Selasa, 29 November 2016 4 komentar

Gelato


Kemarin siang, pikiran random saya membelokkan motor saya siang-siang ke sebuah restoran yang sepi.  Seumur-umur saya juga rasanya baru kali itu masuk tempat makan yang terliat mewah dan senyap.  Gara-gara penasaran aja dengan sesuatu bernama gelato.

Ternyata gelato itu ya es krim, cuma menurut lidah saya yang kurang sensitif ama makanan ini: rasanya lebih enak dari eskrim bungkusan yang mainstream.  Lebih padat dan tidak terlalu manis, mungkin.  Kebetulan kemarin milih rasa tiramisu.

Itulah intinya.


Tapi sebenarnya yang keinget sama saya justru saat memutuskan singgah lalu memarkirkan motor saya di halaman tempat makan mewah itu.  Deg-degan, pake dibukain pintu segala.  Dan pas masuk ke dalam,  buset remang-remang cahayanya, trus sepi. Cuma ada saya sendiri :|

Kepalang tanggung, langsung aja nanya ke mas-mas yang berdiri deket freezer saking groginya, habisnya bingung mau gimana kalo ke tempat makan macam ginian.

Akhirnya pesanan sampai, cuma satu scoop, tapi porsinya menurut saya cukup , apalagi rasanya beneran lebih padat.  Habis itu dikasih tambahan air putih satu gelas gede.  Wah kenyang haha.  Soalnya biasanya di tempat lain dikasih air putihnya seuprit, satu gelas super imut.

Yang bikin saya gemeter, waktu acara makan gelato kelar.  Bayar ke kasir, eh di kasih tagihan sebesar seratus ribu lebih.  Alamak, jangan-jangan saya salah baca, soalnya rasanya di daftar menu harganya cuma limabelas rebu.

Tapi pas saya amati, eh itu kasirnya salah ngasih bill, hedeh tagihan orang dikasih ke saya *jitak kasir bermuka lempeng tanpa dosa*

Untuk sementara, rasanya kapok saya makan di tempat gituan, auranya ga asik, mana sepi sendiri lagi.  Mending makan es krim dungdung pake roti, murah meriah, enak dan merakyat haha
Minggu, 27 November 2016 1 komentar

Hidden Heroes : lagi-lagi tentang berbagi hal-hal baik



Lama-lama saya gemas juga, gara-gara setiap melihat sosial media, masih saja berbagi berita buruk.  Saya pikir, plis deh, kadang ngebilangin orang lain provokator, lah trus apa bedanya dengan menyebarkan berita buruk lalu menyebabkan orang lain berpikir lebih buruk bahkan jadi mimpi buruk.  Seakan-akan tiada hal yang baik lagi di negeri ini. 

Barusan saya membaca buku Hidden Heroes, buka lama, cetakan tahun 2012, tapi rasanya masih saya up to date isinya.  Di saat banyak orang (termasuk saya) cuma bisa ngomong begini begitu, tapi nyatanya omong kosong doang.  Orang-orang yang ada dalam buku ini, luar biasa, membawa kebaikan, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekelilingnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini juga sebagian besar, bukanlah orang yang mempunyai pendidikan formal yang tinggi, tapi pola pikir dan apa yang diperbuatnya jauuuuuuh melampaui orang-orang yang kelamaan sekolah (termasuk saya)

Ayolah, daripada berdebat yang tak begitu penting, mending berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.  Jangan cuma bisa mikir ndak jelas lalu bisanya sekedar nulis (seperti saya).

Mungkin, salah satu contoh nyata telah diperbuat oleh kawan saya: mbak Ajeng Sekar, yang tiap bulan bersama gang-nya, berbagi kesenangan dengan orang-orang di sekitar kotanya dengan acara bernama maparintuangeun.  Atau berbagai ajakan untuk berbagi di situs kitabisa.com.  Walaupun saya yakin, banyak juga kawan saya yang melakukan hal baik dan manfaat untuk orang lain secara diam-diam, bagaimanapun sistem dan caranya, itu hal keren di muka bumi ini.

Akhirul kalam, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, untuk direnungkan, untuk ngaca, untuk bikin nyadar bahwa masih banyak orang-orang baik di negeri ini, yang seringkali justru tidak menampilkan dirinya dirinya di publik, tapi menampilkan hasil karya dan manfaat yang telah nyata dihasilkan oleh mereka.

Yuk, mari sama-sama berusaha berbuat yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, paling tidak dimulai dengan menghentikan berbagi berita dan cerita buruk yang malah makin nambah ruwet persoalan.  Ya?


-----
*gambar sampul buku, hasil nyomot dari sana.
1 komentar

novel serial berusia 20 tahun



Tadi siang, tak sengaja melihat tulisan tangan saya sendiri di sudut kanan atas halaman kedua dari novel serial anak-anak mama Alin-nya bubin LantanG yang entah sudah berapa ratus kali saya baca ulang.  Saya memang biasa menandai buku yang saya beli dengan paraf atau tandatangan dengan tambahan tanggal pembelian, kadang kota tempat saya membelinya, sebagai pengingat saya sendiri.

Rasanya buku itu, adalah novel yang pertama saya beli, dari gaji di tahun pertama saya bekerja, ya tak terasa kalau dihitung masa kerja sudah sedemikian lama sekali, tentu dengan mengabaikan fakta bahwa nyaris setengah dari masa kerja saya diisi oleh cuti besar-besaran atas nama sekolah :D

Buku itu saya beli di toko buku Gramedia yang berada di lantai 2 -kalau tidak salah- Mitra Plasa, pusat pertokoan modern pertama di Banjarmasin yang akhirnya luluh lantak akibat kerusuhan tahun 1997.

Novel itu entah sudah berapa kali juga mengikuti jejak saya kemana-mana, rasanya saya seperti tak bisa dipisahkan dengannya.  Soalnya selalu saja, kalau pikiran saya sudah mulai ngaco, membaca buku serial itu adalah salah satu pengganti tabib yang berhasil merubah hari-hari buruk menjadi lebih baik, ya rada drama memang, tapi ya begitulah.

Sedari saya magang di akhir kuliah S1 dulu, sampai saya bawa ke dalam hutan.  Kemudian saat meneruskan sekolah di Surabaya sekitar 13 tahun yang lalu juga saya bawa-bawa dalam ransel saya, pun saat saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi ke Jogja ini, buku yang satu itu tak lepas dari daftar buku yang harus ikutserta.

Nyatanya saya selalu berusaha menjaga kondisinya tetap bagus dan nyaman untuk dibaca.  Rasanya, paling tidak sudah dua kali sampulnya saya ganti, belum lagi bagian kirinya sudah saya jahit, sudah dua kali pula karena lemnya sudah tidak kuat lagi mengikat jilidannya.

Tuh, buku yang saya suka aja, saya simpen dan pelihara sampai sebegitunya, apalagi perempuan yang saya sayangi ^^
Jumat, 25 November 2016 4 komentar

sahabat mahasiswa di PSDM Unair



Kuliah di Universitas Airlangga menurut saya adalah pengalaman yang tak bakal tergantikan sampai kapan pun, saya kuliah di universitas yang letaknya di tengah-tengah kota Surabaya itu dari tahun 2003-2005 pada program studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) yang berada di bawah pengeolaan Program Pasca Sarjana.

Bagian menariknya bagi saya, selain proses perkuliahan yang relatif lancar, orang-orang yang bekerja di bagian administrasi pasca sarjana, terutama di Prodi PSDM sangat-sangat membantu, dan aura kekeluargaannya luar biasa. Mereka yang bekerja disitu lebih dari sekedar hubungan mahasiswa-bagian tata usaha. Dua tahun berhubungan dengan mereka seperti layaknya sahabat. Coba saja tanya anak-anak PSDM dari angkatan saya sampai sekarang, siapa yang tak kenal dengan mas Tino, nama panggilan beliau. Selalu siap membantu segala hal terkait dengan administrasi para mahasiswa.

Dan hal itu tak berakhir sampai disitu, bahkan sampai saya lulus pun, sampai sekarang, hubungan kami masih terjalin dengan baik, kadang kalau pas mampir kota Surabaya, pasti tak melewatkan waktu untuk rendezvous, bertemu, bertukar kabar dan ngobrol tentang kawan-kawan seangkatan.

Saya pikir begitulah bagusnya tokoh penghubung antara mahasiswa dan universitas: gayeng dan tak ada kekakuan sama sekali, jadi sama-sama diuntungkan. Tanpa diminta pun kami semua segan dan hormat dengan mas Tino, semua masih mengingat kebaikan beliau. Bahkan saat kemarin, baru saja saya reuni tak sengaja dengan kawan satu angkatan di PSDM di kota Jogja, salah satu topik pembicaraan pasti menanyakan kabar mas Tino, hingga doa-doa yang baik ditujukan untuk hidup beliau.

Hubungan saya dengan teman-teman satu angkatan pun masih terjalin dengan baik sampai sekarang, kalau ada waktu dan kebetulan seseorang bertugas atau berada di kota tempat yang lainnya berada, kami masih tetap kontak satu sama lain. Masih menyempatkan untuk bertemu dan bertanya kabar. Belum lagi ada grup khusus di whatsapp yang sengaja dibuat biar silaturrahmi tetap terjaga.

Satu hal itu yang saya rasakan sampai rasakan, hasil kuliah di Unair : rasa kekeluargaan yang tercipta, antar karyawan dan mahasiswa, dan kekompakan antar mahasiswanya, semoga hal penting seperti itu tetap ada dan dijaga sampai sekarang.


