Langsung ke konten utama

P.N.S hari 3

Saya lupa persisnya di SPBU alias POM bensin mana bermalam di hari kedua itu, yang saya ingat tidurnya di teras samping kantor dengan beralaskan jas hujan yang dingin, selain itu banyak nyamuk ganas, untung dikasih autan sama seorang bapak yang naik motor dan singgah istirahat disitu juga di tengah perjalanannya menuju pulau Sulawesi.

Sehabis sholat subuh, saya kembali pelan-pelan beranjak, masih ada sisa sekitar 170 km lagi menuju kota Surabaya, sembari memutuskan di jalan nanti nyeberang ke kampung naik apa, saat itu masih labil mutusin antara naik kapal laut atau naik pesawat.  Yang mana kalau naik kapal laut, masih perlu waktu sekitar 24 jam lagi nyeberang dan sesampai di pelabuhan pun masih ada jarak sekitar 40 km sebelum sampai rumah.  Sementara kalau pakai pesawat hanya perlu waktu sekitar satu jam dan jarak antar bandara dan rumah cuma sekitar 9 km.

Mengayuh dengan kecepatan sedang, sembari beberapa kali berhenti di minimarket untuk istirahat dan beli minum, akhirnya sehabis ashar saya sampai di Jombang, tempat Thor, si sulung sekolah.  Mengunjunginya sebentar di asramanya dan sowan sama ustadz yang biasa dipanggil Gus Hasyim.  Lalu singgah istirahat lagi sampai waktunya sholat maghrib di masjid deket pesantren.  Setelah itu kembali gowes lagi, jarak yang tersisa kalau tidak salah sekitar 70-an km lagi.

Memasuki Mojokerto akhirnya diputuskan untuk sebisanya sampai di Surabaya malam itu juga, badan yang basah untuk keringet merayu manja untuk bisa mandi air hangat sesampainya di tujuan.  Sepeda pun dikayuh rada ngebut pakai gir tertinggi di beberapa ruas jalan, walau beberapa kali harus menurunkan kecepatan karena keadaan jalan yang agak bergelombang dan kadang berlobang di beberapa titik, ditambah dengan bis dan truk yang kadang tak mau mengalah.

Akhirnya sekitar jam sebelas malam berhasil memasuki kota pahlawan, lalu mampir sejenak membuka aplikasi di henpon untuk memesan penginepan, sampai akhirnya touchdown di hotel sekitar Jemursari sekitar jam setengah dua belas malam.

Sepeda di parkir di samping hotel, muatan berupa satu backpack dan tas kecil diturunkan dari rak belakang, check in dan langsung menggenapi niat: mandi air hangat... lalu istirahat..


Komentar

  1. Jadi pengen tau, kenapa lewat tawangmangu mas kok ndak muter saja lewat jalan yang lebih landai?

    BalasHapus
  2. 1. Karena emang sdh niat sejak lama, pernah 2 kali ngepit ke tawangmangu tp blm pernah sampai ke cemorosewu
    2. Lewat jalan landai (palur-sragen-ngawi) jalak relatif lurus, landai tp rusak dan full debu, asap, bis & truk. Via cemorosewu nanjak tp jalan lebih bagus & udara lebih seger & relatif lebih sepi. Selain itu lepas cemorosewu bonus turunannya jg banyak

    Demikianlah mas hehe

    BalasHapus
  3. Lha njuk kabare Denmas Brindhil gimana? Ya dianya juga sampai ke Surabaya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. denmas Brindhil balik ke Jogja sesampainya di Cemoro Sewu mas

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..

tentang kang Lantip

siapa sih yg ndak kenal sama blogger asal Njogja yg bernama kang Lantip kui.  Kecuali dirimu ndak kenal blog, saya sedari dulu tau tapi sungkan kenalan dengan beliau, soalnya ketoke terkenal sekali.  Tujuh taun hidup di Jogja malah tak pernah ngobrol sekalipun dengan beliau itu, lha kan nyebahi sekali saya ki, ga sopan sama tuan rumah hihi

lucunya, saya jadi bertekat ingin ketemu dengan beliau itu gara-gara kami satu pemahaman mengenai panganan bulet ijo bernama KLEPON! yang disesatkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang malah keukeuh kalau makhluk itu adalah Onde-onde, wooo ngawur.

Jadi aja, kmaren malam janjian di warung kopi, yang posisinya padahal deket dengan tempat saya tinggal dulu, tapi saya justru ga ngeh: namanya warung kopi Blandongan.  Woh kopinya ampuh tenan, mampu bikin mata saya tadi malam super cerah sampai menjelang sahur haha

Dan, sosok kang Lantip ternyata jauh dari bayangan saya, lha habisnya saya kebayang ikon gajahnya beliau je, duh nuwun s…