Langsung ke konten utama

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah.

dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay.

di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku.

Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebagai sarang preman.  Emang itu pasar sih.  Tapi banyak jualan buah-buahan sepertinya.

Puas keliling daerah itu, muter balik sih ke mulut jalan Manggis, liat peta. Akhirnya memutuskan balik ke penginepan, tapi jalan kaki melewati Jl. Raden Intan yang tak kalah legendarisnya.  Melewati daerah Pasar Bawah, melewati simpang jalan ke Stasiun Tanjung Karang, hingga menyusuri Raden Intan lurus ke selatan, sambil sepanjang jalan menebak-nebak, toko buku manakah yang sering disambangi si kembar itu di sekitar situ, soalnya selain gramedia ada beberapa toko buku lainnya.

Mendekati ujung jalan, ternyata melewati daerah Enggal, spontan saya melihat peta lagi, melihat posisi Lapangan Enggal yang sering dipake buat arena kebut-kebutan motor, sayang sudah sore menjelang magrib, selain posisinya yang kudu nyeberang jalan.  Mungkin lain waktu.  Selain itu juga deket GOR Saburai yang kalo ga salah adalah tempat bertarung Kori di kejuaraan karate yang berakhir tragis, tapi nanti saja lah kesitu lagi.

Sampai di ujung jalan, ketemu perempatan tugu gajah atau tugu adipura, berbelok ke kanan, lurus lalu kembali belok ke kiri. Ohiya saya baru nyadar kalo itulah daerah Palapa.  Dan ya istirahatlah dulu, jalan kaki sekitar 3 kilo, pake jaket karena angin yang deras, cukup bikin keringetan juga.  Tapi saya senang, teramat menyenangkan.

Komentar

  1. Wow! Just wow :)) aku tau nih perasaan puas gini. Meski capek tapi puas karena udah datengin tempat yang bener-bener kita pengen banget datengin. Ada tempat lain yang masih belum kesampaian nggak, om?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih kurang lama sih kelilingnya di kota itu. aku rasanya belum bercerita ttg jalan2 singkat ke Belitong juga ya. nanti lah pas rajin. tempat lain yg belum kesampaian sih banyak. inginnya seluruh propinsi di negeri ini didatangi. tp tidak sebesar keinginan menjelajahi bandar lampung hehe

      Hapus
    2. Berarti salah satu bucket list terbesar baru saja tercapai dong, om? :p

      Hapus
    3. @Mput
      bisa dikatakan begitu, mput hehe

      Hapus
  2. Wooww ini seru bangeet. seneng bacanya, Om :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

tentang HMNS

HMNS adalah eau de perfume racikan anak Menteng, paling ngga saya tau itu dari alamat pengirimnya hehe

selaku manusia yang benar-benar awam tentang wewangian, hal ini adalah benar-benar baru bagi saya.  Mulai tertarik dengan hal ini justru gara-gara beberapa kali kawan saya yang bernama Inda posting tentang koleksi parfumnya.  Walau sekali lagi, pertamakali yang namanya parfum bikin saya penasaran adalah film dengan tokoh utama Jean-Baptiste Grenouille yang jenius itu.

dan kebetulan ada gerombolan yang rajin mengapdet produknya di media sosial, bikin saya penasaran dan memesan starter pack yang berisi tiga varian produk andalannya : alpha, delta dan theta.

saya yang tak begitu paham tentang esensi  top notes, middle notes, dan base notes, akan mencoba memberikan gambaran ketiga wangi yang beberapa jam tadi saya sniff satu-satu, dan imajinasi tentang ketiga makhluk itu pun muncul begitu saja..

alpha.
adalah kalem, misterius, berkesan elegan tapi sekaligus berpotensi sebagai pembunuh be…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..