Minggu, 29 September 2019

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah.

dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay.

di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku.

Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebagai sarang preman.  Emang itu pasar sih.  Tapi banyak jualan buah-buahan sepertinya.

Puas keliling daerah itu, muter balik sih ke mulut jalan Manggis, liat peta. Akhirnya memutuskan balik ke penginepan, tapi jalan kaki melewati Jl. Raden Intan yang tak kalah legendarisnya.  Melewati daerah Pasar Bawah, melewati simpang jalan ke Stasiun Tanjung Karang, hingga menyusuri Raden Intan lurus ke selatan, sambil sepanjang jalan menebak-nebak, toko buku manakah yang sering disambangi si kembar itu di sekitar situ, soalnya selain gramedia ada beberapa toko buku lainnya.

Mendekati ujung jalan, ternyata melewati daerah Enggal, spontan saya melihat peta lagi, melihat posisi Lapangan Enggal yang sering dipake buat arena kebut-kebutan motor, sayang sudah sore menjelang magrib, selain posisinya yang kudu nyeberang jalan.  Mungkin lain waktu.  Selain itu juga deket GOR Saburai yang kalo ga salah adalah tempat bertarung Kori di kejuaraan karate yang berakhir tragis, tapi nanti saja lah kesitu lagi.

Sampai di ujung jalan, ketemu perempatan tugu gajah atau tugu adipura, berbelok ke kanan, lurus lalu kembali belok ke kiri. Ohiya saya baru nyadar kalo itulah daerah Palapa.  Dan ya istirahatlah dulu, jalan kaki sekitar 3 kilo, pake jaket karena angin yang deras, cukup bikin keringetan juga.  Tapi saya senang, teramat menyenangkan.

Rabu, 25 September 2019

tentang 1998-2019

21 tahun adalah rentang waktu yang lama, banyak yang berubah: pengetahuan, keterbukaan, keberanian.

tahun 1998, saya masih mahasiswa tahun kelima- yang belum tahu lulusnya kapan, sementara pengetahuan terbatas, baik referensi mata kuliah, ataupun referensi atas berita-berita di media yang sangat ketat.  Apalagi tahun-tahun sebelum presiden waktu itu turun, semua berita isinya selalu yang manis-manis.  Nyaris tak tahu ada apa di balik semua peristiwa yang terjadi di sudut-sudut negeri sendiri.

Informasi paling cepat mungkin hanya bisa didapatkan dari televisi, yang sekali lagi isinya selalu yang manis dan baik.  Penonton mengkonsumsi produk yang sudah melalui QC lumayan ketat.  Kebenaran di baliknya entahlah.

sekarang, 21 tahun kemudian. Orang-orang tua di gedung Yoni dan kerabatnya, mungkin berpendapat, masih bisa semaunya berperilaku seperti di duapuluh tahun yang lalu.  Memanfaatkan kekuasaan di atas segalanya. Menganggap bisa mengendalikan dunia dengan cangkemnya.

Men, sekarang semuanya nyaris transparan, kebenaran jelas terlihat, walau berusaha ditutup-tutupi.  Apalagi semua yang berbau kebusukan, banyak yang sudah muntah dan tak lagi mau pura-pura tak melihatnya.  Anak-anak sekarang jauh lebih luas pengetahuannya dan lebih pintar dari segala hal.

Kalau ada bergerak melawan, dan hari ini pelajar, bukan lagi para mahasiswa, itu artinya benar-benar ada yang salah.  Ada cermin yang harus benar-benar dicermati.  Ada napas busuk yang harus diendus sendiri.  Tak usah lagi menutup mata, menyumpal kuping dan melumpuhkan otak & pikir sendiri.

Melihat aksi mereka di televisi, jujur saya menjadi malu dan ingin rasanya melakukan demo dan protes terhadap diri sendiri, yang langsung ataupun tidak menjadi bagian dari lingkarang setan itu.

