Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

review novel Heartbreak Motel

 ..setelah mendengarkan petuah dari seorang kawan , maka saya iseng membuat review novel Heartbreak Motel dengan sudut pandang yang mungkin sedikit berbeda dibanding yang sebelumnya saya bikin.. intro di halaman awal novel ini dibuka dengan cukup shocking,   adegan kekerasan yang cukup membuat ngilu, dan masih bakal menimbulkan pertanyaan sampai halaman-halaman berikutnya, apakah itu nyata ataukah cuma pendalaman sebuah peran.. Tidak terlalu banyak tokoh di dalam cerita yang fokus pada Ava Alessandra, sehingga relatif mudah merunut kehidupannya sebagai seorang artis film sekaligus brand ambassador yang sedang bersinar, sehingga menimbulkan konflik dalam kehidupan nyata dan cintanya. Alur utama novel ini adalah bagaimana Ava yang selalu struggle dengan pikirannya yang susah memisahkan dunia peran dengan dunia nyatam sehingga harus menenangkan diri, tanpa ada gangguan dari siapapun, beberapa saat setelah aktifitas syuting usai. Kebiasaannya itu sesuai dengan script  film berjudul Breakh

mitigasi Heartbreak Motel

.. iya, sengaja judulnya pakai istilah yang justru saya taunya berkaitan dengan bencana.  Saya juga barusan tau definisi aslinya, yaitu    ".....  serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana" intinya, itu adalah tindakan preventif yang diperhitungkan atas kejadian negatif yang bakal terjadi, kira-kira seperti itu.  Jadi begitulah,  yang dilakukan seorang Ava, tokoh utama dalam novel kedua karya Ika Natassa yang saya baca setelah Critical Eleven yang saya baca beberapa tahun silam. Ava mengantisipasi catastrophic di dalam hidupnya, belajar untuk mengatasi bencana   yang menimpa hari-hari dan hatinya, walaupun beberapa kali gagal.  Selain berkelahi dengan perasaan dan pikirannya sendiri memilah antara realita sebagai perempuan biasa yang juga punya beberapa masalah dan sisa-sisa penghayatan perannya saat menjadi seseorang  saat menjalani perannya sebagai pemain film yan

teringat akan Bibi Titi Teliti

 .. salahsatu tokoh di serial Bobo di majalah anak-anak yg bernama Bibi Titi Teliti, aku lupa ciri khasnya apaan, yang keinget malah Bibi Tutup Pintu yang galak, yang suka nyusuh anak-anak kelinci untuk nutup pintu. Kenapa jadi inget Bibi Titi Teliti, itu karena aku kesal sama diriku sendiri yang tidak teliti akan suatu hal.  Akibatnya ya bikin kesel sendiri.  Apa-apa tu ya harusnya cek dan recheck , ini malah ceroboh sekali.  Tertinggal satu detil penting, akibatnya cukup fatal. Selama ini memang sering sekali ceroboh, tapi ya tidak diambil hati.  Kali ini kok ya sangat mengesalkan.  Sudahlah, mungkin memang aku banyak tidak kompeten dalam banyak hal. Kzl. Kudu belajar sama Bibi Titi Teliti, pokoknya.  Argh stress jadinya.

tentang seorang Indah

.. entah sedang kerasukan apa tiba-tiba ingin bercerita tentang salah seorang kawan, dia setengah angkatan kuliah di bawah dan satu bimbingan, artinya punya promotor disertasi yang sama.  Riwayat hidupnya cukup unik, salahsatunya adalah pekerjaannya sekarang di kementerian yang ngurusin pohon satu negara, tapi ilmu dasarnya sendiri adalah ngurusin ikan, ya mari kita anggap saja dia ahli dalam hal makhluk hidup. Awal kenal dengan dirinya tentu saja waktu perkuliahan, walau tak berkesan-kesan amat, karena saat itu sama-sama sudah biasa mendapatkan nilai A untuk nyaris semua mata kuliah (lah malah nyombong).  Sampai suatu ketika sempat berkunjung ke kontrakannya yang sebenarnya adalalah garasi, yang membuatku takjub, bagaimana bisa tabah menjalani hidup di tempat itu bersama keluarganya. Haruskah aku ceritakan juga kalau suaminya juga kawna saya dan juga sama-sama kuliah di fakultas yang sama? Rasanya tidak perlu, karena tidak begitu menarik untuk diceritakan, karena hidupnya yang terlalu

biografi Buya Hamka oleh A. Fuadi

  .. akhirnya nemu lagi buku yang nyaman dibaca, karena gaya bahasa penulisnya yang memang sudah nyaman dan sepertinya menulisnya dalam  mood  yang bagus pula.  Kebetulan yang nulis biografi Buya Hamka ini satu kampung dengan beliau, dan kebetulan pula saya suka dengan gaya nulisnya A. Fuadi, yang terkenal dengan Negeri 5 Menara-nya. Saat saya menuliskan ini, masih ada beberapa puluh halaman akhir yang belum tuntas, dari total sekitar 300-an halaman dengan font ukuran lebih kecil dari standar novel biasa.  Iya ini biografi berbentuk novel, jadi asik ngikutinnya.  Saya terus terang terbawa dalam alur ceritanya, dari awal kasian dengan awal kehidupan Buya, kemudian kagum dengan pencapaiannya, sampai ikutan kesal dengan ambisi beliau yang rada janggal di beberapa bagian. tapi banyak hal yang saya dapatkan dair buku ini, di antaranya yang terngiang adalah bagaimana cara memuliakan pekerja sebelum melaksanakan tugas yang diajarkan pemilik penerbitan tempat Buya sempat bekerja saat berada di

gloomy morning

.. pagi yang kembali kepagian, ternyata dari kota ke kantor cukup 45 menit saja, tapi kok kantor sudah rame, oleh remaja berseragam putih biru.  oh ternyata itu murid-murid dari SMP 3, yang letaknya di desa yang kudu ditempuh selama sekitar 2 jam kalo lewat darat, dan mungkin sekitar kalo lewat air. oh iya, kurang lebih setengah dari total jumlah desa di kecamatan ini hanya bisa ditempuh lewat jalur air, karena lokasinya yang terpencar di sekeliling waduk PLTA.  Desa asliya konon dulu ditenggelamkan demi pembangunan waduk kui. Desa yang jauh itu, belum ada sinyal telepon selular, sementara sistem ANBK kudu pake jaringan internet, akhirnya mereka pinjem salahsatu ruangan kantor untuk kegiatan itu.  dengan didampingi beberapa guru, nginep sejak beberapa hari yang lalu.. Bayangin mereka kudu bawa komputer sendiri, nyeting internet sendiri, pakai pulsa sendiri.  Saya kok ya nyesek ya, mendadak sedih.  Soalnya kantor sendiri belum ada jaringan internet, belum kepasang karena satu dan lain

dua mata kuliah baru

.. kampusku ini memang rada ajaib, sudah beberapa semester ini, dikasih mata kuliah yang berbeda-beda, sebenarnya sih tak mengapa, cuma kudu belajar lagi. lebih-lebih karena emang ngalamin langsung semua teori administrasi publik di kerjaan - yang mana sering teori-teori terkait hal-hal tersebut yaa reality bites, man .. - terkait hal tersebut (yaelah jadi pake bahasa surat kantor), mata kuliah pertama terkait kebijakan, akhirnya buku public policy  favoritku karya pa Riant Nugroho bisa kepake juga untuk ngajar.  kalau mata kuliah satunya sih terkait manajemen sdm, ya relatif gampang lah, cuma buku-buku teks tentang itu sudah aku kasihkan ke temen yang dulu nyusus tesis, tapi untungnya skarang banyak ebook bertebaran tentang topik itu di internet, jadi ya begitulah. tinggal bikin slide yang tampaknya bikin pake canva saja lah yg gampang, dan mikirin besok pertamakali ngajar tatap muka langsung ya smoga ga gugup wes.  dan tampaknya kudu beli konektor type c to hdmi untuk chromebook. lia

