Langsung ke konten utama

pengalaman tes swab


Berhubung di sekitar kantor yang sudah terinfeksi virus covid-19 sudah cukup banyak, situasinya jadi mengkhawatirkan.  Jadi, minggu lalu kantor berencana mengadakan tes swab untuk seluruh karyawan.

Baru denger rencana itu, saya sudah deg-degan dan berencana untuk kabur saja pas tar pelaksanaan tes haha.  Tapi setelah merenung dan mikir, akhirnya mutusin untuk ikutan sahaja, itung-itung uji nyali deh.

Akhirnya pada hari minggu (16/08/2020), jadi juga itu tes.  diadakan di Lab kesehatan daerah, di belakang Polres.  Sesuai jadwal yang direncanakan, yaitu pada jam 09.00, maka pada ngumpul di situ, sengaja dateng pagi-pagi supaya dapet giliran awal, eh ternyata semua punya pikiran yang sama hehe.  Toh, ternyata juga kudu nunggu giliran satu jam lebih, karena yang duluan dites adalah karyawan dari Dinas Tanaman Pangan, yang mana Kepala Dinasnya wafat gara-gara virus itu :(

Menjelang jam 11, akhirnya sampai juga giliran.  Berusaha tegar padahal tetap aja deg-degan hehe.  Saya amati petugas, pake sarung tangan karet, dan ganti baru pas siap-siap ngambil sampel. Aman.

Pertama-tama, yang diambil sampel di hidung, jadi cotton bud yang panjangnya nyaris satu jengkal itu dimasukin ke lubang hidung kiri, sampai mentok, terus diputer-puter- mungkin sekitar sepuluh kali.  Rasanya? Geli aja sih, tidak semenakutkan yang dipikirkan sebelumnya.  Cuma pas kelar pengambilan sampel dan cotton bud dicabut, air mata keluar dikit, entah kenapa 

Awalnya saya pikir sampel cuma diambil di hidung, ternyata saya salah.  Masih dilakukan pengambilan sampel yang kedua, di tenggorokan.  Alatnya sama aja, pake cotton bud, cuma pake bantuan alat untuk nahan lidah. Nah, bagian ini nih saya sedikit kesulitan, maksudnya petugas yang sedikit kesulitan saat ngambil sampel.  Ternyata emang kudu sambil ngomong: Aaaaaa.. baru mulut bisa kebuka dengan bener dan sampel bisa diambil.  Sedikit ada perasaan mual, eh bukan ding, apa ya, kaya mau muntah, kala itu kapas bertangkai nyolok ke ujung tenggorokan.  Tapi sebentar aja, ga masalah juga.

Saya liat sekilas, ujung cotton bud hasil swab digunting dan dimasukin ke wadah sampel.  Jadi relatif aman lah dari kekhawatiran beberapa orang yang katanya takut pas dites malah jadi positif gara-gara prosedurnya ga bener. Lha petugas yang ngambil sampel juga pake APD kok, dan sarung tangan juga diganti tiap kali ganti orang yang diambil sampelnya.

Sudah tiga hari berlalu, hasil tes belum keluar, ya semoga saja hasilnya negatif.  Soalnya kepikiran kalo sampe positif kasian orang-orang di rumah kudu dites juga.  Jangan sampai deh. Jadi, mari menunggu dan semoga satu kantor negatif semua hasilnya. Amin.

Komentar

  1. saya di sini pernah ikutan tes PCR (Swab) juga tapi cuma tenggorokan, ngga pake yang di hidung. mungkin beda metode/alat yang dipakai. lengkapnya: https://matriphe.com/2020/05/29/menjalani-tes-pcr-swab-test-covid-19.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. ssya kok bisa kelewatan baca pas tes itu ya, kykny alatnya sama deh mas, yaitulah kyk cotton bud tapi panjang hehe semoga sehat-sehat selalu di sana, mas

      Hapus
  2. oh iya, hasilnya waktu saya langsung muncul besoknya. aku ngga tau kenapa di Indonesia bisa lama keluarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. katanya sih antriannya mas yg cukup banyak. tp kata temen sebagian sudah keluar tp blm disampaikan ke kantor

      Hapus
  3. Saya cuma pernah ikut rapid test dari kantor 2 kali dan sangat susah ketemu pembuluh darahnya sampai ditusuk lengan dan pergelangan berulang-ulang (meringis).
    Berhubung hasilnya non-reaktif jadi tidak lanjut swab lagi.
    Semangat deg-degan menunggu ya mas. Semoga hasilnya negatif. Amin 🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. rapid test sih, menurutku harusnya ga dipake lg karena hasilnya kurang akurat, tapi yaa~ mudahan dirimu tetap sehat.
      dan amin, hasilnya sudah keluar dan syukurlsh negatif. Trims doanya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang. Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.   Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike) ,  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal , tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jej

tentang HMNS

HMNS adalah  eau de perfume racikan anak Menteng, paling ngga saya tau itu dari alamat pengirimnya hehe selaku manusia yang benar-benar awam tentang wewangian, hal ini adalah benar-benar baru bagi saya.  Mulai tertarik dengan hal ini justru gara-gara beberapa kali kawan saya yang bernama Inda posting tentang koleksi parfumnya.  Walau sekali lagi, pertamakali yang namanya parfum bikin saya penasaran adalah film dengan tokoh utama Jean-Baptiste Grenouille yang jenius itu. dan kebetulan ada gerombolan yang rajin mengapdet produknya di media sosial, bikin saya penasaran dan memesan starter pack  yang berisi tiga varian produk andalannya : alpha, delta dan theta. saya yang tak begitu paham tentang esensi  top notes, middle notes, dan  base notes, akan mencoba memberikan gambaran ketiga wangi yang beberapa jam tadi saya sniff  satu-satu, dan imajinasi tentang ketiga makhluk itu pun muncul begitu saja.. alpha. adalah kalem, misterius, berkesan elegan tapi sekaligus berpotensi seba

tentang (mantan) sepeda

tulisan ini aslinya berupa thread di twitter, yang sepertinya alangkah baiknya diarsipkan juga di sini, dengan beberapa tambahan dan pengurangan kalimat dan beberapa gambar yang sempat terdokumentasikan..  mari nostalgia dg (mantan) sepeda2 saya yg tak seberapa itu.. kebetulan, sebagian besar baru bisa kebeli saat di Jogja. #1. Sepeda mtb ladies, mbuh merknya apa. Beberapa kali sempet dibawa ke kampus. Waktu make sepeda itu ga ngerti sama sekali sama setingan yg enak dll- asal bawa aja. Endingnya ilang di dpn kontrakan. Dicuri kyknya. #2. Sepeda hitam. Merknya jg mbuh. Beli sama mas bengkel- yg namanya saya lupa/ hedeh- Karangkajen. Sempat saya pikir Federal tp ternyata bukan, tp gara2 sepeda ini saya kenal dg anak2 Fedjo- federal jogja.  Itu di bawah fotonya, . saat sepedaan minggu pagi, mbonceng Thor dan bang Ai depan rektorat UGM. #3. Federal Metal Craft. Beli di bengkel sepeda di Jl. Gambiran. Beli fullbike dg setingan & groupset seadanya. Akhirnya dipake si