Langsung ke konten utama

Kelebatan Ingatan dan Waktu Yang Berjalan

Tadi sore melihat anak kecil, kecil sekali, seorang balita yang berdiri di depan, antara setang dan duduk ibunya di motor metik.  Entah kenapa ingatanku kembali ke masa dulu, mungkin saat SD, berdiri dalam posisi demikian, tapi di atas skuter, Vespa punya paman, saat beliau masih pedekate dengan acil (bibi) di rumah nini (nenek).  Ketiga orang yang saya sebut barusan sudah almarhum semua.

Rumah nini itu sewaktu di selatan jalan, di samping huller alias penggilingan padi, tempat paman satunya bekerja di sana sejak lama, pamanku yang tuna rungu tapi baik hati, suka membagi uang, terutama saat beliau menang undian buntut, sebutan untuk kupon putih jaman dulu.

Di depan rumah nini ada beberapa pohon jeruk bali yang subur dan berbuah sepanjang tahun, jeruk bali yang bulirnya berwarna putih kekuningan, bukan yang merah.  Rumah nini tentu saja panggung dan terbuat dari kayu seluruhnya.  Di belakang rumah nini ada rumah paman utat, pemain gendang orkes dangdut yang aku kagumi.

Di samping barat rumah nini adalah rumah kawanku sewaktu SD, satu-satunya yang memilihku saat pemilihan ketua kelas, rumah yang anehnya terbuat dari semen dan batu, hal yang unik dan langka di kampung saat itu.

Paman dan acil adalah guru sekolah dasar di Tatah Amuntai waktu itu, yang akhirnya menikah.  Acil yang suka menjahit pakaian, dulu aku masih ingat beliau suka menyimpan potongan-potongan pola oakaian yang diambil dari majalah.

Di belakang huller gabah, ada gunungan sekam (kami biasa menyebutnya dadak) yang selalu berasap karena dibakar dan apinya tak pernah padam, benar-benar harfiah dari api dalam sekam.  Hasil bakaran sekam itu yang biasa dijadikan abu gosok.  Tapi bagi kami anak-anak waktu itu, abu bakaran itu justru dibentuk jadi bola-bola untuk dijadikan senjata lemparan untuk perang-perangan.

Hal yang kemudian hari membuatku sangat menyesal, saat tanpa sebab malah melemparkan bola abu sekam ke muka adikku sendiri, yang tentu saja kaget dan menangis lalu pulang.  Aku melihat raut kecewa di wajahnya.  Aku juga gagal membujuknya, walau sangat menyesal.

Aku jahat sekali sama adik-adikku.  Kali lainnya aku pernah menembak adikku satunya pakai tembakan dari bambu yang berpeluru kertas yang dibasahi pakai air, dia juga menangis karena kaget dan tak menyangka kelakuan randomku. Walau akhirnya tembakan yang lebih mirip sumpit itu dipatahkan oleh abah yang ikutan marah dengan kelakuanku.

Adikku satunya lagi pernah aku marahi saat tak sabat menunggu berkas saat dia ikut seleksi CPNS di kabupaten tempat aku bekerja, kenapa aku emosian dan pemarah sekali?  Adikku satunya, malah pernah marah denganku karena aku marah dengan kelakuannya, padahal anaknya sedang sakit.

Aku jahat sekali ternyata.

Satu kenangan, menyebar ke kenangan-kenangan lain.  Aku kecewa dengan diriku sendiri saat ini, aku bukan kakak tertua yang baik.  Dan baru sadar kalau jauh sekali dengan mereka.  Selepas SMP aku sudah jauh, masuk asrama, dan sekolah jauh dari rumah.  Lulus sekolah, langsung kuliah dan kos, tentu saja jarang pulang ke rumah. Padahal jarak rumah dan kos hanya 24 km saja.

Waktuku dengan mereka, dengan orangtua banyak yang hilang, sekarang mama yang kadang aku antar ngajar ke sekolahnya saat ada di rumah, juga telah tiada.  Abah yang bekerja sepanjang hidup untuk anak-anaknya, sekarang hidup terpisah dan mulai sakit-sakitan pula.

Semua sekarang berubah, kampungku telah berubah, walau orang-orangnya tetap saja baik, tapi aku tiba-tiba merasa sangat jahat dengan semuanya, rasanya belum ada hal yang baik yang aku lakukan untuk mereka.  

Aku merasa tak kenal dengan diriku sendiri sekarang, apa maunya, dan banyak bertanya kenapa tanpa tahu harus bagaimana.

Sudahlah, itu saja ingatan dan kenangan random yang mengingatkanku pada akar hidup dan betapa waktu telah berjalan tanpa ampun dan aku merasa buruk sekali saat ini.  Rasanya belum ada kebaikan yang nyata dalam hidup ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang. Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.   Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike) ,  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal , tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jej

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

..mencoba instal Lubuntu di Lenovo S206

..leptop honey, istri saya itu kondisinya sekarang lumayan amburadul, wifi susah konek, batterynya error - ya kalo ini sih salah saya gara-gara pernah nge-charge kelamaan-,  dan terakhir suka mati-mati sendiri sehabis diinstal ulang sama windows 7 (bajakan). Saya putuskan untuk instal linux saja, kali ini saya instalin Lubuntu, turunan ubuntu dengan pertimbangan spec leptop yang lumayan pas-pasan: RAM cuma 2 Gb dan prosesor yang cuma dual core 1,4 Gb.  Sebenarnya saya pengen nginstalin debian lagi, tapi selain lupa caranya, saya juga pengen nyoba OS yang lain, setelah saya timbang-timbang yang file ISO-nya lumayan kecil ya cuma Lubuntu, cuma sekitar 900-an Mb.  Itu juga lumayan lama downloadnya, cuma ngandelin hotspot dari hape. Setelah dapet iso-nya, bikin bootable di flashdisk pake unetbootin , lalu mencoba instal, berhubung saya termasuk user abal-abal yang taunya instal dan klik sana sini, jadi belum berani instal seluruhnya, takut data yang ada di hardisk keformat seperti