Langsung ke konten utama

#35. Sekolah Peternakan Menengah Atas (bagian 1)

Pagi ini hujan.  Sungguh malas sekali melakukan sesuatu.  Tapi ada kerjaan setengah jam lagi, sambil menunggu, mending kembali mengulang-ulang ingatan kala sekolah lagi, ini selepas SMP saya yang tenang dan lurus-lurus saja. Walau kemarin saya lupa menceritakan beberapa detail, seperti saat ujian akhir mata pelajaran kesenian, dan idealisme abah saya sebagai pengajar di sana.  Nantilah mungkin.

Sekolah itu dulu disingkat dengan Snakma, kepanjangannya ya sekolah peternakan menengah atas.  Entah darimana abah mendapat informasi sekolah yang asing bagi saya itu. Dan entah kenapa abah memutuskan untuk meminta saya daftar ke sekolah itu, sampai sekarang masih menjadi misteri bagi saya. Tapi karena saya termasuk anak yang patuh, mendaftar juga saya ke sana.

Walau sebelumnya saya keukeuh ingin daftar di SMEA, itu sekolah menengah ekonomi atas, diijinkan sama abah, tapi tetap kudu ndaptar di sekolah ternak itu.

Saya pertamakali ke sekolah itu, naik angkutan mobil colt, bawa berkas, bersama sepupu saya.  Sesampai tempat yang dituju, sekitar  51 km dari rumah.  Saya cuma bisa bingung. Tak ada itu plang nama snakma, yang ada adalah SPP Negeri, jurusan peternakan.  Baiklah, yang penting ada bau-bau ternaknya.

Mendaftar ke situ, isi formulir, kasih fotokopi ijazah dan NEM, beres.  Dulu penentuan lulus atau tidaknya masuk sekolah adalah berdasarkan ranking NEM, nilai ebtanas murni.  Setelah pengumuman keluar, saya lulus di kedua sekolah tempat saya mendaftar, dan tentu saja lulus dua-duanya. Dan tentu saja juga, saya diminta masuk sekolah yang rada jauh dari rumah itu. Sekolah yang saya sama sekali belum tau apa dan bagaimananya.   

Tahun pertama di sekolah itu.  Siswa wajib masuk asrama, yang dikasih nama sapi dari seluruh dunia.  Ada tiga asrama asrama yang biasa terisi, dua untuk anak baru dan satu untuk siswa lama.  Kebetulan asrama saya namanya Limousin.  Itu sapi gede, sesuai sih dengan asrama saya yang cukup besar, menampung sekitar 26 orang kalau tidak salah.  Satu dikamar diisi oleh 2 atau orang, tergantung besar kamarnya.  Saya mungkin karena terlambat, mendapatkan kamar kosong yang tersisa, berkapasitas 4 orang.  Dalam kamar tiap orang masing-masing mendapatkan lemari yang sekaligus meja belajar, untuk tidur disediakan tempat tidur bertingkat.

Kawan sekamar saya yang paling saya ingat adalah Taufik, karena semenjak dari terminal, bareng dia yang sibuk dengan gitar bawaannya, belakangan saya tau kalau dia ternyata belum bisa main gitar juga, entah kenapa suka repot.  Sekarang saya nyesel kalau inget temen saya yang satu ini, yang walaupun suka telat tapi tak pernah absen sholat subuh.  Yang jalan pikirannya tak pernah bisa saya mengerti, yang akhirnya juga tidak naik kelas.  Entah dimana dan apakabarnya kawan saya ini.

Kawan sekamar lainnya bernama Hajri, biasa kami panggil Donald, saya lupa julukan itu gara-gara apa.  Terakhir kabarnya setelah sempat sakit, saya tidak begitu tahu lagi, rajin sekali kawan yang satu ini.  Kawan satunya lagi saya tak mau menyebut namanya, soalnya nanti pas kelas dua dia naksir sama adik kelas yang juga saya ingini haha 

Ohiya lingkungan sekolah saya itu luas, kami nyebutnya ya kampus yang menghadap arah timur.  Paling depan adalah lapangan bola yang berhadapan langsung dengan kantor guru dan bangunan sekolah.  Kalau masuk pintu gerbang, lapangan bola ada di sebelah kiri, sebelah kanannya berjejer rumah-rumah dinas karyawan yang guru.

Di belakang kantor guru adalah kelas yang cuma ada empat lokal.  Soalnya kelas tiga nantinya banyak belajar di lapangan dan bengkel. Lalu ada laboratorium anatomi dan perpustakaan.  Di belakang sekolah adalah masjid, sisi utara masjid adalah asrama siswa perempuan, sisi selatan adalah asrama laki-laki.

Lebih ke belakang bagian timur adalah deretan kandang ternak untuk praktek setelah melewati jejeran beberapa rumah karyawan.  Belakang kandang adalah guntung, itu lembah kecil tempat aliran air lewat.  Koleksi hewan ternak dulu sih cukup lengkap, ada sapi potong, sapi perah, kambing, ayam, puyuh, kalkun, sampai kuda pun punya.  Cuma babi yang ga ada.

Saya lupa persisnya, tapi bulan pertama setelah keterima adalah masa orientasi siswa dan penataran P4.  Orientasi yang gila-gilaan, sehabis subuh sudah disuguhi sirine, tergopoh-gopoh menyiapkan perlengkapan opspek, lalu lari ke masjid untuk subuh jamaah. Setelah kelar, neraka menanti.  Disuruh baris, lari, dan tak lupa dibarengin bentakan kakak kelas panitia opspek. Bayangin aja baru lulus SMP, berat badan saya aja baru 35kg (baik ini informasti tak penting).  Sedari subuh sudah diminta lari kesana kemari, ngerjain tugas ini itu.  Setelah pagi balik asrama, bersih-bersih untuk kemudian sarapan di ruang makan dan lalu masuk kelas untuk penataran P4.  Sore sampai malam kembali ospek.  Seminggu kalau tidak salah kurang kerjaan seperti itu.

Hari terakhir ospek, itu yang paling saya ingat, selain beberapa hari sebelumnya kala diminta ngebersihin kolong kandang kambing.  Jadi, di area kandang, ada satu kolam air, dari semen, yang di atasnya adalah kandang unggas, kalkun kalau tidak salah.  Dan itu kolam tak pernah diapa-apain selama satu tahun penuh.  Bayangkan aja itu kolam warna &aromanya ga keru-keruan, dan pagi-pagi selepas subuh di hari terakhir, kami diminta menguras kolam penuh faeces unggas sampe bersih sampe ke dasarnya.

Ospek usai, masuk ke rutinitas sekolah, yang cukup padat sedari pagi sampai sore hari.  Memang jadwal di kelas cuma sampai menjelang sore, tapi disambung dengan kegiatan lainnya. Yang saya inget, hari senin adalah jadwal nyangkul di kebun rumput, itu rumputnya untuk pakan sapi.  Selasa sama. Rabu kerjabakti bersihin areal kampus.  Kamis kegiatan di masjid malam harinya.  Jumat olahraga.

Jari rute harian pas kelas satu itu: asrama-ruang makan-kelas-kebun rumput-kandang.. gitu aja terus mbulet selama setahun hehe.  Dan mungkin dikarenakan saya males, selain bukan sekolah pilihan utama saya.  Hanya beberapa pelajaran yang bisa nyangkut, sementara banyak pelajaran dan praktek yang saya ge gitu serius mengikutinya.  Pelajaran yang saya sukai tentu saja bahasa Inggris, dan anatomi hewan-walau gurunya ajaib dan pelit ngasih nilai.  Sisanya ya gitu-gitu aja, sambil ngabisin waktu istirahat di perpustakaan. 

Sementara di asrama, nyaris tak ada hiburan. Televisi hitam putih satu-satunya jatah asrama diambil alih oleh kakak angkatan di asrama sebelah, asrama Simmental namanya, nama sapi juga tentu.  Selepas subuh adalah hiburan saya, mendengarkan radio Australia Siaran Indonesia via gelombang pendek alias shortwave (SW).  Sisanya ya paling-paling ramenya pas temen-temen sesekali main bola sama kelas lain, sambil taruhan, yang kalo menang taruhan, duitnya sebagian dibelikan temen-temen asrama untuk mabok bareng malam harinya.  Saya tentu saja tidak ikut-ikutan dan memilih tidur di kamar hehe

Jadi sementara begitu saja, ga seru kan?

Komentar

  1. Ulun dulu disuruh abah jua sekolah di situ, tapi namanya anak kota (tsah), lebih memilih se-SMA lawan sepupu pian...
    Kalau sekarang, sekolahan ini selalu mengingatkan pada almarhum murid ulun yang kecelakaan pas berangkat sekolah ke sana, 2017 lalu :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung kd jd sekolah ke situ, dan turut berdukacita sekali lg :(

      Hapus
  2. Menurutku perlu lebih banyak sekolah macam ini di bidang-bidang yang sangat penting untuk kebutuhan pangan Indonesia.
    Walaupun at the end anak-anak yang bersekolah di sini tidak menjadi pekerja dalam bidang peternakan atau pertanian, paling tidak dalam kepala mereka sudah tersemat bayangan ideal tentang membangun ketahanan pangan untuk negeri ini.
    *sungguh komen yang sangat serius

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya cuma bisa terpana dg komentar njenengan, mas. tp bener sih idealnya ya gitu

      Hapus
  3. keren betul sekolahnya. bener-bener turun ke lapangan. ilmu yang didapat nempel terus dah tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jikalau benar-benar menjiwai dan bersungguh-sungguh sih seharusnya demikian, masalahnya murid seperti saya ini euy.. nganu

      Hapus
  4. Catatan kenangan sekolah yang menyenangkan sekali dibaca dan sepertinya teringat detil mungkin karena istimewa sekali ya pengalamannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya euy, tiap tahapan sekolah pasti ada beberapa detil yang ga bakal terlupakan, lebih-lebih sekolah yang ini

      Hapus
  5. Saya baru tahu lho ada sekolah peternakan.
    Menurut saya bagus kalau ada sekolah yang langsung pada minat (ya meskipun minat orang tuanya juga), jadi anak sudah diarahkan sejak awal. Kalau saya dulu SMA kok malah agak bingung saat tamat mau mendaftar kuliah mau jurusan yang mana, karena semuanya bisa dikatakan general saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih, kadang arahan orangtua diperlukan, tapi gimanapun tetap dikembalikan ke minat dan bakat anaknya jg sih

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.