Menyesal Fender
Gara-gara nonton podcastnya Dewa Budjana dan Baim (ex Ada Band), dan sampai pada bagian koleksi gitar Fender bapaknya. Aku tiba-tiba teringat ke masa sekolah, saat itu sok-sokan belajar ngeband apa adanya.
Isi studio band sekolahku waktu itu tak main-main. Sound pake Marshall, gitar dan bass pake Fender, drumnya lupa. Hanya keyboard aja yang mengenaskan, karena cuma pake merk apa aku juga lupa. Kata guru yang ngajarin dulunya keyboard aslinya dulu merk bagus, tapi hilang. Jadinya diganti yang apeknya pas-pasan.
Sialnya, saat awal ngeband, semua posisi sudah diisi kawan-kawanku, kecuali keyboard. Jadilah kupaksa megang itu seala-adanya, dalam artian sebenarnya haha payah. Tapi ajaibnya kami sok-sokan menciptakan beberapa lagu sendiri yang akhirnya dibawakan saat acara malam perpisahan kakak kelas.
Nah, kembali ke Fender. Gitar yang biasa dipakai itu Fender Stratocaster warna merah. Tapi aku masih ingat ada teronggok satu Fender lagi warna hitam putih. Lama ga ada yang tergerak untuk mendayagunakannya. Aku juga ga kepikir untuk memperbaikinya saat itu.
Akhirnya ga punya gitar elektrik sama sekali, sampai akhirnya kuliah kembali nekat ikutan ngeband sama kawan-kawan. Tentu saja skill gitar ga berkembang, salah satunya karena ga ada pegangan gitar. Biasa cuma pegang gitar akustik aja untuk sekedar genjreng-genjreng. Itupun pinjaman.
Ga kepikir juga untuk beli, pernah ditawarin seorang kawan. Tapi dulu keuangan ga memungkinkan untuk memiliki gitar hehe. Padahal kan paling tidak sangat perlu untuk belajar fingering.
Jadi, ya begitulah. Tak punya fender, tak punya gitar, tak punya skill. Itu gara-gara kebanyakan mikir hehehe
Terakhir-akhir ini aku malah pengen punya Telecaster, lama sih pengen itu gara-gara nonton film Freaky Friday.


Komentar
Posting Komentar