+ -

Pages

Minggu, 04 September 2016

Lagi-lagi ke Cinomati lagi

Ada sesuatu yang membuat otakku rasanya buntu dan beku beberapa hari terakhir.  Akhirnya aku putuskan untuk sedikit mencairkannya dengan cara menyiksa diri di tanjakan hehe

Setelah beberapa waktu lalu sepeda rivera terrain saya berhasil dirakit kembali dengan bantuan mas Rofi, dalam artian sebenarnya, karena selain tidak dikenakan biaya service, yang ada malah beberapa spare partnya boleh aku pakai dengan cuma-cuma.  Duh memalukan sekali mahasiswa kurang modal iki.

Tapi yasudahlah,  Saya sudah gatel pengen kembali reuni dengan tanjakan edan itu sejak kemarin,  minggu kemarin gagal kesitu karena lupa jalan kesananya.  Akhirnya kemarin saya coba lagi, dan kembali nyasar, untunglah bisa kembali ke jalan yang benar.

Kali ini, benar-benar dengan modal seada-adanya.  Kombinasi Crank oval 48-38-28 dengan sprocket 7 speed 11-28 benar-benar sangat tidak ideal untuk mendaki tanjakan sejahanam cinomati :|  Apalagi gir paling ringan itu sangat bandel, dengan RD seadanya harus diakalin dengan memencet shifter kuat-kuat kalau tidak mau lepas turun ke gear di bawahnya.  Saya lelah.  Saya tiba-tiba rindu pedal cleat, gear 32 dan crank octalink, ahsudahlah

Sempat putus asa setelah sampai di puncak tanjakan legendaris itu, yang saya capai dengan susah payah, setengahnya dilalui dengan menuntunnya.  Cukup lama ngaso, leyeh-leyeh disitu sebelum kembali menuntunnya ke atas, ke bagian yang cukup datar untuk bisa digowes kembali.


IMG_20160903_101711_HDR

Kembali menemui beberapa ruas tanjakan yang kali ini terasa lebih berat dibanding yang lalu-lalu, mungkin karena menjalaninya sendiri #halagh.  Sampai-sampai kembali harus menuntun dan mendorong sepeda beberapa puluh meter sebelum memutuskan untuk memaksakan diri menaikinya, hingga akhirnya sampai di tikungan tajam berbentuk huruf U yang artinya episode tanjakan berat sebentar lagi usai.

IMG_20160903_105854_HDR

Dan syukurnya, di ujung tanjakan itu, ada warung soto yang katanya baru satu bulan buka.  Alhamdulillah.  Semangkok soto rasanya cukup untuk kembali memenuhi panggilan jalan.  Saya pikir begitu, tapi lha kok malah tergoda saat melewati warung jus yang dulu pernah saya sambangi bersama mas Radith, mas Andi dan Revo beberapa tahun yang lalu.   Segelas besar jus jeruk seharga tigaribu rupiah ditambah gorengan yang harganya dua rebu tiga cukup memuaskan napsu minum dan makan yang menggila di siang itu.

the

Kembali pelan-pelan mengayuh pedal, muncul di perempatan Patuk, untuk kembali ke arah Jogja yang siang itu begitu panasnya.  Tak terasa perjalanan kali ini begitu lelah dan lamanya. Kurang lebih enam jam dihabiskan begitu saja.  Luar biasa.

Belum cukup begitu saja, barusan tadi pagi saya bermaksud cooling down ke warung ijo pakem, dan kaki dan lutut kok rasanya lemas, lebih letih dari biasanya, mungkin akibat dihajar tanjakan kemarin.  Ya ya mungkin dua tiga hari harus istirahat dulu sementara.

5 blog auk: Lagi-lagi ke Cinomati lagi Ada sesuatu yang membuat otakku rasanya buntu dan beku beberapa hari terakhir.  Akhirnya aku putuskan untuk sedikit mencairkannya dengan car...

6 komentar:

  1. cinomati ini merupakan jalan alternatif saya bila ke jogja, jalau jalan jogja wonosari yang standar sedang macet di kala liburan, hehe

    tapi ngeri sangat, apalagi bila malam hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba sesekali arah kebalikannya mas. lebih ngeri hehe

      Hapus
  2. Kalau ngomongin tanjakan yang mumpuni versi saya, di Stasiun KRL Universitas Indonesia ada jembatan penyeberangan yang dijuluki "jembatan aborsi" sama anak-anak mahasiswa, Om, saking curam dan terjalnya tanjakan. Tinggi banget pula. Lumayan banget olahraganya. Naik anak tangga pertama masih cantik, turun anak tangga terakhir udah basah kuyup kayak kecebur sungai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. istilahnya sangar :| bwt aku pnasaran padahal pengen mampir di stasiun UI, tp mesti cuma lewat doang hehe

      Hapus

< >