Rabu, 15 Juni 2016 3 komentar

Kebiasaan di jam 12 malam

Padahal, rasanya sudah bertahun-tahun saya menjalankan ritual ini, dengan bermacam kondisi, dari sekedar berbisik sendiri, menuangkannya dalam bentuk tulisan surat, sampai berkenalan dengan saluran bernama telepon interlokal, sampai sekarang lewat telepon genggam.

Tapi tetap saja, saya deg-degan, jantung saya berdebar-debar, saat menunggu detik tepat beralih ke tengah malam tepat.  Saat ulang tahun wanita saya.

Dan, seperti tahun-tahun di belakang, saya masih belum bisa, jarang sekali memberikannya hadiah, atau sesuatu atau apalah, dan barusan saya memohon sesuatu.. lagi

"maaf ya ngga' bisa ngasih sesuatu.."

eh dijawab enteng sama dia

"kenapa atuh..."

tuh kan, saya sangat tidak romantis dalam hal-hal beginian..

Aduh, saya masih deg-degan hihihi
Minggu, 12 Juni 2016 0 komentar
Hari ini wanitaku ulang tahun. 

Rasanya tak banyak yang berubah dari dirinya, masih menyebalkan bagi saya, karena dia selalu bisa menyenangkan siapa saja yang dekat dengannya, satu hal yang sering membuat saya diam-diam cemburu.  Satu hal yang sedari dulu tak pernah mau saya akui. 

Tapi itulah, resiko menjadi pasangan orang terkenal dan pintar.  Saya semenjak dulu berusaha menahan diri dan memahami satu hal itu sebaik mungkin.
2 komentar

Satu kalimat hening di tengah malam yang bising

bagaimana jika pada suatu saat kau merasa semua hening berpaling tanpa menengok sedikitpun ke arahmu di saat mendung berubah deras menjadi matahari yang menyengat jelas tanpa henti sementara langkah kaki tak bisa sedikit pun dihentikan walaupun belum turus lurus dengan pikiran yang entah sejak kapan merayap mengawang menipis udara di sela sesuatu melaju yang sering kau sebut waktu?
Sabtu, 11 Juni 2016 5 komentar

Si sulung yang bikin saya bangga & malu sekaligus

Sekitar satu bulan yang lalu, tak terasa si sulung yang sudah kelas tiga Tsanawiyah itu, menjalani masa ujian nasional.  Dia tenang-tenang saja, di mata saya begitu.  Aktifitas mainnya juga tak berkurang.

Saat ditanya, jawabnya selalu bisa ngejawab semua soal, malah katanya lebih mudah dari soal-soal saat try out.  Pede sekali pokokmen.

Dan barusan, pengumuman hasil ujiannya keluar.  Saya terharu euy, nilai rata-ratanya jauh di luar perkiraan saya, mengingat hasil try outnya biasa-biasa saja.  Ya nilai 80 koma sekian itu menurut saya keren, keren sekali.

Bangga? 
Iyalah, bangga sekali ngeliat ujiannya sukses.  Yang jelas dengan nilai segitu si sulung itu insya Allah bisa masuk sekolah mana aja yang dia mau.  Berdasarkan survei singkat masih di atas nilai standar masuk sekolah.

Lalu malunya?

Ya malu lah.  Anak saya sudah lulus sekolah, sayanya belum. Ah pokoknya hari ini masih euforia sendirian, sambil mikir mesti kecerdasannya nurun dari uminya.  Uminya dulu waktu sekolah juara umum melulu sih, jadi aja saya nekat naksir sang juara *lah malah nostalgia, sempet-sempetnya hahaha*

Dan ya beliau, jauh-jauh hari memutuskan untuk melanjutkan petualangannya, kali ini lebih ke timur.  Jombang titik pilihan persinggahan berikutnya.  Semoga kau terus diberi lindungan oleh-Nya dalam perjalanan hidupmu ya nak.
4 komentar

Menyalakan bara yang menguap luruh

Rasa-rasanya, beberapa jenak terakhir ini, saya kehabisan energi untuk tiga hal penting yang membuat hidup ini menyala dan terus berjalan, adalah menikmati musik yang bagus, semangat untuk membaca apa saja dan kesenangan menulis.

Jumat, 10 Juni 2016 0 komentar

Manusia pada dasarnya hanya ingin bercerita

Menurut saya ya begitu.  Sudah ditakdirkan demikian.  Bercerita kemana saja, ke siapa saja, lewat media apa saja, tentang apa saja.

kelanjutan dari keinginan bercerita adalah, ingin ditanggapi, ingin dijawab, ingin direspon, ingin ada sebab akibat.

Waduh, ngomong apa saya ini.
Jumat, 03 Juni 2016 0 komentar

Angkat mengangkat PNS

masih sedikit menyambung tulisan terakhir itu, biar imbang, maka saya menulis tentang kebalikan pemecatan, yaitu pengangkatan, dalam term PNS tentu saja.

Awalnya, mungkin, walaupun, sekali lagi mungkin ada data yang kurang valid, pengadaan pegawai yang melalui kajian analisis jabatan, yang kemudian dituangkan dalam permintaan formasi PNS yang diperlukan di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu, untuk disampaikan ke pemerintah pusat via Kemenpan, masih bisa berjalan sesuai keadaan yang mendekati fakta riil.

Sampai kemudia, gara-gara janji politik, pada tahun 2005, Presiden pada saat itu, mengeluarkan peraturan pemerintah yang tidak banyak diketahui orang kalau isinya sebenarnya kontroversial.  peraturan yang merupakan semacam jalan tol menuju status PNS melalui jalur honorer.

Kenapa kontroversial?

Ada beberapa poin terkait pengangkatan PNS yang terang benderang dikhianati oleh PP 48/2005 itu:  yang paling jelas adalah tentang penyusunan formasi, hal ini otomatis dilangkahi karena tenaga honor langsung diangkat tanpa melalui kajian itu.  

Kemudian, sedikit tentang batas usia, walaupun asas lex superior derogat legi inferiori bisa dijadikan tameng melawan aturan kepala BKN  Nomor 11 tahun 2002 yang masih dijadikan dasar.  Juga kalimat sakti lex specialis derogat legi generali yang bisa dijadikan alasan untuk menghadapi amanah dalam Peraturan pemerintah nomor 98 tahun 2000.  Hedeh, rumit soal aturan teh.

Terbayang kan, paling tidak dalam kurun waktu lima tahun, pengangkatan pegawai secara masif tanpa mengindahkan norma-norma yang disepakati sejak tahun 1974.  Walaupun saya yakin banyak juga mereka yang diangkat memang hanya karena semacam kesuksesan yang tertunda, akibat beberapa kali tidak lulus seleksi.  Seimbang dengan pemikiran saya di sisi lainnya, bagaimana dengan yang lain-lainnya?

Sisa masalah sekarang ya pemerintah tentu berusaha mengelak dari tuntutan tenaga honorer yang tersisa, akibat buntut dari pelencengan aturan dulu itu, sambil diam-diam berusaha kembali ke jalur yang benar.

Caranya?

Yaitulah, salah satunya via kalimat bertuah berjudul rasionalisasi pegawai.  Rasionalisasi akibat dari buah irasionalisasi.  

Tapi tentu, kejadian tahun 2005 itu tentu bukan pula salah satu faktor penyebab keirasionalan *kata macam apa pula ini* manajemen pegawai di negeri ini, faktor lain-lain semacam pegawai yang mentok mbulet muter-muter ndak jelas saat ditugaskan padahal cuma untuk belajar juga merupakan salah satu hal yang patut dipertanyakan.

Mungkin, selanjutnya mari kita bahas tentang komitmen dan perilaku pegawai di negeri ini, biar malu tuh yang disuruh belajar aja gitu ndak jelas blas, gimana kalo kerja keras, hih..
Rabu, 01 Juni 2016 4 komentar

Pecat Memecat PNS

Baru buka berita, lagi rame tentang wacana aturan pemecatan PNS, yang dianggap kinerjanya tidak bagus, atau apalah namanya.

Masalah utama dalam hal ini adalah, kinerja itu sendiri, indikator utamanya yang mana dan bagaimana?  Karena kinerja itu sendiri, hakikatnya adalah perbandingan antara output dan input.

Selama ini, dan sampai ini, di instansi mana pun,  indikator utama hanya berdasarkan tingkat kehadiran.  Kalaupun ada sekarang perwujudan lain dari penilaian kinerja sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2011 dan Peraturan Kepala BKN Nomor 1 Tahun 2013 tentang ketentuan pelaksanaan PP tersebut, tetap belum ada sistem yang jelas untuk mengatur soal kinerja ini.  Kenyataannya, absensi tetap menjadi dewa dari semuanya.

Yang menjadi tantangan, sementara ini adalah mewujudkan berjalannya UU Aparatur Sipil Negara, yang memang belum jalan.  Dua peraturan di atas itu pun jelas belum mengacu pada UU ASN yang baru terbit tahun 2014.

Dari beberapa jenis jabatan di PNS, sebenarnya yang paling mudah dinilai adalah pejabat fungsional, karena input dan output pekerjaannya relatif lebih jelas.  Unsur-unsur yang dinilai pun sangat jelas, jadi ada target yang jelas untuk dicapai.

Soal pecat memecat PNS itu, aturannya sendiri tidak semudah itu, walaupun KemenPAN-RB berencana membuat aturan untuk itu, patokan utama terkait PNS tetaplah UU ASN, dan juga tentu peraturan disiplin pegawai.

Bukan masalah apa-apa, cuma kembali khawatir pada tata cara penilaian dan penyaringan pegawai yang pantas dan tidak pantas untuk diberhentikan.  Tapi kalau tujuan utamanya untuk memperbaiki sistem, kembali lagi ke titik benah awal: tata cara penilaian kinerja yang bagaimana dan kriterianya apa.

Dan tentunya harus objektif pada semua strata pegawai, hal yang sekarang mungkin agak susah aplikasinya di dunia nyata.

Solusinya gimana, bah?

Nah inilah beberapa bagian yang nantinya bakal masuk ranah pembahasan hasil riset saya yang tertunda cukup lama itu.  Tuh, kan kentara kinerja saya gimana, nulis ginian saya jadi sedikit deg-degan juga, wong meleset dan ndak sesuai target awal je *malah curcol*

Jadi itulah, pemecatan akan terkait dengan sistem kinerja, karena terkait sebuah sistem, maka baiknya sama-sama diperbaiki, dan itu menteri kurangi dikitlah berbagi wacana-wacana di media sebelum membuat kajian secara holistik terkait sebuah objek, yang disinyalir sebagian masuk ranah underlying object.

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;