*postingan ini dibuat dalam rangka menyemarakkan lomba blog yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga Surabaya
Rabu, 23 November 2016 6 komentar

perbandingan ha?

entah kenapa saya tak pernah bisa menerima perbandingan-perbandingan atas satu hal terhadap hal lainnya, yang terkadang tidak imbang.  Lebih-lebih ujungnya bernada sinis terhadap salah satunya.

Membandingkan negeri ini dengan negeri lain.
Membandingkan satu daerah dengan daerah yang lain.
Membandingkan satu orang dengan orang yang lain.
Membandingkan satu hal dengan hal yang lain.

Apalah itu.
Apakah itu?

Buat apa sih itu?
Selasa, 22 November 2016 2 komentar

nonton gelaran Ngayogjazz 2016

A photo posted by rd (@warmx) on

akhirnya, kesampaian jua nonton acara musik yang digelar tahunan di Jogja ini.  Sebenarnya saya ngga mudheng-mudheng amat sama musik jazz, walaupun kadang-kadang pas iseng suka nongkrong di depan bentara budaya Jogja tiap senin malam saat ada Jazz mben senen.

Kemarin itu, eh hari sabtu tepatnya, nyatanya acara Ngayogjazz 2016 ini menurut saya keren sekali, bayangkan itu ada tujuh panggung yang didirikan di tengah-tengah dusun Kwagon, di tengah perkampungan penduduk yang kebanyakan bikin genteng dan batu bata, selain petani tentu.

Saya jadi bingung dan pegel ngiderin semua panggungnya saking menariknya, dan yang tampil tentu skillnya di atas rata-rata semua, saya terhibur sungguh.  Walaupun saya undur diri lebih cepat sebelum acara usai, kira-kira jam 8 saya memutuskan pulang karena ada sesuatu hal, di samping saya pikir kalau sampai habis acara mesti keluar lokasinya bakal antri, wong namanya jalan kampung hanya cukup satu mobil keluar masuk.

Yang penting saya senang-senang menikmati musik sedari sore sampe jam segitu, makan malam dengan nasi kucing yang enak, beli kaos (hitam) yang keren, dan sempat ketemu sama mbak Latree yang mau manggung dengan dengan grup Swaranabya-nya, sayang karena jadwal manggungnya diundur saya ndak sempat nonton padahal saya sudah nunggu sampai jam 17.00 liwat, jadwal seharusnya yang diundur karena komunitas Jogja punya hajat launching album Swing ora Jazzmu di panggung Wuwung kui.

Niat untuk nonton mas Fariz RM dan Tohpati pun terpaksa ditunda, karena saya pikir mesti lapangan depan panggung Paris yang sampingnya persis ada pabrik batubata kui bakal membludak waktu beliau tampil.  Jadi biar sajalah nanti nontonnya via youtube.

Salut saya sama panitia bikin gelaran acara musik yang apik dan damai tanpa rusuh.  Yang jelas menghadirkan musik jazz di tengah perkampungan yang adanya di tengah sawah dan di sisi bukit hijau itu benar-benar jenius! Salut. Smoga lain waktu saya bisa datang lagi di acara semacam ini. Amin
0 komentar
mungkin sedikit tidak nyambung, tapi awalnya catatan ini tertulis karena membaca tentang Yui, yang lagu-lagunya baru akrab di telingaku. 
 
Membayangkan catatan-catatan lirik lagunya yang rapi tertulis entah dimana.
Aku sangat menghargai catatan siapapun, tentang apapun, dimanapun, lebih-lebih dicoret-coret dengan tangan sendiri. Hal yang membuatku tak pernah melarang anak-anak melampiaskan keinginannya untuk corat coret dimanapun, di kertas, di pintu, di dinding kamar, bahkan sesekali di sprei, biar saja. Terkadang coretan mereka aku potret, dan sesekali aku lihat-lihat lagi saat rindu masa-masa mereka menggoreskannya.
 
Catatan-catatanku sendiri, lebih banyak mengisi halaman belakang buku pelajaran, dari sedari sekolah sampai kuliah. Apalah itu coret-coret hanya seringnya menuliskan namanya. Yang tak jauh beda dengan di meja kelas, di meja perpustakaan, nakal sekali.
 
Buku tulisku abadi aku simpan, entah sampai kapan, aku masih tidak bosan belasan tahun menyimpannya dan sesekali membaca tulisan-tulisan
Kamis, 17 November 2016 3 komentar

orang Indonesia itu ..

terus terang, lama-lama saya kesel lho, kalo ada yang ngomong, apdet status, atau nulis apapun, pake sok tau (banget) dengan imbuhan kalimat :.. orang Indonesia itu ..

misalnya : orang Indonesia itu ternyata ya bla bla, .. atau orang Indonesia itu emang gitu, kalo gitu suka bla bla bla

Saya jadi mikir kadang, orang yang ngomong gitu sejauh apa sih kenal dengan seluruh penduduk negeri yang luas ini, seluas apa pengetahuannya tentang kultur negeri ini yang beranekaragam, saya pikir terlalu sempit pengetahuan untuk menggeneralisasi sifat penduduk negeri ini.

Kadang saya iseng mikir, yang berani ngomong gitu apa pake pendekatan induktif? Tapi dalam kasus apa dan gimana, trus sampelnya siapa dan berapa banyak, trus .. halaagh malah mumet..  Untuk menginduksi suatu masalah sekhusus apapun tidak bisa mikir dan berceloteh sesingkat itu. Paling tidak bagi saya hehe

Dan ya, ndak, saya nggak pernah suka penggeneralisasian semacam itu.
Begitulah pokoknya
2 komentar

65

selalu selalu kehabisan kata-kata untuk lelaki hebat yang hari ini sudah menjalani enam puluh lima tahun usianya.

lelaki yang dulu sering mengorbankan jatah makan siangnya demi anaknya.  Lelaki yang mencari tambahan pekerjaan sampai larut malam demi keluarganya.  Lelaki yang setiap kamis membawakan majalah Bobo terbaru untuk anak-anaknya, bahkan sebelum kami bisa membaca.

lelaki yang sering kehilangan kesabaran akibat kelakuan anak sulungnya ini, tetapi lelaki sederhana itu juga yang rasanya tak pernah tidak mengabulkan keinginan saya sepanjang beliau mampu, terkecuali keinginan untuk masuk sekolah yang dulu juga sekolahnya.  Karena beliau ingin anaknya jauh lebih baik darinya.

Beliau beranggapan, sekolah adalah titik tolak yang penting untuk masa depan, bukan jurusan saat kuliah, dan nyatanya beliau benar adanya.  Masa depan hidup saya diawali di waktu sekolah.  Baik terkait dengan pekerjaan, pun terkait dengan pendamping hidup.

lelaki yang selalu mengajarkan bahwa ilmu dan kesederhanaan posisinya haruslah di atas segala-galanya di atas muka bumi ini.

Saya selalu bangga menjadi putera beliau, sampai kapan pun.

Tetap sehat ya bah. 
Rabu, 16 November 2016 2 komentar

catatan-catatan bang Aip

bangun pagi, lalu menunda mandi, seperti biasa, bukannya merencanakan jadwal hari ini, malah entah kenapa membuka fesbuk, lalu terpaku pada catatan terakhir bang Aip disana.  Terusik oleh catatan-catatan itu, jadinya malah membuka seluruh catatan yang ada disitu.  Membaca-baca sekilas kemudian memutuskan untuk mendokumentasikannya.

Ternyata banyak catatan yang belum pernah saya baca, dan saya tahu sebagian besar itu adalah semacam bek-ap tulisan beliau di blognya.  Tapi toh, tanpa minta ijin saya kopi paste saja semuanya dalam lembar dokumen, hasilnya adalah transkrip tanpa edit sepanjang 747 halaman.  Itu mungkin jumlah catatan selama kira-kira kurang lebih .delapan tahun.  Ngalah-ngalahin jumlah draft disert... ahsudahlah.

Tapi tenang, saya sudah mengirim pesan untuk meminta ijin, telah menyalin catatannya untuk saya konsumsi sendiri.  Soalnya, saya banyak belajar dari situ, belajar berpikir logis, belajar menggunakan referensi dengan baik dan benar, belajar untuk sederhana, belajar untuk menjadi abah yang baik dan belajar bagaimana caranya belajar.

Nanti pelan-pelan diwaktu sela akan saya baca semuanya, walau sebagian mungkin semacam mengulang saja.  Baiklah rasanya sudah saatnya mandi..
0 komentar

buku-buku favorit dan tempat menyembunyikan diri

Pagi yang biasa, sedikit lembab dan dingin sisa hujan tadi malam. 
Senin, 14 November 2016 6 komentar

Sebar apa yang kau sebar?

Akhir-akhir ini, lama-lama gerah juga dengan segala macam berita buruk yang bertebaran di media maupun sosial media.  Semua seperti berlomba-lomba menyebar dan menebar berita.  Yang kalau dikerucutkan tetap mengarah pada satu hal: keyakinan.

Ada yang mengutuk, ada yang berteriak tentang provokator, ada yang berkata cinta damai.  Tapi sadarkah, semakin disebar, semakin saja menebar benci, bagi siapa saja, bahkan bagi diri sendiri.

Kenapa tidak sejenak saja berpikir tenang, diam lalu berkaca sebentar saja.  Bahwa apa yang dilakukan dengan menebar berita buruk tak lebih dari menghasut juga, karena pikiran pembaca yang menerjemahkan apa yang disebarnya beda-beda.

