Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Mungkin karena terlalu naif

Jadinya ya seringkali menganggap semua orang pasti punya sisi baik, padahal sebaliknya pun demikian, tiap orang juga punya sisi tidak baiknya. Nobody perfect. Right.

tentang kejengkelan

ada aja gitu ya, orang yg awalnya diberi kemudahan, ujungnya malah ngasih kejengkelan, ga peduli tanggungjawab samasekali.  Apa sih niat orang-orang yang aku pikir sudah dalam kategori jahat itu. Sudah dapat hak, lupa kewajiban. Bngst.

tentang ketakutan-ketakutan

bekerja kok ya malah bikin tidak tenang, selalu saja ada ketakutan terkait pekerjaan yang tidak beres dan selalu berkaitan dengan uang. mudahan tak terjadi apa-apa euuy.

tentang pesepeda sak tekane

Gambar
Iseng bikin desain kaos pake Canva, terinspirasi dari jargon saya dan kawan-kawan pesepeda di Jogja, yang sering menyebut diri kami sebagai pesepeda sak tekane, sak kuwate. Filosofinya adalah pesepeda yang ga ngoyo,, ga mikirin ambisi, ga terlalu peduli dengan prestasi, tapi tetap mengukur kemampuan diri sendiri, jadi sepedaan sesampainya, sekuatnya aja.  Yang penting tujuan tercapai.  Semacam manifestasi lain dari jargon alon-alon asal kelakon, alias santai wae, mz. S epertinya, memang demikianlah hidup saya ini euy.  Berjalan sekuatnya, kadang semau-maunya, yang penting nyampe dan hati senang.  Terlalu malas mengejar sesuatu.  Tak mementingkan pembuktian apapun, atas apapun, walau terkadang sesekali pamer tatkala sampai puncak tanjakan hehe absurd.

bila merasa aneh

Gambar
Ada kalanya mempertanyakan keberadaan diri, situasi dan tempat berada, memang bukan saatnya mempermasalahkan dilema dan kebingungan.  Sementara mempertanyakan sesuatu begitu susahnya, kalaupun terucap seringkali dengan cara yang tidak tepat. Masalahnya mungkin berujung sederhana: aku ingin melarikan diri, di sisi lain aku perlu uang. Sisi lainnya lagi aku ternyata sama sekali tidak kreatif, merasanya begitu.  Bisanya cuma menulis tak terstruktur seperti ini. Basi. Oh di bawah ini sih karya Banksy. Dapet gugling.

tentang pencitraan

Gambar
Rasanya ini suatu saat harus saya publikasikan di koran, tentang penting atau malah tidak pentingnys suatu pencitraan.  Baiknya kita mulai dari sesuatu yang bernama tujuan, mencitrakan sesuatu itu dalam rangka apa, untuk apa? Apa sekedar untuk memberitahukan bahwa “aku ada” atau ingin mengatakan pada dunia bahwa “aku layak untuk diperhitungkan”. Mungkin harus pake model Esman tentang anasir lembaga dalam institution building , bahwa hasil interaksi antara variabel-variabel lembaga dan linkage berujung pada keadaan akhir kelembagaan yang salahsatunya adalah has a good image in the environment.   Tapi kelembagaan adalah sebuah sistem, dan image alias citra yang terbentuk adalah lebih dari sebuah hasil dari rangkaian proses, dan itu dibentuk- bahkan terbentuk dengan sendirinya, akibat hasil dari transaksi antara unsur lembaga dan linkage alias keterkaitan-keterkaitannya. Akan halnya dalam bekerja pun, tanpa perlu kita mencitrakan diri bahwa kita sungguh bekerja, orang lain yang aka

tentang ipad mini 5

Gambar
Iya, kemarin itu saya posting pake ipad mini, yang akhirnya saya beli setelah melalui banyak pemikiran, pertimbangan dan penelusuran di internet. Beberapa minggu yang lalu saya sempat membeli galaxy tab A 2019 yang layarnya 7,9 inchi itu, sempat saya pakai selama dua minggu untuk kemudian saya jual lagi.  Alasannya simpel, ada yang kurang dengan tab  itu.  Apa ya, apa karena terbiasa dengan layar iphone SE saya, atau karena alasan pembelian impulsif, dan alasan tambahan yaitu bukan beli yang versi pake S pen. Kepikirannya sih pengen ganti dengan tab yang pake S pen, tapi setelah gugling dan menemukan fakta kalau harga ipad sekarang tidak begitu mahal, paling tidak dibanding beberapa tahun yang lalu, lah faktanya ipad 7 tahun 2019 yang layarnya 10,2 inchi- lebih gede 0,5 inchi dari ipad 6 tahun 2018- harganya beda dikit sama galaxy tab S pen, walaupun ipad itu versi wifi only dan kapasitasnya cuma 32 gb. Tapi itu produk apple. Yang mana kelebihannya, menurut pengalaman saya ngecha

tentang pengalaman belanja online dengan grab express

Gambar
Sungguh, ini bukan online, cuma sekedar berbagi pengalaman sahaja, soal brand ya apa boleh buat. Saya sedari entah kapan penasaran ingin mencoba beli online pake metode instant courier gitu, walaupun fasilitas itu kebanyakan disediakan seller di ibukota. Akhirnya saat ada kesempatan ke Jakarta lagi beberapa waktu yang lalu, saya pun memutuskan untuk membeli sesuatu secara online, dan seperti biasa pake aplikasi andalan dan kepercayaan saya: tokopedia.  Sekali lagi, ini bukan iklan hehe Cari-cari yang bisa dianter pake instant courier, lalu milih pake grab express, otomatis milih itu karena lebih murah seribu dibanding gojek, sesederhana itu. Nunggu barang diproses, sambil chat sama seller, nunggu dipacking sekitar satu jam, tak lama barang pun dikirim, dan di apps bisa diliat posisi grab via tab live tracking.   Tak pakai lama juga, sesampainya ojek online yang nganterin barang menghubungi via telepon tentang paket yang dianternya. Ohiya, karena saya nginep di hotel, jadi alama

tentang Sepeda, Kaos dan Desain Canva

Gambar
minggu ini rasanya termasuk malas sepedaan, bukannya malas lagi, tapi sampai hari ini sedari sabtu kemarin rasanya belum ada sepedaan yang berarti, artinya cukup jauh dan cukupan lamanya.  Selain hujan yang sedang rajin dijadikan alasan.  Padahal Soloist di kantor belum pernah diuji coba, bahkan sadelnya belum diseting dengan benar.   Besok mungkin ya, ke gubernuran lah paling tidak. lalu tentang kaos, paling tidak sudah tiga kali saya ngedesain kaos, terus minta dicetakin di kaos pada seorang kawan, ya karena saya ga bisa desain grafis, maka desainnya pun standar,  cuma tulisan putih di atas bahan berwarna hitam.  Karena bikinnya limited,   bangga juga saat ada yang nanyain: masih ada ngga kaosnya?  Tapi ya jelas ngga ada lagi, dan belum ada niatan untuk bikin lebih banyak.  Barusan saya malah bikin desain lagi, bikin satu aja kayaknya keren.  Seperti ini nih: tadinya ada yang protes kala saya jadikan status sejenak di WA, tadinya salah tulis, saya bolakbalik aja skalian, kok y

tentang Almira bastari, Folio dan Vulcan

Gambar
akhirnya, kelar juga baca buku yang saya beli minggu kemarin, setelah penasaran gara-gara baca buku Resign-nya.  Almira bastari ini pengetahuannya luas, dan detil dalam menceritakan satu hal, terutama dalam menjelaskan perasaan dan hubungan antar dua insan *tsaelah istilahnya. .  Satu hal menarik dari buku Ganjil-Genal itu adalah: ceritanya realistis, dan sedikit berbeda dengan Resign yang seperti ngajak pembacanya ngos-ngosan pengen mengetahui ending  yang sedikit gampang ditebak. Sementara kisah Ganjil Genap, menjungkirbalikkan tebakan saya, ada sedikit hal yang mirip dengan karya bubin LantanG, ya mau tak mau saya terus teringat beliau, bahwa tak semua hidup berakhir bahagia, walau yaa jelas isinya tak se- rebel  karya bubin lah.  Maaf jadi sedikit spoiler,  eh buat apa saya minta maaf, wong  ga ada salah ini ya. Kemudian, soal template  blog ini, kemarin kembali ngubek-ngubek jagat mayapada internet ini dengan kata koentji: free blogger template,  lalu tertarik dengan templa

tentang jawaban yang nanggung, bacaan dan kisah hantu yang tak kunjung henti

Gambar
ini aku heran, kok masih ada ya yang lupa akan tanggungjawabnya, kesel euy. lama-lama yang makin kesel.  Lah kewajibanku sudah tunai, hak orang sudah dikasihkan, kok ya orang yang dikasih keringanan malah lupa akan tanggungannya yang sebenernya sepele: cuma diminta laporan kok. HEDEH. ngga cuma satu, tapi dua tim yang belum ngumpulin laporannya. DUA TIM! bayangkan itu.  Kalau saja laporan itu gratis ya tidak apa-apa, ini dibayar mahal untuk itu, dan mbokya nyadar gitu, Gustiii.. Apalagi yang bikin pusing, adalah satu kartu ATM yang rusak, satu lagi ketinggalan di ATM, ini sih PR buat besok untuk ngurus hal-hal yang keliatan sepele ini.  Lalu HDE aku dimanaaaa? asli lupa naro harddisk eksternalku eta euy.  Data-dataku masih banyak yang nyangkut di situ, argh lain kali aku simpen di G-drive aja deh. Mudah-mudahan ntar aku ga meledak lagi di kantor.  Tp gp wes sesekali ya, biarpun ntar dicap orang yg esmosian ga jelas. ARGH! -update- barusan akhirnya, yang ditagih kewajibannya

tentang buku yang tak sabar ditamatkan dan sebuah kisah penipuan

Gambar
..walaupun sudah berlangganan gramedia digital dan menamatkan satu buku puisi karya M. Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada Newyork Hari Ini, juga menamatkan semua seri novel grafis Grey & Jingga karya Sweta Kartika, lalu apa ya saya lupa lagi.  Pesona buku kertas tak juga pudar, saya masih juga membaca ulang beberapa buku kang Pidi Baiq. Sampai kemudian, saya menemukan informasi tentang buku yang katanya bagus, judulnya Resign yang ditulis oleh Almira Bastari.  Dan itu terbukti benar adanya, buku yang katanya masuk metro-pop itu saya tamatkan kurang dari jam jam secara marathon, alur kisahnya mengalir, seakan-akan menonton film tentang kehidupan kerjaan dalam sebuah kantor -mungkin suatu saat buku ini bakal dibuat filmnya juga.  Gara-gara itu pula akhirnya saya memutuskan membeli karya terbarunya yang konon saat dibuka sesi pre ordernya, ratusan buku cetakan pertamanya terjual habis dalam 10 menit . Luarbiasa sekali. Beberapa minggu setelahnya, saya membaca kabar bahwa salahsat

jejak jember

Gambar
kota Jember adalah kota yang unik, kota yang rasanya hidup dalam diam, tenang dan tidak terlalu ingin bergegas.  Hal itu yang saya simpulkan saat berjalan kaki menyusuri ruas jalan Samanhudi bebreapa hari yang lalu, sesuai saran dari seorang (lagi-lagi) mas Nuran yang memang asli dari kota kecil itu.  Kota yang namanya tak seterkenal Banyuwangi di jaman dulu.  Orang kenal Jember pasti gara-gara mas Anang Kidnap Katrina dan sekarang akibat event festival pakaiannya itu. Saya sih kalau inget Jember pasti inget akan mas Nuran dan mb Fay , salah dua orang pintar yang pernah saya kenal, dua-duanya alumnus Universitas Jember dan penggiat forum penulis Tegalboto atau apalah namanya itu. Kota kecil yang tenang, tapi sedikit menyebalkan karena di pusat kota diterapkan kebijakan satu arah pada beberapa lajur jalan, jadi mirip labirin di pikiran saya.  Di luar itu, menyenangkan untuk bahkan sekedar berjalan kaki di pagi atau sore hari.  Dan tiga hari saya berlalu begitu saja, tanpa sempat ber

tentang offline, jin dan netflix

Gambar
entahlah, mungkin sedikit bosan dan kembali menjauh dari keramaian sosial media, awalnya deactive facebook, lalu twitter, terakhir instagram tak lagi saya buka, entah ini hiatus yang ke berapa kali, saya lupa, dan juga entah kapan nanti hidup kembali.  mungkin twitter yang akan saya aktifkana lagi gara-gara sayang juga akun empat digit itu kalau dinonaktifkan permanen. paragraf pembuka yang sungguh riweuh  ya. lalu kenapa dengan jin?  ini gara-gara beberapa hari terakhir ini, ada anak magang di komplek yang kesurupan, kemasukan jin, hedeuh semoga dia ga tau saya ceritakan di sini, soalnya yang ngerasukin itu suka cerita macem-macem sama orang-orang yang mengelilinginya. gara-gara itu juga, dan teringat akan saran seorang teman, saya ujug-ujug sore tadi, beli pohon bidara untuk ditanem di depan rumah, sedikit khawatir juga karena rumah yang ditempati sekarang sudah lama kosong dan rusak. malah jadi horror gini. oh iya, semingguan ini saya juga sedang rajin nonton netflix, ya