Langsung ke konten utama

#37. Cerita Sepeda-sepeda Saya

Sepertinya, obsesi atau ketertarikannya saya untuk membelis epeda selagi bisa sekarang ini, tak terlepas dari masa kecil saya yang sama sekali tak punya sepeda, walau tentu sangat menginginkannya.  Mau gimana lagi, sekolah saya sangat dekat sehingga cukup berjalan kaki, selain sepertinya memang tak ada budget untuk membelinya.

Jadi dulu itu, sepeda adalah barang mewah bagi saya, yang jika ada kesempatan untuk bisa menaikinya maka tak akan pernah saya sia-siakan, tak peduli itu sepeda onthel atau sepeda BMX punya sepupu.  Nah soal sepeda BMX yang dulu hits ini, saya masih inget saat seorang sepupu memamerkan kuitansi pembelian sepeda barunya, merk Golden Eagle, berwarna kuning keemasan, harganya kalau tidak salah tujuhpuluh lima ribu rupiah.

Saya juga masih inget saat bisa meminjam sepeda sepupu saya di Kayutangi, Banjarmasin, bisa meminjamnya tanpa batas waktu, walau cuma keliling komplek rasanya sangat menyenangkan.

Sementara dulu, saya pertamakali belajar dengan menggunakan sepeda orang dewasa, onthel yang jika ingin memakainya, maka kaki menelusup di antara palang atas (top tube) dan palang bawah (down tube), berjinjit-jinjit mengayuhnya.  Tak terhitung tentu jatuh bangun berapa kali.

Suatu ketika, abah membawakan sepeda mini, cukup rusak, sepertinya bekas keluarga di Banjarmasin, rasanya kalo dikayuh jalannya pun doyong tak begitu rata di jalan.  Tapi saya melihatnya seperti melihat harta karun. Kondisi seadanya gitu, karena saya memang tak mengerti sepeda sama sekali, saya pakai sampai ke Banjarmaasin dengan senang.

Itu pun saya akhirnya lupa sepeda setengah error itu akhirnya gimana.  Semenjak itu saya tak pernah punya sepeda lagi.  Karena itu benda yang tidaklah begitu penting dan diprioritaskan untuk ada.  Selain, kembali saya cukup berjalan kaki ke sekolah saat SMP, Snakma, pun sampai S1.

Sampai akhirnya, saat saya sudah bekerja dan menikah, keinginan untuk memiliki sepeda tiba-tiba muncul.  Lalu ke toko sepeda di Banjarmasin dengan diantar mertua ke toko langganan beliau.  Terbelilah Polygon Montana di tahun 2002 kalau tidak salah.  Saking senangnya dengan sepeda baru pertama saya itu, saya gowes sampai ke Km 10.  Walau beberapa waktu kemudian keinginan bersepeda begitu-begitu saja, dan akhirnya dibeli seorang kawan, untuk bapaknya katanya.

Setelah sekian lama, saya baru memiliki sepeda lagi saat kuliah di Jogja, sekitar 2011, beli sepeda bekas, entah dimana saya lupa, Saya cat ulang, dan akhirnya hilang di depan kontrakan.  Lalu beli sepeda bekas lagi dan rusak dan juga lupa endingnya gimana. Yang ketiga, baru rada dirawat, itu setelah berkenalan dengan komunitas sepeda Federal Jogja (Fedjo), walau sepeda hitam yang saya beli di Karangkajen itu ternyata bukanlah federal seperti yang saya bayangkan.

Setelah itu baru beli Federal Metal Craft di bengkel di Jl. Gambiran.  Berlanjut beli Rivera Terrain di situ juga.  Kemudian nambah beli Bridgestone dan Federal Street Fox di mas Anto. Lalu beli Federal White Cat di Tunjungsari.

Sementara itu aja dulu deh. 

Komentar

  1. jadi inget. terakhir sepedaan adalahhhhh 4 tahun lalu -___-"

    sepeda saya yg terakhir, seringnya dipake kakak nanjak sampai ke Trawas. saya sendiri sudah ndak pernah sepedaan dan entah masih bisa sepedaan atau ndak.

    terlalu sering dibonceng dan kemana-mana selalu diantar membuat sebagian kecil kepercayaan diri bersepeda hilang #halahhh :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan masalah hilang kepercayaan diri sih, itu sdh keenakan diboncengin :))

      btw sepedamu itu artinya keren kalo sering diajak nanjak, dan ya tentu saja masih tetep bisa sepedaan lah, ga mungkin lupa :D

      Hapus
  2. Sepeda itu jaman sekarang memang sudah masuk komoditi mewah.
    Dulu sih sepeda udah keren banget kalo harganya di atas 1 juta, sekarang susah banget nemu sepeda bagus dengan harga 2 juta atau kurang hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaiya mas, kurs dollar beda jauh, kalo diitung2 tetep mahalan jaman dulu dg kurs dollar sesuai jamannya hehe tp skarang harga sepeda terutama lipat sudah cukup turun dibanding waktu masih2 tinggi beberapa bulan yg lalu kui

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu