Rabu, 28 September 2016

Milea : resensi dari aing



Iya ini tentang seri ketiga dari trilogi Dilan-Milea.  Biar saja saya bilang trilogi, karena memang adanya tiga buku, tampaknya sudah cukup cerita cinta dua anak SMA di tahun 1990-1991-an itu dituntaskan di seri ketiga ini.  Walau ada membuka kemungkinan dibikin spin off-nya, Macam begitulah.

Namanya juga dari mata Dilan, yang di kedua buku sebelumnya masih sedikit samar dan misterius, bagaimana sebenarnya peristiwa asli dari alam pikirannya.

Ternyata iya, di luar dugaan saya,  kalau itu benar adanya, maka Dilan itu seorang bijak yang bertopeng preman, kurang preman apalagi coba kalau mau berantem aja sampai nekat bawa beceng FN segala.

Namun, seperti di tulisan saya sebelumnya.  Selain menceritakan tentang hubungan Dilan-Milea-Kawan-kawan-Musuh-Sekolah-Bandung, yang menjadi perhatian saya sekali lagi adalah, betapa tetaplah seorang Dilan menghormati sepenuhnya ayah dan bundanya.

Pola pikir dan cara mendidik bunda dan ayahnya menarik, ah keren sih menurut saya.  Menjadikan anak-anaknya bangga dengan hidupnya sendiri, percaya akan kekuatan dirinya sendiri, dan selalu yakin akan langkah yang akan dijalaninya.

Secara tak sengaja cara bertutur Dilan di buku ini, malah menjadikannya semacam tuntunan mengasuh anak yang benar.  Ayah edy mah liwat, sungguh saya seriusan ini euy.

Yang jelas, intinya ini adalah penjelasan panjang lebar, tentang apa-apa yang terlihat dan dirasakan Milea di dua buku sebelumnya.  Sisi lain yang sebelumnya tidak diketahui, yang akhirnya saya ketahui setelah membacanya.

Sisanya, tentu saja, gaya percintaan anak muda di tahun 1990-an itu menyenangkan, kejutan-kejutan spontan, surat-suratan, tanpa di riweuhkan oleh teknologi macem-macem, ya selain saya juga salah satu pelaku di tahun begituan, yah ngelantur..

Baca saja bukunya.  Sungguh tak rugi,  sungguh beneran keren.  Jujur saya mah bilangnya ini.  Terimakasih pada ayah surayah yang bikin kisah bagus ini walaupun katanya ini nyata, bukan fiksi.  Selalu aku tunggu karya-karyamu berikutnya.

Sedang isu yang katanya mau dijadikan pilem, ya kenapa tidak? Saya juga penasaran kalau difilmkan, apakah bakal mengalahkan rekor Warkop Jangkrik Bos nantinya? Halagh malah ngelantur lagi.  Pokoknya setuju.


---

cover buku nyomot di blognya ayah pidi baiq.

7 komentar:

galihsatria mengatakan...

Wah keren mas, saya kelewatan di bagian didikan ayah ibunya Dilan. Saya kepikiran bahwa novel ini berbahaya karena bisa membangkitkan kenangan dengan mantan wkwkwk...

Rd mengatakan...

Hayah, bagian kenangan mantan itu bagian serunya ada di jilid 1 dan 2 mas hahaha

shofie syamwiel mengatakan...

yang tiga ini belum punya om

Rd mengatakan...

beli doms ntar di pesta buku kui XD

Ranger Kimi mengatakan...

Aaaaa... Jadi penasaran sama buku ketiga. Belum baca. Belum beli. Nunggu ebooknya aja di Play Store biar lebih murah. Hahahaha...

Rizka mengatakan...

Semangat nungguin pelemnya.. Tp udah dijadiin sinetron anak jalanan wekekekkk :D

Rizka mengatakan...

Semangat nungguin pelemnya.. Tp udah dijadiin sinetron anak jalanan wekekekkk :D

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;