Langsung ke konten utama

Postingan tiga babak

Di satu sisi, saya ingin bercerita banyak tentang hari-hari di bulan-bulan terakhir ini.  Tapi, di sisi lainnya saya kehabisan cara untuk menceritakannya.

Mungkin yang pertama, saya lelah melihat berita-berita, baik di media mainstream maupun sosial media yang berisik itu.  Berita negatif selalu berakibat tidak baik untuk pikiran, paling tidak untuk pikiran saya yang sudah tidak terlampau baik.  Saya pikir, ada yang ingin di dengar tapi malas untuk mendengar.  Ada yang ingin lantang berbicara tapi tak ingin membiarkan orang lain ikut bicara.  Ada yang ingin dilihat tapi menutup mata untuk orang lain.  Ada yang ingin dihargai pendapatnya, tapi berpikir sinis terhadap pendapat orang lain.  Gitu aja terus sampe tahun depan.  Dan tahun depannya lagi, dan lagi.

Yang kedua.  Saya semakin kesulitan menemukan bahan bacaan berupa tulisan-tulisan di blog yang bagus dan nyaman untuk dibaca.  Sementara feedreader saya rasanya semakin hari semakin sepi.  Tak bagus untuk saya yang suka kepo dengan kehidupan kawan-kawan saya haha.  Tapi ya maklum, sekarang (lagi-lagi) lebih mudah berbagi cerita di sosial media.  Blog memang hanya trend sesa(a)t bagi banyak orang.  Kalaupun ada yang sering apdet, kadang-kadang isinya hanya sampah iklan, terang-terangan maupun terselubung. 

Ada pula beberapa yang rajin berbagi postingan-postingan basi, aduh tolong lah, jangan bikin saya ketipu berkunjung hanya untuk melihat tulisan lama yang disebar ke sosial media dengan aplikasi, entah untuk apa.  Lagian kan ada plugins/gadget bernama arsip di sidebar.  Sungguh ini menyebalkan saya, walaupun ya terserah yang punya blog, mau nyebarin postingan yang manapun, tapi kan terserah saya untuk sebal akan hal itu haha

Tapi, sekali lagi itu hak semua orang untuk menuliskan apa saja di blognya, saya saya sering enggan membacanya.  Egois memang.  Sementara tulisan saya pun semakin hari seperti tak ada kemajuan, eh memang apa yang diharapkan dari postingan di blog selain tentang keseharian.

Yang ketiga.  Saya pikir saya harus lebih belajar mikir lebih sistematis lagi, berusaha mengurangi berpikir dan berbuat secara random.  Ah entahlah.  Padahal masih banyak mimpi yang belum terwujud: benerin rumah, bikin buku, dan yang terpenting menyelesaikan misi dengan elegan.

Itu saja, sudah azan isya dan saatnya nonton bola, Indonesia vs Vietnam.

Komentar

  1. LAH PUNYAKU TERMASUK KATEGORI YANG MANA OOOOM??????????????
    #CeritanyaInsekyur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisanmu masuk kategori must read, nona :D

      Hapus
  2. Sedih juga banyak teman-teman lama blog yang kini lebih sering posting iklan dan paid review. Memang kesempatan sih, banyak tawaran lumayan untuk penghasilan tambahan.

    Setuju sama paragraf 4. Dipikir ada update, ternyata postingan tahun 2006. Tapi kalo dipikir-pikir, para aktivis blogger jaman dulu sudah pada pensiun yah, apa karena sekarang sisi komersilnya pindah ke media sosial?

    BalasHapus
  3. Mungkin begitu, wah saya tiba2 benci dgn pak Roy Suryo kalo ucapan beliau jd nyata haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu