Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Jalan

Baru satu kilometer, tapi sudah tigapuluh menit berlalu.  Nafasnya seakan-akan berkejar-kejaran dengan detak jantungnya.  Tikungan kedua itu pun akhirnya harus disinggahi, mengatur nafas lagi, berusaha memacu semangat lagi.
Tapi belum ada jalan yang datar,  sehabis tikungan masih ada berlanjut tanjakan berikutnya, seakan tiada akhir saja. 'Lima menit cukup!'  serunya pada diri sendiri.  Si merah kembali dituntun, dan berusaha untuk dihela lagi.  Tapi tanjakan masih terlalu curam untuk bisa dirayapi dengan mtb 7 speednya.  Dua puluh lima meter ke depan, baru sadelnya bisa dinaiki lagi, dan mengayuh pelan, pelan sekali.
'Balik saja, yuk?  Masih jauh sepertinya'  Tiba-tiba ada bisikan yang seakan luruh dari sela-sela daun tectona yang kembali hidup dari masa hibernasinya, november baru saja sering hujan memang.
Tapi tentu saja tak dipedulikannya, jalanan diciptakan untuk ditelusuri sampai ujung, bukan berhenti di tengah lalu kembali pulang ke titik semua.
[bersambung, mu…

Lari !

mungkin itu yang pas untuk dilakukan sekarang,
lempar jauh-jauh sepeda merah
lalu angkat kaki, dan menghilang

entah kemana, sampai waktu mengijinkan lagi muncul ke permukaan bumi

Koeis Djoem'at : Spesies

berhubung mendadak saya tak bisa login ke blog auk, maka sementara koeis djoem'at hari ini pindah kesini, semoga para penggemar mau memakluminya #halagh

jadi untuk pemenang koeis djoem'at kemarin, saya putuskan saja yang mendapatkan buku keren bin unik itu adalah yang pertama kali menjawab benar, itulah dia mbak christin.  bukunya silakan ambil sendiri ke kantor panitia :D  untuk yang lain jangan kecewa karena koeis hari ini soalnya lebih mudah.

Jadi tadi, pas ngejemput Q pulang sekolah, dia memamerkan hasil karyanya di sekolah, berupa karya potong tempel dari kertas dan gelas akua bekas.  Katanya itu perwujudan dari salah satu jenis binatang di atas muka bumi ini.


Pertanyaannya, spesies hewan apakah sebenarnya hasil prakarya Q seperti terlihat di bawah ini ?


Ditunggu jawabannya di kolom komentar, hadiahnya kali ini adalah buku (lagi) yang judulnya masih dipikirkan, pokoknya keren lah pokoknya.

Demikian,
Selamat djoem'atan.
Assalamualaikum
\m/

di bawah pohon

Haruskah aku katakan pada kalian, bahwa pernah pada suatu siang di bawah pohon yang lupa nama speciesnya, aku memainkan don't cry-nya Guns n' Roses, lagu yang tidak tepat memang untuk siang hari, karena salah satu liriknya pada bagian reff adalah .. and don't you cry tonight...

Konon katanya tepat saat lagunya Axl aku nyanyikan sembarangan, karena tak pernah hapal liriknya, yang penting bagian reffnya yang sebaris itu bisa dinyanyikan kenceng-kenceng. Yang aku tak tahu adalah, adala seorang gadis diam-diam memperhatikan aksi solonya itu.  Tapi aku akhirnya tahu juga, karena dikasih tahu.

Kemarin siang yang sudah jatuh menuju sore, aku menunggu guruku, di bawah Terminalia catappa, yang tumbuh sendirian di tengah halaman sekolah.  Tahukah kalian, bahwa walaupun siang sampai sore pun, panas rasanya, tapi tak terasa karena oksigen yang di keluarkan stomata membuat iklim lokal, sejuk saja kepalaku, sehingga aku tenang saja telentang rebahan di bawahnya.

Ah sekarang malah teri…

Bohlam Minyak Tanah

Mendengar kata lampu bohlam, ingatan saya langsung putar balik ke jaman saya masih sekolah dasar, itu sudah puluhan tahun yang lalu, kalau kamu mau tahu. Saat dimana kampungku belum dimasuki listrik, tempat rumah kakekku pun demikian, padahal cuma sepuluh kilometer jaraknya dari ibukota propinsi, keren ya ?

Tapi kai, sebutan untuk kakekku, tak ada aliran listrik bukan berarti tak ada lampu listrik di rumah, walau isinya bukanlah filamen listrik, tapi dimodifikasi beliau menjadi lampu minyak tanah yang secara de jure adalah bohlam.

Caranya nyaris sama dengan postingan prima tentang vas bunga dari bohlam. Langkah-langkahnya kurang lebih sama, cuma isinya bukan air, tapi minyak tanah, lalu dikasih sumbu dari kain bekas, sementara tutup dari bagian atas bohlam yang terbuka adalah potongan tube odol bekas.

Dulu, saya terkagum-kagum dengan kreativitas kai saya itu, senang melihat rumah yang walaupun tanpa listrik tapi tetap ada nyala dari bohlam yang secara de facto adalah lampu minyak tana…

Aku Disini Untukmu

Semenjak dari pelabuhan Perak, pedalaman Randublatung sampai terdampar di asrama mahasiswa di sudut AM Sangaji Jogja dua minggu kemudian, lirik itulah yang terngiang-ngiang, berulang-ulang, meneriakan undangan ketidaksabaran, untuk segera kembali berusaha memendekkan jarak.

Dua tahun bukanlah waktu yang sedikit, dihitung dengan cara apapun tetap sama : lama. 

Dan sekarang adalah kesempatan datang dengan sendirinya, lelaki itu sudah bersiap-siap dan bergegas entah sejak kapan.  Tersenyum membayangkan rel besi yang akan diarunginya, hal dan sesuatu yang benar-benar asing baginya.

Tapi hey, dua belas jam tidak terasa.  Hingga tiba-tiba saja dirinya ada di suatu pagi di sudut Batu Tapak.  Dan gadisnya mengucapkan salam, di depan pintu.

--
*menjelang senja di Lempuyangan, maret 1997

Satu Hati

Kamar kedua dari ujung, di belakangnya kamar mandi.  Tiga kali tiga meter, bercat putih kusam, didindingnya, tepat di meja depan belajar, ada foto kecil, sesosok gadis berkerudung merah jambu, tersenyum disitu.  Didinding satunya, ada juga foto seseorang yang tertunduk, berkaos coklat, masih orag yang sama.

Dan di depan pintu, gadis yang sama, tersenyum-senyum, berbagi cerita dengan lelakinya, setelah setahun tidak bertemu.  Kota hujan dan kota lelakinya tak dekat untuk ditempuh berjalan kaki, hanya ada lembaran-lembaran surat,, dan interlokal tengah malam sebagai penyambung rasa, rindu katanya, namun tak pernah terucapkan.

Beberapa menit kemudian mereka beranjak, rencananya ke riam kanan, mungkin saat itu kau tidak tahu.

--
*suatu pagi, di sudut malvinas, 1995

Mari menulis lagi

Saya masih saja iri, sama yang rajin menulis, iya iri tak boleh karena hanya boleh pada dua hal, :D baiklah ganti deh, ingin seperti mereka yang rajin menulis.  Apa saja.  Apalagi yang mengandung hikmah yang bisa diambil, mengandung pelajaran yang bisa diikuti kebaikannya.

Jadi mari isi blog ini dengan apapun, mulai sekarang, lama nggak posting jadi aneh sendiri gini XD

Blog auk hidup lagi

Jadi barusan dikasih tau kawan saya, yang mana beliau itu sangat high tech, berbanding terbalik dengan saya yang gaptek *hloh malah curcol*bahwa blog auk bisa dipulihkan seperti sedia kala.  Maka kembali lah nantinya akan posting disana seperti tahun kemarin.

Nah, lalu blog yg ini di apakan ?
ya tetaplah akan saya isi juga, tapi belum tahu mau posting apa disini nantinya.
juga akan posting apa diblog satunya nantinya.

Bingung kan?
Sama , saya juga :|

#KoeisDjoemat : Nasi Bungkus

Sebelumnya saya minta maaf berhubung blog auk.web.id masih error, jadilah saya lupa siapa saja yang menjawab soal koeis djoemat kemarin tentang begadang itu.  asli lupa.  Makanys diputuskan untuk mengundi saja pemenangnya yang akan diambil dari yang komen dan ngasih jawaban kuis hari ini.  Bingung, kan? Sama ! :|

Singkat saja, kemarin pas mudik saya kembali merasakan nikmatnya nasi bungkus langganan saya sejak kuliah waktu disana.  Bungkusnya dari daun dan 'dikunci' pake sematan bilah lidi.   Jadi bungkusnya tidak ditutup dengan staples atau karet gelang.

Uniknya, ada kode tertentu untuk mengetahui lauk yang ada dalam bungkus nasi kuning tersebut.  yaitu berupa variasi tusuk lidi, ada yang cuma satu lidi yang disematkan, ada sematan dua lidi berjajar seperti tanda sama dengan, lalu ada yang sematannya disilang atau seperti huruf X, dan yang paling boros ada yang semata lidinya tiga berjejer.

Itu menunjukkan lauknya yang berupa telor masak habang, ikan gabus, hati rempela dan a…

Auk di depan

Apadaya, blog auk.web.id sementara lagi down, yang mana jangan tanya saya kenapa, karena bukan ahlinya.  Jadilah membuat blog baru lagi, harus dibuat, terlebih karena besok adalah jum'at yang mana saya harus bikin kuis.  Harus memilih yang menang kuis jum'at lalu walau lupa siapa saja yang sudah menjawabnya.

Jadi selamat datang saja, maaf ini baru beres-beres, milih-milih template, seting sana sini, sampai mempelajari kembali blogspot yang menjadi engine atau apalah blog ini, terbiasa dengan wordpress menjadikan adaptasi ini mengasikkan.

Segini dulu mungkin.  Ya?