Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah.

dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay.

di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku.

Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebagai sar…

tentang 1998-2019

21 tahun adalah rentang waktu yang lama, banyak yang berubah: pengetahuan, keterbukaan, keberanian.

tahun 1998, saya masih mahasiswa tahun kelima- yang belum tahu lulusnya kapan, sementara pengetahuan terbatas, baik referensi mata kuliah, ataupun referensi atas berita-berita di media yang sangat ketat.  Apalagi tahun-tahun sebelum presiden waktu itu turun, semua berita isinya selalu yang manis-manis.  Nyaris tak tahu ada apa di balik semua peristiwa yang terjadi di sudut-sudut negeri sendiri.

Informasi paling cepat mungkin hanya bisa didapatkan dari televisi, yang sekali lagi isinya selalu yang manis dan baik.  Penonton mengkonsumsi produk yang sudah melalui QC lumayan ketat.  Kebenaran di baliknya entahlah.

sekarang, 21 tahun kemudian. Orang-orang tua di gedung Yoni dan kerabatnya, mungkin berpendapat, masih bisa semaunya berperilaku seperti di duapuluh tahun yang lalu.  Memanfaatkan kekuasaan di atas segalanya. Menganggap bisa mengendalikan dunia dengan cangkemnya.

Men, sekarang sem…

bila asap tiba.

akhirnya saya harus menuliskan hal ini juga, sedikit gemas yang mengutuk tanpa tahu akar masalah soal asap yang tak henti dikeluhkan saat kemaru tiba di beberapa titik di negeri ini.

beberapa poin harus diingat kembali, adalah bahwa di tahun 1980-akhir 1990-an:

iklim masih bagus, masih jelas batas antara musim hujan dan kemaraudi kampung saya membakar jerami di sawah setelah panen adalah hal yang biasa, tapi tak sampai muncul kabut asap. bahkan sudah biasa muncul kabut tebal di pagi hari, kabut yang dingin dan segar.membakar lahan hutan untuk berladang adalah hal yang biasa, tapi peladang pun menggunakan pola bergilir, dan kemampuan membuka lahan seperti itu pun sangat terbatas dengan peralatan yang sederhana.luasan hutan, khususnya di Kalimantan pada awal 1980-an masih relatif terjaga, mungkin harus melihat data yang lebih akurat untuk hal inidalam setahun, adalah sangat biasa hutan gambut terbakar, hanya luasannya kecil, tidak dalam jangka waktu yang lama dan sangat tidak mengganggu.…

napas orang-orang dekat

saya barusan nonton kumpulan video tentang selebritis dan fansnya, berlanjut ke video marinir USA yg menemui keluarganya diam-diam setelah lama tak bertemu.  sungguh adalah rekaman dengan konsentrasi bawang tingkat planet namec.

sebuah pertemuan yang lebih berharga dibanding apapun.  saat kedatanganmu ditunggu melebihi apapun.

jadi, apalagi yang lebih berharga di dunia ini selain hubungan dekat dengan orang-orang yang dikagumi dan dicintai?

tak ada.
tak ada lagi.

maka, sesekali pergilah jauh, tapi jangan lupa kembali. selalu ada yang menunggu.
dan rindu, lebih berbahaya dibanding lindu.

napas yang keluar dari mulut

seringkali aku pikir, kian hari mulutku ini semakin tak bisa terjaga, mengeluarkan kalimat yang tak semestinya, mneumpahkan apa saja yang ada di dalam otak dalam bentuk suara hingga membanjir. sekali lagi aku rindu masa sekolah menengah pertama dulu, saat aku lebih sebagai pengamat dibanding ikut dalam riuhnya dunia.  aku ingin kembali menjadi aku di masa itu.

belum lagi rahasia-rahasia sederhana tentang dunia, yang kebenarannya tak begitu jelas, dengan gampang diumbar melalui apa saja, di mana-mana, dan kapan pun.  padahal tak begitu jelas apa maunya.

diam-diam. seringkali aku kecewa dengan diriku sendiri.

tentang produk lokal

setelah aku ingat-ingat, ternyata aku banyak make produk lokal, coba kita cek satu-satu. (kita? gue aja kali). salah banyaknya adalah:


sepatu : brodo (bandung)tas : eiger (bdg juga)kaos : kebanyakan bikinan oasis sablon (jogja)pomade : RND (prototype, merk sendiri, diracik oleh ND leather)sepeda : federal mt everest dan wim cycle pocket rocketparfum : HMNS (menteng)
belum lagi penulis favorit saya : bubin LantanG (lampung) dan andrea Hirata (belitung), bung Smas (semarang)
musik? sudahlah itu ranahnya bang Rhoma.
film favorit, sampe sekarang ya Jomblo (2006) yg dari novel Aditya Mulya itu.
coba ada sepedamotor gitu bikinan negeri ini ya.
Jadi apapun, sebenarnya bikinan negeri ini keren-keren kok.

tentang HMNS

HMNS adalah eau de perfume racikan anak Menteng, paling ngga saya tau itu dari alamat pengirimnya hehe

selaku manusia yang benar-benar awam tentang wewangian, hal ini adalah benar-benar baru bagi saya.  Mulai tertarik dengan hal ini justru gara-gara beberapa kali kawan saya yang bernama Inda posting tentang koleksi parfumnya.  Walau sekali lagi, pertamakali yang namanya parfum bikin saya penasaran adalah film dengan tokoh utama Jean-Baptiste Grenouille yang jenius itu.

dan kebetulan ada gerombolan yang rajin mengapdet produknya di media sosial, bikin saya penasaran dan memesan starter pack yang berisi tiga varian produk andalannya : alpha, delta dan theta.

saya yang tak begitu paham tentang esensi  top notes, middle notes, dan base notes, akan mencoba memberikan gambaran ketiga wangi yang beberapa jam tadi saya sniff satu-satu, dan imajinasi tentang ketiga makhluk itu pun muncul begitu saja..

alpha.
adalah kalem, misterius, berkesan elegan tapi sekaligus berpotensi sebagai pembunuh be…

potret pa Habibie

saya barusan membeli buku tentang wawancara dengan orang yang menurut saya paling pintar di negeri ini: pa Habibie.  Yang barusan berpulang untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang dicintainya.

membaca buku yang berjudul Habibie: dari Pare-Pare lewat Aachen terbitan tahun 1986 itu, saya kembali patah hati.  Rasanya sangat jarang menemukan orang yang bekerja hanya dengan motivasi ingin memajukan bangsa dan negaranya.

bagian yang bikin patah hati adalah saat beliau mengemukakan potensi negeri ini dan potensi sumber daya manusianya, bahwa: buat apa kita beli pesawat kalau bisa membuatnya sendiri.  Dan itu beberapa dekade yang lalu sudah berhasil direalisasikannya, dengan perencanaan  yang sangat matang dan penuh perhitungan.

Kerja bagi beliau adalah berbasis kepentingan masyarakat, bukan berdasar keinginan penguasa.  Kapan lagi menemukan orang pintar yang senaif beliau.  Tapi saya tak ingin apatis, inginnya begitu.

--

ohiya, saya semenjak postingan ini, mungkin tak cuma posting den…

tentang yang terlupa

aku bukan siapa-siapa, jadi kalau suatu saat kalah dan tersingkir dari manapun, sungguh tidaklah masalah besar. bubin LantanG mengajarkan padaku bahwa idealisme harus tetap dipegang, hidup pun harus terus berjalan, dan tak ada pesta yang tak akan usai.  Tak ada juga kisah yang selalu berakhir bahagia, itu cuma di FTV, sementara kisah-kisah karya bubin selalu berakhir tragis.

aku hanya ingin belajar menulis lagi, walau  seringkali gagal dan tak tahu arah seperti sekarang ini.  penyebabnya padahal sederhana: malas membuat line out, eh garis besar cerita.  bahkan begitu juga mungkin hidupku yang seperti tetap dibiarkan mengalir, tanpa tahu dimana hilir.

tapi sejauh ini, aku menikmatinya. berusaha menikmatinya. dan terus berpikir aku bukanlah apa-apa, juga bukan siapa-siapa. jadilah biarlah terlupa.

tentang wewangian

mungkin aku sedang perlu wewangian, untuk menghiasi senin yang membosankan mungkin?  gara-gara seorang teman, saya lagi penasaran dengan aroma dior sauvage, walau katanya coba aja armaf ventana, yang kloningan sauvage.

alih-alih memesan decant-nya, aku malah memesan HMNS, parfum racikan dalam negeri, beli starter pack-nya sahaja, isi 3 variannya: alpa, delta dan tetha.  Deskripsi ketiga notes dari ketiga parfum itu juga menggoda pikiranku.  Entah kapan dikirim karena sistem pre-order, janjinya minggu depan.

Aku memang jarang pakai wewangian, tapi suka bila ketemu wangi yang enak, yang awet di otakku masihlah pierre cardin pacarku dulu, yang masih pakai seragam putih, menemuiku di samping laboratorium anatomi, sambil menyerahkan surat, yang isinya kalau tidak salah penundaan jadwal bertemu karena harus pulang dulu...

Selain itu, parfum selalu mengingatkanku akan film Perfume: the story of a murderer yang keren itu, lalu novel Aroma Karsa-nya dewi lestari yang beberapa alurnya jelas-jel…

tentang komunikasi

sekali lagi, aku akui, komunikasiku sangatlah jelek, kadang bicaraku seperti marah-marah / padahal tidak.  kadang aku berkata seperti nyindir padahal tidak.  Kadang yang aku sampaikan lewat mulut dan tulisan tidak sama dengan apa yang ada di benakku, jadinya responnya kadang tak seperti yang diharapkan.

tapi tak mengapa, seringkali akupun susah memahami isi pikiran orang lain, maunya apa, dan nyambungin dua kemauan apalagi, seringkali sulit.

mungkin akibat sedari kecil tak dibiasakan bicara dan menyampaikan pendapat di rumah, terbiasa diam, karena takut dimarahin.  dan memang ga dibiasakan ngomong.  lha bicara di depan kelas waktu sekolah saja seakan-akan neraka saja bagiku.

aku tak menyalahkan siapa-siapa, kok.  akunya saja yang kurang berusaha, jadinya sampai sekarang bicara di depan orang banyak selalu gugup, seringkali susunan kalimat yang aku sampaikan tidak begitu beraturan.

sekarang rasanya tambah parah, menulisku pun kacau.  postingan-postingan di blogku semakin tidak beratura…

tentang kejadian hari ini

Pagi-pagi masih segar, udara masih bagus, sampai di jam sembilan lewat saat keluar rumah, beberapa ratus meter dari komplek kabut asap menghadang.  terpaksa mampir minimarket, beli masker.  Udara pun terasa lebih panas. Untung saat balik rumah lagi asap sudah reda, dan rasanya beda, di sekitar komplek jauh lebih seger dan lebih enak udaranya dibanding dekat jembatan, sekitar seratus meter dari gerbang komplek.  Yaelah ini aku cerita kok ya mbulet lagi.

Aku baru nyadar, di pinggir jalan ada mahoni dan angsana yang tumbuhnya bagus dan daunnya lebat, sekitar rumah juga masih ada pepohonan, nyesel juga dulu nebang  jeruk bali depan rumah.  karena apa dulu lupa.

Sementara, soal asap di negeri ini, mau nyalahin siapa? Salahin tuh cukong-cukong kayu yang bertahun-tahun melahap hutan di negeri ini dengan berbekal ijin HPH. Hedeh, dongkol bener kalo inget itu, mana kampusku waktu S1 dulu sedikit banyak ikut peran serta dalam merusak hutan walau secara tak langsung.  Lah dosen-dosen yang sibuk …

tentang blank

pernah tidak, mengalami satu titik dimana rasanya otakmu rasanya menghentikan kemampuannya berpikir.  bukan karena malas, tapi karena memang pikiranmu sendiri menolak untuk memikirkan sesuatu.  Saat sesaat aktif kembali, alih-alih memikirkan hal-hal baik dan positif, benakmu malah selalu memikirkan hal terburuk dari akibat sesuatu hal yang bahkan belum kau kerjakan.

Denial.
Mungkin salahsatu kata yang agak tepat untuk menggambarkannya.  Akan posisimu saat ini. Baik bukan-mu, tapi -ku.

Entahlah.
Ini bukanlah hal yang baik dan tidak bisa terus berlanjut.

tentang keputusan sederhana

konsekuensi dari pola pikirku yang terlalu sederhana adalah sering memutuskan semua persoalan dengan sangat sederhana pula.  antara lain: menghindar saja jika dirasa ada masalah yang tak bisa terpecahkan, alih-alih berusaha mencari jalan keluar yang mungkin lebih baik.

tapi kali ini aku benar-benar lelah, setengah dipaksa mengerjakan sesuatu yang di luar perencanaan benar-benar menguji pendirianku kali ini.  sudah dua hari  lebih semenjak jumat, pikiranku blank, kosong, ditambah dengan gempuran masalah-masalah kecil dan mindset bahwa kalau akhir pekan ya libur.

tak ada yang lebih aku pikirkan lagi selain, mencari cara untuk berhenti dari apa yang harusnya aku hadapi dan jalani besok.  aku merasa sedikit dibodohi.  apalagi semua berujung pada satu hal: duit.

beh, aku muak bener.

tentang merdeka (2)

rasanya, tiap manusia bebas menentukan nasibnya, langkahnya, keinginannya, tentu dengna segala konsekuensinya.  semua ada plus dan minusnya, ada sisi baik dan sisi buruknya, tinggal menimbang-nimbang mana yang lebih baik untuk dirinya.

pengalaman hidup bertahun-tahun pun kadang belumlah cukup, untuk menentukan langkah besok hari, kadang situasi nyaman memang melenakan, lupa bahwa tiada yang abadi selain kedamaian yang kadang hanya bisa didapatkan saat kembali pulang ke rumah.

damai itu sederhana, sangat sederhana. manusia saja kadang suka sekali membuatnya rumit. dan manusia itu aku.

aku yang selalu ingin merdeka bermimpi dan bernapas lega setiap pagi, tapi tak sadar menjeratkan diri pada masalah-masalah yang belit membelit mengikat seperti akar pohon ag berusia ratusan tahun di hutan yang sangat sunyi dan tak terjamah logika.

aku lelah. juga ingin mengambil jeda.

tentang keberanian

jabatan di birokrasi sekarang, aku pikir diciptakan hanya untuk orang-orang pemberani, yang berani mengambil resiko atas pekerjaannya. dan aku- adalah seorang penakut.

mungkin pula karena aku merasa tidak kompeten dengan pekerjaan yang aku kira netral, ternyata terselip secara halus, keinginan satu-dua orang yang cuma menginginkan satu hal: uang.
edan.

mari lihat besok, apakah nyaliku benar-benar lolos dari ujian, untuk berani menyatakan ketakutanku.  terlalu naif memang tidaklah baik. dan aku- memang begitu adanya.

maaf.