sepanjang 28 km

.. kira-kira segitu, sekitar 27-28 km, jarak antara rumah dan tempat kerja sekarang, dan sepanjang perjalanan itu, macam-macam terlintas dalam pikiran, biasanya kalau kecepatan cuma sekitar 50 km/jam, seperti pagi pas berangkat dan sore pas pulang barusan.  Tidak berani cepat dulu, karena gear set  yang sudah aus parah, mungkin besok diganti. sebelum-sebelumnya, di rata-rata 60 km/jam, kadang sampai 80 km per jam, saat jengkel dengan pengendara motor dengan cc kecil sok-sokan nyelip, lalu berusaha ngejar balik.  kalau rada cepet gitu, jarang banyak pikiran melintas, fokusnya cuma ke jalan doang, kurang asik. toh nyatanya waktu sampainya juga tak berbeda jauh ternyata, sekitar 45-50 menit lah, sepertinya begitu. dan pas dalam kecepatan stabil itu, saya kepikiran macam-macam, ya kerjaan yang harus dirapiin, ya sepedaan yang sedikit terbengkalai, ya mimpi-mimpi yang belum tercapai, ya keinginan untuk kesana-kemari, dan hal-hal lain yang berkejaran dalam pikiran.. kadang juga terpikir: sam

kisah #2355

.. di atas meja bulat itu, tangan kirinya menggenggam botol air mineral, tangan kanannya sibuk dengan telepon genggamnya.  Kulot berwarna hijau bagus (sebab dia tak bisa menjelaskan dengan pasti warna hijau yang menurutnya unik dan bagus itu). "kamu kurusan sekarang.." "masa.. mungkin gara-gara celana gombrong ini ya.. " cuma kalimat itu, terkesan sambil lalu, sambil menunduk, dan terus sibuk dengan telepon genggamnya "iya, tapi flawless.." "eh, bentar, bentar. maksudnya?" setengah tersenyum, sambil terus sibuk dengan jemarinya, tapi ada sedikit rona memerah di wajahnya.. kemudian senyap, hingga perlahan dia mengangkat mukanya, dan rona itu semakin kentara melihat lelaki di depannya memandangnya tanpa kedip. "eh, ngeliatin apa?" ada senyum yang tak terputus. "kamu.." "apaan, ngeliat wrinkles and freckles ya.." lalu ada sepotong tawa khasnya, sedikit salah tingkah sepertinya. "pesenan kita, mana sih?" sambi

#selintas prasangka

Prasangka. Yg jika selalu baik, tapi sayangnya tidak  #selintas @cyraflame Jogja malam itu rasanya sedikit gerimis, jalanan seakan dilapisi cermin yang memantulkan warna kuning dan merah dan motor yang sesekali lewat sisi timur selokan Mataram.  Saat itu keduanya duduk bersisian, dua puluh lima menit dalam diam. "Kamu.."  Keduanya bersamaan, tepat di menit ke duapuluh enam. "Yaudah, kamu duluan.." Air menengok wajah muram di sampingnya. "..jadi, kamu kemarin kemana.  Tiba-tiba saja menghilang begitu saja.." yang ditanya menghela napas. "Aku males, habis ketemu sama mas .." Kalimatnya terputus.. "Langit?" .. Disambung begitu saja oleh Bumi. Air mengangguk. "Memang kenapa, salahnya apa?" "Salahnya ada pada aku kok.." "Kamu? Kenapa?" "Cemburu.." "Eh..?" Sepi kembali meraja.  Seakan-akan demikian, padahal ada sekitar tujuh orang lain lagi di kedai langganan mereka itu, saat itu. "Beso