Minggu, 27 Agustus 2017 2 komentar

tentang Nuran, penulis yang mencoba bengal namun gagal


..."Aku pake topi bergambar macan.." 
Demikian isi pesan pendek yang masuk ke telepon genggam jadul saya. Waktu itu adalah acara meet and greet Pidi Baiq di Togamas Gejayan.
Akhirnya saya bisa bertemu & bersalaman dengan blogger yang -maaf- baru-baru saja saya kenal waktu itu namun langsung membuat terpikat dengan tulisan-tulisannya.

Apalagi beberapa tulisannya menguak lugas berbagai sisi Guns n' Roses, band rock n' roll peringkat satu dalam hidup saya.

Itulah Nuran, pemuda bertubuh sehat jebolan Tegalboto. Belakangan saya baru nyadar kalau saya berkenalan dengan wartawan majalah musik ternama. Pantas saja tulisan-tulisannya beralur rapi, batin saya.

Beberapa jeda kemudian, saya sempat nengok kontrakannya di Condongcatur. Kenalan dengan peliharaanya yang bertitel Oz. Berkesempatan melihat-lihat sebagian koleksi bacaannya yang.. tampaknya terlalu berat untuk otak saya. Ohiya, waktu itu seorang Nuran masih berstatus mahasiswa pasca sarjana di universitas peringkat satu negeri ini.

Terakhir kali bersua lagi dengannya, adalah saat dirinya menuntaskan studinya. Tapi tentu tak di tempat prosesi wisuda berlangsung, ndak sudi saya. Sungguh tak sopan memang anak itu, duluan saya kuliah di Jogja, tapi kok malah duluan dia lulusnya.

Bulan kemarin, saya membaca kabar, kalau sang master menerbitkan bukunya, yang berisi kumpulan tulisannya, yang berjudul cukup panjang: Nice Boys Don't Write Rock n' Roll: obsesi busuk menulis musik 2007-2017.

Sungguh judul yang menipu, seolah-olah penulisnya adalah brandalan sejati yang punya jargon epik: sex, drug & rock n' roll. Tulisan-tulisannya, yang terangkum dalam buku yang tebalnya mengalahkan disertasi saya itu, memang liar, beberapa bagian membuka sisi tersembunyi dunia musik, tanpa sensor sama sekali, sampai-sampai ada artikel yang terpaksa tak jadi dimasukkan gara-gara judulnya yang menyeret-nyeret nama bagian tersembunyi dari bagian tubuh, sebelah bawah --".

Tapi jangan salah, lelaki berambut megar yang pernah berniat menjalani hidup dengan bersenang-senang layaknya superstar bengal yang tak peduli moral itu, sama sekali jauh dari kesan liar, apalagi urakan. Mimpinya untuk begitu, sayangnya gagal.

Penulis yang berasaskan hair metal itu, adalah seseorang yang hormat & sangat taat pada orangtua, penyayang istri tiada dua dan hidup berdasarkan pada dharma pramuka.

Walaupun, sebagian besar tulisan-tulisannya sudah pernah saya baca, tapi tetap saja, lebih asik rasanya mencermati kembali lembaran-lembaran kertas besutan EA books itu.

Selamat mas Nuran.
Aku bocahmu, mas!
Sabtu, 26 Agustus 2017 0 komentar

tentang Downgrade Debian Stretch

Setelah upgrade ke debian Stretch beberapa pekan kemarin, saya menemukan ada beberapa error yang lumayan mangganggu. Terutama soal wifi yang labil, kadang muncul kadang hilang, seringkali harus direstart baru muncul, utak atik driver untuk Atheros yang dipakai di Fujitsu saya, tak juga berhasil.

Lalu kinerja Libre Office 5 yang menurut saya malah lebih lamban dibanding pendahulunya, walau lumayan lebih cepat waktu diseting ulang, tapi ya tetep sahaja kurang asik.

Kemudian masalah audio, yang masih saja harus mengetik alsactl init di terminal setiap kali kalau mau leptop saya berbunyi, selain itu ada keterangan apalah gitu tiap kali booting, ada beberapa yang gagal di loading katanya, haish mbingungi pemakai awam semacam saya ini.

Akhirnya saya putuskan untuk merelakan Stretch dan instal ulang Jessie.

Kebetulan di kantor kemarin sempet bikin usb installer Debian Jessie 8.8 Xfce. Setelah mikir sejenak, akhirnya saya instal ulang, dan kembali terdiam saat memasuki bagian partisi. Bagian yang seringkali sering bikin bingung, soalnya saya nggak ingin partisi data saya terhapus lagi. Untung ada Google!

Jadi partisi manual, lalu menghapus partisi sistem terdahulu, bikin partisi baru, yaitu bagian primary yang di kasih bendera untuk booting. Lalu bikin partisi swap. Lanjut klik sana klik sini. Selesai. Reboot.

Tampilan Xfce menyenangkan bagi saya karena minimalis dan cuma perlu klik kanan untuk membuka menu, hanya muncul sedikit masalah karena shortcut Alt+Alt+T tidak mau menampilkan terminal. Gugling berkali-kali baru tau caranya. Menyenangkan.

Bagian menyenangkan lainnya adalah: wifi tak bermasalah dan tak perlu lagi ngetik alsactl init tiap mau denger lagu. Selain itu Libre office kembali ke versi awal yang lebih responsif dibandingkan Libre 5.
Senin, 21 Agustus 2017 0 komentar

tentang Senyum Dahlan & Tempest

1.  Senyum Dahlan ~ Tasaro GK

Katanya ini spin off dari trilogi kisah hidup pak Dahlan, nah harusnya masih ada satu lagi judul yang belum keluar dari karya Khrisna Pabichara.  Senyum Dahlan adalah karya Tasaro GK.

Buku yang saya dapatkan dari obralan produk Mizan ini isinya lumayan menarik, sudah lama saya tak menemui buku yang bisa saya habiskan sampai tamat, terakhir buku yang saya nikmati adalah karya terakhir A. Fuadi: Rantau.

Senyum Dahlan pada awalnya dibuka dengan membingungkan, yaitu kejadian saat pak Dahlan baru saja selesai senam di Monas lalu bertemu dengan Saptoto, yang berencana menulis biografi tentang Menteri BUMN tersebut.   Kemudian spontan diajak ke kantor menteri sambil membawa dua penumpang dadakan lainnya.  Dari situ kemudian alur cerita beranjak mundur, ke masa-masa penulis biografi yang juga seorang wartawan memasuki awal perkuliahan di UNY.

Cerita berlanjut saat berkenalan dengan Kanday, seorang sahabat yang idealis, punya ambisi untuk jadi wartawan dan kemudian keterikatan kisah hidup mereka dengan kliping koran yang dikumpulkan oleh ibunya Saptoto yang juga pengagum berat Dahlan Iskan.

Sampai disini saya bingung, ini buku bercerita tentang kisah hidup Saptoto-Kanday atau tentang seorang Dahlan Iskan.  Tapi di bab berikutnya sedikit terjawab, alur cerita kembali mundur beberapa belas tahun, saat awal-awal pendirian Jawa Pos, masuk lagi tokoh baru yaitu Eric Samola yang berperan penting dalam hidup pak Dahlan.

Sehabis bab tentang Dahlan Iskan, kembali alur cerita sedikit maju ke masa-masa Saptoto dan Kanday merintis hidup, sedari mahasiswa sampai akhirnya jadi wartawan.  Nyaris begitu setiap peralihan bab, alur cerita bolak balik sampai akhirnya kembali ke masa dimana alur cerita dimulai.

Bagian menarik dari buku ini karena tempat-tempat kejadian sangat familiar dengan hidup saya, oke ini sangat objektif sih.  Terutama kota Surabaya, Jogja, Bogor dan Banjarmasin.  Jadi saya membaca sambil membayangkan kondisi kota-kota itu di saat kejadian-kejadian yang ada dalam buku itu.

bagian menarik lainnya adalah beberapa ilmu tentang menulis dan bisnis yang ada dalam alur cerita, dan hal-hal itu dapat dicerna dengan mudah, selain tentu ada selingan tentang kekaguman pada wanita yang berujung pada hal-hal yang sedikit tidak logis.  Begitulah.


2. Tempest ~ Julie Cross

Ada sedikit kemiripan dengan Senyum Dahlan di novel ini, yaitu alur cerita yang maju mundur, walau lebih ngaco dan jelas belum logis.

Tempest bercerita tentang Jackson Meyer, seorang anak muda kaya di tahun 2009 yang punya kemampuan mundur ke masa lalu, tapi tidak dalam waktu yang lama, palingan berapa jam, atau paling pol beberapa hari.  Adam sahabatnya saja yang tahu kemampuannya melompati dimensi waktu ini, walaupun ternyata berdasarkan pengalaman mereka lompatan waktu ke masa lalu tidaklah mempengaruhi kejadian di masa sekarang.

Jackson punya cewek bernama Holly, mereka berdua ini sedang hot-hotnya, sepertinya bercinta di setiap ada kesempatan adalah hobi mereka, sepertinya begitu dugaan saya #lah.

Sampai suatu ketika, Holly tertembak, dan di Jackson kui bukannya nolong malah meremin mata terus terbang ke masa lalu, ke tahun 2007, lalu kemudian lompat ke tahun 2003, dan entah gimana malah kemudian bisa lompat lagi ke tahun 1992.  Ya ampun, semau-maunya lompat-lompatan.

Akhirnya malah bisa ketemu kembarannya yang sudah meninggal, Holly waktu masih belum pacaran, ayahnya yang entah gimana malah mau membunuhnya.  Tapi kok ya ceritanya bikin saya penasaran sampai halaman terakhir.  Walaupun bacanya bikin kepala sedikit pening.  Untunglah keterangan waktu yang tertera nyaris di setiap judul bab sangat membantu menyambungkan benang merah cerita.

Intinya ini sebenernya cerita dewasa anak muda yang suka lompat sana sini, mencari tahu akan bahaya yang terjadi, sambil tetap tak bisa move on dari Holly-nya.  Ajaibnya saya juga penasaran dengan alur ceritanya sampai mampu menamatkannya.

Saya juga baru tahu kalau Tempest ini bagian pertama dari trilogi.  Tapi sepertinya judul lanjutannya belum dibikin terjemahannya, yah piye dab
Selasa, 15 Agustus 2017 4 komentar

tentang lampu LED

..ada 12 titik lampu di rumah yang sekarang saya tempati, dan kemarin akhirnya total semuanya saya ganti dengan LED.  Lumayan je itung-itungannya dengan watt yang cuma separo dari lampu neon biasa dapet terangnya sama. 

Kalo soal harganya sih lumayan juga, rata-rata dua kali lipat lampu biasa,  kebetulan pas ada diskon LED Krisbow dan Phillips,

Lampu LED yang saya pasang bervariasi dari 3 sampai 11 watt.  Yang paling terang untuk di ruang tamu dan di sisi kanan kiri rumah, tampaknya saya ganti saja itu yg di samping rumah, terlalu terang soalnya.

Sepertinya hasil ujicoba sebulan kemarin lumayan, paling tidak dibanding salah satu temen kantor yang punya beban listrik sama yang kemarin saya tanya-tanya.

Mari kita cek lagi bulan depan, mudahan masih stabil

Selasa, 08 Agustus 2017 2 komentar

..memperbaiki flashdisk yang tak terbaca di leptop

..gara-gara kemarin penasaran pengen instal linux di komputer kantor, akhirnya satu usb flashdisk jadi korban.  Sudahlah gagal instal debian..lha kok ya sehabis bikin bootable USB pake rufus, gara-gara semena-mena klik sana sini, ujung-ujungnya flashdisk malah ga kebaca alias ndak kedetek lagi di leptop.

Mana itu flashdisk baru beli lagi, mana itu properti kantor pula.  Saya pikir mungkin diformatnya kayak cd-r gitu, jadi ga bisa writable lagi.. (eh bener ga sih nulisnya gitu?)..

Tapi kok ya saya penasaran.  Ketik fdisk -l di terminal, eh flashdisk saya masih kebaca walau muncul keterangan Hidden HPFS/NTFS di bagian ujung.

Akhirnya barusan gugling, dan ternyata ya ga seperti pemikiran saya, itu flashdisk masih ada kemungkinan untuk bisa difungsikan lagi.  Saya nemu caranya di forum ubuntu situ.

Bergegaslah saya instal gparted, trus format ulang pake fat32.  Udah deh beres, flashdisk kembali sembuh seperti sediakala.  Hore untuk hal keren ini!
Senin, 07 Agustus 2017 2 komentar

..masalah Wifi di Lenovo yang pake Lubuntu

..sejak diinstal Lubuntu 17.04, Lenovo lebih lumayan dibanding saat pake win 7 (bajakan).  Lebih stabil, ga sering mati-mati sendiri, colokan USB 3.0 bisa berfungsi lagi.

Cuma kemarin masalahnya adalah koneksi internet yang aneh, tethering  dengan hape sukses, tapi anehnya ngga bisa browsing sama sekali.  Terkadang bisa konek sesaat setelah meng - apt-get update di terminal.  Tapi setelah restart kembali koneksinya jadi ngaco.

Utak atik sana sini berdasarkan petunjuk yang didapatkan dari hasil gugling tak juga menampakkan hasil yang diharapkan.  Sampai akhirnya saya teringat dengan seorang master coding yang memperkenalkan saya dengan makhluk menyenangkan bernama debian, yaitu mas Galih.

Tanya ini itu sama beliau via whatsapp, intinya kata beliau kemungkinan masalah ada di driver dan dns, lalu gugling lah kembali saya dengan dua kata kunci itu.  Mencoba merubah seting dns, eh akhirnya berhasil konek, tak lama saya juga langsung update semua software via software updater setelah sebelumnya juga apdet driver broadcom punyanya lenovo..

Alhamdulillah, sampai saat ini koneksi wifi lancar dan stabil, mudahan tetap demikian.  Barusan saya juga instal axel untuk download file, ternyata beneran bikin donlotan lebih stabil.  Tadi nyoba donlot ISO debian 9.1 xfce yang besar filenya sekitar 1,8 Gb, stabil di kisaran 0,8 - 1,2 Mbps.  Wih sekali.

Jadi begitulah, terimakasih sekali lagi untuk mas Galih atas petunjuknya.
Kamis, 03 Agustus 2017 2 komentar

..update debian Stretch

..sebagai user OS debian secara harfiah, artinya cuma sekedar pemakai yang sebenernya masih tak banyak mengerti sebuah sistem operasi, saya selalu tertarik mencoba saat mendengar sudah terbitnya apdetan terbaru dari debian jessie yaitu debian 9 yang diberi nama Stretch..

melihat dari rilisnya sepertinya saya ketinggalan berita selama kurang lebih satu bulan, sampai sudah muncul versi 9.1 nya.  Untungnya sudah ada yang rajin posting tentang itu.  Walaupun awalnya ada masalah saat mau update dan upgrade, karena masalah verifikasi apdetan.  Untungnya lagi ada yang sudah posting tentang hal ini.

Lalu saya ikutin langkah-langkahnya satu persatu, walaupun perlu waktu nyaris seharian, soale file yang diupgrade lebih dari satu Giga je, tapi ga masalah kali ini karena pake wifi kantor #eh

Jadi ya begitulah, debian pun terapdet begitu saja..

Bagian menariknya adalah, saya tak perlu lagi mengetik perintah alsactl init di root tiap kali ngidupin leptop biar suaranya nongol.  Sungguh hore sekali!

Selain itu, hasil dari utak-atik kemarin, saya tahu caranya memperbaiki paket-paket yang broken. Sekali lagi hore untuk itu.
Selasa, 01 Agustus 2017 4 komentar

..tengah malam di awal agustus

...entah kesombongan apalagi yang akan (kita) tampilkan di atas muka bumi ini, apalagi yang akan dipamerkan seolah-olah manusia punya hak atas segala yang diinginkannya..

entah sampai kapan idealisme akan bisa berjalan bersisian dengan kenyataan yang menggerus keyakinan akan hal-hal yang baik-baik..

tapi inilah hidup itu kawan, dimana ekstrak madu hanya terdapat pada beberapa pohon tertentu di rimbunan belantara yang terdiri dari ribuan species..

dan (kita) sedang berjalan di dalam labirinnya, mencari jalan keluarnya masing-masing..

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;