Dan Bandung
Buku ini benar-benar di luar radarku. Biasanya aku selalu tahu kalau ada buku karya kang Pidi Baiq yang terbaru terbit. Kemarin tak sengaja menemukan novel berjudul Dan Bandung ini di Gramedia di kotaku. Setelah aku lihat penulisnya, ternyata hasil karya keroyokan kang Pidi bersama beberapa orang yang aku tak kenal.
Dari judulnya, memang kentara, penggagasnya tentu saja kang Pidi yang cinta mati sama kota kembang itu. Paling tidak keliatan dari beberapa karya tulisnya yang berlatar kota Bandung.
Dan Bandung sendiri, berlatar dua kota: Bandung dan Belanda. Tokohnya adalah kang Basil, yang karena masa lalunya, memutuskan meninggalkan Bandung untuk menetap di Belanda, mengelola restoran dengan menu nusantara, sesuai namanya: Hollandia Nusantara. Rumah makan yang kadang jadi semacam basecamp urang Bandung di perantauan yang bernama Jong Bandung.
Hidup kang Basil bersama Ruth, anak owner restoran tersebut, cukup damai saja, paling tidak berhasil mengubur kisah masa lalunya di Bandung. Sampai muncul seorang perempuan cantik bernama Nadine. Wajah dan perilakunya mengingatkan Basil pada seseorang di masa lalunya, yang menjadi penyebab dia memilih meninggalkan kota kelahirannya tersebut.
Kisah pun dipaksa mundur ke tahun 2005, ke masa Basil bertemu dengan seseorang bernama Elma, seorang Bidadari Bobotoh saat kuliah di ITB. Seseorang yang memberikan harapan sekaligus menenggelamkan masa depannya karena hal yang absurd dan naif: status sosial.
Sebuah rahasia yang sebenarnya bisa ditebak di pertengahan kisah novel sebanyak 331 halaman ini pun akhirnya menemukan komprominya di akhir kisah. Ending yang bikin aku geregetan sih hehe. Tapi ya itulah maunya para penulis dan pencipta plot cerita ini.
Alurnya bisa dikatakan cukup menarik, beberapa titik tempat di Bandung dan Belanda yang memiliki arti masing-masing memberikan warna yang membuat penasaran untuk dijelajahi suatu waktu.
Terus terang ada warna kang Pidi Baiq di kisah ini tentu saja, tapi ditulis oleh beberapa orang yang cara menulisnya lebih "sopan" dan "lurus" dibanding tulisan kang Pidi yang biasanya penuh belokan cukup tajam.
Begitulah.


Komentar
Posting Komentar