Minggu, 13 November 2016

Males Merubah Menu Makanan

Tabiat saya sedari dulu tampaknya begitu.  Selain kadang-kadang suka mencoba-coba menu baru yang belum pernah saya rasakan, pada akhirnya menu makan saya sehari-hari ya itu-itu aja. 

Jadi, kalau saya sudah cocok dengan satu masakan, mungkin sebulan, mungkin lebih menu saya ya yang itu-itu saja.  Terlampau malas untuk merubahnya.

Saya tahan sebulan penuh buka puasa hanya dengan mie atom bulan goreng campur sayur dengan saus kacang yang menurut saya super duper enak buatan honey, istri saya.

Waktu dulu saya kuliah di Surabaya, nyaris setiap malam menu makan saya adalah pecel lele yang warungnya berjajar di sepanjang jalan Karang Menjangan, sedangkan makan siang nyaris selalu di warung kecil di belakang kampus pasca.  Menunya juga cuma nasi dengan lauk telor ceplok plus sambal kacang dan kerupuk.  Kalau tidak sesekali saya mampir warung di deket pasar karmen.  Nyaris dua tahun muter-muter aja disitu.

Sekarang, di sekitar saya berdomisili sekarang.  Pun hanya beberapa masakan yang pas di lidah dan kantong saya  (kombinasi dua hal itu penting, sangat).  Bulan-bulan yang lalu nyaris tiap hari, biasaya makan malam, akan berakhir di warung ayam serundeng bernama Ayam Beb.  Beneran itu porsi nasinya pas dengan perut saya, presisi sekali.  Biasanya saya cuma makan paket lele, itu lele goreng dengan serundeng, ditambah sepotong tahu & tempe dan teh manis, dihias sekeping kerupuk lilit, dunia pun terasa indah.

Akhir-akhir ini, pola makan saya sedikit berubah. Saya sedikit insyaf, sehingga berusaha banyak makan sayur dan buah.  Jadinya warung yang pas untuk memenuhi hasrat perut saya sekarang ini hanyalah warung prasmanan yang ada di Jl. Flamboyan, disitu sayurnya lengkap,  selain ada pilihan nasi dari beras merah yang nikmat.  Kalau malam, karena warung flamboyan buka cuma sampai sore, alternatifnya sekarang adalah capcay deket-deket sini.

Sejauh ini, menu makan saya rasanya sudah fix, selain tambahan air jeruk nipis dan buah pepaya tomat setiap paginya.

Tampaknya untuk sementara waktu ya begitulah bolak balik makan saya, selain rasanya enak, perut saya juga sudah bersahabat akrab dengan segala macam dedaunan dan segala macam buah sayur rupanya, hal yang dulu tak pernah terpikirkan.

4 komentar:

z. imama mengatakan...

Ini harusnya "mengubah" bukan "merubah" :)))

Saya juga kayaknya perut nggak rewel-rewel amat Om soal makanan. Mau-mau aja nerima makanan yang itu-itu melulu dalam jangka waktu cukup lama. Dulu pas masih kuliah, pernah karena bokek, seminggu cuma makan nasi ditabur Masako (alias: nasi mecin). Pernah juga bulan puasa sahurnya cuma makan nasi ditabur Bon Cabe (kadang ditambah telur rebus kalau finansial agak oke). Hahaha.

Rd mengatakan...

Soal bahasa Indonesia, sudahlah tak usah dibahas, yg penting pesannya nyampe dah haha

Dan menu anak kos gayamu itu sangar pisan, seminggu cuma sama micin? Hedeh, tp saya maklum akan daya tahan anak kos yg tiada duanya. Hidup anak kos!

Mput | @kopilovie mengatakan...

Aku suka tampilan blogmu yang baru, om. Lebih cerah dan fontnya unyu. Soal postingan ini, tentang makanan, ya. Hmm. Aku sering bingung mau makan apa tiap malam, karena kalau siang aku setiap hari beli makan di warung makan yang sama dan harganya cukup murah meriah, terus rasanya juga makanan rumah banget, jadi cucok sama perut dan lidahku. Kalau sesekali mau makan enak, aku beli makanan yang belum pernah aku coba atau jarang aku coba di dekat sini. Di pengkolan jalan ada tuh nasi uduk yang lumayan enak walau harganya agak mahal dikit. Hahaha.


By the way, om, mengubah, bukan merubah :(
*kemudian diusir dari blog ini

Rd mengatakan...

Iya mending yg jelas enak & murah daripada repot nyari yg ga jelas kecuali sesekali kalo pas iseng

Dan soal tata bahasa ya sudah laaaah haha

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;