..pesta pasti berakhir
Mau tidak mau kembali ke hal yang seringkali aku hindari untuk aku pikirkan: kematian..
Dinihari ini, (mantan) tetanggaku wafat, kanker otak, entah stadium berapa. Beberapa hari koma di rumah sakit seberang komplet, setelah sebelumnya satu bulan lebih dirawat di rumah sakit yang lain.
Lupa persisnya berapa lama akhirnya penyakitnya diketahui oleh keluarganya. Sebelum akhirnya drop dan terus menurun kondisi fisik dan mentalnya.
Saat membesuk ke rumah sakit (yang tentu saja aku tak tega untuk menengok langsung ke dalam ruangan, aku hanya di luar pintu sambil mengobrol sama suami beliau), terlintas pikiran bagaimana nanti saat berada di akhir masa hidup di dunia?
Apakah dalam keadaan tenang tanpa kepikiran apapun? (we all hope so..)
Hidup sepanjang puluhan tahun (beliau wafat di usia 57 tahun), semua pasti akan berakhir pada kematian, tanpa kompromi. Manusia tak akan pernah bisa menunda waktu yang telah ditetapkan.
..to live and let die, kata Paul McCartney .. sepanjang apapun hidup pada akhirnya akan terasa sangat singkat begitu saja
the party's over katanya, hidup yang dirayakan suatu saat akan berakhir dan bubar lalu sepi..
kata bang Rhoma.. :
Dunia hanyalah persinggahan dari sebuah perjalanan panjang
Dunia bukanlah tujuan, namun hanya ladang tempat bertanam
Sebaik-baiknya nasihat adalah nasihat mengenai kematian. Saya ingat nasihat yang diajarkan guru spiritualku tempo hari, kalau sebagai manusia, sebagai manusia kita sebenarnya dianjurkan untuk melatih hati untuk ikhlas pada keadaan apapaun di hidup ini agar ketika waktunya nanti tiba, kita terlatih ikhlas dengan keadaan itu.
BalasHapusitulah, kata sederhana : ikhlas, yg aplikasinya tak sesederhana teorinya selalu
Hapus