Langsung ke konten utama

tentang kampung hening yang sederhana

..entahlah, aku pikir kampung yang aku datangi ini adalah sebuah cermin kesederhanaan dan ketidakbegitutertarikan dengan kemewahan dunia.  Bayangkan saja, dalam jarak sekitar 80 km, sepanjang perjalanan mobil yang kutumpangi hanya berpapasan dengan kurang dari lima mobil lainnya, bayangkan itu.  Motor juga rasanya tak sampai sepuluh yang aku temui di sepanjang jalan.

Rumah-rumah penduduk yang kadang berkelompok di satu titik, lalu di beberapa ruas jalan berikutnya, adalah sepi. kanan kiri jalan hanyalah tanah berpasir yang selangseling oleh tanaman lada, kadang sawit, ada karet dan tanaman liar, tak ada sejengkal pun sawah kulihat.

Jalanan yang halus itu sepi, nyaris sepi.  Keheningan jalan yang aku nikmati.

Begitupun titik awal perjalanan, dari Tanjung Kelayang, yang pantainya berpasir halus, dan lautnya berwarna tosca, adalah kedamaian yang belum pernah aku temukan di sisi pantai manapun yang pernah aku datangi.  Batu-batu besar yang berserakan di antara batas laut dan pantai.  Damai sekali, kawan.

Dan akhir perjalanan itu bernama Gantong, nama tempat yang sebelumnya hanya pernah aku baca di novel tentang hidup seorang jenius bernama Andrea Hirata.  Ada sekilas haru saat mengunjungi replika sekolahnya: SD Muhammadiyah Gantong, dan haru yang dalam lagi, sekaligus terkagum-kagum dengan bangunan sederhana namun penuh berwarna bernama Museum Kata.

Sepertinya suatu saat aku harus kembali lagi ke tempat ini, dimana keheningan adalah keindahan.  Kesederhanaan adalah guru.  Bahwa mengingatkanku akan tak ada yang perlu dibanggakan secara berlebih di dunia ini.

Perjalanan pulang hanyalah singgah di kedai kupi di Tanjung Pandan, beberapa tempat lainnya, sampai malam tiba di sini, di penginapan yang berhias bisikan ombak yang menenangkan.

Ya Tuhan. Aku jatuh cinta dengan Belitong ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..

tentang kang Lantip

siapa sih yg ndak kenal sama blogger asal Njogja yg bernama kang Lantip kui.  Kecuali dirimu ndak kenal blog, saya sedari dulu tau tapi sungkan kenalan dengan beliau, soalnya ketoke terkenal sekali.  Tujuh taun hidup di Jogja malah tak pernah ngobrol sekalipun dengan beliau itu, lha kan nyebahi sekali saya ki, ga sopan sama tuan rumah hihi

lucunya, saya jadi bertekat ingin ketemu dengan beliau itu gara-gara kami satu pemahaman mengenai panganan bulet ijo bernama KLEPON! yang disesatkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang malah keukeuh kalau makhluk itu adalah Onde-onde, wooo ngawur.

Jadi aja, kmaren malam janjian di warung kopi, yang posisinya padahal deket dengan tempat saya tinggal dulu, tapi saya justru ga ngeh: namanya warung kopi Blandongan.  Woh kopinya ampuh tenan, mampu bikin mata saya tadi malam super cerah sampai menjelang sahur haha

Dan, sosok kang Lantip ternyata jauh dari bayangan saya, lha habisnya saya kebayang ikon gajahnya beliau je, duh nuwun s…