Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

tentang koordinasi hedeh

gini ya, biasanya kalo ada surat masuk dari kementerian di kabupaten itu, lewatnya ya dialamatin ke bupati, trus ada disposisi turun ke sekda, trus ntar bisa turun ke instansi yang terkait atau bagian di setda. kadang ada surat yang masuk ke bagian, trus kudune, kalau terkait dengan kerjaan suatu instansi, harusnya ada koordinasi.  dan tahun ini parah, bikin saya sedikit kesel.  ada kerjaan yang harusnya masuk ke instansi saya, tapi tak sampai, ketahan sama satu bagian. entahlah gimana maksudnya. padahal penting sekali, terkait input data yang harus dilakukan terkait kerjaan saya. dan saya dikasih taunya, hanya beberapa minggu menjelang deadline.   ya jelas saya protes, itu surat yang datengnya sejak tiga bulan yang lalu, kenapa baru aja disampaikan isinya? ujug-ujug saya diminta bantu input. padahal sebelum itu ada pra kegiatan dan koordinasi yang kudu dilakukan.  Oke memang saya sedikit naif karena ngga ngecek web kementerian, tapi saya orang baru yang ga ngeh kalo ada info ter

tentang masalah-masalah

sebenarnya sudah terlampau lelah mendengar masalah-masalah orang lain, untuk kemudian berusaha menjaganya agar orang lain tidak mengetahuinya.   wong  nengok masalah sendiri saja pusing. kadang-kadang lebih ingin bersikap masabodo dan tak peduli, atau memang seharusnya memang demikian, bersikap netral dan seakan-akan hear nothing. saat ini tak ada keinginan lain selain ingin menikmati ketenangan hidup.  memang sesederhana itu sebenernya tujuan hidup.  kian lama cuma ingin berusaha menjauhi masalah, segala masalah.  Jauh sekali dengan beberapa tahun ke belakang, yang kadang malah ingin nyari masalah. sepertinya hidup sudah sampai pada titik jenuh pada apapun yang berbau tantangan, yang ada hanya keinginan besar untuk semakin menarik diri jauh dari keramaian.  apalagi aku, sekali lagi, yang sejatinya tak begitu suka dengan keramaian. hanya ingin berjalan dalam tenang. begitu saja.

tentang bagaimana nanti kau akan dirindukan

ini adalah, cuma sekilas pertanyaan, jika nanti kau, kita, aku, menghilang dari muka bumi ini, seperti apakah dirimu akan dirindukan. ataukah tidak? adakah jejak baik yang akan ditinggalkan untuk diingat dan sesekali ditangisi oleh orang-orang yang mungkin menyayangimu, terang-terangan maupun diam-diam. semua orang rasanya ingin diingat akan hal yang baik-baik saja. tapi kenapa masih saja sering berbuat hal buruk dan busuk?

bila november berakhir

rasanya baru saja, oktober berakhir menuju november yang hujan, tau-tau sekarang sudah tanggal dua puluh empat saja.  terasa sekali waktu berlari, smoga tahun ini berakhir dengan baik-baik saja. entah kenapa akhir-akhir ini terpikirkan akan masalah waktu ini, anak-anak yang satu persatu melangkah meninggalkan rumah, tahun depan giliran si tuan putri yang melanjutkan langkahnya, dia sudah memutuskan mau kemana, dan ya masih ada si bungsu memang, tapi tetap saja, mungkin nanti bakal lebih sepi dibanding biasanya. belum apa-apa aku sudah membayangkan sore hari pulang kantor tak ada lagi yang berlari membukakan pintu rumah.  tak ada lagi yang bakal ribut dengan celoteh artis-artis korea kesayangannya, kecuali nanti saatnya libur semesteran. ya masih lama memang, masih kurang lebih satu tahun lagi. tapi saya seakan-akan sudah bersiap-siap untuk merasa lebih sepi.  walau saya jelas tak bakal siap. ga asik ah tulisan kali ini endingnya. meuni sedih.

napas yang cukup

sebenernya apa sih hakikat sebuah kata bernama : ' cukup ' itu?  Apa memang manusia tak pernah berkenalan sungguh-sungguh dengannya, atau memang tak pernah sampai pada titik dimana dirinya merasa cukup. Bagi saya, mungkin nanti suatu saat, kata itu akan datang menghampiri, saat anak-anak sudah selesai dengan urusan sekolahnya (yang padahal ga ada yang bakal tau kalau bakal berlanjut lagi suatu saat kelak hihi), lalu sepanjang hari menikmati waktu, bersepeda seharian, mengutak-atik sepeda, atau sibuk membasuh motor legenda di pekarangan yang tak begitu luas, atau berusaha bertukang membuat benda-benda apa saja dari apa saja di halaman belakang, atau iseng meraparasi apapun. Lalu duduk di sore hari berdua di teras, sambil minum teh tawar tentu saja, bercerita tentang apa saja dengan istri di kursi kayu, sambil sesekali menengok halaman-halaman buku-buku fiksi yang seperti tak selesai-selesai. Intinya menikmati sisa waktu, tanpa ada keinginan untuk menambah apapun lagi yang

tentang resolusi 2020

baru saja november, yang hujan, sudah teringat akan resolusi yang terakhir bikin kapan ya? pokoknya tahun depan aku ingin pindah rumah lah, apalagi pas tau kmaren atap rumah bocor, ya gara-gara seng pelapisnya pada lepas bagian tengahnya, jadi aja kamar tengah tau-tau basah. selain takut akan kayu-kayu yang sepertinya semakin parah dimangsa rayap-rayap iblis menjelma ke penjuru dunia.. puyeng jg ngitung2 bahan bangunan yang tiap tahun makin meninggi (yaiyalah), tapi mari semoga mewujud nyata. selain itu- masih saja ingin memiliki astrea legenda, motor yang paling nyaman yang pernah aku rasakan sepanjang hidup. kalo ga ketemu ya paling tidak astrea apa sajalah yang masih bagus. lalu ingin beli gitar, .. bentar-bentar, ini sebenernya resolusi apa bucket list  toh?  apa aja lah.  gitar butut di kamar ini entah sudah berapa tahun adanya, sampai-sampai saya beneran lupa itu sebenernya gitar punya siapa haha itu saja udah.

napas absurd.

angin maret begitu kering, dedaunan kuning berbaur rontokan rerumputan di lantai bumi yang mewangi vetiver, dan Albizia saman tak peduli, tetap pongah dengan hijaunya tapi juga tak mau merunduk, mungkin malu dengan sepasang kaki yang bertautan di rindangnya yang menghalau panasnya siang yang sebentar lagi usai.. itu adalah sabtu di akhir minggu kedua, akhir masa libur, akhir masa bertemu, akhir masa kembali mengurai rindu, tak lepas juga pelukan dan sesekali lembut hangat di keningnya, berbaur matanya yang sembab hingga berpulas bening perlahan mengalir di pipinya yang merona jingga. kontras dengan langit yang sepenuhnya biru. bibir mereka lekat, tak bertautan, kala tak kentara, tangan kanan Zi perlahan mengeluarkan belati kecil dari slingbang  yang sedari tadi tergeletak di sisi mereka, perlahan pula digoreskannya, ya hanya digoreskan saja pada punggung lelakinya yang lembab.. Zi melepaskan ciumannya, menatap mata lelakinya yang sayu, menciumnya sekali lagi, matanya sembab.