Langsung ke konten utama

#30. Obat tradisional pemulih luka

Saya kmaren kapan ngebagikan hal ini di twitter, dan sudah seringkali juga saya bagikan dimana-mana.  

Sedari kecil, saya kalau luka dan berdarah, paling sering gara-gara uji nyali dengan benda tajam, jarang sekali pake obat modern seperti obat merah dan sejenisnya.  Alasannya sih karena emang jarang punya benda-bend seperti itu di dalam rumah.

Jadinya ya ngobatin luka pake apa yang ada di sekeliling.  Yang paling praktis sih ya air garam, ini paling gambpang, tinggal campurin garam ke air hangat atau panas, trus celupin luka ke dalamnya, cepet kering, dan higienis juga, kan garam mengandung iodium.  Pernah paling parah telunjuk tangan kiri saya nyaris penggal gara-gara pisau besi yang saya gunakan untuk motong kayu bahan katapel, nyasar ke jari, mana pisaunya berat sekali.  

Saya masih inget langsung nyari rantang, kasih air panas, trus campurin garem, trus celupin jari. Wah itu rantang jadi kayak sirup, langsung memerah.  Tapi habis itu, luka cepet nutup dan pulih.  Biasanya sih habis dicelupin gitu, sudah jamak di kampung saya jari yang terluka diperban dengan.. potongan kain bekas.

Kalau lukanya cukup kecil, saya hunting sarang laba-laba kecil yang biasanya ada di dinding rumah atau deket-deket plafon, bukan sarang laba-laba yang ada di pohon, saya belum pernah nyobain yang itu malah.  Yang jenis ini sarangnya putih bersih, dan tebel, walau satu sarangnya kecil sekali, paling seujung kelingking.  Ini beneran efektif juga menghentikan pendarahan dan memulihkan luka.

Satu lagi yang paling efektif untuk nyembuhin luka.  Ini sih saya temukan secara tak sengaja.  Mungkin pas saya SD apa SMP ya, abah nanem tumbuhan penawar sampai, atau brotowali nama topnya, di belakang rumah.  Suatu saat pas saya luka (lagi), bingung nyari obat.  Akhirnya kepikiran untuk matahin tangkai daunnya, nah dibekas patahan tangkainya itu ada getah berwarna putih yang cukup kental.  Iseng saya olesin di luka. Eh ternyata efektif juga untuk menghentikan pendarahan dan memulihkan luka.

Kemudian pucuk pisang.  Ini sih sudah teruji untuk menghentikan pendarahan dan memulihkan luka. Saya sampai sekarang, otomatis nyari pucuk pisang saat terluka.  Seperti yang saya ceritakan di postingan tentang pas jatoh dari bersepeda itu.

Yang terakhir adalah, daun binahong yang saya baru tau namanya dari sepupu di Bogor.  Saat pulang dari Cicurug naik motor, jalanan lagi licin, nyaris jatuh di perbatasan Bogor, untuk kaki saya masih bisa mnyeimbangkannya.  Walau kudu dibayar dengan kaki yang luka akibat beradu dengan aspal.  Sampai Bogor, dibilangin sepupu tuh untuk ngunyah daun binahong trus diolesin ke luka. Dulu sih dikasihnya daun binahong yang hijau. Dan bener aja, luka juga cepet sembuh.

Kemarin habis jatuh dari sepeda itu, setelah dikasih pucuk pisang trus dibersihin di puskes, sesampai rumah, saya nyari daun binahong, adanya yang ungu, di rumah keluarga. Perban saya buka, trus ngunyah binahong trus ditutupin ke luka.  

Masih merasa belum cukup, saya olesin lagi minyak yang dibeli istri saya, yang kata anak saya itu minyak ajaib, soalnya pernah juga dipakai untuk nyembuhin lukanya.  Saya penasaran dengan kandungannya yang ditulis dalam bahasa latin, eh ternyata salahsatunya adalah brotowali itu. Wah pantas saja.

Sekarang sih sudah mengering, dan nunggu pulih. Jadi begitulah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu