Langsung ke konten utama

tentang titik kritis biografi

ada dua kata inti dari judul postingan kali ini, dan saya ingin bercerita tentang dua kata tersebut.

yang pertama adalah biografi, salah satu hal yang menjadi minat saya sejak dahulu, jangan tanya persisnya kapan, saya juga lupa.  Faktanya saya sangat suka dengan cerita kehidupan seseorang, yang memang sudah terkenal di media maupun cerita hidup teman-teman saya, bahkan kisah hidup seseorang yang baru pertamakali saya kenal pun.  Silakan bercerita tentang perjalanan hidupmu, saya mungkin akan tahan berjam-jam mendengarkannya, lalu diam-diam mencatat poin-poin pentingnya dalam pikiran saya.

Menurut saya, kisah hidup siapapun selalu menarik untuk diikuti, terkadang juga untuk dipelajari.  Makanya, kalau ke toko buku, saya nyaris tak pernah absen untuk menengok rak buku tentang biografi.  Nyatanya saya pun (pernah) punya koleksi buku tentang perjalanan hidup seseorang, sebut saja Abdul Qadir Jailani, Umar bin Khattab, Steve Jobs, Einstein, Margaret Thatcher, Soeharto, Chico Mendes, Dan Brown, Kurt Cobain.. eh rasanya baru segitu buku yang (pernah) saya punya.

Tak cuma buku yang secara eksplisit bercerita tentang hidup seseorang, buku yang bercerita tentang perjalanan hidup seseorang secara implisit pun sangat menarik perhatian saya, seperti buku perjalanannya Agustinus Wibowo, karya-karya Andrea Hirata, kisah-kisahnya Pidi Baiq, buku tentang pengalaman Butet Manurung bersama orang rimba, atau kisah hidup seorang Dahlan Iskan.

Lompat ke kata kedua, yaitu titik kritis.  Kaitannya dengan biografi seseorang adalah pada beberapa buku yang ditulis saat seseorang yang menjadi objek tulisan sudah berada di puncak keberhasilannya.  Lalu isi biografinya tentu tentang perjuangannya sedari bukan apa-apa untuk kemudian menjadi siapa.

Ada beberapa yang menarik, yang memang alur ceritanya alami, jadi memang sekedar ingin bercerita tentang perjalanan hidupnya yang berdarah-darah untuk mencapai hidup yang lebih baik. Tapi ada pula yang cenderung bercerita tentang bagian hidupnya yang baik-baik saja untuk diceritakan, eh kali ini sih rasanya wajar ya, dan saya tak begitu suka membaca yang semacam ini.

Sampai sekarang, rasanya jarang sekali membaca kisah seseorang saat berada tepat di titik kritis hidupnya, saat benar-benar dalam situasi yang tidak nyaman.  Salah satu contohnya mungkin adalah kisah Chico Mendes, yang isinya adalah hasil wawancara dengannya saat membela para penyadap getah karet yang lahannya dikuasai paksa oleh mafia peternakan di Acre.  Sebelum hidupnya berakhir dengan 60 butir peluru yang menghujani tubuhnya di sore hari akhir tahun 1988.

Lalu?

Dulu saya pernah membayangkan seseorang mewawancarai saya, lalu menjadikannya tulisan tentang (sebagian) hidup saya hehe sok-sokan jadi orang terkenal ceritanya.  Nyatanya saya pernah diwawancarai dua teman untuk kemudian diposting di blog mereka.  Satu di blog Elia Bintang, satunya lagi di blognya Kimi. Itu saja sudah sangat menyenangkan, lebih dari sekedar menyenangkan malah.  Karena dua orang itu adalah sebagian kecil dari contoh orang-orang pintar & keren yang hidup di jaman ini, ditanya-tanya mereka lalu dijadikan sebuah tulisan itu sungguh sebuah kehormatan bagi saya yang cuma proton di alam semesta ini.

Lalu terpikirkan, kenapa saya juga tidak menuliskan cerita hidup saya sendiri, paling tidak sebagai catatan bahwa saya pernah menjalani hidup yang ajaib dan rada absurd, dan hal itu ditulis saat benar-benar berada di fase kritis hidup saya.

Dan rasanya, saat ini cukup tepat untuk menuliskannya.  Pokoknya gitu deh, mungkin nanti pas saya lagi senggang akan berbagi cerita-cerita ajaib saya dan gimana sejarahnya sampai-sampai saya bisa terdampar di kota berhati mantan nyaman ini sampai tak terasa jumlah tahunnya mencapai the lucky number seven. Nah, ujug-ujug saya malah jadi teringat kisah epik Seven Years in Tibet..

*kemudian hening*

Saya sendiri sebenarnya takut menuliskan hal ini sekarang, soalnya seminggu terakhir ini adalah benar-benar batas akhir cerita panjang sekolah saya.  Sekalian ngasi kabar kalo seminggu lagi saya mau defense, tuh kan malah jadi terkesan sombong dan katro banget, lah sesekali saya kasi pengumuman sekalian minta doa di blog saya ngga apa-apa toh hihihi

Ya ya ya semacam itulah pokoknya...  menarik rasanya menceritakan tentang diri sendiri, terutama lebih pada kegagalan yang dialami alih-alih fokus pada kesuksesan yang tak jelas tolok ukurnya, smoga masih ada yang mau membaca tulisan genre aneh ini ahaha

(bersambung)

Komentar

  1. Aku baca kok, om, tulisan genre aneh ini. Hahaha.
    kapan-kapan aku mau wawancara dirimu juga, ah.
    Jogja lagi, yuk. Ajak aku makan di Ulet Gendut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah asik ada calon pembacanya, soal ulat gendut berees laah hehe

      Hapus
  2. Alhamdulillah, ya Allah, ada yang bilang aku pintar dan keren. Btw, semangat, Om! Semoga bertahan dibantai ya! Eh, maksudnya semoga lancar sidangnya dan bisa kasih kabar membahagiakan ke kami-kami ini para pembaca blogmu. 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Terimakasih ya. Seperti kata pepatah: Doa anda adalah semangat kami.. maturnuwun

      Hapus
  3. Kalau saya jika tulisan tentang biografi berupa buku lebih suka yang dibuat secara eksplisit, walau ada beberapa buku biografi yang saya suka, sesperti buku ttg Chrisye.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah biografi Chrisye malah belum pernah baca euy

      Hapus
  4. Saya juga suka mendengar kisah orang lain. Termasuk tulisan dengan genre aneh ini hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah lagi2 nemu pembaca lg hehe mudah2an hari ini lanjutannya bisa terbit ✌️

      Hapus
  5. Perlu ghostwriter ngga om untuk biografinya? 😎😎😎
    #eaaa #pnsnyarisampingan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halagh ga perlu, selain kisah hidup saya ga begitu menarik, kurang modal jg sih ahahaha

      Hapus
  6. Saya suka baca curhataan oraaangg :p somehow, mbaca curhatan orang itu pure banget.. hihi :p #termasuk mbaca curhatan diri sendiri =)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe apalagi kalo org cerita dg jujur ya, apalagi bisa sedikit ngebantu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..

tentang kang Lantip

siapa sih yg ndak kenal sama blogger asal Njogja yg bernama kang Lantip kui.  Kecuali dirimu ndak kenal blog, saya sedari dulu tau tapi sungkan kenalan dengan beliau, soalnya ketoke terkenal sekali.  Tujuh taun hidup di Jogja malah tak pernah ngobrol sekalipun dengan beliau itu, lha kan nyebahi sekali saya ki, ga sopan sama tuan rumah hihi

lucunya, saya jadi bertekat ingin ketemu dengan beliau itu gara-gara kami satu pemahaman mengenai panganan bulet ijo bernama KLEPON! yang disesatkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang malah keukeuh kalau makhluk itu adalah Onde-onde, wooo ngawur.

Jadi aja, kmaren malam janjian di warung kopi, yang posisinya padahal deket dengan tempat saya tinggal dulu, tapi saya justru ga ngeh: namanya warung kopi Blandongan.  Woh kopinya ampuh tenan, mampu bikin mata saya tadi malam super cerah sampai menjelang sahur haha

Dan, sosok kang Lantip ternyata jauh dari bayangan saya, lha habisnya saya kebayang ikon gajahnya beliau je, duh nuwun s…