Langsung ke konten utama

tentang domain setengah milyar

jadi, kemarin kapan itu, seorang kawan bercerita tentang domain barunya yang berekstensi dot id.  katanya lagi promo, sayapun tertarik, lalu ngecek domain auk.id, eh masih tersedia, dan daftarnya cuma 120rb.  minta proseskan sama temen saya itu, walau katanya nanti pas perpanjangan domain harganya jadi duakali lipat. yaudahlah gpp.

lalu, saya iseng ngecek lagi, domain rd.id,, eh tersedia, harga pendatarannya juga cuma 120rb. Tanpa pikir panjang, klik- masukin keranjang.

tapi, besoknya temen saya itu nelpon, kalau ternyata biaya domain itu ternyata bukan cuma 120rb, untuk auk.id yang tiga digit, masuk kategori domain premium yang harganya 15jeti. lah! Kemudian saya pun bergegas ngecek harga domain rd.id yang cuma dua digitm ternyata harganya setengah milyar hahaha edun.

lah, harga aslinya ga dicantumin dg jelas je, jadi aja saya sudah geer duluan, ngebayangin punya blog dengan domain dua digit yang ternyata cuma mimpi... :))

Komentar

  1. saya aja masih nebeng om domainnya. mau beli yang murah-murah entah kenapa sik mikir kayak ada yang ganjel =))))

    BalasHapus
  2. Ini udah kayak jualan nomor cantik, padahal buat saya domain *.id malah ga terlalu nempel. Lebih nempel dot com. Baru kalau dot com ga ada, searching google. Ketemu ternyata pakai domain *.id wkwkwk...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu