Membaca Dilan ITB 1997
Sudah lama tak membaca buku bagus dan nyaman dibaca sehingga nyaman dibaca dalam sekali duduk. karena mengalir, seringkali saya membaca buku tak ubahnya seperti menonton film, pikiran otomatis mengalir mengikuti jalan cerita. Mungkin sedikit subjektif karena Pidi Baiq adalah salahsatu penulis favorit saya.
Apalagi latar belakang kisah Dilan ITB 1997 relate dengan kehidupan saya dulu, alur waktunya beririsan dengan waktu kuliah dulu. Bedanya tokoh Dilan sepertinya beberapa angkatan di atas saya (kudu ditegasin masalah ini haha). Utamanya adalah masa-masa awal reformasi di negara ini, dan ada beberapa hal yang serasa de ja vu, terulang lagi di masa sekarang: apalagi jika bukan terkait kebebasan mengutarakan pendapat (terkait kebijakan pemerintah yang semakin hedeh)
Secara umum kisah Dilan ini adalah fase dewasanya, di masa kuliah yang padat, disibukkan dengan laporan, tugas akhir dan percintaannya dengan Ancika - ya ini semacam sambungan dari novel Ancika yang terbit terlebih dahulu. Harusnya ini juga sekaligus menceritakan bagaimana Ancika bertransformasi menjadi Suribu hehe panggilan istri kang Pidi Baiq, pengarang novel ini.
Alurnya dan tokohnya tenang, tak lagi meledak-ledak seperti Dilan 1990 & 1991, walaupun kadang muncul isengnya saat di kampus. Selain itu juga diceritakan
Jadi singkatnya, Dilan menikah dengan Ancika, dan bagian menariknya adalah proses lamaran dan prosesi pernikahan itu sendiri menurutku.
Bagian lain yang menarik adalah kehadiran Milea secara mendadak di Bandung, dan yah begitulah kisah ringan yang menyenangkan untuk ditamatkan dalam beberapa jam saja. Tinggal menunggu kelanjutannya yang berjudul Amsterdam 2000 yang konon sebentar lagi menyusul untuk diterbitkan.
---
*foto sampul buku ngambil dari web Gramedia.


Komentar
Posting Komentar