Jumat, 20 Januari 2017

tentang titik kritis biografi

ada dua kata inti dari judul postingan kali ini, dan saya ingin bercerita tentang dua kata tersebut.

yang pertama adalah biografi, salah satu hal yang menjadi minat saya sejak dahulu, jangan tanya persisnya kapan, saya juga lupa.  Faktanya saya sangat suka dengan cerita kehidupan seseorang, yang memang sudah terkenal di media maupun cerita hidup teman-teman saya, bahkan kisah hidup seseorang yang baru pertamakali saya kenal pun.  Silakan bercerita tentang perjalanan hidupmu, saya mungkin akan tahan berjam-jam mendengarkannya, lalu diam-diam mencatat poin-poin pentingnya dalam pikiran saya.

Menurut saya, kisah hidup siapapun selalu menarik untuk diikuti, terkadang juga untuk dipelajari.  Makanya, kalau ke toko buku, saya nyaris tak pernah absen untuk menengok rak buku tentang biografi.  Nyatanya saya pun (pernah) punya koleksi buku tentang perjalanan hidup seseorang, sebut saja Abdul Qadir Jailani, Umar bin Khattab, Steve Jobs, Einstein, Margaret Thatcher, Soeharto, Chico Mendes, Dan Brown, Kurt Cobain.. eh rasanya baru segitu buku yang (pernah) saya punya.

Tak cuma buku yang secara eksplisit bercerita tentang hidup seseorang, buku yang bercerita tentang perjalanan hidup seseorang secara implisit pun sangat menarik perhatian saya, seperti buku perjalanannya Agustinus Wibowo, karya-karya Andrea Hirata, kisah-kisahnya Pidi Baiq, buku tentang pengalaman Butet Manurung bersama orang rimba, atau kisah hidup seorang Dahlan Iskan.

Lompat ke kata kedua, yaitu titik kritis.  Kaitannya dengan biografi seseorang adalah pada beberapa buku yang ditulis saat seseorang yang menjadi objek tulisan sudah berada di puncak keberhasilannya.  Lalu isi biografinya tentu tentang perjuangannya sedari bukan apa-apa untuk kemudian menjadi siapa.

Ada beberapa yang menarik, yang memang alur ceritanya alami, jadi memang sekedar ingin bercerita tentang perjalanan hidupnya yang berdarah-darah untuk mencapai hidup yang lebih baik. Tapi ada pula yang cenderung bercerita tentang bagian hidupnya yang baik-baik saja untuk diceritakan, eh kali ini sih rasanya wajar ya, dan saya tak begitu suka membaca yang semacam ini.

Sampai sekarang, rasanya jarang sekali membaca kisah seseorang saat berada tepat di titik kritis hidupnya, saat benar-benar dalam situasi yang tidak nyaman.  Salah satu contohnya mungkin adalah kisah Chico Mendes, yang isinya adalah hasil wawancara dengannya saat membela para penyadap getah karet yang lahannya dikuasai paksa oleh mafia peternakan di Acre.  Sebelum hidupnya berakhir dengan 60 butir peluru yang menghujani tubuhnya di sore hari akhir tahun 1988.

Lalu?

Dulu saya pernah membayangkan seseorang mewawancarai saya, lalu menjadikannya tulisan tentang (sebagian) hidup saya hehe sok-sokan jadi orang terkenal ceritanya.  Nyatanya saya pernah diwawancarai dua teman untuk kemudian diposting di blog mereka.  Satu di blog Elia Bintang, satunya lagi di blognya Kimi. Itu saja sudah sangat menyenangkan, lebih dari sekedar menyenangkan malah.  Karena dua orang itu adalah sebagian kecil dari contoh orang-orang pintar & keren yang hidup di jaman ini, ditanya-tanya mereka lalu dijadikan sebuah tulisan itu sungguh sebuah kehormatan bagi saya yang cuma proton di alam semesta ini.

Lalu terpikirkan, kenapa saya juga tidak menuliskan cerita hidup saya sendiri, paling tidak sebagai catatan bahwa saya pernah menjalani hidup yang ajaib dan rada absurd, dan hal itu ditulis saat benar-benar berada di fase kritis hidup saya.

Dan rasanya, saat ini cukup tepat untuk menuliskannya.  Pokoknya gitu deh, mungkin nanti pas saya lagi senggang akan berbagi cerita-cerita ajaib saya dan gimana sejarahnya sampai-sampai saya bisa terdampar di kota berhati mantan nyaman ini sampai tak terasa jumlah tahunnya mencapai the lucky number seven. Nah, ujug-ujug saya malah jadi teringat kisah epik Seven Years in Tibet..

*kemudian hening*

Saya sendiri sebenarnya takut menuliskan hal ini sekarang, soalnya seminggu terakhir ini adalah benar-benar batas akhir cerita panjang sekolah saya.  Sekalian ngasi kabar kalo seminggu lagi saya mau defense, tuh kan malah jadi terkesan sombong dan katro banget, lah sesekali saya kasi pengumuman sekalian minta doa di blog saya ngga apa-apa toh hihihi

Ya ya ya semacam itulah pokoknya...  menarik rasanya menceritakan tentang diri sendiri, terutama lebih pada kegagalan yang dialami alih-alih fokus pada kesuksesan yang tak jelas tolok ukurnya, smoga masih ada yang mau membaca tulisan genre aneh ini ahaha

(bersambung)

12 komentar:

Mput mengatakan...

Aku baca kok, om, tulisan genre aneh ini. Hahaha.
kapan-kapan aku mau wawancara dirimu juga, ah.
Jogja lagi, yuk. Ajak aku makan di Ulet Gendut.

Rd mengatakan...

Wah asik ada calon pembacanya, soal ulat gendut berees laah hehe

Ranger Kimi mengatakan...

Alhamdulillah, ya Allah, ada yang bilang aku pintar dan keren. Btw, semangat, Om! Semoga bertahan dibantai ya! Eh, maksudnya semoga lancar sidangnya dan bisa kasih kabar membahagiakan ke kami-kami ini para pembaca blogmu. 😀

Rd mengatakan...

Amiin. Terimakasih ya. Seperti kata pepatah: Doa anda adalah semangat kami.. maturnuwun

non inge mengatakan...

Kalau saya jika tulisan tentang biografi berupa buku lebih suka yang dibuat secara eksplisit, walau ada beberapa buku biografi yang saya suka, sesperti buku ttg Chrisye.

Yenita Anggraini mengatakan...

Saya juga suka mendengar kisah orang lain. Termasuk tulisan dengan genre aneh ini hehehe...

Rd mengatakan...

Nah biografi Chrisye malah belum pernah baca euy

Rd mengatakan...

Syukurlah lagi2 nemu pembaca lg hehe mudah2an hari ini lanjutannya bisa terbit ✌️

Fussythoughts mengatakan...

Perlu ghostwriter ngga om untuk biografinya? 😎😎😎
#eaaa #pnsnyarisampingan

Rd mengatakan...

Halagh ga perlu, selain kisah hidup saya ga begitu menarik, kurang modal jg sih ahahaha

Fayza mengatakan...

Saya suka baca curhataan oraaangg :p somehow, mbaca curhatan orang itu pure banget.. hihi :p #termasuk mbaca curhatan diri sendiri =)))

Rd mengatakan...

Hehe apalagi kalo org cerita dg jujur ya, apalagi bisa sedikit ngebantu

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;