berhenti melakukan amalan-amalan baik karena menurutnya  tak ada hasilnya. Saat cukup sukses sekarang, dia seakan bernada miring tentang amalan baiknya di masa lalu itu, bukan miring sih, seakan-akan apa yang dia lakukan itu benar-benar tidak ada hasilnya.  Apa tidak ada cermin untuk ngaca gimana dia sekarang? Hal-hal baik yang dilakukan, apalagi terkait ibadah, amalan baik, memang jarang ada yang langsung kelihatan hasilnya.  Perlu proses.  Emangnya elu siapa sampai-sampai semua amalan baikmu bisa diganjar secara express. Dan manusia tak akan pernah tau ganjaran dari Yang Maha Kuasa terkait kelakuan baik dan

Menghilangkan Emosi Sebagai Manusia Yang Terbuang

Aku mungkin yang terlalu berekspektasi terlalu tinggi dengan diri sendiri.  Mentang-mentang bisa kuliah tinggi, lalu berharap pemerintah juga memperhatikan akan hal itu. Itulah nyatanya.  Pemda tak seperti tentara atau polisi, yang memandang jabatan haruslah sejalan dengan pangkat, kenaikannya ekuivalen.  Pemda tempat aku bekerja apalagi, politik pilkada cuma menghasilkan tim sukses yang membuat kebijakan sekehendaknya, atas dasar apa entahlah. Memutasi orang pun sekehendak hatinya.  Jujur saat menuliskan ini masih ada sakit hati.  Apalagi yang membuang  aku ke tempat kerja sekarang, ternyata adalah kawan yang saat ketemu masih saja terlihat seperti akrab.  Dan sampai sekarang aku tak tahu alasannya, sehingga tak sampai setahun di dinas lama lalu dipindak ke tempat yang sekarang. Salahku sih. Sudah tahu kalau ingin karir melesat di pemda itu paling tidak harus memiliki salah satu dari tiga cara, yaitu dekat dengan penguasa, atau berusaha dekat dengan penguasa, atau memiliki prestasi ke

semakin besar, semakin bagus, semakin belajar, semakin diuji

.. aku pernah sok-sokan ngasih petuah sama seorang kawan yang benar-benar terpuruk saat di masa akhir studi s3-nya, leptop, hardisk ekesternal, flashdisk, dan semua data pentingnya hilang dicuri orang, belum lagi mobil beserta semua peralatan penelitiannya dicuri orang juga saat parkir di kampus dekat site riset. melihatnya terduduk lesu di teras sd saat sama-sama menjemput anak yang sekolah di tempat yang sama, aku pun mendekatinya, menanyakan masalahnya, setelah dia bercerita tentang musibah yang datang bertubi-tubi itu, aku cuma bisa membesarkan hatinya.. temanku itu memang bukan main-main ilmunya, ilmu dunia maupun akhirat, tapi toh akhirnya nyaris tumbang juga setelah diuji, aku bilang.. bahwa ujian dunia tentu mengikuti ilmu seseorang, semakin tinggi ilmu seseorang tentu ujiannya juga semakin berat. kubilang, ibarat dirimu yang sudah s3, tentu soal ujiannya juga untuk s3, tidak mungkin diuji dengan soal ujian anak sekolah dasar .. sambil aku bercanda sama dirinya : salahmu punya

Reuni Berbayar

Jujur rasanya ga ikhlas saja, reuni kudu bayar yang ada batas minimalnya.  Kalau saja reuni cuma untuk satu angkatan ya gapapa.  Reuni bertajuk 'reuni akbar' yang artinya lintas angkatan seringkali ga efektif.  Pas acara sudah dipastikan masing-masing peserta akan berkelompok-kelompok sesuai angkatan masing-masing. Kalau sudah gitu, apa coba tujuan bayar mahal untuk sebuah acara pertemuan, seperti yang sudah-sudah saya ya suudzon  palingan duitnya sebagian besar untuk operasional panitia yang dianggap berjasa mengadakan temu akbar.  Apalagi rencananya pakai mengundang band terkenal segala, lah esensi reuninya gimana.  Kenapa ga sekalian aja bikin acara pentas trus narik tiket buat pengunjung, sekalian aja adain acara komersil. Bukankah inti reuni adalah bertemu kawan lama, bertanya kabar, ngobrol sambil senang-senang tanpa perlu menanyakan kondisi keuangan dan hal-hal sensitif lainnya, anggap saja sama seperti waktu kuliah, dimana sama-sama belum punya apa-apa. Lagian, bayar de

Kawan-kawan Baik di Masa Lalu

 Kadang merasa beruntung, ada saja ketemu kawan-kawan di tiap fase kehidupan, yang syukurnya sifat mereka adalah antitesis dari sifatku yang suka emosi ga jelas.  Misal saat SD aku yang suka berantem sama Hadi, kawan sebangku, akhirnya tak cocok dan tak sengaja jadi pindah sebangku dengan Sayuti di kelas 4 rasanya, Sayuti ini telinganya congekan, tapi pemberani dan baik hati, entah dimana dia sekarang.  Orangnya juga sabar dan tak pernah protes dengan segala kelakuanku yang seringkali ga penting. Saat SD sebangku eh sebelahan bangku dengan Haspan, pas kelas satu dan kelas tiga, di kelas tiga pula aku baru tahu kalau di adalah sepupuku, hedeh.  Pintar menggambar dan sama-sama tak punya buku teks, sehingga harus meminjam dari Nia dan Emelda kawan cewek di meja sebelah.  Nia yang berangkat sekolah naik sepeda mini, dan cuek pas aku sapa sambil jalan kaki, hedeh.  Tapi Nia dan Emelda tulisan tangannya sama-sama bagus dan rapi. Eh kok malah membicarakan perempuan, toh. Kelas dua SMP rasanya