tentang SMP 13

.. dulu namanya begitu, lengkapnya SMPN 13, jaraknya cuma sekitar 140 meter dari SD-ku, makanya tak ambil pusing langsung memutuskan untuk melanjutkan sekolah di situ saja. 

SMP ku lokasinya semakin menjauh dari jalan raya, itu artinya semakin masuk area persawahan.  Hal yang membuat sepanjang tiga tahun bersekolah tak pernah sekalipun bolos, niat saja tak punya.  Lagian ngapain bolos dan tak ada faedahnya kabur lewat persawahan, apalagi pas musim hujan, sekeliling area persawahan dipenuhi air tentu saja.

Bangunan sekolah menengah pertamaku termasuk modern, gedungnya terbuat dari semen, hal yang aku anggap mewah zaman itu.  Itu karena rata-rata bangunan di kampungku terbuat dari kayu.  Bentuk sekolah mirip huruf b kecil.  Paling ujung sendiri adalah kelasku, kelas 1A.  Kelas paling mewah, mepet sawah.

Kelas satu dijalani dengan begitu-gitu saja.  Aku sebangku dengan Haspan yang aku baru tau saat kelas tiga kalau dia itu ternyata sepupuku.  Kami berdua siswa paling kere di sekolah, bahkan untuk beli buku teks wajib untuk mata pelajaran geografi kami tak sanggup, akhirnya meminjam sama teman sebelah meja.  Mereka semena-mena kami minta tolong pinjemin buku sementara mereka "dipaksa" untuk membaca satu buku mereka untuk berdua saat pelajaran berlangsung.  Ribet memang.

Kejadian ajaib yang aku temukan adalah saat kawanku yang bernama Radwin, ternyata doyan mabok, dalam artian sebenarnya.  Bahkan pernah membawa satu botol gepeng untuk dicobain teman-teman lain di belakang kelas.

Sedang kejadian tak menyenangkan adalah saat satu temanku dibully guruku sendiri, hanya gara-gara badannya agak gemuk dan tinggalnya di samping toko pakan ayam.  Becandanya guruku keterlaluan mengatakan dia mungkin gemuk gara-gara makan bama, merk pakan ayam tersebut.  Aku lupa namanya, tapi akhirnya dia memutuskan keluar dari sekolah.

Saat kelas satu aku juga diajar oleh abah, saat itu mengajar apa aku lupa.  Yang aku ingat semua siswa segan (atau malah takut) dengan abah.  Saat giliran mata pelajaran beliau, kelas sudah sunyi senyap saat mendengar suara sepatu abah terdengar di koridor depan kelas.  Nyatanya saat abah mencoba bercanda depan kelas pun, tak ada yang tertawa. Sepi.

Abah juga tegas, pernah sekali waktu menyatakan padaku: "kalau di rumah status kita abah & anak, tapi di sekolah kita adalah guru & murid".  Dan hal itu berlaku selama tiga tahun penuh di sekolah.  Aku bahkan pernah dikasih angka tiga saat ulangan satu mata pelajaran oleh beliau karena memang tak bisa menjawab soal yang diberikan.

Sama dengan sewaktu SD, aku jarang sekali diberi uang jajan.  Tetapi saat istirahat pelajaran, seringkali aku dipanggil abah ke ruangan guru, duduk diam sambil menikmati jatah abah berupa sepotong kue dan segelas air teh.

/

Akhir kelas satu berlangsung aneh dan cukup sedih karena ada kawanku yang menangis karena tidak naik kelas.  Sungguh aku bingung kenapa sampai bisa begitu.  Naik kelas tak masuk dalam logikaku.  Soal menangis ini aku juga pernah menyaksikan ibu guru kesenian di kelasku menangis, karena putus asa saat murid-muridnya kesulitan menerima pelajaran dan menjawab soal-soal yang dia berikan. Aku lupa nama beliau, tapi memang teori musik yang dia berikan bagiku terlalu susah untuk dicerna.

Naik kelas 2. Kelas 2A tepatnya. Lokal kelas di barat, di samping kantin dan dekat perpustakaan.  Kelas yang begitu-gitu saja.  Walau samping kantin nyatanya masih saja nyaris tak pernah jajan di situ.  Seringkali waktu istirahat dihabiskan di perpustakaan saja.

Kawan yang aku paling ingat namanya Yusri kalau tidak salah, badannya tinggi kurus, sepertinya hobinya bergaul dengan orang-orang dewasa dan suka berjudi.  Orangnya ceria, entah kenapa bisa akrab dengannya.  Walau akhir hidupnya tak menyenangkan karena konon ditemukan meninggal di jalanan waktu itu.

Hal yang memorable bagiku adalah saat mata pelajaran olahraga, yang entah kenapa justru diserahkan pada guru yang mengajar IPS saat kelas 1. Jadinya satu tahun penuh kami libur terus saat pelajaran olahraga, walau hanya berkeliaran sekitaran sekolahan saja juga tak kemana-mana.

Satu hal lagi yang teringat saat dipanggil kepala sekolah karena menunggak uang SPP, dulu sekolah SMP masih berbayar. Ternyata dua bulan sudah tak dibayar.

Aku jelaskan saja pada kepala sekolah kalau SPP biasanya dibayar langsung sama abah.  Rupanya saking menjaga integritasnya, abah pun tak bilang kalau anaknya sekolah di situ juga.  Sampai saat aku menyebutkan nama abah, pak kepsek pun terkejut dan tertawa sembari menyuruhku kembali ke kelas.  Tak lupa beliau memamerkan tiga jam weker di mejanya yang baru selesai direparasi abah beberapa waktu sebelumnya.

/

Kelas tiga, tepatnya 3C,  lokasinya di dekat gerbang masuk sekolah, tak jauh dari kantor guru.  Kelas tiga ini juga aku baru pertama kali berani masuk ke dalam kantor guru. Bagiku selama ini kantor guru itu terlalu menakutkan untuk dimasuki. Selain ruangan abah pun tak masuk di situ, ruangan beliau terpisah di samping laboratorium biologi dan ruang UKS, ruang guru keterampilan kalau tak salah yang abah tempati itu.

Harus masuk ruangan guru karena mengambil buku teks pelajaran Bahasa Inggris, untuk dipelajari di kelas dan dikembalikan lagi ke ruang guru seusai pelajaran berakhir.

Jika saat kelas dua aku duduk di barisan paling belakang, saat kelas tiga aku duduk di baris paling depan dekat pintu kelas.  Duduk sebelahan dengan sepupu yang akhirnya baru aku tahu itu.  Sebenarnya aku pernah ingin duduk di barisan belakang lagi, tapi rupanya mataku sudah mulai minus, jadi aku tak bisa melihat dengan jelas tulisan di papan tulis.  Bahkan saat duduk di depan, ternyata tetap saja isi papan tulis terlihat kabur, sementara aku tak melaporkan kondisi mataku ke rumah.  Jadi aja aku lebih sering ngobrol saat pelajaran berlangsung karena tak bisa membaca tulisan di depan.

Belakangan kelakuanku yang sering tak memperhatikan pelajaran itu diam-diam ternyata dilaporkan wali kelas ke abah.

Kejadian yang tak terlupakan adalah saat siswa satu kelas dihukum oleh pak Sinaga.  Kami diminta menghantamkan kepala ke meja "biar encer otak kalian semua" begitu kurang lebih kata beliau. Walau akhirnya diperbolehkan untuk melapis meja dengan buku.  Takut juga rupanya beliau kalau kepala siswanya bocor berjamaah.

Lalu teringat saat seorang kawan ditusuk pakai pisau di depan kelas saat istirahat.  Gara-garanya cuma karena masalah taruhan tebak plat nomor.  Akhirnya dibawa ke rumah sakit pakai vespa sama salah seorang guru.  Belakangan diketahui pelaku penusukan itu ternyata sepupunya sendirinya. Hedeh!

Selama SMP aku lupa soal ranking. Tak begitu peduli juga.  Lagian soal nilai tak pernah dipermasalahkan oleh mama dan abah.  Hanya saja saat NEM (nilai ebtanas murni) diumumkan, rupanya abah tak sabar untuk memberitahu nilaiku yang termasuk cukup tinggi di sekolah.  Juga tak lupa beliau untuk "pamer" ke guru wali kelasku yang melaporkan aku yang sering tak perhatian ke depan kelas.  Diam-diam abah membelaku, bilang sama wali kelas : "anakku itu bukannya tak memperhatikan, dia mendengarkan.."

Begitulah, akhir SMP ditutup dengan aku yang berdiri di depan barisan saat apel pagi, bersama dua orang temanku.  Itu karena ternyata nilaiku termasuk tertinggi kedua di kelulusan sekolah. 

--

*foto di atas diambil dari google maps, yang kanan itu ruang guru, kiri itu (dulunya) kelas 3A, kelasku dua lokal dari situ..

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer