Langsung ke konten utama

maling

Seseorang yang mengambil hak milik orang lain saya anggap maling, dan itu adalah diri saya sendiri,  sewaktu sekolah tingkat menengah atas dulu.  Lokasi sekolah waktu itu jauh dari rumah, sehingga mengharuskan kos di rumah penduduk sekitar kampus sekolah, waktu itu saya dengan beberapa kawan menyewa tiga kamar yang tidak terpisah dari rumah induk pemiliknya.  Ritme makan pun mengikuti aliran kiriman dari orangtua setiap bulannya.  Hingga pada suatu waktu, saya salah perhitungan dalam mengelola keuangan bulanan yang teramat pas-pasan, akibatnya harus super berhemat, hingga  budget untuk menu makan malam cuma cukup untuk membeli sebungkus mie instan.

Mie instan saja tanpa apa-apa, tak lebih hanyalah bermakna sebagai pengganjal perut yang teramat fana, cuma bisa bertahan beberapa jam.  Perut yang kelaparan ditambah kurang kreatifnya dalam berpikir, mengakibatkan saya menunggu malam tiba dan saat seluruh keluarga ibu kos terlelap, diam-diam dan sangat pelan saya berjingkat-jingkat ke dapur, membuka panci dan mencari sisa-sisa nasi yang mungkin masih ada.  Satu dua kali hal itu dilakukan, saya selalu merasa beruntung dan bisa tidur dengan kenyang, dengan sebungkus mie instan dan beberapa sendok nasi curian.

Sampai pada suatu saat, saya terpergok saat ingin kembali mengulangi aksi saya itu.  Tak usah dibayangkan betapa tidak keruannya muka saya saat itu.  Tapi ternyata ibu kos, alih-alih memarahi saya, malah mempersilahkan untuk mengambil sisa nasi di dapur kalau ingin makan.  Walaupun sangat malu, tapi ternyata terkalahkan oleh rasa lapar, hingga akhirnya beberapa malam kemudian saya memutuskan untuk meminta sisa nasi untuk tambahan menu mie instan, dan itu berlanjut sampai beberapa hari di akhir bulan.

Walaupun waktu itu, mencuri nasi karena keadaan, hal itu tetaplah salah. Perasaan bersalah itu terus membayangi sampai bertahun-tahun, sampai saya memutuskan untuk mengurangi rasa bersalah itu dengan cara 'membayar' nasi yang pernah saya curi waktu itu, dengan cara yang lain.

Oleh karena itu saya kira motivasi orang menjadi maling itu mungkin dikarenakan dua hal, oleh karena 'keadaan' atau dikarenakan adanya kesempatan.  Keadaan yang dimaksud adalah seperti kasus saya dulu itu, kombinasi kurangnya uang dan perut yang kelaparan membuat otak mencari jalan pintas untuk menanggulanginya, dan dengan cara yang salah.

Beda halnya kalau manusia mencuri dalam keadaan perut kenyang dan cukup uang, sifat manusia yang tak pernah merasa cukup bisa memicu hal itu terjadi apabila muncul kesempatan.  Keinginan untuk mengambil hak orang lain untuk senang-senang.  Tapi sekali lagi dua-duanya sama jahatnya, tidak memikirkan hak orang lain yang diambil.  Walaupun tampaknya sepele, kalau dijadikan kebiasaan, akan bakal terus menerus dijadikan alasan pembenaran atas tindak kejahatan.

Di sisi lain, sebenarnya adanya tindakan maling di sebuah tempat, bisa jadi adalah sebuah indikasi bahwa ada sistem yang tidak berjalan dengan semestinya.  Misalkan sering terjadi pencurian di sebuah kampung, yang ternyata dilakukan oleh penduduk yang benar-benar kekurangan sehingga cuma bisa mencuri untuk bertahan hidup, bisa dijadikan bahan evaluasi untuk penduduk kampung lainnya, untuk membuka mata kalau ada orang di sekelilingnya yang kekurangan, sukur-sukur jadi menumbuhkan empati hingga sang maling bukannya diadili dengan cara dianiaya, tapi diangkat derajat hidupnya dengan cara diajak bekerja, sehingga tak lagi muncul pikiran untuk mencuri.

Tapi beda halnya, jika pencurian dilakukan untuk keuntungan pribadi di atas kerugian orang lain, dan dilakukan tanpa merasa bersalah sama sekali.

-----------------------------------------------------------------------

Haduh tulisanku ini jelek sekali sih.

Komentar

  1. bicara mi instan dan kelaparan, dulu pas lanjut sekolah juga pernah ngalamin yang sama.

    gaji habis buat bikin tesis.

    pas puasaan pas bener2 ga punya uang pula. inget banget waktu itu masih beberapa hari menuju akhir minggu. uang saya selama 3 hari hanya cukup buat beli 3 bungkus mi instan mi sedap yang soto (inget banget ya Allah :)))) dan bensin untuk pulang kampung.

    jadilah, puasaan 3 hari berturut2 ngga pake sahur, dan buka puasa cuma pake mi instan saja :')

    dahlah, ngenes banget. tapi ya kuat eh ternyata :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ebuset, tahan bener XD mudahan ususnya gpp itu yaaa hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu