Langsung ke konten utama

Hidden Heroes : lagi-lagi tentang berbagi hal-hal baik



Lama-lama saya gemas juga, gara-gara setiap melihat sosial media, masih saja berbagi berita buruk.  Saya pikir, plis deh, kadang ngebilangin orang lain provokator, lah trus apa bedanya dengan menyebarkan berita buruk lalu menyebabkan orang lain berpikir lebih buruk bahkan jadi mimpi buruk.  Seakan-akan tiada hal yang baik lagi di negeri ini. 

Barusan saya membaca buku Hidden Heroes, buka lama, cetakan tahun 2012, tapi rasanya masih saya up to date isinya.  Di saat banyak orang (termasuk saya) cuma bisa ngomong begini begitu, tapi nyatanya omong kosong doang.  Orang-orang yang ada dalam buku ini, luar biasa, membawa kebaikan, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekelilingnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini juga sebagian besar, bukanlah orang yang mempunyai pendidikan formal yang tinggi, tapi pola pikir dan apa yang diperbuatnya jauuuuuuh melampaui orang-orang yang kelamaan sekolah (termasuk saya)

Ayolah, daripada berdebat yang tak begitu penting, mending berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.  Jangan cuma bisa mikir ndak jelas lalu bisanya sekedar nulis (seperti saya).

Mungkin, salah satu contoh nyata telah diperbuat oleh kawan saya: mbak Ajeng Sekar, yang tiap bulan bersama gang-nya, berbagi kesenangan dengan orang-orang di sekitar kotanya dengan acara bernama maparintuangeun.  Atau berbagai ajakan untuk berbagi di situs kitabisa.com.  Walaupun saya yakin, banyak juga kawan saya yang melakukan hal baik dan manfaat untuk orang lain secara diam-diam, bagaimanapun sistem dan caranya, itu hal keren di muka bumi ini.

Akhirul kalam, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, untuk direnungkan, untuk ngaca, untuk bikin nyadar bahwa masih banyak orang-orang baik di negeri ini, yang seringkali justru tidak menampilkan dirinya dirinya di publik, tapi menampilkan hasil karya dan manfaat yang telah nyata dihasilkan oleh mereka.

Yuk, mari sama-sama berusaha berbuat yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, paling tidak dimulai dengan menghentikan berbagi berita dan cerita buruk yang malah makin nambah ruwet persoalan.  Ya?


-----
*gambar sampul buku, hasil nyomot dari sana.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..

tentang kang Lantip

siapa sih yg ndak kenal sama blogger asal Njogja yg bernama kang Lantip kui.  Kecuali dirimu ndak kenal blog, saya sedari dulu tau tapi sungkan kenalan dengan beliau, soalnya ketoke terkenal sekali.  Tujuh taun hidup di Jogja malah tak pernah ngobrol sekalipun dengan beliau itu, lha kan nyebahi sekali saya ki, ga sopan sama tuan rumah hihi

lucunya, saya jadi bertekat ingin ketemu dengan beliau itu gara-gara kami satu pemahaman mengenai panganan bulet ijo bernama KLEPON! yang disesatkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang malah keukeuh kalau makhluk itu adalah Onde-onde, wooo ngawur.

Jadi aja, kmaren malam janjian di warung kopi, yang posisinya padahal deket dengan tempat saya tinggal dulu, tapi saya justru ga ngeh: namanya warung kopi Blandongan.  Woh kopinya ampuh tenan, mampu bikin mata saya tadi malam super cerah sampai menjelang sahur haha

Dan, sosok kang Lantip ternyata jauh dari bayangan saya, lha habisnya saya kebayang ikon gajahnya beliau je, duh nuwun s…