Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

..mencoba instal Lubuntu di Lenovo S206

..leptop honey, istri saya itu kondisinya sekarang lumayan amburadul, wifi susah konek, batterynya error -ya kalo ini sih salah saya gara-gara pernah nge-charge kelamaan-,  dan terakhir suka mati-mati sendiri sehabis diinstal ulang sama windows 7 (bajakan).

Saya putuskan untuk instal linux saja, kali ini saya instalin Lubuntu, turunan ubuntu dengan pertimbangan spec leptop yang lumayan pas-pasan: RAM cuma 2 Gb dan prosesor yang cuma dual core 1,4 Gb. 

Sebenarnya saya pengen nginstalin debian lagi, tapi selain lupa caranya, saya juga pengen nyoba OS yang lain, setelah saya timbang-timbang yang file ISO-nya lumayan kecil ya cuma Lubuntu, cuma sekitar 900-an Mb.  Itu juga lumayan lama downloadnya, cuma ngandelin hotspot dari hape.

Setelah dapet iso-nya, bikin bootable di flashdisk pake unetbootin, lalu mencoba instal, berhubung saya termasuk user abal-abal yang taunya instal dan klik sana sini, jadi belum berani instal seluruhnya, takut data yang ada di hardisk keformat seperti yang lalu…

tentang novel Anak Rantau

..proses membeli buku ini punya drama sendiri, memutuskan membelinya saat ke Jogja (lagi) kemarin.  Muterin empat toko buku besar, tapi tidak tersedia.  Ketemunya malah saat memutuskan untuk mampir di toko buku Social Agency di Jakal sepulang turun sepedaan dari Pakem.

Novel karya A. Fuadi isinya khas, selalu ada quote yang bagus di dalamnya, ada ilmu yang bisa dipetik selain pilihan kata-katanya yang unik.  Alur ceritanya juga rapi, penggambaran tempat dan tokohnya detil, bercerita tentang kesederhanaan hidup dan yang penting nyaman untuk dibaca dan dicerna otak saya.

Kisahnya berkutat antara hubungan ayah-anak-keluarga-kawan, dan adat Minang, sedikit tentang PRRI dan ditambah bumbu petualangan detektif ala Lima Sekawan.  Intinya itu.

Yah ini resensi macam apa sih.  Lha saya takut kalau bercerita lebih jauh takut ada spoiler, mending beli sendiri terus baca, menarik kok, bener hehe

memulai membaca & menulis (lagi)

..rasanya lumayan lama, saya kehilangan sesuatu yang bernama kenikmatan membaca dan keasikan menulis..

..kemarin muter-muter toko buku, akhirnya memutuskan membeli Anak Rantau, baru selesai setengahnya.   Seperti buku-buku A. Fuadi sebelumnya, saya masih senang dengan gaya bahasanya, seperti juga saya menyukai karya-karya Andrea Hirata.  Gaya bahasa mereka yang sederhana dan membumi selalu terasa renyah di otak dan pikiran saya..

Nantilah saya review buku itu (kalau pas lagi rajin)..

Selain itu, saya juga berusaha (pake banget) untuk menulis lagi, utamanya di blog ini, walaupun tampaknya pamor blog sekarang sedang seperti sesuatu yang dianggap anti mainstream dan agak asing.  Ya, sosial media adalah sang raja sekarang, memang.

Tapi toh, saya berusaha belajar membaca dan menulis lagi

Sebentar, rasanya saya de ja vu dengan tulisan saya sekarang ini.  Apalah itu, mari menulis dan membaca lagi..

dari Jogja ke bandara Adi Sumarmo Solo

..garagara tiket dari Jogja ke kampung sekarang tidak semurah dulu, akhirnya nyari alternatif lain, yaitu via Solo.  Masalahnya, bandara Adi Sumarmo yang padahal masuk wilayah Boyolali itu, letaknya agak jauh dari jalan raya, gugling mencari cara termudah dan termurah menuju bandara itu pun tak begitu memuaskan.

Kemarin, akhirnya saya coba-coba naik kereta Pramex dari Jogja, harga tiketnya sekarang Rp. 8000,-.  Setelah melihat peta, saya memutuskan untuk turun di stasiun Purwosari yang posisinya strategis karena dekat dengan Jl. Slamet Riyadi, jalan utama di kota Solo.

Ternyata tepat di depan stasiun ada halte Batik Solo Trans, bis semacam Trans Jogja, bedanya bayar ongkosnya di dalam bis, tidak di halte seperti di trans Jogja.  Dari halte ke bandara ongkosnya cuma Rp. 20.000,-.  Rasanya ini alternatif termurah menuju bandara Adi Sumarmo, kalau naik ojek online dari situ saat saya cek ongkosnya sekitar 30 ribu, terkecuali punya saldo top up, ada diskon sehingga tarifnya sekitar 20 rib…

Dilema Sepatu Baru ..

.. yang tak kunjung kebeli..

Iya ini anggap aja sambungan dari postingan terdahulu.  Beberapa jenak semenjak sepatu saya hilang kmarin itu, akhirnya diputuskan untuk mencari penggantinya.  Jadilah beberapa hari muter-muter dua mall, entah berapa belas toko sepatu dan browsing toko onlen.

Hasilnya: saya mumet.

Ternyata mencari sepatu yang sesuai dengan kehendak hati dan budget itu tidak mudah.  Saya baru sadar saat melihat-lihat entah berapa puluh pasang sepatu.  Hanya kira-kira doa model saja yang nyangkut di hati saya.

Itu pun, sat ada ukurannya yang pas, eh warnanya kok ya coklat alias ndak sesuai, salahkan kebijakan kantor saya yang mengharuskan karyawannya bersepatu warna hitam.

Di waktu lain, ketemu yang pas modelnya dan warnanya gelap walau tak hitam-hitam amat, eh ukurannya kegedean.  Stoknya juga sisa itu doang jare.

Ketemu yang lumayan bagus dan lumayan cocok, eh harganya tidak sesuai dengan keinginan saya, rasanya saya masih belum perlu sepatu dengan harga di atas satu juta …