Tidak semua dewasa menyikapi kejadian-kejadian buruk, bahkan berkata benar pun akan tetap terasa salah.  Semua punya versi benar di pikirannya masing-masing.

Silakan lah terus menyebar berita buruk.  Saya cuma kecewa dengan orang-orang yang pikir cukup pintar dan dewasa dalam hal berpikir dan menggunakan logika, akhirnya kalah dengan mengedepankan kegeraman semata.

Saya sebenarnya hanya ingin bertanya: Siapa yang ingin berita buruk?  Siapa yang ingin hal-hal buruk terjadi.

Itu adalah pertanyaan retoris memang. 
Sudahlah, lebih baik sementara sign out dari media yang lagi entahlah.  Atau mencoba berbagi yang baik-baik.
Minggu, 13 November 2016 4 komentar

Males Merubah Menu Makanan

Tabiat saya sedari dulu tampaknya begitu.  Selain kadang-kadang suka mencoba-coba menu baru yang belum pernah saya rasakan, pada akhirnya menu makan saya sehari-hari ya itu-itu aja. 

Jadi, kalau saya sudah cocok dengan satu masakan, mungkin sebulan, mungkin lebih menu saya ya yang itu-itu saja.  Terlampau malas untuk merubahnya.

Saya tahan sebulan penuh buka puasa hanya dengan mie atom bulan goreng campur sayur dengan saus kacang yang menurut saya super duper enak buatan honey, istri saya.

Waktu dulu saya kuliah di Surabaya, nyaris setiap malam menu makan saya adalah pecel lele yang warungnya berjajar di sepanjang jalan Karang Menjangan, sedangkan makan siang nyaris selalu di warung kecil di belakang kampus pasca.  Menunya juga cuma nasi dengan lauk telor ceplok plus sambal kacang dan kerupuk.  Kalau tidak sesekali saya mampir warung di deket pasar karmen.  Nyaris dua tahun muter-muter aja disitu.

Sekarang, di sekitar saya berdomisili sekarang.  Pun hanya beberapa masakan yang pas di lidah dan kantong saya  (kombinasi dua hal itu penting, sangat).  Bulan-bulan yang lalu nyaris tiap hari, biasaya makan malam, akan berakhir di warung ayam serundeng bernama Ayam Beb.  Beneran itu porsi nasinya pas dengan perut saya, presisi sekali.  Biasanya saya cuma makan paket lele, itu lele goreng dengan serundeng, ditambah sepotong tahu & tempe dan teh manis, dihias sekeping kerupuk lilit, dunia pun terasa indah.

Akhir-akhir ini, pola makan saya sedikit berubah. Saya sedikit insyaf, sehingga berusaha banyak makan sayur dan buah.  Jadinya warung yang pas untuk memenuhi hasrat perut saya sekarang ini hanyalah warung prasmanan yang ada di Jl. Flamboyan, disitu sayurnya lengkap,  selain ada pilihan nasi dari beras merah yang nikmat.  Kalau malam, karena warung flamboyan buka cuma sampai sore, alternatifnya sekarang adalah capcay deket-deket sini.

Sejauh ini, menu makan saya rasanya sudah fix, selain tambahan air jeruk nipis dan buah pepaya tomat setiap paginya.

Tampaknya untuk sementara waktu ya begitulah bolak balik makan saya, selain rasanya enak, perut saya juga sudah bersahabat akrab dengan segala macam dedaunan dan segala macam buah sayur rupanya, hal yang dulu tak pernah terpikirkan.
Sabtu, 12 November 2016 0 komentar
Terinspirasi oleh tulisan mb Octa itu, saya juga ingin menulis partner in crime saya sejak dulu.  Yin di saat saya menjadi yang, dan juga sebaliknya.

Mungkin, jika diibaratkan postingan sebelumnya,
7 komentar

Penjaga rumah dan sang Profesor

Judul aslinya ya the housekeeper & the professor, judul di buku terjemahannya pun begitu, biar saja saya terjemahkan lagi judulnya, karena toh ini buku terjemahan.  Syukurnya buku ini semacam membuat napsu membaca saya terbakar lagi.

Entah darimana saya mendapatkan referensi tentang novel yang satu ini, yang jelas karya Yoko Ogawa ini membuat saya penasaran, terlebih setelah membaca keterangan di sampul bagian belakang bahwa buku ini telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar di Jepang.  Wah.

Bagian awal cerita justru di awali dengan bagian yang sesungguhnya baru akan terjadi di seperempat cerita, jadi ada sedikit alur mundur.  Tapi itu menjelaskan bagaimana inti pertemuan antara profesor dan penjaga rumah, dan tokoh bernama Root, salah satu tokoh kunci di dalam cerita ini.

