Catatan Sehabis Trail Run
Akhirnya jadi juga mengikuti trail run perdana kemarin. Sesuai rencana mengikuti kategori 35K dengan COT 10,5 jam.
1. Start - WS 1
Panitia disiplin dengan waktu. Ini menyenangkan. Start benar-benar dimulai dari jam 1.30 sesuai rencana. 1 kilometer pertama masih dimanjakan dengan aspal sampai akhirnya penderitaan dimulai di belokan pertama.
Tanjakan pertama yang harus dihadapi luar biasa terjal. Sampai-sampai beberapa titik harus dilalui dengan berpegangan pada webbing yang sudah disiapkan panitia. Napas nyaris tak bisa diatur dengan baik.
Lepas tanjakan terjal, disambut lagi dengan beberapa tanjakan dan turunan berbatu. Sampai akhirnya tiba di jalan aspal menjelang water station 1 di sekitar km. 10
2. WS 1 - WS 2
Selepas WS 2. Hanya beberapa ratus meter sudah harus keluar jalur aspal, kembali naik bukit Pamaton. Waktu sudah menunjukkan waktu sekitar 04.49 pagi.
Aku termasuk rombongan yang paling belakang. Usai sudah fase berlari, sejak pertengahan etape pertama kebanyakan dilalui dengan berjalan kaki. Untungnya bertemu beberapa kawan seperjalanan yang asik, jalan kaki juga tapi stabil. Bedanya mereka sudah lebih terlatih ikutan trail run.
Di tengah perjalanan menyempatkan sholat subuh. Setelahnha kembali pelan-pelan menyusuri rute yang selang seling tanjakan dan turunan yang berbatu, sedikit licin, kadang dihiasi rombongan salimbada (Lasius fuliginosus) yang sempat nyasar masuk ke dalam sepatu kiri. Pedes!
Hari sudah menjelang pagi saat sudah mendekati WS 2. Tanjakan yang nyaris tak habis-habis terobati dengan pemandangan langit berkabut di tebing tahura. Akhirnya sekitar jam 6 pagi sampai di WS 2 yang juga sekaligus batas COP (cut off point) di km 19.5.
3. WS 2- WS 3
Setelah mampir mengisi ulang air, memakan sepotong ubi dan beberapa potong semangka. Perjalanan dilanjutkan lagi. Masuk jalur aspal sebentar sebelum memasuki area puncak tahura yang turunannya sungguh brutal bagiku. Turunan panjang yang dihiasi bebatuan berserakan yang tak habis-habis sungguh mengganggu ritme perjalanan.
Di rute inilah keliatan bedanya antara yang biasa latihan trail run dan yang tidak. Aku sangat lambat di sini. Ragu dengan langkah dan jalur yang ada menjadikan langkahku semakin lambat. Padahal lambat di turunan berakibat kurang baik pada otot kaki dan paha yang harus lebih lama menahan beban tubuh.
Lepas turunan panjang, kudu masuk hutan dan disambut dengan turunan dan tanjakan yang tak habis-habis. Akhirnya kudu stop menyemprotkan pereda nyeri di kaki. Sempat masuk jalur aspal lagi sebentar sebelum harus keluar jalur lagi masuk ke jalur perbukitan
Waktu-waktu terakhir menuju ws 3 adalah siksaan yang sebenarnya. Kombinasi tanjakan dan turunan yang berbatu ditambah dengan terik matahari yang bersinar tanpa ampun. Ditambah sedikitnya vegetasi di antara kilometer 25-30 mengakibatkan langkah semakin pelan. Beberapa kali harus singgah mendinginkan diri di bawah pepohonan yang tak seberapa ada.
Sampai akhirnya jam 11.00 sampai di ws 3 atau di kilometer 31. Perjalanan aku putuskan untuk dihentikan saja. Selain panas matahari yang tak bersahabat. Sisa waktu 1 jam aku pikir juga tak akan bisa menyelesaikan sisa 4 kilometer menuju finish.
Apalagi ternyata peserta yang tiba di ws 3 sebelum aku juga tak lagi diperbolehkan melanjutkan perjalanan oleh panitia. Belakangan baru ada pemberitahuan bahwa memang ada pemotongan waktu COT karena cuaca yang tak lagi mendukung dan panitia tak ingin terjadi apa-apa dengan peserta. Keputusan yang bijak
Jadi begitulah, cerita perjalanan trail run perdana kemarin. Ada beberapa catatan selama berlari kemarin.
- Kudu belajar membaca maps pakai file .gpx yang dibagikan panitia. Kemarin terbukti menghindarkan dari dari kejadian nyasar di jalur. Aku juga baru belajar membaca maps tersebut di jam tangan beberapa saat sebelum race.
- Perlengkapan yang dibawa benar-benar kudu diperhatikan, bagiku yang terpenting adalah senter kepala alias headlamp dan water blader yang sangat membantu karena jarak antar ws cukup jauh sekitar 10 km.
- Bagi peragu akan turunan seperti aku, kudu latihan berlari atau berjalan cepat di turunan (down hill). Mungkin lain waktu aku akan pelan-pelan melatih hal tersebut.
- Fueling juga tak kalah penting. Kemarin aku mencoba disiplin mengkonsumsi kurma setiap 5 kilometer dan energy gel tiap 10 km. Syukurlah hal tersebut berhasil menjaga tenaga tetap terjaga sepanjang jalur.


Gass coba lagi tahun depan!
BalasHapussyap!
Hapus