Sabtu, 28 Januari 2017

tentang H-2 Moana, Angkringan dan Rindu

my island is dying
- moana

di postingan saya sebelumnya, saya sudah bilang kalo saya seringkali mikir sendiri, atau istilah kekiniannya: baper, jika nonton film yang berlatar hutan dan semacamnya, eh ternyata saya menemukan hal itu lagi di film Moana.

Mari saya ceritakan hal-hal random setelah nonton film apik itu:

Saya membayangkannya terlalu jauh, kepikiran bumi yang sekarat dan marah karena kenyamanannya terusik, lalu marah, lalu bikin semuanya suram dan sekarat, sampai muncul pahlawan yang ditunggu: Moana dan Maui.

Kenapa harus dua orang? karena manusia tak bisa berjalan dan hidup sendiri, harus punya seseorang yang bisa mengingatkan dan membuat semangat untuk mencapai tujuan.  Saat seseorang yang diharapkan bisa memberi semangat itu pergi, dengan alasannya sendiri, akhirnya cuma bisa bengong di kapal yang dia di tempat.  Itu yang dirasa Moana saat ditinggalkan Maui yang merasa tak bisa membantu lagi saat senjatanya rusak dan tidak sakti lagi.

Untungnya ada neneknya yang kembali mengingatkan akan tujuannya semula, yang percaya akan tujuan kemampuannya.  Ayah Moana yang melarangnya pergi jauh juga ga salah juga sih, alasannya karena ingin dirinya aman, selain trauma masa lalunya juga.

Te Kā is actually Te Fiti without her heart, kata wikipedia. Jadi seseorang yang sebaik hati apapun, kalau sudah merasa hatinya hilang, bakal bisa ngamuk-ngamuk ga karuan.  Keren sekali kan kesimpulan saya?  Proses ngebalikin haii Te Fiti yang hilang itu yang menarik, harus mengarungi lautan, belajar mengendalikan perahu, belajar membaca arah lewat bintang.  Ah bagian membaca bintang ini malah mengingatkan saya pada Ikal yang belajar tentang navigasi dengan Weh di buku Edensor-nya Andrea Hirata.

Bagian yang tak saya mengerti tapi bikin saya terhibur adalah kehadiran ayam jantan yang aduh itu anehnya bukan kepalang, hobinya makan batu, dan mematuk-matuk tak tentu arah.  Tapi toh nyatanya ayam ajaib itu pula yang menyelamatkan hati Te Fiti saat nyaris jatuh ke laut.

Film ini lagi-lagi mengajarkan untuk mengenali diri sendiri, itu kalau tidak salah saat neneknya Moana menunjukan lagi tujuannya semula, mengingatkan kembali jatidirinya, pokoknya begitu deh.

Oiya, kalo tidak salah saat nonton film ini, di menit 50-an gitu, tetangga saya ngajak sepedaan ke angkringan yang non mainstream, menurut saya.  Karena waktu bukanya justru saat pagi sampai siang, lha biasanya kan angkringan kui bukanya sore sampai malam.  Tadi cuma makan nasi kucing, plus semacam potongan bakwan, lalu tahu bacem, sate telor puyuh dan kue singkong yang manis, tambah minum coklat hangat, lho kok banyak.  Itu juga makan berdua teman dengan menu yang kurang lebih sama, berdua cuma habis Rp. 15.000,-.

Soal makanan ini, saya tiba teringat akan kejadian tadi malam, yang tiba-tiba lapar karena memang belum makan.  Saya malah kebayang makanan yang biasa saya makan kalau singgah di kota hujan itu.  Saya rindu makanan itu, rindu suasana makan yang nyaman di lantai dua rumah sepupu. Entah kapan saya kesitu lagi, menginap semalam dua malam, menikmati hujan yang sering datang lalu menyempatkan waktu berkeliling kebun raya, tempat yang tak pernah bosan-bosan saya kelilingi walau bikin pegel saking luasnya.

Kemudian, saat ini, tiba-tiba playlist di SMPlayer saya memutarkan lagu Anyer 10 Maret-nya Slank.  Lagu yang dulu sering saya puter saat rindu di kamar kos yang sempit seharga dua puluh ribu tanpa plafon tanpa jendela, belasan tahun yang lalu, saat jauh dari orang yang saya sayangi, tanpa henti, tanpa lelah.

Begitu saja, sementara di luar sekarang hari menjelang mendung lagi, dan saya masih belum bikin powerpoint untuk hari senin #lho

Sudahlah, kacau sekali postingan ini.

8 komentar:

Fussythoughts mengatakan...

Kacau om.... Segala weh masuk disini... Tapi bagian moana nya sukses bikin saya kepo, besok minta mas miswa ah donlotin *coret* cariin film moana... Proses pengembalian te fiti nya keren, kiasan semua itu... 👍👍👍👍

Rd mengatakan...

Itu soalnya pas saya baca ulang buku Andrea soalnya, & terimakasih atas jempolnya *serasa di fesbuk 😶

Yenita Anggraini mengatakan...

Saya baru sekali ke kebun raya dan iya, bikin pegel kaki. Walaupun udah pegel, kayaknya masih banyak aja tempat yg belum terjelajahi.


Itu menu berdua 15.000? Kok enak :)))

Rd mengatakan...

Begitulah Jogja mb, masih banyak menu yg harganya di bawah 10 rb, wong soto di kantin kampus saya aja harganya msh 5rb kok 😂

Fussythoughts mengatakan...

rasa-rasanya kayak bukan di indonesia deh om, makannya begitu... coba kita2 disini ya mbak anggi... 50ribu itu kayak sekejap mata... hixhixhix.

Rd mengatakan...

Edun pisan, Lampung lebih kejam daripada ibukota tampaknya -_-"

Yenita Anggraini mengatakan...

Betul-betul. Apalagi saya yang kerjanya di Kabupaten. Ketemu alfa dikit mampir beli ini itu buat di jalan. Ketemu tukang combro yang terkenal enak itu, mampir lagi, beli sarapan, beli makan siang. Hahaha...

Rd mengatakan...

@mba anggi
ngeri sekali, padahal deket ibukota lho ya *entahlah apa hubungannya* XD

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;