Langsung ke konten utama

#32 Mengingat-ingat Hal-hal di Sekolah Dasar

Sebelum saya bercerita tentang sekolah yang banyak mengubah hidup saya, sebab rasanya banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekolah menengah yang rada ajaib itu.  Saya sekarang justru tertarik untuk mengingat-ingat masa-masa di sekolah dasar.

Saya masih ingat, saat pertama masuk ke ruangan guru, diantar oleh mama saya yang juga guru, tapi tak mengajar di sekolah saya. SD Inpres Bina Bakti namanya dulu.  Sekolah saya terbuat dari kayu dan jendela dari kawat ram.  Letaknya tak jauh dari rumah dan area persawahan.  Waktu pertama masuk ruang kelasnya baru ada empat.

Masuk sekolah dasar pada saat usia belum genap 6 tahun, itu karena di desa waktu itu belum ada yang namanya sekolah TK.  Untung sudah boleh masuk sekolah. Masuk pertamakali tidak pakai seragam, karena belum selesai dijahit, jadi aja pake kemeja bermotif korpri, dari kelebihan kain bahan seragam orangtua saya. 

Beberapa hal yang saya ingat adalah saya mendapatkan nilai 5, ditulis dengan pulpen merah, waktu di kelas satu.  Ibu guru wali kelas saya baik sekali, sabar dan menyenangkan rasanya.  Sehingga pelajaran membaca dan menulis yang diajarkan dari dasar samasekali bisa diikuti.

Hal lainnya yang saya ingat adalah saat senam pagi.  Ada seorang teman yang tidak begitu serius senamnya, seperti ebrcanda, dan entah ada angin apa. Seorang bapak guru, saya lupa nama beliau, pagi-pagi itu sudah emosi lalu melemparkan pot kembang yang terbuat dari bekas kaleng susu 1 kg yang berisi penuh tanah, dan tepat kena di punggungnya.  Begitu keras sudah hidup waktu SD euy.

Saya juga tiba-tiba teringat dengan kawan perempuan, yang ranking satu waktu di kelas satu.  Tapi akhirnya tak sekolah sampai tamat. Karena nikah, rasanya sekitar kelas empat waktu itu.  Juga ingat dengan Badri, seorang kawan yang badannya besar, yang saya ingat pas dia marah, dengan entengnya melemparkan kursi kayu ke tengah kelas. Rusuh sekali.

Dan sebuah kejadian yang menggelikan sekaligus bikin deg-degan, tentulah waktu kelas empat. Saat ada program vaksinasi di sekolah.  Seluruh penghuni kelas tegang.  Bahkan ada seorang teman saya, sambil berkaca-kaca, membawa koper plastiknya yang berwarna biru, memutuskan untuk pulang. Tapi tentu saja dilarang oleh guru sambil tertawa, dan mengatakan bahwa tak bakal apa-apa.  Enak sekali beliau berkata begitu, padahal kami tegang semua.

Saya pun tentu saja gugup, jantung berdebar-debar, membayangkan disuntik di lengan.  Tapi petugas yang menyuntik pintar, dia menawarkan pada kami, siapa yang berani lebih dulu disuntik. Tak diduga, kawan sebangku saya mengacungkan tangannya.  Dia pun langsung maju ke depan kelas dan seakan-akan tak terjadi apa-apa saat lengannya diinjeksi. Setelah itu pun, saya pun menjadi panas, mengacungkan tangan untuk menjadi pasien kedua. 

Teman sebangku saya itu Sayuti namanya, telinga kanannya ada infeksi, sehingga setiap saat ada cairan yang mengalir dari telinganya.  Walau terkadang mungkin seperti ada aroma yang tidak enak,  saya tak pernah mempedulikannya. Dia kawan yang baik, tak pernah ada masalah selama duduk satu meja.  Sebenernya yang benar kawan sebangku atau semeja sih, suka bingung saya soal istilah itu.  

Saya malah ingat satu memori dengan Sayuti ini, pernah saya bertamu ke rumahnya, tapi yang menemui saya malah seorang anak dengan muka bengkak dan benar-benar tak saya kenali.  Ternyata beneran dia, yang mukanya baru diserang tawon.  Kasian sekali. Ohiya, karena penyakit di telinganya itu, saya masih ingat menyarankannya untuk membeli obat tradisional yang sering saya dengarkan di radio,.

Nah, waktu di kelas empat ini pula.  Rasanya saya dicalonkan untuk menjadi Ketua Kelas. Tapi saat pemilihan, saya kalah telak.  Yang memilih saya cuma satu orang. Itu pun ternyata kawan perempuan yang tinggalnya di samping rumah nenek. Akhirnya saya dijadikan bendahara, yang tak punya kegiatan apa-apa selama setahun karena memang kelas tak punya uang kas.

Saya juga ingat, pernah jadi juara dua di kelas. Waktu kelas satu apa dua ya lupa. Dapat setengah lusin buku tulis bersampul ungul. Menyenangkan sekali. Walau di tengah jalan jadi kesal karena mendengar celetukan seorang ibu-ibu, entah siapa. Katanya: jelas aja juara, kan abah mamanya guru.  

Hey, seandainya beliau tahu. Kalau di rumah saya tak pernah meminta bantuan abah dan mama untuk belajar atau menanyakan bahan pelajaran. Sampai orangtua saya juga bingung.  Saya terbiasa memecahkan masalah saya sendiri. Entah kenapa begitu saya juga tak mengerti.

Dulu tempat favorit saya adalah ruang guru, itu karena sekolah saya tak punya perpustakaan.  Jadi buku-buku disimpan di kantor guru. Sering saya sendirian baca buku di situ, kadang saya pinjam dan saya bawa ke rumah. Sampai saya lulus SD masih ada satu buku kecil tentang ilmu pengetahuan populer yang belum saya kembalikan. 

Di ruang guru itu pula, pernah saya diminta latihan vokal sama seorang kawan.  Menyanyikan lagu hymne guru.  Konon untuk diikutkan lomba menyanyi. Tapi sekian lama latihan, saya tak pernah juga dipanggil untuk ikut lomba entahlah apa itu.  Saya sudah digagalkan jadi artis sejak dini oleh guru saya sendiri.  Padahal selama latihan dengan cara menyanyikannya dengan lantang, saya cuma dikasih asupan satu gelas besar air putih. Itu saja. Tapi itupun bikin saya merasa bangga, disuguhin guru segelas air putih. Sungguh kejadian luarbiasa.

Guru favorit saya, selain wali kelas satu. Adalah pak Kepala Sekolah sendiri. Pak Aseri namanya, iya sesingkat itu nama beliau.  Saya selalu inget beliau karena memberikan nilai delapan pada tugas menggambar.  Saya waktu itu menggambar mobil kotak dan mewarnainya dengan crayon.

Waktu kelas enam.  Jumlah murid satu kelas cuma tersisa 13 orang.  Saya ingatnya malah dengan sebuah kejadian, saat seorang kawan, yang membawa semacam balon, tapi bentuknya agak aneh. Dan sebelum meniupnya menjadi balon yang cukup besar, dia mencuci balonnya itu dulu di sungai kecil depan sekolah, dan saya sempat melihat ada semacam jejak minyak di permukaan air saat dia mencucinya.

Kawan saya itu suka iseng menyentuhkan balon gede itu ke kawan-kawan perempuan yang seperti jijik sambil berlarian. Belakangan saya tahu kalo balon itu namanya kondom. Bayangkan, mainan anak kelas enam SD waktu itu. Konon dia mendapatkannya dari keluarganya yang berprofesi sebagai penghulu atau apa ya lupa persisnya.

Selama sekolah, saya jarang dikasih uang jajan.  Karena jarang sekali ada alokasi uang lebih di rumah untuk itu.  Jadi saat SD saya ingat sering ditraktir oleh kawan saya yang sering saya kagumi soalnya uang sangunya cukup banyak.  Tapi dia anehnya baik hati sama saya, mungkin kasian. Jadi pas beli roti, dan kebetulan saya melihatnya makan.  Dia seringkali memotongnya menjadi dua, satu potongan dikasihkan ke saya, dan itu membahagiakan sekali rasanya.  Saya tidak tau lagi temen saya itu sekarang dimana, namanya juga sedikit lupa.  Smoga sekarang jadi orang sukses.

