Langsung ke konten utama

#33. Malas dan Keberuntungan

Saya menyadari sifat saya yang kurang bagus ini sejak lama sebenarnya, tapi menyadari sebentar untuk kemudian tak mempedulikannya lagi.  Iya saya cukup pemalas untuk banyak hal, terkadang di kemudian hari saya menyesal karena sifat itu saya tidak bisa mendapatkan hal yang diinginkan.  Tapi toh saya pun setelah mikir sejenak penyebabnya, saya jadi maklum sendiri dan lalu menyalahkan diri sendiri.

Sepertinya saya seringkali tidak memperdulikan sifat jelek itu karena di sisi saya juga seringkali ditemani satu hal yang bernama keberuntungan.

Satu hal yang saya ingat sekarang adalah, waktu tes beasiswa S3, kira-kira di tahun 2009.  waktu itu sudah lulus TPA yang beberapa kali berhasil lulus tanpa perlu belajar keras, karena menurut saya TPA tak perlu dipelajari benar-benar, lebih-lebih bagi yang seneng TTS dan teka-teki lainnya.  Teori saya sih begitu. Saya justru sangat menikmati pas bagian deret angka dan gambar, menurut saya itu semacam puzzle, jadi ya menyenangkan mengerjakannya.  

Bagian kedua setelah lulus TPA adalah TOEFL tentu saja. Waktu itu, tesnya di UIN Ciputat, saya sama sekali tidak mempersiapkannya.  Padahal bagian grammar saya sedari dulu kacau balau, sementara dua bagian yang lain juga tidak begitu bagus juga sih.  Akhirnya hasilnya keluar, dan bikin mangkel.  Itu karena saya cuma kurang 10 poin dari yang dipersyaratkan untuk lolos dan mendapatkan beasiswa.

Tak lama berselang, untungnya saya mendapatkan sebuah keberuntungan yang tak pernah saya perkirakan.  Proposal untuk meneruskan kuliah di kantor disetujui atasan tertinggi, yang mana belum pernah selama ini persetujuan persetujuan kuliah dengan cara lempeng dan datar seperti saya terjadi.  Mungkin suatu saat akan saya ceritakan tentang hal ini. Tapi kemalasan lainnya pun terjadi. Saat TOEFL di kampus, kembali skor saya kurang sekitar 10 poin lagi.  Dua kali tes tetep segitu-gitu aja.  Baru pas tes ketiga, sehari sebelum tes, saya dikasih saran oleh Amed, seorang guru bahasa Inggris yang kebetulan juga sedang ngambil magister di Jogja.  Sarannya sangat jitu, katanya perkuat listening.

Jadi aja semalaman saya nonton film barat, sambil telinga saya dibuka lebar-lebar.  Untungnya pas keesokan harinya, sound system di lab. bahasa cukup bagus.  Dan batas nilai TOEFL sebagai salahsatu syarat kuliah pun bisa saya lampaui.

Saya juga baru nyadar, selama sekolah saya lebih banyak malasnya dibandingkan rajin belajarnya.  Itu mungkin dikarenakan saya merasa bisa melaluinya tanpa perlu belajar dengan keras.  Itu pun seringkali beruntung, karena kadang masih bisa masuk peringkat lumayan di kelas pas sekolah.  Saat kuliah S1 ya gitu juga, seringkali malas sekali, bahkan untuk menghadiri perkuliahan.  Jelek sekali, semoga tidak ditiru anak-anak saya kelakuan abahnya ini haha.  Tapi toh akhirnya saya beruntung survive bisa lulus juga pad akhirnya, walau dengan nilai pas-pasan.  Di kemudian hari, saya beruntung bisa lanjut kuliah magister dan bisa lulus seleksi dengan nilai pas-pasan saya itu, karena kebetulan IP saya memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi, menyenangkan sekali.

Ohiya, pas lulus SLTA pun, nilai saya benar-benar pas, rata-rata ijazah saya 7.0.  Karena sekolah saya kejuruan, untuk ikut UMPTN dulu di tahun 1993, nilai ijazah saya kudu dihitung dulu sebelum bisa ikut mendaftar ujian, tak seperti anak-anak dari SMA yang bisa langsung daftar.  Standar nilai ijazah untuk anak kejuruan adalah 6.5 waktu itu.  Saya kembali beruntung menjadi satu-satunya lulusan dari sekolah saya yang bisa lulus UMPTN.

Saya pikir, hal yang kurang bagus dari diri saya itu dikarenakan selain banyak keberuntungan yang saya alami, saya juga nyaris tidak memiliki jiwa kompetisi.  Tidak memiliki target tinggi dan muluk dalam hidup. Tapi ada masanya, saya bener-bener mendadak rajin dan berusaha keras.  Itu jikalau hal yang saya hadapi adalah memang harus dijalani dan dihadapi dengan serius, lebih-lebih jika hal itu merupakan prasyarat yang disyaratkan untuk bisa lanjut ke level selanjutnya.

Misalkan kala awal kuliah, ada tiga mata kuliah yang selain teoi, juga ada praktikum di laboratorium dasar yang harus diikuti mahasiswa semester awal.  Setelah praktikum kudu bikin laporan yang dibikin pake mesin tik.  Saya pernah tidak tidur selama lebih dari 24 jam karena mengejar tenggat waktu mengumpulkan laporan. Saat itu semuanya memang seperti dikejar-kejar saja rasanya, ada empat laporan yang harus diselesaikan dalam satu minggu, sementar jadwal kuliah juga sedang padat-padatnya.

Semuanya saya ikutin, walau akhirnya dari 8 mata kuliah cuma setengahnya aja yang lulus dengan nilai rata-rata mata rantai karbon alias c-c-c.  Perjuangan saya begadang untuk bikin laporan praktikum ternyata ga dihitung, nilai akhir mata kuliah semata-mata diambil dari nilai ujian akhir. Menyebalkan sekali memang jaman itu.

Terakhir saya bekerja super keras, adalah tiga tahun yang lalu, waktu kuliah di Jogja. Itu karena ada faktor pendorong yang mangharuskan saya untuk begitu. Kalau saya tidak berusaha benar-benar, saya terancam drop out dan bagian menyebalkannya kudu mengembalikan biaya kuliah yang sudah diberikan kepada saya jikalau tidak lulus. Akhirnya di akhir-akhir masa kritis itu, beruntungnya saya kembali bisa survive dan lulus dari ujian terbuka di April 2017.  Proses kuliah saya semasa di Jogja ini mungkin bakal saya ceritakan juga suatu saat, jika tidak malas hahaha.

Komentar

  1. ja, man of his words gini ..

    "bagian menyebalkannya kudu mengembalikan biaya kuliah yang sudah diberikan kepada saya jikalau tidak lulus. Peraturan yang sampai sekarang bikin saya mangkel karena janggal."
    janggal apanya sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagian itu saya hapus sebagian, karena saya sedang males menjelaskannya. panjang ceritanya soalnya.

      Hapus
  2. Nonton film memang besar pengaruhnya di listening ya kak.
    Apalagi nonton tanpa subtitle

    BalasHapus
    Balasan
    1. ye begitulah, terbukti efektif itu

      Hapus
  3. om warm KOK BISA TES TPA DIBILANG GAMPANG APALAGI PART DERET ANGKA DAN GAMBAR2NYA??? (HYA, CAPSLOCK JEBOL INI :)))

    Duhh.. saya malah paling gabisa part itu. apalagi part gambar ><" itu gambar mau dibolak balik macem apa coba ><"

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang ga sopan belio itu mba, saya taun kemaren cemas setengah hidup karna mau TPA, enak banget komeng "ya situ mah udah biasalah ngasdepin soal-soal kayak gini mah"
      yeaaaa raaaiiitttt

      Hapus
    2. @fay.
      lah soalnya bagiku itu seperti ngerjain kuis, salah satu hal yg aku senengin. Jadi aku menikmati aja pas TPA haha

      @lulu.
      lah buktinya dirimu lulus, toh hehe

      Hapus
  4. Mendiskripsikan diri sebagai pemalas tapi sudah sepedaan ke mana-mana puluhan KM, apalagi saya yang habis beli sepeda keknya semi-semi dianggurin HAHAHAHAHA
    *menghilang dalam selimut

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohiya jg ya , sepertinya saya cukup rajin jikalau terkait hobi yg menyenangkan, mas hahaha

      Hapus
  5. Malas tapi nilai tetap bagus. Gimana coba kalau distrum dikit jadi rajin yaaa...
    Terus meskipun malas, akhirnya jadi dosen juga.... heheeee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin saya ini semacam contoh yg kurang bagus, mb hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu