Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

tentang karepmu

dipikir-pikir, pikiranku sepertinya lebih sering fokus pada orang lain, apa yg orang lain ucapkan, apa yg orang lain perbuat, terutama hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang negatif.  Saat-saat gini malah teringat masa-masa SMP (jadi teringat karena mendadak seorang teman memasukkan dalam grup whatsapp es-em-pe, yang setelah saya masuk, nyatanya yang aku kenal cuma tiga orang: satu temen deket yang sesekali ketemu, satu sepupu dan satunya lagi yang memasukkan ke grup, sisanya tiada yg kukenal).

Masa dimana aku tidak peduli dengan orang lain, aku pedulinya cuma soal keseharian, selalu berusaha (dan nyatanya memang selalu) tepat waktu ke sekolah, yang jaraknya cuma beberapa ratus meter saja dari rumah.  Kawan dekat juga sedikit, mungkin banyak yang kenal gara-gara abah ngajar di sekolah yang sama.  Tapi aku benar-benar tak peduli.  Yang aku pedulikan cuma koleksi bacaan di perpustakaan yang rajin disambangi, sambil sesekali melirik penjaga perpustakaan yang menurutku saat itu keren.

Enta…

tentang (mantan) sepeda

tulisan ini aslinya berupa thread di twitter, yang sepertinya alangkah baiknya diarsipkan juga di sini, dengan beberapa tambahan dan pengurangan kalimat dan beberapa gambar yang sempat terdokumentasikan.. 
mari nostalgia dg (mantan) sepeda2 saya yg tak seberapa itu.. kebetulan, sebagian besar baru bisa kebeli saat di Jogja.

#1.
Sepeda mtb ladies, mbuh merknya apa. Beberapa kali sempet dibawa ke kampus. Waktu make sepeda itu ga ngerti sama sekali sama setingan yg enak dll- asal bawa aja. Endingnya ilang di dpn kontrakan. Dicuri kyknya.

#2.
Sepeda hitam. Merknya jg mbuh. Beli sama mas bengkel- yg namanya saya lupa/ hedeh- Karangkajen. Sempat saya pikir Federal tp ternyata bukan, tp gara2 sepeda ini saya kenal dg anak2 Fedjo- federal jogja.  Itu di bawah fotonya, .
saat sepedaan minggu pagi, mbonceng Thor dan bang Ai depan rektorat UGM.
#3.
Federal Metal Craft. Beli di bengkel sepeda di Jl. Gambiran. Beli fullbike dg setingan & groupset seadanya. Akhirnya dipake si sulung, dan sek…

tentang sebuah nama

seorang kawan, kemarin menatap nametag saya, lalu bertanya dengan raut muka bingung, ohiya itu adalah kawan seperguruan kyokushinkaikan waktu kuliah, dan sering main ke kos, kebetulan satu kos dan sekondannya memanggil saya dengan nama : uji.

"trus nama oji itu asalnya dari mana, ji?"
Ya tetap saya dia manggil saya dengan akhiran -ji, tiap kali ketemu.
"lah dikira sudah tau, itu dulu ceritanya waktu opspek, aku digundul, trus dikata2in mirip sama aktor hantu yang lagi naik daon waktu itu, Ozzy Syahputra.  Gitu.."
Temen saya manggut-manggut hwehehe

Ya namanya orang Banjar, sulit melafalkan huruf o dan z, yang ada jadinya Uji..

Ya tiap segmen kehidupan saya, rasanya ada beberapa kumpulan orang yang punya panggilan masing-masing terhadap saya, jadinya cukup menyenangkan, tanpa menolehpun saya tau yang manggil saya itu dari kelompok mana.

Keluarga.
Keluarga mertua dan komplek.
Temen sekolah.
Sebagian kecil kawan sekolah dan guru agama.
Temen kuliah.
Temen kantor.
Temen…

tentang domain setengah milyar

jadi, kemarin kapan itu, seorang kawan bercerita tentang domain barunya yang berekstensi dot id.  katanya lagi promo, sayapun tertarik, lalu ngecek domain auk.id, eh masih tersedia, dan daftarnya cuma 120rb.  minta proseskan sama temen saya itu, walau katanya nanti pas perpanjangan domain harganya jadi duakali lipat. yaudahlah gpp.

lalu, saya iseng ngecek lagi, domain rd.id,, eh tersedia, harga pendatarannya juga cuma 120rb. Tanpa pikir panjang, klik- masukin keranjang.

tapi, besoknya temen saya itu nelpon, kalau ternyata biaya domain itu ternyata bukan cuma 120rb, untuk auk.id yang tiga digit, masuk kategori domain premium yang harganya 15jeti. lah! Kemudian saya pun bergegas ngecek harga domain rd.id yang cuma dua digitm ternyata harganya setengah milyar hahaha edun.

lah, harga aslinya ga dicantumin dg jelas je, jadi aja saya sudah geer duluan, ngebayangin punya blog dengan domain dua digit yang ternyata cuma mimpi... :))

tentang sesuatu yang berubah

kemarin,  kawan lama dari Tulungagung berkunjung bersama kawan-kawannya, tiga hari.  Saya berusaha nemenin kemana bisanya.  Secara saya biasa bingung kalo nganter tamu, karena terbatasnya objek wisata yang bisa dikunjungi di selatan kalimantan ini.

Tapu hari terakhir kemarin seru, ngajak mereka ke maskot wisata di sini: pasar terapung di Lok Baintan, nah yang beda, saya iseng nanya kalo lanjut ke Banjarmasin berapa menit, eh katanya motoris cuma sekitar 40 menitan.  Jadi aja setelah selesai liat-liat dan makan soto di atas sungai, perjalanan lanjut ke ibukota provinsi ini.

Kepikiran banyak selama di jalan: rumah-rumah yang terasnya ngadep sungai, jamban-jamban yang masih berjejer di sisi sungai yang sampai sekarang saya ga habis pikir kenapa harus dihapuskan hanya gara-gara etika berkedok kesehatan.   Kehidupan dan aktifitas di sepanjang sisi sungai, kehidupan yang akrab sedari saya kecil.

Di jalan kepikiran, kenapa objek wisata di kampung saya ini sedikit, dan baru rada banyakan bebe…