tentang SPP (2)
.. ada beberapa hal yang terlintas saat sekolah di SPP, mungkin sedikit konyol tapi kejadian-kejadian tersebut kok ya masih saja teringat. Random aja mengingatnya, ya
1.
Aku entah kenapa merasa dimusuhi sama guru pelajaran agama. Aku pikir beliau sentimen tanpa aku tau sebabnya. Aku termasuk yang tidak suka kalau diawasi saat bekerja. Jadi ada kejadian saat guru tersebut menjadi pengawas lapangan saat kami membersihkan lingkungan sekolah, aku justru duduk santai saat beliau melintas dan kembali kerja bakti saat berlian ga ada.
Rupanya aku dianggap tidak bekerja dan malas, sampai-sampai berucap padaku "tak ada gunanya pintar tapi malas.." Nah. Artinya aku diakui pinter, padahal kan aslinya memang pemalas.
Sampai puncaknya di kelas tiga, nilai agamaku 6 di ijazah. Padahal aku ingat soal yang keluar saat ujian itu materi yang aku baca saat belajar. Masih sebal saja aku kalau ingat hal itu sampai sekarang haha
2.
Saat praktek beternak ayam di kelas satu secara berkelompok, urunan untuk modal bibit, pakan dan sewa kandang. Praktek tersebut berujung rugi, gara-gara menunda menjual ayam saat panen, berujung ternak kami kena wabah. Ayam kolaps, ngambek tak mau makan dan minum. Nyaris separo isi kandang mati. Akhirnya ayam yang masih bisa diselamatkan dijual dengan harga rendah dan per ekor bukan per kilogram. Dari situ aku kian sadar kalau ternak memang bukan passion-ku. Nasib.
3.
Sebenarnya ini tidak baik, tapi tidak apa dituliskan sebagai pengingat. Bahwa di sekolah ini aku akhirnya kenal dengan 'rasa' alkohol. Entah gara-gara hal apa yang bikin aku begitu penasaran, sehingga bikin oplosan sendiri di kamar saat kelas dua. Minuman ringan semacam fanta aku campur dengan alkohol 70%, trus ditenggak sendirian dan rasanya tentu saja tidak enak. Pait.
Lalu di kelas tiga, sebagian uang beasiswa pernah diminta teman untuk urunan beli minuman beralkohol, dan aku selaku pemodal juga dikasih jatah beberapa sloki di kos-kosan. Karena belum pernah minum minuman benaran tentu saja bikin sedikit puyeng. Hedeh kelakuan jaman jahiliah..
4.
Untuk makan sewaktu kos, biasanya setor bulanan ke warung langganan. Warung simbok, begitu kami menyebutnya. Ada suatu waktu aku bosa makan berlangganan semacam itu, malah memutuskan beli makan secara a la carte di warung. Ternyata aku tak bisa mengelola uang makan bulananku. Pernah kejadian seharian cuma makan kue saja sampai kelaparan.
Di waktu lain, sisa uangku hanya cukup untuk makan mie goreng saja. Karena dirasa kurang, aku diam-diam mengambil sisa nasi ibu kos di malam hari. Yha akhirnya menjadi maling. Sampai akhirnya kelakuanku ternyata ketahuan sama ibu kos dan malah disisakan nasi untuk aku makan. Duh, malunya masih terasa sampai sekarang 😓
5.
Peralatan standar alias starter kit bersekolah di SPP adalah: arit, keranjang rotan, cangkul dan sapu lidi. Itu kepakai untuk praktek di lapangan/kebun/kandang.
Pernah suatu ketika tools praktek itu nyaris kusalahgunakan. Itu tatkala aku merasa ditantang sama adik kelas yang rada songong. Malam-malam aku datangin saja di jalan depan asrama sambil bawa arit di pinggang. Bayanganku saat itu kalau macem-macem ya tinggal ditebas saja. Untungnya ga kejadian. Endingnya jauh dari seru.
6.
Aku akhirnya berani mengungkapkan rasa suka sama cewek. Pertama dengan kawan seangkatan, yang kedua sama adik kelas. Dua-duanya ditolak. Nasib orang penakut. Nembak malah pakai surat. Dibalasnya pun pakai surat pula.
Tapi entah kenapa saat penolakan kedua aku tak terima. Konyol sekali, sih. Konyol sekaligus aneh. Aku kok berani bilang langsung kalau aku tak terima isi balasan suratnya yang pada intinya menolak keinginan baikku haha
7.
Sejak kelas satu aku masih suka surat-suratan. Dulu jelas tak ada sosial media. Boro-boro, televisi saja tak ada. Radio malah cuma menyiarkan siaran dari luar negeri dari gelombang short wave (SW). Kelas satu di asrama aku habiskan dengan mengikuti siaran radio Australia di pagi hari. Kadang juga mendengarkan radio Jerman Deutche Welle, BBC sesekali VOA dan siaran apapun seketemunya di radio.
Jadinya sering menyurati radio-radio tersebut untuk meminta perangko bekas dan kadang mengikuti kuis berhadiah. Paling sering Radio Australia Siaran Indonesia. Pernah dikirimi hadiah novel Rambo dan kaos berukuran jumbo yang akhirnya aku kasihkan ke abah. dari Radio Jerman dan BBC pernah dikirimi buku pelajaran bahasa Jerman dan Inggris.
Selain itu ya surat-suratan sama cewek-cewek nemu di kolom sahabat pena dan kawan SMP-ku haha sungguh malu menceritakan hal ini sebenarnya. Topik cerita-ceritaku dahulu sepertinya tak ada yang menarik sepertinya, dan entah dimana dan apakabar mereka sekarang ya.
8.
Oh dulu sempat ikutan band sekolah dan megang keyboard. Ini sungguh demi melengkapi personal saja. Nyatanya aku tak bisa mainin tuts keyboard, tapi karena di tutsnya ada ditulisi huruf-huruf chordnya jadi modal nekat dan improvisasi saja. Walau pas manggung gayanya selangit. Temenku yang gitaris Fii malah bikin lagu sendiri untuk dibawakan di acara perpisahan kakak kelas tiga. Warbyasa.
9.
Seragam sekolah kami warnanya putih coklat, bukan putih abu-abu seperti anak SMA pada umumnya. Akibatnya mengerikan bagi pemalas sepertiku. Celana cokelat artinya bisa dipakai seminggu penuh karena hari Sabtu pas seragam pramuka pakai celana cokelat juga. Pernah itu celana panjang baru aku cuci setelah satu bulan dipakai. Tak sudi lagi membayangkan proses mencuci saat itu. Yaiks.
Satu lagi sekolahku punya seragam wearpack. Itu pakaian yang nyambung dari atas sampai bawah seperti pakaian para montir di bengkel. Biasa dipakai untuk praktek di kandang ternak. Warnanya ijo bladus. Bahannya ga bagus, tapi toh ternyata awet dipakai selama tiga tahun.
10.
Ujian akhir sekolah terdiri dari 3 macam: teori, identifikasi dan praktek. Ujian teori ya seperti ujian tertulis biasa. Ujian identifikasi itu lokasinya di bangunan workshop. Jenis ujiannya ya mengenali benda/gambar yang dipajang di meja praktek. Misal gambar sapi, jadi dijawab itu jenis apa. Kalau obat hewan juga jawabannya ditulis itu obat apa dan apa kandungannya. Ujian yang menurutku sulit, soalnya gambar sapi dari fotokopian jadi warna sapinya ga jelas blas.
Sedang ujian praktek yang aku ingat sih memerah susu kambing. Karena inisialku huruf R, dapat giliran menjelang akhir. Kasian kambing korban praktiknya sudah lemes betul.
11.
Di dekat gerbang sekolah ada wahana permainan biliar. Aku cukup sering nongkrong di situ, sebenarnya bukan karena biliarnya, toh aku tak bisa juga mainnya walau sudah belajar dan diajerin temanku berkali-kali sampai putus asa tapi tak pandai juga. Aku senang ikutan nongkrong di situ karena ada televisi yang tersambung ke antena parabola. Jadinya bisa ikut nimbrung nonton RCTI yang baru tayang menjelang kelas tiga. Lagian biliar di situ lebih ke sarana judi, pesertanya biasanya teman-temanku yang duitnya berlebih dan beberapa karyawan sekolahku.
12.
Tanah di wilayah sekitaran sekolah warnanya merah kekuningan dan sangat lengket, susah dibersihkannya kalau dibiarkan lama-lama. Makanya rasanya dulu rajin sekali membersihkan sendal setiap kali habis jalan atau praktek di kandang. Anehnya walau begitu sepatu putih sempat trend digunakan di kelas karena memang tak ada kewajiban bersepatu hitam. Merk Kasogi debes saat itu.
13.
Tampaknya aku dianggap kaya dan berkecukupan oleh beberapa kakak kelasku. Itu karena paling tidak tiga kali aku pernah setengah dipaksa membeli baju mereka yang sepertinya kehabisan uang. Yang pertama kemeja yang dibeli saat di asrama. Yang kedua kaos warna merah yang aku beli di kos, satunya lagi kemeja seragam sekolah berbahan katun kaku
---
*foto seragam putih cokelat di depan kandang kambing, yang paling kiri itu Galing, teman sebelah bangku yang aku sinyalir tidak naik kelas gara-gara keseringan aku ajak ngobrol pas pelajaran 😓

Komentar
Posting Komentar