Tokoh utama yang tampil di cerita ini minimalis sekali, ada agen tenaga kerja, kaka ipar profesor, si penjaga Rumah dan Root.  Mungkin gara-gara sedikit tokoh itu membuat saya lebih konsentrasi dengan jalan cerita dan kejutan-kejutan alur di dalamnya.

Root, disebut begitu, karena bagian kepalanya menyerupai simbol akar dalam persamaan matematika.

Kebayang ngga kepala seseorang seperti itu hehe.  Dan gara-gara membaca rumus-rumus matematika, keajaiban bilangan prima kembar, deret angka faktorial, rumus Euler, -bahkan sampai menyinggung (kembali) teorema Fermat, sesuatu yang sebelumnya menarik perhatian saya di buku karya Stieg Larsson -, hadir di buku ini, sesuatu bernama matematika terasa menyenangkan.

Sungguh, seandainya saya membaca novel ini saat sekolah dasar atau menengah, mungkin saya makin penasaran dan cinta dengan pelajaran matematika.  Math digambarkan dengan sangat indah dan anggun,  persamaan-persamaan dan rahasia-rahasia serta sejarah angka ditulis dengan beda sehingga saya seakan-akan membaca puisi dalam bentuk lain.

Dan membaca dari awal, saya dibawa masuk ke dalam cerita, seakan-akan ruangan professor yang lama tak terawat, hadir di depan mata saya, tumpukan kertas hasil semacam kontes pemecahan soal matematika yang rumit. Siklus ingatan lelaki tua yang cuma 80 menit, juga semangatnya akan sesuatu yang terkait angka, dan tentu kejeniusannya.

Yang tak kalah menarik adalah, bagaimana menghubungkan keberadaan angka nol dengan kebijakan alam semesta, semua digambarkan tanpa ada usaha menggurui yang berlebihan.  Semua cuma menegaskan pada saya bahwa begitulah seharusnya dunia, yang damai dengan adanya angka 0.

Interaksi antar tokoh-tokoh utama dalam cerita ini juga jelas tak kalah menariknya, berusaha mengerti seseorang dengan ingatan singkat tidaklah mudah, membuatnya keluar dari dunianya sesekali pun, adalah sesuatu yang sangat sulit.  Justru bagian inilah yang sangat menarik.

Saya pikir cukup ini saja ulasan sekilas tentang buku bagus ini, kalau saya menggambarkan alurnya nanti tak bikin penasaran lagi. Dan walaupun ada beberapa bagian yang saya tak begitu mengerti, seperti cara permainan baseball yang selalu bikin mumet, padahal dulu pernah sok-sokan ikut latihan softball waktu kuliah, dan keluar dengan ikhlas karena ngga ngerti-ngerti cara mainnya, lah malah nostalgia.

Jadi begitulah, seperti petuah sang profesor: jangan malu berkata tidak tahu akan hal yang memang tidak kita ketahui.  Terakhir saran saya, jangan lupa memperhatikan halaman 161 dan 175, saya beberapa kali mengulangi membaca halaman itu karena bagus, sekali.

Saya jadi menunggu karya-karya Yoko Ogawa diterjemahin lagi.
Jumat, 11 November 2016 0 komentar

Random #1

Sesekali (ngaku) bikin postingan random.

Yang pertama, saya ingin membaca novel berjudul the housekeeper and the professor, filmnya lagi berusaha didonlot sekalian, sepertinya keren itu jalan ceritanya, wong katanya sampe terjual 4 juta kopi lebih di Jepang.  Mungkin ini novel dari negeri itu kedua yang bikin saya penasaran selain Train Man yang sudah saya punya novelnya, versi terjemahan laah pastinya.

Kalau tidak salah hari rabu kemarin, akhirnya merasakan juga nonton di Sphere X, itu varian studio di blitz yang layarnya lengkung, dan kursinya otomatis bisa untuk nyender  Asik sih, walau film yang saya tonton: Doctor Strange menurut perasaan saya tidak sehits ulasan orang-orang.   Serasa nanggung serunya. Dan yaa saya masih aja kenginang-ngiang ucapan Strange ke perempuan gundul itu : " I'm not a master, I'm a doctor.."  Beh rasanya gagah sekali ya kalau suatu hari nanti saya ngomong gitu #halagh

Akhir-akhir ini apa ya, sarapan saya kembali mencoba rada absurd: buah-buahan.  Biasanya tomat dan pepaya sih, dan tetap lanjut bangun tidur minum segelas air putih, biasanya hangat, dicampur dengan perasan satu buah jeruk nipis.  efek sampingnya hidung saya yang tiap pagi srat srot ndak jelas skarang cuti panjang, kata orang-orang itu gejala sinus, beh saya baru ngerti.  Selain itu saya mulai pedekate dengan segala macam sayur-sayuran.  Untungnya disini ada warung yang nyediain jenis makanan yang sedang saya taksir itu.  Enak sekali kemarin sayur kacang campur jagung manisnya.  nasi beras merah pun skarang tak lagi sehambar yang saya kira dulu. Yaa maklumlah body semakin uzur harus dijaga demi masa depan negeri yang lebih baik hahaha

Terakhir, saya ingiin sekali bikin kuis lagi, ada dua buku yang saya beli dan pengen saya bagikan. Tapi saya tak ingin menyebutkan judulnya.  Gini aja deh, kalau saja ada yang bisa menebak genre buku-buku yang saya beli itu akan saya kasihin deh, gratis plus ongkos kirim #halagh

Dan karena random, maka kuisnya ndak saya kasih hestek koeis, biar pada ngebaca sampai ujung #ngarep.
4 komentar

Random #1

Sesekali (ngaku) bikin postingan random.

Yang pertama, saya ingin membaca novel berjudul the housekeeper and the professor, filmnya lagi berusaha didonlot sekalian, sepertinya keren itu jalan ceritanya, wong katanya sampe terjual 4 juta kopi lebih di Jepang.  Mungkin ini novel dari negeri itu kedua yang bikin saya penasaran selain Train Man yang sudah saya punya novelnya, versi terjemahan laah pastinya.

Kalau tidak salah hari rabu kemarin, akhirnya merasakan juga nonton di Sphere X, itu varian studio di blitz yang layarnya lengkung, dan kursinya otomatis bisa untuk nyender  Asik sih, walau film yang saya tonton: Doctor Strange menurut perasaan saya tidak sehits ulasan orang-orang.   Serasa nanggung serunya. Dan yaa saya masih aja kenginang-ngiang ucapan Strange ke perempuan gundul itu : " I'm not a master, I'm a doctor.."  Beh rasanya gagah sekali ya kalau suatu hari nanti saya ngomong gitu #halagh

Akhir-akhir ini apa ya, sarapan saya kembali mencoba rada absurd: buah-buahan.  Biasanya tomat dan pepaya sih, dan tetap lanjut bangun tidur minum segelas air putih, biasanya hangat, dicampur dengan perasan satu buah jeruk nipis.  efek sampingnya hidung saya yang tiap pagi srat srot ndak jelas skarang cuti panjang, kata orang-orang itu gejala sinus, beh saya baru ngerti.  Selain itu saya mulai pedekate dengan segala macam sayur-sayuran.  Untungnya disini ada warung yang nyediain jenis makanan yang sedang saya taksir itu.  Enak sekali kemarin sayur kacang campur jagung manisnya.  nasi beras merah pun skarang tak lagi sehambar yang saya kira dulu. Yaa maklumlah body semakin uzur harus dijaga demi masa depan negeri yang lebih baik hahaha

Terakhir, saya ingiin sekali bikin kuis lagi, ada dua buku yang saya beli dan pengen saya bagikan. Tapi saya tak ingin menyebutkan judulnya.  Gini aja deh, kalau saja ada yang bisa menebak genre buku-buku yang saya beli itu akan saya kasihin deh, gratis plus ongkos kirim #halagh

Dan karena random, maka kuisnya ndak saya kasih hestek koeis, biar pada ngebaca sampai ujung #ngarep.
Rabu, 09 November 2016 7 komentar

perubahan template blog auk

karena ada yang nanya gimana merubah atau mengubah atau apalah theme blog ini, atau kalau di blogspot lazim disebut template, caranya sederhana sekali.  Banyak juga kok yang membagikan caranya di web, gugling aja.

Tapi ya ndak apa-apa toh sesekali berbagi caranya.  Biasanya sih saya suka template/theme yang simpel, jadinya pake kata kunci itu kalau mau gugling template.  Kebetulan yang dipasang ini namanya Nordic, template blogspot hasil transformasi dari theme-nya wordpress.  Templatenya sendiri saya donlot dari situs newbloggerthemes.com.  Banyak pilihan kok disitu.

Setelah di donlot, ekstrak saja file .zip nya.  Terus cari file dengan ekstensi .xml .  Dibuka terus semua teks yang ada disitu di kopi saja, terus di paste ke bagian template.  Coba cek gambar di bawah ini.


Nah klik saja tab Edit HTML itu, ganti aja semua teks/kode yang ada disitu dengan kode yang sudah dikopi dari file .xml sebelumnya.  Udah beres.   Kecuali ada bagian-bagian yang pengen diedit.  Misalnya nambahin link atau merubah dikit-dikit tampilannya.

Kalau template yang saya pasang ini cuma diedit bagian link sosial media yang ada di sidit kanan atas, kalau di lihat pake desktop.  Plus sedikit merubah ketebalan border.  Sayangnya versi mobile bawaan template Nordic ini kurang bagus (kalo bagus bisa pake yang custom), jadinya saya pake versi awesome.inc yang ternyata lebih bagus dari versi default.  Merubah mobile template di gambar dibawah ini dengan mencet tombol gear di bagian mobile, masih di halaman template.

Ohiya, kalau mau membuka versi aslinya di hape bisa kok, scroll aja ke bagian paling bawah halaman, tinggal klik bagian view web version.

Jadi begitulah.  Selamat mencoba-coba jikalau belum pernah mencobanya XD
Selasa, 08 November 2016 6 komentar

tentang leptop saya (lagi)

posting satu lagi ah, biar dikira kemaruk dan rajin, padahal nganu..

Ini tentang laptop Fujitsu saya itu (lagi), yang serinya LH531 itu, yang RAM nya cuma 2 GB, yang skarang layarnya ada beberapa bercak hitam gara-gara pas nutup lupa kalau ada kunci lagi nongkrong disitu, jadi aja ketekan lcd dan pecah di di dua titik.

Selain itu batterynya juga nonaktif, lelah total dan tak lagi punya kemampuan menyimpan daya, mungkin gara-gara sombong pernah sok-sokan ngasi petuah :kalau leptop di charge jangan lupa dicabut kalau indikatornya sudah penuh.  Eh malah saya sendiri yang kualat, pas ngecharge ketiduran, jadi aja rusak dan kalau make harus sambil dicolok, dan harap maklum pas listrik tiba-tiba mati tapi lupa nyimpen ketikan.

Kemari liat-liat spare part battery dan lcd, eh harganya ternyata lumayan juga, bisa untuk persediaan makanan anak kos satu bulan, dilematis sekali.  Untungnya kalau soal ram sih nggak masalah.  Lagian saya ngga ngerjain hal-hal berat-berat juga, masih lancar jaya dengan OS Debian ini.

Kesimpulannya, nikmati yang ada saja dulu deh, itung-itung mengasah rasa syukur dengan apa yang ada #halaghpadahalemangdurungmampuaja


9 komentar

bersih-bersih blog, tempat ngopi keren & rumah bambu

sebenernya mungkin judul yang pas adalah ngerapiin blog ini, yang setelah saya amati ternyata sudah nyaris satu bulan tidak saya isi.  Payah sekali memang.  Di samping niat lama untuk ganti template, akhirnya barusan diwujudkan.

Tak banyak yang dirubah di susunan halaman, selain tambahan blogroll blogger yang akhir-akhir ini rajin update dan tulisannya menarik untuk dibaca-baca. Nantilah pelan-pelan ditambahin lagi daftarnya.  Yang jelas sementara ini saya mengurungkan niat untuk hijrah ke wordpress hehe

Saya rasa akhir-akhir ini sosial media juga sedang jenuh, beritanya muter-muter kesitu-situ aja, tapi saya tak bakal membahas hal itu, kurang keren sama sekali.  Saya cuma ingin menceritakan sedikit pengalaman saya hari minggu kemarin.

Selepas nongkrong di warung Ijo-  setelah sebelumnya sepedaan santai kesitu, teramat santai sehingga dari starting poin kesitu nyampenya satu jam dua puluh menit lebih #infondakpenting- pulangnya nginthilin temen seperhobian turun, rencana mampir ke rumahnya, elhadhalah di tengah jalan malah di ajak mampir di kedai kopi yang tak cuma jualan kopi, bernama Joglo Pari Sewu, di seputaran Purwomartani.  Tempatnya apik, kontur lokasinya juga menarik, lokasinya tenang, tapi sepagi itu, sekitar jam delapan-sembilanan itu kok ya sudah lumayan rame aja. Rekomended sekali tempat ini untuk nongkrong santai.

A photo posted by rd (@warmx) on

Selesai (ditraktir) ngopi, akhirnya sampai di rumah kang Jajang, empunya rumah.  Rumah beliau ini menarik sekali, rasanya rumah impian saya kok ya sudah terwujud begitu.  Saya langsung foto sana sini, biar idenya bisa saya curi dan diterapkan di rumah saya ntar.

Bagian atas rumahnya, selain genteng, nyaris semuanya terbuat dari bambu, yang sudah diawetkan tentunya.  Dan bagi kang Jajang sih ya ndak masalah, wong beliau emang kerjaannya 'jualan bambu'.  Keren sekali, saat berada di dalam rumahnya seakan-akan luas rumahnya dua kali lipat dari kenyataannya, lega sekali, cahaya dan udara melimpah.  Bikin betah.

Sayangnya ga bisa lama-lama kesitu, karena harus mampir ke tempat lain lagi, yang tempatnya juga tak kalah keren.  Ngobrol sana sini, tak terasa balik lagi sudah sore aja.

Jadi begitulah cerita random kali ini.  Baru sebulan ndak nulis kok ya strukturnya acak-acakan, halagh biasanya ya gitu juga padahal..


tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;