Langsung ke konten utama

Saya jarang bercanda soal sumber tulisan

Jadi, sesederhana apapun tulisan orang lain, sesedikit apapun, kalau dibagi-bagikan tanpa menyebutkan sumbernya, rasanya kurang etis.  Jadi biarpun teman, siap-siap saja saya iseng protes kalau pas iseng ngebagikan apapun tanpa sumber yang jelas, terutama di media sosial yang terbuka, semacam fesbuk dan twitter.

Jikalau becandaan di grup whatsap misalnya, olehlah saya masih bisa maklum karena sudah sama-sama maklum kalo tulisan/gambar yang dibagi biasanya sudah hasil kopi paste entah yang ke berapa kali.  Tapi biasana pun, tulisan yang dibagi toh seringkali sudah nyebutin sumbernya juga.

Duh, pagi ini saya terlalu serius tampaknya, mungkin efek dari..ahsudahlah..padahal langit sedang cerah.


Komentar

  1. ada yg bilang kalau penulis ga akan kelihatan pinter jika menyembunyikan sumbernya dan ga bakal terlihat bodoh jika menyantumkan sumber tulisan.

    BalasHapus
  2. wah saya baru baca jargon itu, boleh juga tuh..

    BalasHapus
  3. saya pernah baca tulisan di facebook. yang buanglah jauh dvd drama korea karena mas-mas nyata ga kayak drama korea. baca postingan pertama jauh sebelum RK share. dan viral setelah RK share orang yang baca setelah RK share pada nyantumin itu tulisan RK. Mau komen ngebenerin saya kok sudah males duluan ya om. =))))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu