Langsung ke konten utama

tentang idealisme pesepeda

..ada seseorang yang tanpa jelas sebab akibatnya, tiba-tiba membuat kesimpulan bahwa " ..  sesungguhnya para pelaku sepedaan itu adalah orang-orang idealis yang sedang krisis kreativitas.."

entah berapa lama pengamatan di atas dilakukan, dan seberapa luas range pengamatan, dan yang terpenting objek yang dimaksud pesepeda yang seperti apa.  karena ini bersifat subjektif, mari melakukan kesimpulan pengamatan secara relatif subjektif juga, yang kira-kira saya lakukan sekitar empat tahunan, sejak tidak kenal apa dan bagaimana sepeda itu, selain alat transportasi yang relatif murah sebagai alternatif untuk digunakan pulang pergi dari kontrakan ke kampus, waktu itu.

sampai akhirnya, saya lumayan mengerti dan kenal dengan beberapa pesepeda dari berbagai kalangan dan berbagai tempat serta berbagai keperluan

baiklah, ada tiga kunci di pernyataan itu: 1. pelaku sepedaan, atau disingkat saja pesepeda, 2. orang-orang idealis, 3. krisis kreativitas

baiklah, mari sejenak saya uraikan hasil pengamatan saya terkait tiga kata kunci di atas.
 .

 yang pertama,
adalah pemulung dekat rumah, dengan sepeda ladies-nya, pake keranjang di depan, yang saya liat penuh dengan plastik kertas dan entah apalagi.  Saya tidak tahu idealisme apa yang ada pada dirinya, selain menggunakan sepeda untuk mengangkut benda-benda entahlah sebagai penyambung hidup, tak ada kreativitas berarti yang harus ditampakkan, selain berusaha menjejalkan segala macam benda ke keranjang depan.

pemulung itu, adalah seorang ibu-ibu yang baru saja ditinggalkan suaminya, dan pemilik beberapa ekor anjing yang dulu sama-sama menghuni gubuknya yang baru saja dibongkar karena tergusur rencana pembangunan entah apa, yang mengharuskannya sekarang ngontrak.  Jadi fungsi sepeda bagi beliau, sepanjang pengamatan saya, adalah penunjang kegiatannya mencari uang dari aktivitasnya memungut benda-benda yang mungkin masih bisa didaur ulang, dari bak sampah di pinggir jalan, yang itu-itu saja.

idealiskah beliau? entahlah
krisis kreativitaskah beliau? mungkin, itu dikarenakan mungkin karena belum ada pilihan yang lebih baik untuk bertahan hidup.
/

yang kedua,
adalah paman saya sendiri, yang juga menggunakan sepeda ladies, yang entah merknya apa saya tahu, yang jelas single gear, pedalnya sudah tidak begitu konsisten dengan kedudukannya, remnya sudah memprihatinkan, dan usianya sudah uzur, maksud saya sepedanya, walaupun paman saya pun begitu, tapi itu di luar konteks.

paman menggunakan sepeda, sebagaimana sejatinya sepeda, untuk mengitari kampung, selain jalan kaki, karena sepanjang pengetahuan saya, beliau tidak bisa naik kendaraan bermotor.  Mungkin juga sepeda itu pernah beliau bawa sampai ke pematang sawah, mengingat kondisi sepeda yang begitu lumayan parah dan tampaknya tidak pernah dirawat dengan lumayan baik.

Sepeda itu benar-benar menjalan fungsinya secara maksimal sebagai alat angkut manusia, tunggal.  Lalu, paman saya itu, idealiskah? tidak, mungkin beliau malah tidah tahu apa arti kata idealis.

lalu krisis kreativitas kah beliau?  kalau kata kreatif dikaitkan dengan kemampuan dalam menciptakan hal-hal baru, perspektif baru dalam memandang sesuatu. Mungkin tidak, tapi kreativitas beliau dalam menjalani hidup beliau yang relatif monoton, bisa dibilang iya.  Tapi saya tak pernah mampu berdiskusi dengan beliau tentang pandangan hidupnya, tapi mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan beliau, itu lebih dari sekedar kreatif semu menurut saya.
/

yang ketiga,
adalah  pemilik bengkel sepeda sekaligus pemilik persewaan sepeda, ahli anatomi sepeda segala macam jenis, penggemar sepedaan jarak jauh dan sering dijadikan ahli mekanik dalam beberapa kegiatan bersepeda yang dilakukan oleh klub sepeda.

Dia ini, pebisnis sepeda tulen, koleksi sepeda sewaannya mungkin sekitar empat puluh lebih.  Di sisi lain, dia kemampuannya dalam service dan seting sepeda, jenis apapun, rasanya belum saya temui tandingannya.  Seni memperbaiki sepeda, sudah dikuasainya sejak masa sekolah menengah pertama.

Seusai menamatkan masa SMA, dia tak tertarik dengan masa kuliah, justru fokus dengan bisnis sepedanya, dan mampu menghidupi dirinya.  Sementara kemampuan bersepedanya, belum ada tandingannya juga, bersepeda ratusan kilometer adalah biasa saja.

Idealisme pesepeda yang satu ini jelas: sepeda adalah hidupnya, dan sama sekali jauh dari kata krisis kreativitas, kalau tidak kreatif bagaimana bisa hidup hanya dari sepeda.  Dan jelas kehidupannya sehari-hari jauh lebih kreatif dari manusia kantoran yang cuma mikir rutinitas kerja yang relatif membosankan sambil sesekali mikir kapan gaji naik dan terkadang juga memikirkan tagihan kredit tiap bulan.
/

yang keempat,
adalah seorang pebisnis ekosistem, anggap saja demikian, seorang ilmuwan, peneliti, pembicara, sekaligus penggemar sepeda bermacam jenis: lipat, DH, touring.. sekaligus penyelam yang handal.

lelaki gagah ini, bisa dibilang menganggap sepeda adalah salah satu bagian dari hidupnya, paling tidak, mungkin adalah untuk mengisi jeda dan celah dalam rutinitasnya yang bisa dibilang sangat padat.  Ngobrol saja tentang sepeda, atau tentang bidang ilmu lain yang dikuasainya, pasti akan ditanggapi dengan antusias dengan tetap rendah hati, salah satu ciri khasnya.

Idealiskah dia? Iya, sangat.  Apalagi terkait dengan lingkungan dan ekosistem.
Adakah krisis kreativitas pada dirinya? Silakan menyimpulkan sendiri kalau suatu saat bisa ngobrol dengannya, dan silakan malu kalau ternyata menemukan kenyataan bahwa jalan hidup yang dijalaninya memang bikin malu orang yang jalan pikirnya terlalu sederhana, seperti saya misalnya hehe.
/

yang kelima,
adalah seorang dosen dari universitas peringkat satu di negeri ini saat ini, yang bahkan di ruangannya tersedia sepeda lipat yang bisa digunakan kapan perlu, selain sepeda gunung, yang sering digunakannya  kapan sempat, terutama saat akhir pekan.

profesinya menuntut pola pikir yang sistematis dan metodis, mungkin hal itu salah satunya yang membuatnya lebih senang menapaki anak-anak tangga menuju lantai empat tempat kantornya berada, dibanding naik lift.  Silakan menghubungkan sendiri pernyataan pertama dan kedua itu.

Haruskan ditanyakan lagi soal idealis dan kreativitas beliau? Saya pikir tidak. Begitu juga dengan satu rekan seprofesinya, yang ruangannya berseberangan gedung, yang juga memarkirkan salah satu sepedanya di sudut tangga kampus.
/

yang keenam,
singkat saja, sepasang suami isteri yang berniat naik haji dengan sepeda tandem, seorang dokter yang pengalamannya bersepeda jauh lintas negara, pejabat bank sekaligus pengusaha yang ngantor dengan sepeda klasiknya, pegawai salah satu kementerian yang masih setia ngantor dengan sepeda lipatnya, ahli geografi yang sekaligus pemilik perusahaan sepeda independen yang punya desain frame sendiri, seorang ahli sejarah sepeda, dokter gigi yang tak bisa lepas dari sepeda-sepedanya, pesepeda tangguh di segala medan sekaligus pemilik bisnis part sepeda onlen dan admin web yang mengulas sepeda, seorang lelaki dengan sepeda apa adanya yang pernah keras kepala balapan dengan saya di jalan gejayan, anak muda ahli desain yang keukeuh dengan sepeda lipat ban 16 inchi nya, penggiat sepeda yang satu kakinya tak lagi normal, pemilik kafe yang menjadikan sepeda bagian dari jiwanya, seniman yang senang bersepeda nyari tanjakan, ahli IT yang juga arkeolog yang menikmati setiap perjalanan bersepedanya...

dan masih banyak lagi.

silahkan simpulkan sendiri soal idealisme pesepeda dan kreativitas dari hidup mereka..

saran saya, sebelum mengambil kesimpulan atas sesuatu, apalagi terkait idealisme, cobalah sedikit buka panca indera, perbanyak pengalaman, perluas pertemanan, perdalam pengamatan, biar apa?

pikirin dan jawab sendiri lah, biar sedikit lebih kreatif ..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu