tentang Sekolah Dasar

Entah kenapa pagi tadi kepikiran untuk menulis tentang tempat aku belajar sedari SD sampai kuliah.  Mungkin karena sekalian mengingat-ingat memori yang masih ada di otakku saat ini.

Yang pertama tentu saja sekolah dasar. aku dulu langsung masuk ke sekolah dasar tanpa masuk TK, karena memang tak ada TK di kampungku saat itu.  Entah kenapa pula aku jadi masuk di usia yang belum genap 6 tahun aku lupa alasannya. 

SD Inpres Bina Bakti namanya. Sesuai namanya, SD Inpres (Sekolah Dasar Instruksi Presiden) adalah program pendidikan Orde Baru yang diluncurkan Presiden Soeharto melalui Inpres No. 10 Tahun 1973 untuk pemerataan pendidikan.  Dulunya cuma ada satu sekolah di desaku, yang konon dulu diinisiasi oleh kai (kakek).  Namanya SD Dirgahayu.

Sekarang nama kedua SD itu nomenklaturnya berubah mengikuti nama desa, yaitu SDN Sungai Lakum 1 & 2.

Sekolahku dulu waktu awal masuk hanya terdiri dari 3 kelas.  Bangunan kayu dengan jendela memanjang yang hanya dari kawat ram, kawat yang biasa untuk kandang ayam.  Jadi ada saat satu kelas disekat menjadi dua karena dibagi untuk kelas 4-5-6.  Sampai akhirnya ruangan kelas 4-6 dibangun saat aku kelas 4.  Tentu saja masih berbahan kayu dan berbentuk panggung.  Itu karena sekolah masuk area persawahan.

Dulu rasanya aku seringkali paling pertama sampai sekolah.  Sepertinya karena lokasinya juga dekat, cukup berjalan kaki lima menit dari rumah.  Bagiku menyenangkan saja paling gasik sampai sekolah, apalagi saat musim kemarau, dimana pagi-pagi kabut tebal masih turun waktu itu.  Rasanya menyegarkan sekali.

SD nilaiku rasanya biasa saja, malah sempat dapat angka 5 (dan ditulis pakai tinta merah) di rapor, hanya pernah dapat peringkat pertama sekali, saat kelulusan.  Itupun gara-gara saingannya sedikit sepertinya.  Kelas enam waktu itu penghuninya hanya 13 orang.

Momen yang masih lekat di kepalaku adalah kawan sebangku waktu kelas empat yang bernama Hadi,(sudah meninggal lama karena kecelakaan kata temanku yang lain).  Teringat padanya karena pernah berantem sampai saling melukai tangan pakai cubitan kuku sampai kulit terkelupas. Sadis.

Teman sebangku lainnya yang aku masih ingat adalah Sayuti.  Aku nilai pemberani karena dia yang paling dulu maju ke depan kelas saat ada program imunisasi, sementara kawan yang lainnya gemetar ketakutan karena mau disuntik, termasuk aku. Ada pula kawanku yang malah bawa tas ingin pulang dengan berurai air mata.  Entah kemana sekarang temanku satu itu, aku senang saja berkawan dengannya, walau telinganya sering mengeluarkan cairan kental yang beraroma tak enak.  Kawan tetaplah kawan.

Kawan yang aku ingat lagi waktu SD namanya Ibad. Badannya paling besar di kelas.  Pernah saat lagi marah dia mengangkat kursi kayu di kelas dan melemparkannya begitu saja.

Kejadian lain yang teringat adalah saat kawanku dilempar guru olahraga dengan kaleng susu berisi tanah dan tanaman hias, kejadiannya saat ada senam di halaman sekolah.  Begitu karena dianggap mengolok-olok saja. Kasian sih kena punggungnya.

Satu lagi teman yang sering ranking satu,  perempuan, aku lupa namanya.  Keluar dari sekolah karena menikah sebelum lulus.

Kenangan lain yang terlintas adalah masa aku dipanggil ke kantor guru, untuk disuruh menyanyi lagu Hymne Guru dan diberi bonus satu gelas air putih.  Berkali-kali begitu, tanpa tahu dalam rangka persiapan mengikuti acara apa.  Karena setelahnya usai begitu saja. Mungkin putus asa mendengar suaraku yang begitu-begitu saja haha

Dulu, aku paling senang membaca buku koleksi sekolah,  karena tak ada perpustakaan jadi disimpan di tak buku di kantor guru.  Rasanya seringkali hanya aku yang suka membaca buku gratisan di situ.

Begitulah, oh satu lagi. Aku jarang diberi jajan saat SD, jadinya pernah aku membantu cuci gelas memang jualan es, demi mengharap bonus satu gelas kecil es krim selepas "bertugas".

Lalu, tiba-tiba teringat kepala sekolahku yang memberi nilai 8 untuk gambar mobil kotak pakai crayon.  Sepertinya karena aku mewarnainya penuh satu halaman. 

Terakhir, aku masih ingat ibu guruku waktu kelas satu SD.  Sangat sabar sekali dan saat lebaran kami sekelas datang bertamu ke rumah beliau sambil membawa sedikit beras untuk dikasihkan ke beliau.

Itulah, masa-masa yang aku ingat circa 1981-1987.

---

*foto dari web kemendikdasmen.go.id 

 

Komentar

Postingan Populer