tentang the 4th monkey.

1.

Waktu kecil, aku takut kalau ada peristiwa kecelakaan di dekat rumah yang kebetulan dekat dengan jalan raya.  Bukan karena kecelakaannya tapi karena efek dari kecelakaan tersebut.  

Entah kenapa saat ada peristiwa tersebut aku dimarahi abah, dianggap tak becus menjaga menjaga adik-adikku  Aku hanya bengong tak bisa membela diri, sambil mikir salahku apa.  Adikku sendiri aku tak tahu dia entah sedang main di mana.  Dan tak ada perintah untuk menjaganya juga.  Nasib sulung mungkin ya.

2.

Waktu SD, aku masih ingat tetangga atau siapapun aku lupa persisnya.  Berkata bahwa nilai-nilaiku cukup baik di buku rapor itu dikarenakan kedua orangtuaku profesinya adalah guru.

Entah bagaimana orang bisa membuat kesimpulan seperti itu.  Nyatanya di rumah aku sama sekali tak pernah minta bantuan orangtua saat belajar atau mengerjakan soal dari sekolah.  Akhirnya aku juga hanya bisa diam, tak berusaha membela diri juga.  Biar saja.

3.

Waktu SMP, saat kelas tiga aku diadukan bu guru karena dianggap tak memperhatikan ke depan kelas saat pelajaran berlangsung.  Bukannya menanyakan atau menegur baik-baik, ujug-ujug malah langsung mengadukannya sama abah yang kebetulan mengajar di sekolah itu juga.

Bahkan orang rumah pun tidak tahu karena aku tidak bercerita bahwa saat itu aku tak bisa melihat dengan jelas isi papan tulis.  Aku juga ga ngeh kalo mataku sudah minus saat itu.

4.

Waktu SLTA, aku dimarahi guru agama gara-gara dianggap malas saat kerja bakti.  Padahal aku hanya tak nyaman saat harus diawasi saat bekerja.  Toh aku tetap mengerjakan tugasku, tak perlu diawasi seperti tahanan dalam penjara.

Di waktu lain, aku dibilang pelit sama temanku.  Hanya gara-gara terlalu idealis tak mau memberikan sontekan saat ujian identifikasi.  Aku juga hanya bisa diam.  Habis mau gimana lagi.

5.

Saat kuliah S1.  Aku diejek dosen di depan adik angkatan karena tak mampu menjawab pertanyaan yang dia ajukan saat ujian praktek magang.  Aku mendengarnya saat kebetulan melintas di depannya.

Padahal dia sendiri yang aneh menanyakan hal di luar konteks.  Akupun tak berusaha protes atas nilai C, nilai magang terendah yang pernah diberikan saat kuliah.

6.

Saat bekerja, entah beberapa kali aku diadukan oleh entah siapa pada pimpinan. Atas hal yang tak penting dan ada beberapa justru tak aku lakukan.  Tujuannya juga aku tidak tahu persisnya.

Aku pun sementara hanya bisa diam. Walau mungkin diam-diam berniat membalas dendam.  Tapi hanya niat saja.  Aku toh nyatanya hanya diam tak berusaha menjelaskan apa-apa, selain kadang-kadang mengomel sana sini.

Mungkin benar kata guru agamaku itu bahwa aku pemalas.  Iya pak, aku malas mengklarifikasi hal-hal yang tidak aku lakukan.

Hanya saja ending dari semua rangkaian peristiwa itu biasanya membuat aku blank. Semakin malas untuk apapun.  Hanya bertanya kosong entah pada apa: aku kenapa, alih-alih pertanyaan kenapa aku?

Hari ini aku hanya diam saja.  Mencoba menetralisir isi kepala dengan membaca, dan sedikit menuliskan hal-hal yang aku ingat di kepala.  Itu saja.

Komentar

  1. Wah. Ya, ada saja hal menyakitkan selain hal indah. Saling melengkapi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer