Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

napas yang cukup

sebenernya apa sih hakikat sebuah kata bernama : 'cukup' itu?  Apa memang manusia tak pernah berkenalan sungguh-sungguh dengannya, atau memang tak pernah sampai pada titik dimana dirinya merasa cukup.

Bagi saya, mungkin nanti suatu saat, kata itu akan datang menghampiri, saat anak-anak sudah selesai dengan urusan sekolahnya (yang padahal ga ada yang bakal tau kalau bakal berlanjut lagi suatu saat kelak hihi), lalu sepanjang hari menikmati waktu, bersepeda seharian, mengutak-atik sepeda, atau sibuk membasuh motor legenda di pekarangan yang tak begitu luas, atau berusaha bertukang membuat benda-benda apa saja dari apa saja di halaman belakang, atau iseng meraparasi apapun.

Lalu duduk di sore hari berdua di teras, sambil minum teh tawar tentu saja, bercerita tentang apa saja dengan istri di kursi kayu, sambil sesekali menengok halaman-halaman buku-buku fiksi yang seperti tak selesai-selesai.

Intinya menikmati sisa waktu, tanpa ada keinginan untuk menambah apapun lagi yang krusial…

tentang resolusi 2020

baru saja november, yang hujan, sudah teringat akan resolusi yang terakhir bikin kapan ya?

pokoknya tahun depan aku ingin pindah rumah lah, apalagi pas tau kmaren atap rumah bocor, ya gara-gara seng pelapisnya pada lepas bagian tengahnya, jadi aja kamar tengah tau-tau basah. selain takut akan kayu-kayu yang sepertinya semakin parah dimangsa rayap-rayap iblis menjelma ke penjuru dunia..

puyeng jg ngitung2 bahan bangunan yang tiap tahun makin meninggi (yaiyalah), tapi mari semoga mewujud nyata. selain itu- masih saja ingin memiliki astrea legenda, motor yang paling nyaman yang pernah aku rasakan sepanjang hidup. kalo ga ketemu ya paling tidak astrea apa sajalah yang masih bagus.

lalu ingin beli gitar, .. bentar-bentar, ini sebenernya resolusi apa bucket list toh?  apa aja lah.  gitar butut di kamar ini entah sudah berapa tahun adanya, sampai-sampai saya beneran lupa itu sebenernya gitar punya siapa haha

itu saja udah.

napas absurd.

angin maret begitu kering, dedaunan kuning berbaur rontokan rerumputan di lantai bumi yang mewangi vetiver, dan Albizia saman tak peduli, tetap pongah dengan hijaunya tapi juga tak mau merunduk, mungkin malu dengan sepasang kaki yang bertautan di rindangnya yang menghalau panasnya siang yang sebentar lagi usai..

itu adalah sabtu di akhir minggu kedua, akhir masa libur, akhir masa bertemu, akhir masa kembali mengurai rindu, tak lepas juga pelukan dan sesekali lembut hangat di keningnya, berbaur matanya yang sembab hingga berpulas bening perlahan mengalir di pipinya yang merona jingga.

kontras dengan langit yang sepenuhnya biru.

bibir mereka lekat, tak bertautan, kala tak kentara, tangan kanan Zi perlahan mengeluarkan belati kecil dari slingbang yang sedari tadi tergeletak di sisi mereka, perlahan pula digoreskannya, ya hanya digoreskan saja pada punggung lelakinya yang lembab..

Zi melepaskan ciumannya, menatap mata lelakinya yang sayu, menciumnya sekali lagi, matanya sembab.  lalu lari…