+ -

Pages

Senin, 16 Januari 2017

tentang fiksi yang rada liar

buka-buka arsip lagi, ternyata saya pernah bikin fiksi lain yang agak-agak nganu alur ceritanya,
lagi-lagi saya lupa judulnya, alurnya juga saya lupa, kapan bikinnya apalagi..
...
...
/



@studio51
21.54
Meletakkan gitarnya pelan, dan hati-hati sekali memasukkannya ke case yang penuh stiker bermacam-macam. Biton menyudahi sesinya, multi efek masuk lagi ke backpacknya. Menenteng dua benda itu keluar pintu studio. Di pintu, sesosok gadis manis, menunggunya, tersenyum tak lepas, lalu keluar melewati lobi, ke parkiran, tangan gadisnya tak lepas di pinggangnya, sementara tangannya, iseng mengacak-acak rambut coklat gadisnya.

Melangkah saja, menuju DX coklat-nya. Menstarter dan langsung melaju membelah malam, gadisnya menyandarkan kepala di bahu kirinya. Malam baru beranjak larut.
/.
@warnet
11.13
Shiftnya udah selesai, tak sabar pulang, langsung berberes-bereslah dia. Membenahi hard disk eksternalnya, flashdisk, lalu menyerahkan segala sesuatunya pada penggantinya. Melambaikan tangan tanda mau pulang.
Gadis itu tersenyum-senyum sendiri, memakai sweaternya, melangkah menuju pintu keluar, tapi tertahan di lobi yang tidak seberapa luas.
“Sudah lama, nunggu ?” dan yang ditanya cuma menggeleng saja. Berdiri dan menjajari langkah gadisnya, sebelum membuka pintu keluar, menjemput helmnya di rak sebelah kanan pintu.
Terasa sekali, panas yang langsung menampar wajah, berbanding terbalik dengan aliran udara dingin yang terasa membelai sekujur tubuh selagi di dalam tempat kerjanya.
Tetap tanpa bicara, menaiki tiger sembilan enamnya, menyodorkan helm pada penumpang di belakangnya. Meluncur laju menyusuri siang, lepas menuju arah utara.
/.
@sudut_pantai
17.04
Masih saja menangis sesenggukan, sejak dua belas menit yang lalu, sejak mereka sampai di ujung pesisir itu. Suaranya sedikit tersamarkan oleh suara ombak yang menggila. Tangis gadis itu tak jua jeda.
Sekali lagi, lelaki di sebelahnya, mengulangi sarannya.
“Gugurkan saja, ya..”
Mata sembab itu menoleh sejenak, lalu detik kemudian. Tangisnya pecah, gemuruh ombak pun tak kuasa lagi menutupi nya.
Langit di ufuk pun, memerah marah.
Lelakinya, membakar sebatang lagi sigaretnya. Menghembuskan asap putihnya, pelan.

/
@hotel_kamar263
00.12
Masih saja tersisa aroma dua tubuh yang berbeda, tak kentara memang. Semuanya baru saja usai beberapa saat yang lalu.
Lelaki paruh baya itu, terlihat seperti lelah, tapi wajahnya masih memerah. Bersandar di pinggiran ranjang, pakaian berserakan disana-sini.
Di sampingnya, gadis muda itu, memejamkan matanya, tapi bola matanya terlihat bergerak-gerak di balik kelopaknya. Bulir-bulir keringat, masih tampak di dahi dan punggung putihnya. Di sekujur tubuhnya, mungkin. Rambutnya masih berantakan, mereka seperti baru saja masuk dalam pusaran angin maha dahsyat.
Tujuh menit kemudian, si gadis menghela nafas, menyelubungi tubuh indahnya dengan selimut, beranjak menuju kamar mandi di sudut kamar. Lelaki itu pun mengikutinya. Pintu pun, perlahan ditutup.
Hawa pun, kembali terasa menghangat, panas menyengat.

/
@paviliun_utara

Pemuda itu, gugup, mendekati gadisnya. Nafasnya memburu. Yang didekati tak sadar, terus saja membolak balik koran.
Baru saat hembusan nafas hangat itu, menyapu wajahnya, terperanjat. Telapak tangan pemuda itu, membelai wajahnya, sang gadis menutup matanya, menunggu. Nafasnya juga mulai memburu, detak jantungnya sudah tak beraturan, tangannya terkulai, lembaran koran berhamburan.
Mulutnya setengah terbuka, siap akan kejadian berikutnya, masih saja menunggu.

Sebentar saja, badai masuk ke dalam kamar itu,memporak porandakan segala rasa dan meruntuhkan logika waktu, semuanya saling berpacu, masuk ke pusaran, meliuk-liuk, deras.
Lalu kemudian, jemari telunjuk dan tengah pemuda di hadapannya, membelai pelan bibirnya. Perlahan kedua kelopak mata yang tadi mengatup, membuka pelan.
Wajah dihadapannya, tersenyum, lalu mencium lembut keningnya.
“Maaf ya sayang, nyaris saja. Tapi kita belum waktunya untuk itu..”
Dia tersenyum saja, salah tingkah, debur dalam dadanya, masih saja tak henti, lalu pura-pura lagi menjemput koran yang tadi terlantar, membetulkan duduknya, merapikan pakaiannya..
Tapi masih saja, terasa serba salah.
 /
@bandara
15.43
Orang lalu lalang tiada henti, ada yang menjemput, ada yang dijemput. Lelaki itu,tumben saja rapi, termasuk dalam kategori yang pertama. Menjemput ibu gadisnya, mau diperkenalkan padanya, katanya tadi. Mereka tidak bersamaan kesitu tadi, Biton harus mampir ke studio sebentar, menyelesaikan track demo terakhirnya.
Matanya mencari-cari, sementara itu, seseorang memegang pundaknya.
“Menunggu siapa, Ton ?” Suara yang dikenalnya itu, membuat badannya membalik.
“eh, menjemput siapa, pak ?” Mencium tangan lelaki dihadapannya dengan takzim.
“Menjemput relasi bapak. Kamu menjemput siapa ?” Tanya lelaki itu lagi.
“Menjemp.. nah itu dia, pak. Sekalian deh aku kenalin, calon mantu dan besan bapak sekaligus”Katanya terkekeh.“Sebentar ya, pak..”
Lalu langkahnya cepat menghampiri dua wanita dua generasi itu, gadis yang cantik dan mekar, serta wanita setengah baya di sebelahnya, yang masih memperlihatkan gurat kecantikan masa muda di wajahnyanya.
Mengambil alih travel bag dari wanita tadi, menyeretnya ke arah bapaknya, yang lagi melihat-lihat ke arah lain.
“Pak, ini perkenalkan Remia, gadisku yang sering kuceritakan itu. Dan ini ibunya..” Biton menggamit lengan bapaknya.
Gadis yang diperkenalkannya itu, membeku. Wajahnya pucat.
Sementara ibunya, tak kalah terperanjat, memucat pula. Ada luka dan sedikit dendam sekaligus rindu yang tertahan di wajahnya.
Tapi, tak urung, tangannya terulur.
“Kamu, apakabarnya ?” Suaranya jelas bergetar. Masa lalu seakan menggempurnya saat itu, menyelimutinya dengan kilas balik, akan segala kisah cinta terlarang mereka di masa muda, saat mereka terpaksa berpisah ke dua kota, dua pulau yang berbeda. Tanpa pernah ada komunikasi lagi, dan tak ada yang berusaha menghubungi satu sama lain.
Sementar lelaki dihadapannya, berlipat terkejutnya, dan tak bisa tertutupi, tak bisa.
Tatapannya nanar, sementara gadis muda tertunduk dalam, menahan napas, tak bisa berkata apa-apa.
Biton cuma bisa terkesima, sungguh tak mengerti, tak tahu apa ada sebenarnya di balik pertemuan mereka di satu titik, sore itu. Yang iya tau, sejenak kemudian, gadisnya lunglai lalu tak sadarkan diri.

/
@rumah_gubuk
08.17
Seorang ibu tua, menghampiri gadis muda yang terbaring di dipan bambu di kamar yang sangat sederhana itu, dindingnya juga dari bambu, berlantai tanah.
Tangannya memegang cangkir kaleng berisi ramuan yang berbau sungguh tak bersahabat dengan hidung, mendekatkannya ke mulut gadis yang terlihat mulai pucat. Ragu-ragu dia meminumnya, dan baru seteguk, perutnya sudah berontak, melilit-lilit.
“Pelan-pelan, nduk.. Minum sampai habis”
Sambil menutup hidungnya, dan menahan rasa mual hebat, dihabiskannya dengan berusaha cepat-cepat, rasa getir bercampur rasa yang tak pernah dikecap lidahnya itu, membuatnya pusing, matanya nanar.
“Sekarang tahan, ya. Cuma sebentar..” Kemudian, kedua tangan ibu tua itu, mengarah ke perutnya, mengurutnya pelan. Sangat pelan.
Teriakannya tertahan oleh kain yang digigitnya, matanya melotot, membiaskan rasa sakit yang luar biasa. Cepat saja, dunia terasa berputar, meredup, lalu gelap.
Sementar di luar, di atas motor yang terparkir. Seorang lelaki muda gelisah, sangat gelisah.

/
@kos_lantai2
19.19
“Kamu jangan main-main, ! “ Suaranya meninggi dan setengah membentak.
“Lihat sendiri, nih “ Setengah kesal, tanpa persetujuan, video player di telepon genggam itu di play.

Dan sosok yang sangat dikenal dan dipujanya, menjadi pemain utama di rekaman itu. Wajahnya tampak menunggu, mengundang.
Baru tau menit, telepon itu sudah tak berbentuk, direbut paksa, lalu dilempar sekuat tenaga ke dinding. Jatuh kelantai, di injak-injak pula. Murka.
Kawannya hanya bisa diam, mengikuti bayang si murka menuruni anak tangga dengan cepat.

/
@parkiran_showroom
09.15
Bergegas mendekati kantor kecil, di sayap kanan bangunan. DX nya di parkir sembarangan saja.  Karyawan membiarkannya saja, sudah biasa begitu. Kantor baru saja buka satu jam, tapi antrian pelanggan belum banyak.
Kali ini, langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Membuka pintu, melihat sosok yang dicarinya, sedang menata berkas di atas meja. Mengangkat wajahnya, dan tersenyum melihat siapa yang datang.
“Pagi sekali, ada apa...” Kalimatnya terhenti. Terputus.
Benda yang sedari tadi tersembunyi di punggung sang tamu, tertuju tepat ke keningnya, memuntahkan isinya.
Pagi yang damai itu, pecah.

/
@lereng_gunung
dua tahun kemudian

Matahari baru saja mulai meninggi, tapi persawahan itu sudah begitu ramai. Kabut masih malas meninggalkan sebagian sisi lereng. Sekilas, petak-petak sawah itu seperti membentuk formasi kue waffel.
Seorang lelaki, mengelap keringat di dahinya, lalu kembali mengendalikan kerbau di hadapannya, petak terakhir yang digarapnya, sebelum menancapkan anakan padi. Tak terlihat sedikit pun lelah, malah terpancar bahagia di mukanya.
Tak lama, seorang perempuan, melambaikan tangan padanya, membawa sesuatu, ah makan rupanya.
“Bang, ayo makan dulu.. !” Ada senyum terindah disitu.
Yang dipanggil tersenyum, menghentikan laju pekerjaannya. Menghampiri perempuannya, mencium pipinya.
“Kotor, ih..” Perempuannya terkikik tersipu. Sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.

Sekali lagi mencium lembut kening perempuannya.

Pagi sudah tak ada lagi,
matahari pun benar-benar meninggi.
Tapi, damai tak henti menghangati bumi.
..
..
..
.
jadi begitulah,  entah kapan pikiran saya bisa dibiarkan bebas biar bisa bikin kayak gitu lagi..
.

update: ternyata fiksi ini pernah tayang di tempat lain, judulnya tentang Waktu ya biarlah, anggap aja tayang ulang haghaghag...
5 blog auk: tentang fiksi yang rada liar buka-buka arsip lagi, ternyata saya pernah bikin fiksi lain yang agak-agak nganu alur ceritanya, lagi-lagi saya lupa judulnya, alurnya juga...

2 komentar:

  1. entah kenapa aku merasakan 'nyawa' ngerumpi dot com dalam tulisan ini. Mungkin aku lagi kangen aja, hahaha. Aku kangen bisa nulis fiksi tanpa memikirkan apakah penulisannya baik, diksinya bagus, atau alurnya nggak bolong.

    Aku kangen menulis seperti saat aku tidak tahu apa-apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya je, ayolah nulis lagi, ga usah pake mikir lama sesekali :D

      Hapus

< >