Minggu, 29 Mei 2022

Kaebu & bubin.

 ..sampai sekarang, bubin LantanG tetaplah penulis favorit, rasanya apa-apa yang terkait dengan bubin dan karyanya, seperti menjadi semacam obsesi bagi saya.  

Saya begitu senangnya saat tak sengaja menemukan ruas jalan Cijagra Satu di Bandung, jalan yang namanya ada di Jejak-jejak Anak-anak Mama Alin.

Apalagi saat akhirnya menjejakkan kaki ke Bandar Lampung, kota yang ingin saya datangin sejak lama, kota kelahiran bubin.  Sampai-sampai saya berjalan kaki sekitar 5 kilometer di siang yang lumayan terik di pusat kota.  Panasnya siang terkalahkan oleh nama-nama jalan yang sebelumnya cuma saya tau di karya-karyanya bubin.  Menyusuri Jl. Raden Intan sampai berujung ke Gg. Manggis dekat Pasir Gintung.  

Sampai akhirnya di novel terakhir bubin, yang lebih seperti memoar hidupnya kala keluar dari Kompas demi idealisme dan menggelandang di Amerika: Kisah Langit Merah.  Di novel itu ada sebuah benda yang menarik perhatian saya.  Itu adalah sebuah gitar yang saya bahkan baru tau merknya. Kaebu.

Lagi-lagi saya terobsesi ingin memiliki gitar yang bernama rada asing di telinga itu.   Sempat nyaris memilikinya kala seorang kawan ingin melepas Kaebu miliknya, namun urung dijual entah karena apa.

Beberapa waktu berlalu, keinginan itu muncul lagi.  Akhirnya cari-cari di toko online, dan menemukan beberapa orang yang ingin menjual koleksinya.  Minggu kemarin, ternyata menemukan orang yang mau melepas Kaebunya,  harganya cukup murah untuk gitar produksi Indonesia di tahun 90-an itu.

Merknya sudah tak ada lagi, sepertinya berdasarkan hasil pencarian, itu adalah Kaebu seri Borobudur, bodi belakangnya dari fiber.  Dan barusan gitarnya nyampe.  Suaranya masih bulat dan bagus, walau ada masalah sedikit di sambungan neck dan bodynya, maklum lah gitar tua.  Tapi secara keseluruhan masih sangat bagus, apalagi gitar jaman dulu kualitas kayunya masih sangat bagus.

Jadi begitulah, barusan dicoba bentar, sepertinya harus membeli senar 5 yang putus, mungkin juga nanti suatu saat memperbaiki bagian yang sedikit lepas lemnya itu.  Mungkin, saya sih sudah punya Kaebu saja senangnya luarbiasa.

Satu lagi produk Indonesia yang saya miliki, selain sepeda Federal dan sepatu Brodo.  Sepertinya mengkoleksi bikinan dalam negeri adalah obsesi saya yang lain..


2 komentar:

  1. ah aku inget pernah baca buku itu Kisah Langit Merah, tapi ternyata kurang suka.
    lanjutkan beli Brodo deh kalo gitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe berarti kita beda genre bacaan, saya sih seneng dg idealismenya bubin, sebenernya Kisah Langit Merah itu semacam memoar penulisnya saat menggelandang di Amerika sehabis dipecat dari kerjannya gara2 idealismenya itu

      Hapus

Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Kemarin nonton Vindes yang bintang tamunya Nopek, komika yang sedang naik daun.  Dia ada bercerita tentang pengalamannya terpuruk, lalu meng...