Lain waktu, ada mamang yang jualan es di deket pagar sekolah yang seadanya.  Awalnya saya cuma bisa ngamatin temen-temen yang beli es.  Lama-lama karena bosen, saya pun mendekati mamang tukang es, dan minta ijin untuk mencucikan gelas-gelas bekas es di ember yang tersedia di deket sepedanya.  Eh, sehabis mencuci gelas-gelas kecil itu.  Mamang tukang es sepertinya tak tega, lalu memberi saya bonus satu gelas es gratis.  Padahal saya tidak pernah memintanya, murni waktu itu karena ingin membantu saja selain bosan tak ada kegiatan waktu istirahat. Tapi besok-besoknya saya ketagihan membantu mencuci gelas, karena tahu bakal dapat satu gelas es gratis hehe dasar.  Rasanya setelahnya ada seorang teman yang mengikuti kelakuan saya menjadi asisten si mamang, rupanya dia juga ingin es gratis dengan cara mencucikan gelas dari bahan kaca.  Dulu belum ada gelas-gelas plastik seperti sekarang.

Terakhir, saat lulus saya masih ingat. Berfoto bersama di depan kelas. Saya diminta memegang bunga plastik, entah tujuannya apa haha konon kata temen sekelas saya, yang kebetulan masih bermukim deket SD saya dulu, fotonya masih ada.  Nanti suatu saat mau saya pinjem untuk saya foto lagi.  Ohiya, temen yang saya maksud ini adalah yang waktu kelas empat memberikan suaranya dalam pemilihan ketua kelas.

Ohiya, pas kelulusan itu, saya terkejut karena menjadi lulusan terbaik pertama dari 13 orang itu. Karena saya tau waktu itu ada temen perempuan yang selalu jadi juara satu, namanya Asiah.  Entah kenapa nilai saya jadi tertinggi, mungkin karena keberuntungan.  Satu hal yang rasanya selalu menyertai saya saat sekolah.

Komentar

  1. Haibatttt ommm bisa mengingat detail sebanyak itu.. 😮😮😮


    Beneran deh, cerita2nya kl dibikinin novel mah, si laskar pelangi lewat.. 😁😁

    Baca ini saya jadi banyak pikiran.. Hahaha.. Mulai dari 'toleransi' masa SD jaman dulu dan sekarang yg beda juauuh, sampai kebayang2 temen2 om warm yg ajaib2 beneran 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga menulis seingatnya, dan setelah diliat kok cukup panjang jg ya 😅

      ya masa2 sederhana, kurang duit tp ya seneng aja waktu sekolah.

      terimakasih lho sdh mau membaca sampai tuntas hehe

      Hapus
  2. Seru bacanya mas, hihihi, membayangkan mas RD berangkat sekolah, dan ketemu teman-teman yang menyenangkan. Apalagi bagian main 'balon' itu, ya ampun, kalau bapaknya tau bisa barabe tuh hahahahahaha. Jangan-jangan bapaknya selama ini sadar ada yang hilang 😂

    Eniho, teman mas RD yang suka berbagi makanan sampai beli roti dipotong dua, saya bacanya jadi ikutan menghangat 😍 Semoga dia betulan jadi orang sukses yaaaa, mas. Akan lucu jika nanti ada reunian terus mas RD bisa ketemu dia, hihihi. Thank you sudah berbagi cerita, mas 🥳🎉

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya temen saya pemilik balon yg ujungnya aneh itu ya, tp gara-gara dia pengetahuanku jd bertambah haha

      dan iya temenku satu itu euy, baik sekali, dan tak cuma sekali dia membagi jajannya, sampai sekarang saya tak mengerti mengaapa dia jd sebaik itu ke saya. Mungkin di matanya kala itu saya mmelas banget kali ya hehe

      saya juga terimakasih sudah membaca kisah nostalgia saya ini, mb

      Hapus
  3. paling ingat ada yang nyucukin pensil ke jidat :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.