Langsung ke konten utama

Lagi-lagi ke Cinomati lagi

Ada sesuatu yang membuat otakku rasanya buntu dan beku beberapa hari terakhir.  Akhirnya aku putuskan untuk sedikit mencairkannya dengan cara menyiksa diri di tanjakan hehe

Setelah beberapa waktu lalu sepeda rivera terrain saya berhasil dirakit kembali dengan bantuan mas Rofi, dalam artian sebenarnya, karena selain tidak dikenakan biaya service, yang ada malah beberapa spare partnya boleh aku pakai dengan cuma-cuma.  Duh memalukan sekali mahasiswa kurang modal iki.

Tapi yasudahlah,  Saya sudah gatel pengen kembali reuni dengan tanjakan edan itu sejak kemarin,  minggu kemarin gagal kesitu karena lupa jalan kesananya.  Akhirnya kemarin saya coba lagi, dan kembali nyasar, untunglah bisa kembali ke jalan yang benar.

Kali ini, benar-benar dengan modal seada-adanya.  Kombinasi Crank oval 48-38-28 dengan sprocket 7 speed 11-28 benar-benar sangat tidak ideal untuk mendaki tanjakan sejahanam cinomati :|  Apalagi gir paling ringan itu sangat bandel, dengan RD seadanya harus diakalin dengan memencet shifter kuat-kuat kalau tidak mau lepas turun ke gear di bawahnya.  Saya lelah.  Saya tiba-tiba rindu pedal cleat, gear 32 dan crank octalink, ahsudahlah

Sempat putus asa setelah sampai di puncak tanjakan legendaris itu, yang saya capai dengan susah payah, setengahnya dilalui dengan menuntunnya.  Cukup lama ngaso, leyeh-leyeh disitu sebelum kembali menuntunnya ke atas, ke bagian yang cukup datar untuk bisa digowes kembali.


IMG_20160903_101711_HDR

Kembali menemui beberapa ruas tanjakan yang kali ini terasa lebih berat dibanding yang lalu-lalu, mungkin karena menjalaninya sendiri #halagh.  Sampai-sampai kembali harus menuntun dan mendorong sepeda beberapa puluh meter sebelum memutuskan untuk memaksakan diri menaikinya, hingga akhirnya sampai di tikungan tajam berbentuk huruf U yang artinya episode tanjakan berat sebentar lagi usai.

IMG_20160903_105854_HDR

Dan syukurnya, di ujung tanjakan itu, ada warung soto yang katanya baru satu bulan buka.  Alhamdulillah.  Semangkok soto rasanya cukup untuk kembali memenuhi panggilan jalan.  Saya pikir begitu, tapi lha kok malah tergoda saat melewati warung jus yang dulu pernah saya sambangi bersama mas Radith, mas Andi dan Revo beberapa tahun yang lalu.   Segelas besar jus jeruk seharga tigaribu rupiah ditambah gorengan yang harganya dua rebu tiga cukup memuaskan napsu minum dan makan yang menggila di siang itu.

the

Kembali pelan-pelan mengayuh pedal, muncul di perempatan Patuk, untuk kembali ke arah Jogja yang siang itu begitu panasnya.  Tak terasa perjalanan kali ini begitu lelah dan lamanya. Kurang lebih enam jam dihabiskan begitu saja.  Luar biasa.

Belum cukup begitu saja, barusan tadi pagi saya bermaksud cooling down ke warung ijo pakem, dan kaki dan lutut kok rasanya lemas, lebih letih dari biasanya, mungkin akibat dihajar tanjakan kemarin.  Ya ya mungkin dua tiga hari harus istirahat dulu sementara.

Komentar

  1. cinomati ini merupakan jalan alternatif saya bila ke jogja, jalau jalan jogja wonosari yang standar sedang macet di kala liburan, hehe

    tapi ngeri sangat, apalagi bila malam hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba sesekali arah kebalikannya mas. lebih ngeri hehe

      Hapus
  2. Kalau ngomongin tanjakan yang mumpuni versi saya, di Stasiun KRL Universitas Indonesia ada jembatan penyeberangan yang dijuluki "jembatan aborsi" sama anak-anak mahasiswa, Om, saking curam dan terjalnya tanjakan. Tinggi banget pula. Lumayan banget olahraganya. Naik anak tangga pertama masih cantik, turun anak tangga terakhir udah basah kuyup kayak kecebur sungai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. istilahnya sangar :| bwt aku pnasaran padahal pengen mampir di stasiun UI, tp mesti cuma lewat doang hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu