tentang SPP


.. selepas SMP, aku ingin masuk SMEA (sekarang SMK), karena rasanya aku menyenangi hal-hal yang berbau-bau manajemen. Tapi ternyata abah bersikeras agar meneruskan sekolah menengah yang aku tak pernah dengar sama sekali sebelumnya.

Nama sekolahnya adalah Snakma yang merupakan akronim dari sekolah peternakan menengah atas.  Entah atas dasar apa abah menginginkan aku sekolah di situ, sampai sekarang masih jadi misteri.  Aku bersikeras tetap ingin mendaftar di SMEA, tapi juga mendaftar di Snakma karena menghormati keinginan abah.  Nilaiku yang cukup tinggi saat itu menyebabkan aku diterima di dua sekolah tersebut, dulu penilaian masuk sekolah hanya berdasarkan NEM semata.

Padahal sekolah yang berjarak 50 km dari rumah itu sedari awal sudah membingungkan, karena namanya sudah berubah menjadi SPP (sekolah pertanian pembangunan) yang pengelolaannya di bawah Departemen Pertanian.

Akhirnya aku pun terpaksa memulai hidup baru di sekolah itu.  Masuk asrama yang lokasinya di tengah-tengah kompleks kampus sekolah, satu kamarnya berisi empat orang.  Mengikuti ospek yang nyaris tak berperikesiswaan, dan menjalani keseharian yang rasanya cukup berat untuk lulusan SMP yang masih kinyis-kinyis waktu itu. 

Karena kudu masuk asrama dan jarak rumah lumayan jauh dari rumah, otomatis hidup terpisah dari orang tua sejak dini, dan pulang kampung pun hanya beberapa bulan sekali saja.

Kelas satu sudah diisi banyak kegiatan lapangan.  Senin sore adalah mengerjakan petak di kebun rumput, membersihkan lahan dan mencangkul hingga siap ditanami rumput untuk pakan sapi.  Rabu adalah saatnya membersihkan area seputar kampus sekolah, lagi-lagi berurusan dengan cangkul mencangkul. Aku lupa ada satu hari lagi yang mengharuskan akrab dengan kerja bakti.

Hidup di asrama ya begitulah, asramaku bernama Limousin, nama sapi yang besar dan hitam.  Isinya sekitar 10 kamar. Satu kamar dihuni 2-4 orang. Makan tiga kali sehari di ruang makan depan asrama. Menu makanan tergantung musim.  Kalau lagi musim ikan, bisa-bisa nyaris sebulan menunya adalah ikan peda.  Pernah juga berhari-hari menunya ikan asin.  Pelengkapnya hanyalah nasi dan kecap.  Hari Jumat biasanya yang agak beda sedikit, ditambah sayur biasanya.

Sementara pelajaran selain teori juga praktek tentu saja, di kandang ternak yang berjejer di bagian barat asrama.  Ternak waktu itu cukup lengkap: sapi perah dan potong, kambing, kuda, kalkun, ayam, puyuh.  Hanya babi yang tidak ada di kandang.

Kelas dua, sempat masuk asrama Simmental sebentar (itu juga nama sapi), sebelum akhirnya keluar dari lingkungan sekolah dan kos di seberang sekolah.  Sekolah juga diikuti begitu-gitu saja, sebisanya. Walau akhirnya pertamakali mendapatkan beasiswa dari yayasan Supersemar, besarnya 15 ribu per bulan, biasanya dirapal pencairannya tiap 6 bulan.  Beasiswa pertama rasanya untuk beli lemari plastik, sepatu dan baju kaos.  Sebagian untuk mentraktir kawan-kawan yang tidak mendapatkan beasiswa, tiap kelas memang hanya beberapa orang saja yang beruntung mendapatkan tambahan dana tersebut.

Untuk pelajaran diikuti sebisanya saja, masih campuran pelajaran umum dan pelajaran kejuruan yang terkait dengan peternakan.  Aku tak begitu tertarik untuk belajar dengan serius.  Di kelas malah banyak ngobrol karena aku tak berani lapor ke rumah kalau mataku sudah minus.  Sementara duduk kembali di barisan belakang.

Akibat kegemaranku ngobrol di tengah pelajaran sungguh fatal.  Dua orang temanku yang duduk di kanan kiriku tidak naik kelas. Sementara aku tidak kompak dan naik kelas tentu saja.

Kelas tiga kembali kos, kali ini di utara komplek sekolahan.  Ke sekolah dan kemana-mana sama saja dari kelas satu: jalan kaki.  Semester 5 alias awal kelas 3 dihabiskan dengan PPU, semacam praktek magang di peternak.  Dua bulan dihabiskan dengan membantu pekerjaan peternak di kandang itik dan ayam kampung. Sisa semester dihabiskan untuk mengerjakan laporan.

Semester akhir sekolah dihabiskan untuk mempelajari mata pelajaran jurusan, tak ada lagi pelajaran dasar seperti fisika, kimia dan sejenisnya.  Juga tak ada lagi praktek lapangan.  Kelas tiga juga tak punya kelas.  Jadi jikalau ada pelajaran teori, kami belajar di ruangan workshop peralatan pertanian.  Di antara traktor dan entah apalagi di ruangan yang lebih mirip gudang dekat lahan rumput.

Begitulah akhirnya kelas tiga berlalu begitu saja.  Sampai akhirnya memutuskan untuk meneruskan kuliah. Karena waktu itu sekolahku tidak masuk PMDK (sekarang SNMPTN) akhirnya yang ingin meneruskan kuliah ke universitas negeri harus melalui jalur UMPTN (sekarang SMBPTN).

Lagi-lagi ada syarat yang diikuti dari abah untuk bisa lanjut kuliah.

(bersambung)

--

*foto di atas nemu di fb, gedung bercat biru itu adalah kantor sekolah/ruangan guru


Komentar

Postingan Populer