Doa saya, smoga semuanya aman. Semua pihak, terutama yang lebih tua, bisa lebih membuka wawasan, minimal membaca dikit lah.

..

Sehabis menuliskan ini, entah kenapa saya ingin merutuk dan berkata kasar sekasar-kasarnya.
KPRT!

Selasa, 24 September 2019

bila asap tiba.

akhirnya saya harus menuliskan hal ini juga, sedikit gemas yang mengutuk tanpa tahu akar masalah soal asap yang tak henti dikeluhkan saat kemaru tiba di beberapa titik di negeri ini.

beberapa poin harus diingat kembali, adalah bahwa di tahun 1980-akhir 1990-an:

  1. iklim masih bagus, masih jelas batas antara musim hujan dan kemarau
  2. di kampung saya membakar jerami di sawah setelah panen adalah hal yang biasa, tapi tak sampai muncul kabut asap. bahkan sudah biasa muncul kabut tebal di pagi hari, kabut yang dingin dan segar.
  3. membakar lahan hutan untuk berladang adalah hal yang biasa, tapi peladang pun menggunakan pola bergilir, dan kemampuan membuka lahan seperti itu pun sangat terbatas dengan peralatan yang sederhana.
  4. luasan hutan, khususnya di Kalimantan pada awal 1980-an masih relatif terjaga, mungkin harus melihat data yang lebih akurat untuk hal ini
  5. dalam setahun, adalah sangat biasa hutan gambut terbakar, hanya luasannya kecil, tidak dalam jangka waktu yang lama dan sangat tidak mengganggu.
hingga munculnya fakta-fakta berikut:
  1. perusahaan kayu yang bersenjatakan HPH (hak pengusahaan hutan) bermunculan, hutan dikapling-kapling untuk diekstraksi.
  2. di sepanjang muara sungai Barito di tahun 1990-an berjejer perusahaan pengolah kayu menjadi plywood, lalu satu-satu persatu bubar karena kurangnya pasokan kayu.
  3. Tak lama muncul kejayaan perusahaan tambang di awal 2000-an, tak begitu lama setelah era HPH redup.
  4. beberapa tahun terakhir setelah tambang batubara tak lagi menarik, muncul pembukaan lahan dimana-mana untuk sawit.
  5. tahun 1995 muncul proyek bernama lahan gambut sejuta hektar, proyek goblok yang bertujuan mengubah tanah gambut yang asam menjadi lahan pertanian produktif.
lalu sekarang, ribut karena kabut asap.  coba diingat-ingat dulu.
  1. luasan hutan sekarang tinggal berapa, lalu berapa banyak sekarang luasan terbuka yang merupakan sisa tambang, dan beberapa luasan dibuka untuk kebun sawit.
  2. pohon yang merupakan penetral udara, tak lagi sebanyak dulu lagi, tak heran asap pembakaran lahan yang entah oleh siapa bisa diekspor sampai negara tetangga.  Kalimat menyalahkan negara tetangga sebagai salahsatu pengusaha di negeri kita pun buat apa? toh mereka secara legal diijinkan oleh negara kita.
  3. lahan gambut yang dulu bagus, sekarang pun banyak yang rusak dan tak lagi penuh pohon penutup, apalagi  di beberapa tempat lahan gambut dikonversi menjadi lahan sawit.  sampai-sampai muncul Badan Restorasi Gambut untuk menangani masalah yang dulu tak ada.
  4. coba jikalau ingin, lihat data, bandingkan intensitas asap dengan banyaknya lahan gambut dan luasan hutan di tempat itu.  perlu kajian lebih dalam mengenai hal ini.  Daua sampel yang iseng saya amati, Riau dan Sampit.  Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? Lahan yang terbakar dan yang terbakar di media sampai saat ini tak begitu jelas siapa dan bagaimananya.
di sisi lain:
  1. banyak yang cuma bisa protes tanpa tahu harus bagaimana lagi.
  2. banyak yang tak lagi tahu yang namanya pemerintah itu siapa.
  3. aku juga belum bisa melakukan apa-apa selainkan menuliskan hal ini di blog.


Senin, 23 September 2019

napas orang-orang dekat

saya barusan nonton kumpulan video tentang selebritis dan fansnya, berlanjut ke video marinir USA yg menemui keluarganya diam-diam setelah lama tak bertemu.  sungguh adalah rekaman dengan konsentrasi bawang tingkat planet namec.

sebuah pertemuan yang lebih berharga dibanding apapun.  saat kedatanganmu ditunggu melebihi apapun.

jadi, apalagi yang lebih berharga di dunia ini selain hubungan dekat dengan orang-orang yang dikagumi dan dicintai?

tak ada.
tak ada lagi.

maka, sesekali pergilah jauh, tapi jangan lupa kembali. selalu ada yang menunggu.
dan rindu, lebih berbahaya dibanding lindu.

napas yang keluar dari mulut

seringkali aku pikir, kian hari mulutku ini semakin tak bisa terjaga, mengeluarkan kalimat yang tak semestinya, mneumpahkan apa saja yang ada di dalam otak dalam bentuk suara hingga membanjir. sekali lagi aku rindu masa sekolah menengah pertama dulu, saat aku lebih sebagai pengamat dibanding ikut dalam riuhnya dunia.  aku ingin kembali menjadi aku di masa itu.

belum lagi rahasia-rahasia sederhana tentang dunia, yang kebenarannya tak begitu jelas, dengan gampang diumbar melalui apa saja, di mana-mana, dan kapan pun.  padahal tak begitu jelas apa maunya.

diam-diam. seringkali aku kecewa dengan diriku sendiri.

Minggu, 22 September 2019

tentang produk lokal

setelah aku ingat-ingat, ternyata aku banyak make produk lokal, coba kita cek satu-satu. (kita? gue aja kali). salah banyaknya adalah:


  1. sepatu : brodo (bandung)
  2. tas : eiger (bdg juga)
  3. kaos : kebanyakan bikinan oasis sablon (jogja)
  4. pomade : RND (prototype, merk sendiri, diracik oleh ND leather)
  5. sepeda : federal mt everest dan wim cycle pocket rocket
  6. parfum : HMNS (menteng)

belum lagi penulis favorit saya : bubin LantanG (lampung) dan andrea Hirata (belitung), bung Smas (semarang)

musik? sudahlah itu ranahnya bang Rhoma.

film favorit, sampe sekarang ya Jomblo (2006) yg dari novel Aditya Mulya itu.

coba ada sepedamotor gitu bikinan negeri ini ya.

Jadi apapun, sebenarnya bikinan negeri ini keren-keren kok.

Rabu, 18 September 2019

tentang HMNS


HMNS adalah eau de perfume racikan anak Menteng, paling ngga saya tau itu dari alamat pengirimnya hehe

selaku manusia yang benar-benar awam tentang wewangian, hal ini adalah benar-benar baru bagi saya.  Mulai tertarik dengan hal ini justru gara-gara beberapa kali kawan saya yang bernama Inda posting tentang koleksi parfumnya.  Walau sekali lagi, pertamakali yang namanya parfum bikin saya penasaran adalah film dengan tokoh utama Jean-Baptiste Grenouille yang jenius itu.

dan kebetulan ada gerombolan yang rajin mengapdet produknya di media sosial, bikin saya penasaran dan memesan starter pack yang berisi tiga varian produk andalannya : alpha, delta dan theta.

saya yang tak begitu paham tentang esensi  top notes, middle notes, dan base notes, akan mencoba memberikan gambaran ketiga wangi yang beberapa jam tadi saya sniff satu-satu, dan imajinasi tentang ketiga makhluk itu pun muncul begitu saja..

alpha.
adalah kalem, misterius, berkesan elegan tapi sekaligus berpotensi sebagai pembunuh berdarah dingin.  jika tidak hati-hati bisa larut dan jatuh hati dengan pesonanya, mungkin seperti awal yang biasa dengan seseorang yang sama sekai tak diinginkan, tapi lambat laun kau akan terpedaya dan mabuk tak mau lepas sedetik pun, bahkan untuk sekedar memastikan kau tak jauh dari jeratnya.  ini makhluk yang berbahaya

delta
menyegarkan, lucu, fun, tapi pelan-pelan bisa mengecoh dengan pesonanya, mencium aromanya serasa dipeluk seseorang yang tiba-tiba datang dari belakangmu, di pagi hari yang tenang, di pinggir pantai yang hangat.. 

theta
adalah tentang keberanian, aroma yang sedikit liar- bahkan mungkin dalam level yang terbayangkan pada akhirnya, lalu rebel,  sekaligus pintar. tak perlu banyak cara, bahkan mungkin dengan gerakan sederhana saja bisa membuatmu jatuh cinta, jauh dan dalam.

__

mungkin itu yang bisa saya gambarkan.  tapi seperti kata siapapun, percayalah dengan inderamu sendiri.  dan mengutip petuah kang Inda mengenai parfum:


intinya mau make itu mau nyenengin diri sendiri apa mau nyenengin orang lain?
begitulah. dan oh iya, ini sama sekali bukan iklan.

—-
nb.
sila kasih komentar ttg salahsatu varian yg bikin penasaran, ntar yg komen diundi utk satu pemenang yg bakal ngedapetin satu starterpack HMNS

___

update:
 #KoeisDjoemat kali ini dinyatakan ditutup, dan pemenangnya adalah nomer urut satu, terimakasih utk yg sudah ikutan, yg belum beruntung smoga sabar dan bisa ikutan koeis2 selanjutnya. Maturnuwun:



potret pa Habibie


saya barusan membeli buku tentang wawancara dengan orang yang menurut saya paling pintar di negeri ini: pa Habibie.  Yang barusan berpulang untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang dicintainya.

membaca buku yang berjudul Habibie: dari Pare-Pare lewat Aachen terbitan tahun 1986 itu, saya kembali patah hati.  Rasanya sangat jarang menemukan orang yang bekerja hanya dengan motivasi ingin memajukan bangsa dan negaranya.

bagian yang bikin patah hati adalah saat beliau mengemukakan potensi negeri ini dan potensi sumber daya manusianya, bahwa: buat apa kita beli pesawat kalau bisa membuatnya sendiri.  Dan itu beberapa dekade yang lalu sudah berhasil direalisasikannya, dengan perencanaan  yang sangat matang dan penuh perhitungan.

Kerja bagi beliau adalah berbasis kepentingan masyarakat, bukan berdasar keinginan penguasa.  Kapan lagi menemukan orang pintar yang senaif beliau.  Tapi saya tak ingin apatis, inginnya begitu.

--

ohiya, saya semenjak postingan ini, mungkin tak cuma posting dengan awalan kata tentang, nanti akan ada kata awalan jejak, mungkin juga napas, mungkin juga bila.  sesuai dengan judul-judul karya bubin LantanG, penulis maestro yang kadang sedikit skeptis.

--

kembali ke pa Habibie.  Intinya beliau mengajak manusia berpikir realistis dan memotret sebuah objek dari segala sisi dan berbagai teori, hingga pandangan terhadap sesuatu bersifat utuh.  Lebih-lebih terhadap tujuan dari sebuah pekerjaan.

Satu lagi, menghadapi manusia, beliau berkata bahwa ada dua cara memandangnya, apakah sebagai sebuah potensi, atau dianggap sebagai problem sosial.  Beliau lebih menganggap bahwa semua manusia punya potensi untuk dikembangkan, tinggal mencari cara untuk itu.  Bijak sekali euy.  Seandainya saya bisa menceritakannya dengan lebih baik lagi.

Senin, 16 September 2019

tentang yang terlupa

aku bukan siapa-siapa, jadi kalau suatu saat kalah dan tersingkir dari manapun, sungguh tidaklah masalah besar. bubin LantanG mengajarkan padaku bahwa idealisme harus tetap dipegang, hidup pun harus terus berjalan, dan tak ada pesta yang tak akan usai.  Tak ada juga kisah yang selalu berakhir bahagia, itu cuma di FTV, sementara kisah-kisah karya bubin selalu berakhir tragis.

aku hanya ingin belajar menulis lagi, walau  seringkali gagal dan tak tahu arah seperti sekarang ini.  penyebabnya padahal sederhana: malas membuat line out, eh garis besar cerita.  bahkan begitu juga mungkin hidupku yang seperti tetap dibiarkan mengalir, tanpa tahu dimana hilir.

tapi sejauh ini, aku menikmatinya. berusaha menikmatinya. dan terus berpikir aku bukanlah apa-apa, juga bukan siapa-siapa. jadilah biarlah terlupa.

Minggu, 15 September 2019

tentang wewangian

mungkin aku sedang perlu wewangian, untuk menghiasi senin yang membosankan mungkin?  gara-gara seorang teman, saya lagi penasaran dengan aroma dior sauvage, walau katanya coba aja armaf ventana, yang kloningan sauvage.

alih-alih memesan decant-nya, aku malah memesan HMNS, parfum racikan dalam negeri, beli starter pack-nya sahaja, isi 3 variannya: alpa, delta dan tetha.  Deskripsi ketiga notes dari ketiga parfum itu juga menggoda pikiranku.  Entah kapan dikirim karena sistem pre-order, janjinya minggu depan.

Aku memang jarang pakai wewangian, tapi suka bila ketemu wangi yang enak, yang awet di otakku masihlah pierre cardin pacarku dulu, yang masih pakai seragam putih, menemuiku di samping laboratorium anatomi, sambil menyerahkan surat, yang isinya kalau tidak salah penundaan jadwal bertemu karena harus pulang dulu...

Selain itu, parfum selalu mengingatkanku akan film Perfume: the story of a murderer yang keren itu, lalu novel Aroma Karsa-nya dewi lestari yang beberapa alurnya jelas-jelas mengingatkanku akan film itu, yang novelnya ga jadi-jadi dibeli karena diterbitkan oleh Dastan yang biasanya hasil terjemahannya tak begitu bagus.

Wangi bagiku adalah kenangan dan pembunuhan.

Sabtu, 14 September 2019

tentang komunikasi

sekali lagi, aku akui, komunikasiku sangatlah jelek, kadang bicaraku seperti marah-marah / padahal tidak.  kadang aku berkata seperti nyindir padahal tidak.  Kadang yang aku sampaikan lewat mulut dan tulisan tidak sama dengan apa yang ada di benakku, jadinya responnya kadang tak seperti yang diharapkan.

tapi tak mengapa, seringkali akupun susah memahami isi pikiran orang lain, maunya apa, dan nyambungin dua kemauan apalagi, seringkali sulit.

mungkin akibat sedari kecil tak dibiasakan bicara dan menyampaikan pendapat di rumah, terbiasa diam, karena takut dimarahin.  dan memang ga dibiasakan ngomong.  lha bicara di depan kelas waktu sekolah saja seakan-akan neraka saja bagiku.

aku tak menyalahkan siapa-siapa, kok.  akunya saja yang kurang berusaha, jadinya sampai sekarang bicara di depan orang banyak selalu gugup, seringkali susunan kalimat yang aku sampaikan tidak begitu beraturan.

sekarang rasanya tambah parah, menulisku pun kacau.  postingan-postingan di blogku semakin tidak beraturan. apa yang terlintas di pikiranku ya itulah yang aku tulisan.  di samping kebiasaan jarang ngereview ulang dan mengedit postingan.

lagian aku pikir, siapa juga yang masih baca blog ini.  jadinya sering terkagum sendiri saat nengok dashboard dan melihat ada juga yang nengok tulisan-tulisan di sini. walau ga ngerti yang mampir ke sini beneran ngebaca isi atau spammer, entahlah.  ada yang mampir saja, siapapun itu bikin senang.  jadi terimakasih.

tentang kejadian hari ini

Pagi-pagi masih segar, udara masih bagus, sampai di jam sembilan lewat saat keluar rumah, beberapa ratus meter dari komplek kabut asap menghadang.  terpaksa mampir minimarket, beli masker.  Udara pun terasa lebih panas. Untung saat balik rumah lagi asap sudah reda, dan rasanya beda, di sekitar komplek jauh lebih seger dan lebih enak udaranya dibanding dekat jembatan, sekitar seratus meter dari gerbang komplek.  Yaelah ini aku cerita kok ya mbulet lagi.

Aku baru nyadar, di pinggir jalan ada mahoni dan angsana yang tumbuhnya bagus dan daunnya lebat, sekitar rumah juga masih ada pepohonan, nyesel juga dulu nebang  jeruk bali depan rumah.  karena apa dulu lupa.

Sementara, soal asap di negeri ini, mau nyalahin siapa? Salahin tuh cukong-cukong kayu yang bertahun-tahun melahap hutan di negeri ini dengan berbekal ijin HPH. Hedeh, dongkol bener kalo inget itu, mana kampusku waktu S1 dulu sedikit banyak ikut peran serta dalam merusak hutan walau secara tak langsung.  Lah dosen-dosen yang sibuk proyek di perusahaan, entah terkait kajian akademik dan sejenisnya. entahlah.  Aku sendiri masih tak bisa apa-apa dengan ilmu yang didapat dari kampus.

Ya sekarang cuma bisa doa, smoga besok pagi masih seger, soalnya mau sepedaan.  Dan semoga cepet turun hujan, biar bisa mendinginkan otak manusia-manusia yang cuma bisa mencaci tanpa ada solusi.

Selasa, 10 September 2019

tentang blank

pernah tidak, mengalami satu titik dimana rasanya otakmu rasanya menghentikan kemampuannya berpikir.  bukan karena malas, tapi karena memang pikiranmu sendiri menolak untuk memikirkan sesuatu.  Saat sesaat aktif kembali, alih-alih memikirkan hal-hal baik dan positif, benakmu malah selalu memikirkan hal terburuk dari akibat sesuatu hal yang bahkan belum kau kerjakan.

Denial.
Mungkin salahsatu kata yang agak tepat untuk menggambarkannya.  Akan posisimu saat ini. Baik bukan-mu, tapi -ku.

Entahlah.
Ini bukanlah hal yang baik dan tidak bisa terus berlanjut.

Minggu, 08 September 2019

tentang keputusan sederhana

konsekuensi dari pola pikirku yang terlalu sederhana adalah sering memutuskan semua persoalan dengan sangat sederhana pula.  antara lain: menghindar saja jika dirasa ada masalah yang tak bisa terpecahkan, alih-alih berusaha mencari jalan keluar yang mungkin lebih baik.

tapi kali ini aku benar-benar lelah, setengah dipaksa mengerjakan sesuatu yang di luar perencanaan benar-benar menguji pendirianku kali ini.  sudah dua hari  lebih semenjak jumat, pikiranku blank, kosong, ditambah dengan gempuran masalah-masalah kecil dan mindset bahwa kalau akhir pekan ya libur.

tak ada yang lebih aku pikirkan lagi selain, mencari cara untuk berhenti dari apa yang harusnya aku hadapi dan jalani besok.  aku merasa sedikit dibodohi.  apalagi semua berujung pada satu hal: duit.

beh, aku muak bener.

Sabtu, 07 September 2019

tentang maramara hari ini

paling tidak tiga kali aku mara-mara hari ini, bukan hal yang baik memang, tapi di saat aku ingin tenang dan tak ingin ada masalah justru ada saja yang memantik esmosy.  Aku menyebalkan memang. Entahlah.

Barusan, memutuskan memblok seorang anggota keluarga di akun fb, cuma gara-gara sepele.  Okelah biasanya suka becanda gak jelas, komentar tak jelas.  Tapi barusan, dia ngasih komentar di kolom komentar seorang kawan, alihalih bikin komentar sendiri.  Masalahnya bukan disitu, apa ya, temanku berkomentar dalam bahasa Jawa, dan keluarga saya itu berkomentar ga jelas- seakan-akan menanggapi, tapii ngenyek.  Lah, kok kurang ajar.

Kemarin, di kantor, yang bikin esmosi sih temen satu ruangan.  Jelas-jelas aku bermaklumat kalau di dalam ruangan jangan merokok, lah diam-diam menghembuskan asap, walau bukan dari sebatang rokok biasa- tapi dari vapor, tetap saja ngenyek. Kurang ajar sekali. Nantilah aku kasih ultimatum pilihan terakhir kalau memang niat kerja sambil main asap: dia atau saya yang keluar dari ruangan.  Asemik.

Apalagi, ada yang mau main-main dengan sikapku terhadap kerjaan.  Ini bener-bener tak habis pikir, dipikir kerjaan ini semata-mata cuma masalah duit dan menghamba pada dewa apa.

Belum lagi, anak-anak sekolah numpang magang di komplek yang berani main-main, sedikit menyesal mengeluarkan kata-kata kotor di hadapan mereka, tapi kurangajar keterlaluan juga.

Ada apa sih bulan ini nih? aku jadi kesel sama diriku sendiri.
Prek.

Kamis, 05 September 2019

tentang merdeka (2)

rasanya, tiap manusia bebas menentukan nasibnya, langkahnya, keinginannya, tentu dengna segala konsekuensinya.  semua ada plus dan minusnya, ada sisi baik dan sisi buruknya, tinggal menimbang-nimbang mana yang lebih baik untuk dirinya.

pengalaman hidup bertahun-tahun pun kadang belumlah cukup, untuk menentukan langkah besok hari, kadang situasi nyaman memang melenakan, lupa bahwa tiada yang abadi selain kedamaian yang kadang hanya bisa didapatkan saat kembali pulang ke rumah.

damai itu sederhana, sangat sederhana. manusia saja kadang suka sekali membuatnya rumit. dan manusia itu aku.

aku yang selalu ingin merdeka bermimpi dan bernapas lega setiap pagi, tapi tak sadar menjeratkan diri pada masalah-masalah yang belit membelit mengikat seperti akar pohon ag berusia ratusan tahun di hutan yang sangat sunyi dan tak terjamah logika.

aku lelah. juga ingin mengambil jeda.

tentang keberanian

jabatan di birokrasi sekarang, aku pikir diciptakan hanya untuk orang-orang pemberani, yang berani mengambil resiko atas pekerjaannya. dan aku- adalah seorang penakut.

mungkin pula karena aku merasa tidak kompeten dengan pekerjaan yang aku kira netral, ternyata terselip secara halus, keinginan satu-dua orang yang cuma menginginkan satu hal: uang.
edan.

mari lihat besok, apakah nyaliku benar-benar lolos dari ujian, untuk berani menyatakan ketakutanku.  terlalu naif memang tidaklah baik. dan aku- memang begitu adanya.

maaf.

Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Kemarin nonton Vindes yang bintang tamunya Nopek, komika yang sedang naik daun.  Dia ada bercerita tentang pengalamannya terpuruk, lalu meng...