Langsung ke konten utama

#35,25. Manusia Seperempat

Ini kepikiran setelah nonton channel Vincent and Desta, yang bintang tamunya Soleh Solihun, yang harusnya mewawancarai bintang tamunya, tapi malah kebalik. Nah saat Desta ditanya-tanya sama Soleh, dia (Desta) bilang kalo dirinya banyak setengah-setengah dalam banyak hal, dalam segala hal malah.

Saya jadi kepikiran, kalau selama ini, saya sepertinya lebih parah dari itu, saya serba seperempat dalam banyak hal. Di sisi lainnya, saya suka mencoba banyak hal.

Misal, pas main band saat sekolah terus pas kuliah, skill gitar saya ya gitu-gitu aja, teknik fingering aja parah, apalagi teknik yang lain.  Itu juga ngeband karena seneng dan kekurangan pemain hehe

Terus, ikutan latihan karate, ini sih lebih untuk nyari keringet dan ngelatih napas, karena saya ada sejarah asma, walau terakhir parling parah waktu SMP kalo ga salah.  Itu juga karena saya belum tahu cara nyembuhinnya gimana selain langganan obat bernama asma soho.  Padahal ngelatih napas dengan olahraga adalah kuncinya.  Dan karate itu ya gitu-gitu aja, gerakan kata aja saya ga hapal-hapal, ngertinya cuma gerakan basic.  Di kyokushinkai-kan, kan gitu, ada kata dan basic, selain ngelatih napas.

Sedikit terlambat, saya juga masuk mapala.  Tapi ya gitu-gitu aja juga.  Paling ramenya cuma pas awal latdas, terus latihan pemantapan dan lalu pas ikut inisiasi anak-anak baru.  Kegiatan ya sekedar ikut saja pas ada event.  Naik gunung aja ga pernah, selain ga ada gunung juga sih di sini.

Dan pas kerja, saya juga jarang total, kecuali sama suasana kantor yang menarik untuk saya ber-totalitas-ria.  Tapi sekarang belum nemu lagi kantor semacam itu.  Jika suasana kantor tak bagus,saya kerja ya gitu-gitu aja, semacam rutinitas demi menggugurkan kewajiban. Selain saya juga tak begitu tertarik dengan kompetisi di kerjaan. Semacam mengalir saja lah.  Apalagi kalau kompetisi sudah terkait urusan jilat menjilat, oh maaf sahaja.  Itu bukan gaya saya.

Bahkan dalam hal lain, misalnya menulis di blog juga.  Saya sedari 2007 apa ya pas akhirnya memutuskan bikin blog.  Tulisan saya ya gitu-gitu aja juga.  Lebih sebagai media untuk menuangkan emosi dan memori saya.  Tak ada muluk-muluk mikirin struktur kalimat, atau mikirin page rank dll, walau ya dulu pernah memperhatikan sebentar hal-hal begitu, tapi setelah itu yasudah.  Aaa yang berkunjung dan membaca ocehan saya di sini saja saya sudah senang.  Lebih-lebih ada yang rajin meninggalkan jejak di kolom komentar hehe

Apalagi ya, tentang prestasi sekolah.  Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya terlalu malas untuk berkompetisi.  Mungkin tujuan saya sekolah adalah masuk dan lulus. Itu saja. Kecuali pas memutuskan untuk lanjut S3. Itu salahsatunya adalah sebagai tameng dan senjata bagi saya, untuk orang yang coba-coba sok pinter.  Biar orang-orang yang seakan-akan menganggap gelar adalah segalanya, akan saya tembak sahaja: sampai sejauh apa sekolah sampe bisa sok gitu.  Itu saja sih.  Selain tentu seperti postingan sebelumnya, untuk bales dendam, biar bisa ngasih nilai lebih untuk yang telah berusaha menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa.

Belum pernah terbetik dengan serius dalam otak saya, bahwa saya haruslah teratas dalam segala hal. Mungkin pernah sekedar ngayal, tapi jikalau benar-benar memikirkannya dan ingin mewujudkannya, usaha saya tak pernah sampai segitunya.

Yang terpenting sih.  Saya masih (berusaha) menikmati kehidupan ini.  Dan berusaha menjauhi segala masalah yang bikin pusing.  Mungkin dalam hal terakhir ini, saya seringkali berusaha untuk totalitas, walau seringkali terlambat untuk memutuskan mengambil langkah yang benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.