Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Gelato

Kemarin siang, pikiran random saya membelokkan motor saya siang-siang ke sebuah restoran yang sepi.  Seumur-umur saya juga rasanya baru kali itu masuk tempat makan yang terliat mewah dan senyap.  Gara-gara penasaran aja dengan sesuatu bernama gelato.

Ternyata gelato itu ya es krim, cuma menurut lidah saya yang kurang sensitif ama makanan ini: rasanya lebih enak dari eskrim bungkusan yang mainstream.  Lebih padat dan tidak terlalu manis, mungkin.  Kebetulan kemarin milih rasa tiramisu.

Itulah intinya.


Tapi sebenarnya yang keinget sama saya justru saat memutuskan singgah lalu memarkirkan motor saya di halaman tempat makan mewah itu.  Deg-degan, pake dibukain pintu segala.  Dan pas masuk ke dalam,  buset remang-remang cahayanya, trus sepi. Cuma ada saya sendiri :|

Kepalang tanggung, langsung aja nanya ke mas-mas yang berdiri deket freezer saking groginya, habisnya bingung mau gimana kalo ke tempat makan macam ginian.

Akhirnya pesanan sampai, cuma satu scoop, tapi porsinya menurut saya c…

Hidden Heroes : lagi-lagi tentang berbagi hal-hal baik

Lama-lama saya gemas juga, gara-gara setiap melihat sosial media, masih saja berbagi berita buruk.  Saya pikir, plis deh, kadang ngebilangin orang lain provokator, lah trus apa bedanya dengan menyebarkan berita buruk lalu menyebabkan orang lain berpikir lebih buruk bahkan jadi mimpi buruk.  Seakan-akan tiada hal yang baik lagi di negeri ini. 

Barusan saya membaca buku Hidden Heroes, buka lama, cetakan tahun 2012, tapi rasanya masih saya up to date isinya.  Di saat banyak orang (termasuk saya) cuma bisa ngomong begini begitu, tapi nyatanya omong kosong doang.  Orang-orang yang ada dalam buku ini, luar biasa, membawa kebaikan, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekelilingnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini juga sebagian besar, bukanlah orang yang mempunyai pendidikan formal yang tinggi, tapi pola pikir dan apa yang diperbuatnya jauuuuuuh melampaui orang-orang yang kelamaan sekolah (termasuk saya)

Ayolah, daripada berdebat yang tak begitu penting, mending berbuat ses…

novel serial berusia 20 tahun

Tadi siang, tak sengaja melihat tulisan tangan saya sendiri di sudut kanan atas halaman kedua dari novel serial anak-anak mama Alin-nya bubin LantanG yang entah sudah berapa ratus kali saya baca ulang.  Saya memang biasa menandai buku yang saya beli dengan paraf atau tandatangan dengan tambahan tanggal pembelian, kadang kota tempat saya membelinya, sebagai pengingat saya sendiri.

Rasanya buku itu, adalah novel yang pertama saya beli, dari gaji di tahun pertama saya bekerja, ya tak terasa kalau dihitung masa kerja sudah sedemikian lama sekali, tentu dengan mengabaikan fakta bahwa nyaris setengah dari masa kerja saya diisi oleh cuti besar-besaran atas nama sekolah :D

Buku itu saya beli di toko buku Gramedia yang berada di lantai 2 -kalau tidak salah- Mitra Plasa, pusat pertokoan modern pertama di Banjarmasin yang akhirnya luluh lantak akibat kerusuhan tahun 1997.

Novel itu entah sudah berapa kali juga mengikuti jejak saya kemana-mana, rasanya saya seperti tak bisa dipisahkan dengannya.…

sahabat mahasiswa di PSDM Unair

Kuliah di Universitas Airlangga menurut saya adalah pengalaman yang tak bakal tergantikan sampai kapan pun, saya kuliah di universitas yang letaknya di tengah-tengah kota Surabaya itu dari tahun 2003-2005 pada program studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) yang berada di bawah pengeolaan Program Pasca Sarjana.

Bagian menariknya bagi saya, selain proses perkuliahan yang relatif lancar, orang-orang yang bekerja di bagian administrasi pasca sarjana, terutama di Prodi PSDM sangat-sangat membantu, dan aura kekeluargaannya luar biasa. Mereka yang bekerja disitu lebih dari sekedar hubungan mahasiswa-bagian tata usaha. Dua tahun berhubungan dengan mereka seperti layaknya sahabat. Coba saja tanya anak-anak PSDM dari angkatan saya sampai sekarang, siapa yang tak kenal dengan mas Tino, nama panggilan beliau. Selalu siap membantu segala hal terkait dengan administrasi para mahasiswa.

Dan hal itu tak berakhir sampai disitu, bahkan sampai saya lulus pun, sampai sekarang, hubu…

perbandingan ha?

entah kenapa saya tak pernah bisa menerima perbandingan-perbandingan atas satu hal terhadap hal lainnya, yang terkadang tidak imbang.  Lebih-lebih ujungnya bernada sinis terhadap salah satunya.

Membandingkan negeri ini dengan negeri lain.
Membandingkan satu daerah dengan daerah yang lain.
Membandingkan satu orang dengan orang yang lain.
Membandingkan satu hal dengan hal yang lain.

Apalah itu.
Apakah itu?

Buat apa sih itu?

nonton gelaran Ngayogjazz 2016

A photo posted by rd (@warmx) on Nov 19, 2016 at 6:11am PST
akhirnya, kesampaian jua nonton acara musik yang digelar tahunan di Jogja ini.  Sebenarnya saya ngga mudheng-mudheng amat sama musik jazz, walaupun kadang-kadang pas iseng suka nongkrong di depan bentara budaya Jogja tiap senin malam saat ada Jazz mben senen.

Kemarin itu, eh hari sabtu tepatnya, nyatanya acara Ngayogjazz 2016 ini menurut saya keren sekali, bayangkan itu ada tujuh panggung yang didirikan di tengah-tengah dusun Kwagon, di tengah perkampungan penduduk yang kebanyakan bikin genteng dan batu bata, selain petani tentu.

Saya jadi bingung dan pegel ngiderin semua panggungnya saking menariknya, dan yang tampil tentu skillnya di atas rata-rata semua, saya terhibur sungguh.  Walaupun saya undur diri lebih cepat sebelum acara usai, kira-kira jam 8 saya memutuskan pulang karena ada sesuatu hal, di samping saya pikir kalau sampai habis acara mesti keluar lokasinya bakal antri, wong namanya jalan kampung hanya cukup satu mo…
mungkin sedikit tidak nyambung, tapi awalnya catatan ini tertulis karena membaca tentang Yui, yang lagu-lagunya baru akrab di telingaku.  Membayangkan catatan-catatan lirik lagunya yang rapi tertulis entah dimana. Aku sangat menghargai catatan siapapun, tentang apapun, dimanapun, lebih-lebih dicoret-coret dengan tangan sendiri. Hal yang membuatku tak pernah melarang anak-anak melampiaskan keinginannya untuk corat coret dimanapun, di kertas, di pintu, di dinding kamar, bahkan sesekali di sprei, biar saja. Terkadang coretan mereka aku potret, dan sesekali aku lihat-lihat lagi saat rindu masa-masa mereka menggoreskannya. Catatan-catatanku sendiri, lebih banyak mengisi halaman belakang buku pelajaran, dari sedari sekolah sampai kuliah. Apalah itu coret-coret hanya seringnya menuliskan namanya. Yang tak jauh beda dengan di meja kelas, di meja perpustakaan, nakal sekali. Buku tulisku abadi aku simpan, entah sampai kapan, aku masih tidak bosan belasan tahun menyimpannya dan sesekali mem…

orang Indonesia itu ..

terus terang, lama-lama saya kesel lho, kalo ada yang ngomong, apdet status, atau nulis apapun, pake sok tau (banget) dengan imbuhan kalimat :.. orang Indonesia itu ..

misalnya : orang Indonesia itu ternyata ya bla bla, .. atau orang Indonesia itu emang gitu, kalo gitu suka bla bla bla

Saya jadi mikir kadang, orang yang ngomong gitu sejauh apa sih kenal dengan seluruh penduduk negeri yang luas ini, seluas apa pengetahuannya tentang kultur negeri ini yang beranekaragam, saya pikir terlalu sempit pengetahuan untuk menggeneralisasi sifat penduduk negeri ini.

Kadang saya iseng mikir, yang berani ngomong gitu apa pake pendekatan induktif? Tapi dalam kasus apa dan gimana, trus sampelnya siapa dan berapa banyak, trus .. halaagh malah mumet..  Untuk menginduksi suatu masalah sekhusus apapun tidak bisa mikir dan berceloteh sesingkat itu. Paling tidak bagi saya hehe

Dan ya, ndak, saya nggak pernah suka penggeneralisasian semacam itu.
Begitulah pokoknya

65

selalu selalu kehabisan kata-kata untuk lelaki hebat yang hari ini sudah menjalani enam puluh lima tahun usianya.

lelaki yang dulu sering mengorbankan jatah makan siangnya demi anaknya.  Lelaki yang mencari tambahan pekerjaan sampai larut malam demi keluarganya.  Lelaki yang setiap kamis membawakan majalah Bobo terbaru untuk anak-anaknya, bahkan sebelum kami bisa membaca.

lelaki yang sering kehilangan kesabaran akibat kelakuan anak sulungnya ini, tetapi lelaki sederhana itu juga yang rasanya tak pernah tidak mengabulkan keinginan saya sepanjang beliau mampu, terkecuali keinginan untuk masuk sekolah yang dulu juga sekolahnya.  Karena beliau ingin anaknya jauh lebih baik darinya.

Beliau beranggapan, sekolah adalah titik tolak yang penting untuk masa depan, bukan jurusan saat kuliah, dan nyatanya beliau benar adanya.  Masa depan hidup saya diawali di waktu sekolah.  Baik terkait dengan pekerjaan, pun terkait dengan pendamping hidup.

lelaki yang selalu mengajarkan bahwa ilmu dan kesederha…

catatan-catatan bang Aip

bangun pagi, lalu menunda mandi, seperti biasa, bukannya merencanakan jadwal hari ini, malah entah kenapa membuka fesbuk, lalu terpaku pada catatan terakhir bang Aip disana.  Terusik oleh catatan-catatan itu, jadinya malah membuka seluruh catatan yang ada disitu.  Membaca-baca sekilas kemudian memutuskan untuk mendokumentasikannya.

Ternyata banyak catatan yang belum pernah saya baca, dan saya tahu sebagian besar itu adalah semacam bek-ap tulisan beliau di blognya.  Tapi toh, tanpa minta ijin saya kopi paste saja semuanya dalam lembar dokumen, hasilnya adalah transkrip tanpa edit sepanjang 747 halaman.  Itu mungkin jumlah catatan selama kira-kira kurang lebih .delapan tahun.  Ngalah-ngalahin jumlah draft disert... ahsudahlah.

Tapi tenang, saya sudah mengirim pesan untuk meminta ijin, telah menyalin catatannya untuk saya konsumsi sendiri.  Soalnya, saya banyak belajar dari situ, belajar berpikir logis, belajar menggunakan referensi dengan baik dan benar, belajar untuk sederhana, belajar…

Sebar apa yang kau sebar?

Akhir-akhir ini, lama-lama gerah juga dengan segala macam berita buruk yang bertebaran di media maupun sosial media.  Semua seperti berlomba-lomba menyebar dan menebar berita.  Yang kalau dikerucutkan tetap mengarah pada satu hal: keyakinan.

Ada yang mengutuk, ada yang berteriak tentang provokator, ada yang berkata cinta damai.  Tapi sadarkah, semakin disebar, semakin saja menebar benci, bagi siapa saja, bahkan bagi diri sendiri.

Kenapa tidak sejenak saja berpikir tenang, diam lalu berkaca sebentar saja.  Bahwa apa yang dilakukan dengan menebar berita buruk tak lebih dari menghasut juga, karena pikiran pembaca yang menerjemahkan apa yang disebarnya beda-beda.

Tidak semua dewasa menyikapi kejadian-kejadian buruk, bahkan berkata benar pun akan tetap terasa salah.  Semua punya versi benar di pikirannya masing-masing.

Silakan lah terus menyebar berita buruk.  Saya cuma kecewa dengan orang-orang yang pikir cukup pintar dan dewasa dalam hal berpikir dan menggunakan logika, akhirnya kalah de…

Males Merubah Menu Makanan

Tabiat saya sedari dulu tampaknya begitu.  Selain kadang-kadang suka mencoba-coba menu baru yang belum pernah saya rasakan, pada akhirnya menu makan saya sehari-hari ya itu-itu aja. 

Jadi, kalau saya sudah cocok dengan satu masakan, mungkin sebulan, mungkin lebih menu saya ya yang itu-itu saja.  Terlampau malas untuk merubahnya.

Saya tahan sebulan penuh buka puasa hanya dengan mie atom bulan goreng campur sayur dengan saus kacang yang menurut saya super duper enak buatan honey, istri saya.

Waktu dulu saya kuliah di Surabaya, nyaris setiap malam menu makan saya adalah pecel lele yang warungnya berjajar di sepanjang jalan Karang Menjangan, sedangkan makan siang nyaris selalu di warung kecil di belakang kampus pasca.  Menunya juga cuma nasi dengan lauk telor ceplok plus sambal kacang dan kerupuk.  Kalau tidak sesekali saya mampir warung di deket pasar karmen.  Nyaris dua tahun muter-muter aja disitu.

Sekarang, di sekitar saya berdomisili sekarang.  Pun hanya beberapa masakan yang pas di…
Terinspirasi oleh tulisan mb Octa itu, saya juga ingin menulis partner in crime saya sejak dulu.  Yin di saat saya menjadi yang, dan juga sebaliknya.

Mungkin, jika diibaratkan postingan sebelumnya,

Penjaga rumah dan sang Profesor

Judul aslinya ya the housekeeper & the professor, judul di buku terjemahannya pun begitu, biar saja saya terjemahkan lagi judulnya, karena toh ini buku terjemahan.  Syukurnya buku ini semacam membuat napsu membaca saya terbakar lagi.

Entah darimana saya mendapatkan referensi tentang novel yang satu ini, yang jelas karya Yoko Ogawa ini membuat saya penasaran, terlebih setelah membaca keterangan di sampul bagian belakang bahwa buku ini telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar di Jepang.  Wah.

Bagian awal cerita justru di awali dengan bagian yang sesungguhnya baru akan terjadi di seperempat cerita, jadi ada sedikit alur mundur.  Tapi itu menjelaskan bagaimana inti pertemuan antara profesor dan penjaga rumah, dan tokoh bernama Root, salah satu tokoh kunci di dalam cerita ini.

Tokoh utama yang tampil di cerita ini minimalis sekali, ada agen tenaga kerja, kaka ipar profesor, si penjaga Rumah dan Root.  Mungkin gara-gara sedikit tokoh itu membuat saya lebih konsentrasi dengan jalan ceri…

Random #1

Sesekali (ngaku) bikin postingan random.

Yang pertama, saya ingin membaca novel berjudul the housekeeper and the professor, filmnya lagi berusaha didonlot sekalian, sepertinya keren itu jalan ceritanya, wong katanya sampe terjual 4 juta kopi lebih di Jepang.  Mungkin ini novel dari negeri itu kedua yang bikin saya penasaran selain Train Man yang sudah saya punya novelnya, versi terjemahan laah pastinya.

Kalau tidak salah hari rabu kemarin, akhirnya merasakan juga nonton di Sphere X, itu varian studio di blitz yang layarnya lengkung, dan kursinya otomatis bisa untuk nyender  Asik sih, walau film yang saya tonton: Doctor Strange menurut perasaan saya tidak sehits ulasan orang-orang.   Serasa nanggung serunya. Dan yaa saya masih aja kenginang-ngiang ucapan Strange ke perempuan gundul itu : " I'm not a master, I'm a doctor.."  Beh rasanya gagah sekali ya kalau suatu hari nanti saya ngomong gitu #halagh

Akhir-akhir ini apa ya, sarapan saya kembali mencoba rada absurd: bua…

Random #1

Sesekali (ngaku) bikin postingan random.

Yang pertama, saya ingin membaca novel berjudul the housekeeper and the professor, filmnya lagi berusaha didonlot sekalian, sepertinya keren itu jalan ceritanya, wong katanya sampe terjual 4 juta kopi lebih di Jepang.  Mungkin ini novel dari negeri itu kedua yang bikin saya penasaran selain Train Man yang sudah saya punya novelnya, versi terjemahan laah pastinya.

Kalau tidak salah hari rabu kemarin, akhirnya merasakan juga nonton di Sphere X, itu varian studio di blitz yang layarnya lengkung, dan kursinya otomatis bisa untuk nyender  Asik sih, walau film yang saya tonton: Doctor Strange menurut perasaan saya tidak sehits ulasan orang-orang.   Serasa nanggung serunya. Dan yaa saya masih aja kenginang-ngiang ucapan Strange ke perempuan gundul itu : " I'm not a master, I'm a doctor.."  Beh rasanya gagah sekali ya kalau suatu hari nanti saya ngomong gitu #halagh

Akhir-akhir ini apa ya, sarapan saya kembali mencoba rada absurd: bua…

perubahan template blog auk

karena ada yang nanya gimana merubah atau mengubah atau apalah theme blog ini, atau kalau di blogspot lazim disebut template, caranya sederhana sekali.  Banyak juga kok yang membagikan caranya di web, gugling aja.

Tapi ya ndak apa-apa toh sesekali berbagi caranya.  Biasanya sih saya suka template/theme yang simpel, jadinya pake kata kunci itu kalau mau gugling template.  Kebetulan yang dipasang ini namanya Nordic, template blogspot hasil transformasi dari theme-nya wordpress.  Templatenya sendiri saya donlot dari situs newbloggerthemes.com.  Banyak pilihan kok disitu.

Setelah di donlot, ekstrak saja file .zip nya.  Terus cari file dengan ekstensi .xml .  Dibuka terus semua teks yang ada disitu di kopi saja, terus di paste ke bagian template.  Coba cek gambar di bawah ini.


Nah klik saja tab Edit HTML itu, ganti aja semua teks/kode yang ada disitu dengan kode yang sudah dikopi dari file .xml sebelumnya.  Udah beres.   Kecuali ada bagian-bagian yang pengen diedit.  Misalnya nambahin link…

tentang leptop saya (lagi)

posting satu lagi ah, biar dikira kemaruk dan rajin, padahal nganu..

Ini tentang laptop Fujitsu saya itu (lagi), yang serinya LH531 itu, yang RAM nya cuma 2 GB, yang skarang layarnya ada beberapa bercak hitam gara-gara pas nutup lupa kalau ada kunci lagi nongkrong disitu, jadi aja ketekan lcd dan pecah di di dua titik.

Selain itu batterynya juga nonaktif, lelah total dan tak lagi punya kemampuan menyimpan daya, mungkin gara-gara sombong pernah sok-sokan ngasi petuah :kalau leptop di charge jangan lupa dicabut kalau indikatornya sudah penuh.  Eh malah saya sendiri yang kualat, pas ngecharge ketiduran, jadi aja rusak dan kalau make harus sambil dicolok, dan harap maklum pas listrik tiba-tiba mati tapi lupa nyimpen ketikan.

Kemari liat-liat spare part battery dan lcd, eh harganya ternyata lumayan juga, bisa untuk persediaan makanan anak kos satu bulan, dilematis sekali.  Untungnya kalau soal ram sih nggak masalah.  Lagian saya ngga ngerjain hal-hal berat-berat juga, masih lancar jaya den…

bersih-bersih blog, tempat ngopi keren & rumah bambu

sebenernya mungkin judul yang pas adalah ngerapiin blog ini, yang setelah saya amati ternyata sudah nyaris satu bulan tidak saya isi.  Payah sekali memang.  Di samping niat lama untuk ganti template, akhirnya barusan diwujudkan.

Tak banyak yang dirubah di susunan halaman, selain tambahan blogroll blogger yang akhir-akhir ini rajin update dan tulisannya menarik untuk dibaca-baca. Nantilah pelan-pelan ditambahin lagi daftarnya.  Yang jelas sementara ini saya mengurungkan niat untuk hijrah ke wordpress hehe

Saya rasa akhir-akhir ini sosial media juga sedang jenuh, beritanya muter-muter kesitu-situ aja, tapi saya tak bakal membahas hal itu, kurang keren sama sekali.  Saya cuma ingin menceritakan sedikit pengalaman saya hari minggu kemarin.

Selepas nongkrong di warung Ijo-  setelah sebelumnya sepedaan santai kesitu, teramat santai sehingga dari starting poin kesitu nyampenya satu jam dua puluh menit lebih #infondakpenting- pulangnya nginthilin temen seperhobian turun, rencana mampir ke rum…