Langsung ke konten utama

tentang pengalaman belanja online dengan grab express

Sungguh, ini bukan online, cuma sekedar berbagi pengalaman sahaja, soal brand ya apa boleh buat.

Saya sedari entah kapan penasaran ingin mencoba beli online pake metode instant courier gitu, walaupun fasilitas itu kebanyakan disediakan seller di ibukota. Akhirnya saat ada kesempatan ke Jakarta lagi beberapa waktu yang lalu, saya pun memutuskan untuk membeli sesuatu secara online, dan seperti biasa pake aplikasi andalan dan kepercayaan saya: tokopedia.  Sekali lagi, ini bukan iklan hehe

Cari-cari yang bisa dianter pake instant courier, lalu milih pake grab express, otomatis milih itu karena lebih murah seribu dibanding gojek, sesederhana itu.

Nunggu barang diproses, sambil chat sama seller, nunggu dipacking sekitar satu jam, tak lama barang pun dikirim, dan di apps bisa diliat posisi grab via tab live tracking.  Tak pakai lama juga, sesampainya ojek online yang nganterin barang menghubungi via telepon tentang paket yang dianternya.

Ohiya, karena saya nginep di hotel, jadi alamat pengiriman saya seting di hotel tempat saya menginap, dan ternyata tak ada masalah dengan barang pesanan saya, sampai dengan selamat sejahtera.

Sementara barang yang saya beli pun dipacking dengan rapi, dan sekarang sedang saya pakai untuk posting hehe nantilah benda yang saya pake untuk posting ini saya review kapan-kapan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu