Langsung ke konten utama

tentang pencitraan

Rasanya ini suatu saat harus saya publikasikan di koran, tentang penting atau malah tidak pentingnys suatu pencitraan.  Baiknya kita mulai dari sesuatu yang bernama tujuan, mencitrakan sesuatu itu dalam rangka apa, untuk apa? Apa sekedar untuk memberitahukan bahwa “aku ada” atau ingin mengatakan pada dunia bahwa “aku layak untuk diperhitungkan”.

Mungkin harus pake model Esman tentang anasir lembaga dalam institution building, bahwa hasil interaksi antara variabel-variabel lembaga dan linkage berujung pada keadaan akhir kelembagaan yang salahsatunya adalah has a good image in the environment.  

Tapi kelembagaan adalah sebuah sistem, dan image alias citra yang terbentuk adalah lebih dari sebuah hasil dari rangkaian proses, dan itu dibentuk- bahkan terbentuk dengan sendirinya, akibat hasil dari transaksi antara unsur lembaga dan linkage alias keterkaitan-keterkaitannya.

Akan halnya dalam bekerja pun, tanpa perlu kita mencitrakan diri bahwa kita sungguh bekerja, orang lain yang akan menilainya, pihak lain, yang bahkan tak pernah terpikirkan, akan memberikan skornya sendiri akan diri kita, hasil kerjaan kita, dan semua punya sistem penilaiannya sendiri-sendiri.  Kita yang tak bisa bikin standarisasi penilaian orang lain, atau berusaha membuat persepsi yang sama akan apa yang telah kita lakukan.

Mungkin lebih baik berusaha melakukan yang terbaik, tanpa harus berusaha terlihat sebagai yang terbaik.  Buat apa? Sepenting apa?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang (pamer) jam tangan

 saya sebenarnya termasuk manusia yang jarang sekali pakai jam tangan, dan terakhir saya cuma punya satu jam digital, yang saya beli sebenernya karena ada fitur ngukur SPO2 alias saturasi udara- gara-gara pandemi covid itulah.. itupun Honor band 5i yang termasuk paling murah di kelasnya.. dan ajaibnya, walaupun pas pake jam tangan itu, tetap saja lebih sering ngecek waktu via hape hehe.. dan kalimat itu juga kurang lebih yang saya sampaikan di postingan mb Eno di blognya tentang jam tangan .. trus tau-tau beberapa waktu lalu, dia bilang mau ngirimin saya sesuatu, jauh-jauh hari sih sebelum saya kasih komentar tentang jam tangan itu, trus akibat komen saya itu, mb Eno buka kartu tentang apa yang dia kirimin ke saya itulah yang kemarin paketnya sampai dan isinya langsung saya pakai, dan masih rajin saya pakai sampai nyaris seharian tadi hehe lha saya ga nyangka aja dikasih jam tangan sama temen baru saya itu. makasih banyak lho, smoga saya inget pesannya untuk jangan lagi nengok hape saa