Langsung ke konten utama

#32 tentang Drakor

. gara-gara berkunjung ke blognya creameno, saya jadi ingin bercerita tentang drama Korea yang seringkali disingkat menjadi drakor, sebuah jargon sebenernya sih, untuk serial-serial dari negeri Korea (Selatan), yang sekarang mempunyai banyak penggemarnya di negeri ini.

Yang (sedikit) menyebalkan drakor adalah, saya tak pernah hapal nama pemain-pemainnya, juga nama-nama perannya di serial juga bikin mumet, asli hehe  Sekarang satu-satunya pemain yang saya hapal adalah Kim Ji Won, nama perannya di serial saya lupa, saya cuma seneng nyebutnya sebagai kapten, perannya di Descendant of the Sun, drakor yang pertama saya kenal dan saya tamatkan serta saya tonton satu per satu episode-nya.

Descendant of the Sun saya tonton karena baca review, bahwa itu serial dengan biaya pembuatan termahal saat itu, dan ternyata ceritanya cukup keren, selain kenyataan bahwa pemain lelaki utamanya mirip kucing, ga mati-mati seakan-akan punya 9 nyawa.

Saya memang jarang telaten nonton sebuah drakor, sejauh ini mungkin baru tiga serial yang bener-bener saya tonton semua episodenya secara keseluruhan, kebanyakan jikalau tidak menarik, saya loncat-loncat nontonnya: cuma beberapa eps awal lalu langsung ke 2 eps terakhir hehe.  Lumayan juga soalnya nonton drakor yang rata-rata terdiri dari 16 episode, dan rata-rata 1 jam lebih durasi per episodenya.

Serial pertama yang saya tonton dengan khusuk ya Descendant of the Sun di atas itu.  Ide ceritanya dan lokasi sutingnya menarik dan sering ada sudut-sudut yang keren, seperti pantai yang ada kapal rusaknya itu.

Serial yang kedua yang saya tonton per episodenya adalah It's Okay to Not Be Okayya cukup senang dengan jalan ceritanya, selain tentu saja seneng dengan tokoh utama perempuannya yang ajaib, emosian, angkuh, labil tapi bikin penasaran.  Tapi tentu saja, saya dengan mudah melupakan nama pemain dan perannya di serial itu.

Serial ketiga yang saya ikutin dengan lengkap adalah Start Up, cerita jungkir balik anak muda dalam membangun bisnis itu keren alurnya, dan soundtrack utamanya bagus.  Nah saya kok ya inget nama pemain utamanya Suzy Bae ya kalo ga salah. Tapi tokoh yang saya senangi di sini temen ceweknya di tim yang judes dan kaya, yang akhirnya pacaran diam-diam saya temen satunya lagi, saya lupa lagi namanya haha

Oh, satu lagi serial yang terakhir saya tonton lengkap, karena jalan ceritanya juga unik.  Itu Mr Queen, walau tidak seluruh jalan ceritanya sesuai bayangan saya. Saya pikir mereka bertukar nyawa gitu, eh ternyata tidak, cuma fokus ke kehidupan ratu di masa kerajaan hehe.

Pernah juga saya nonton serial yang menyenangkan, tapi cuma sampai season 2, season 3 sudah tidak menarik lagi entah kenapa.  Tapi tiap nonton sering saya loncat-loncatin, maju ke menit dimana pemainnnya menikmati makanan. Itu serial Let's Eat, yang seringkali bikin laper tiap kali nonton haha

Dan sekarang, saya cuma ngikutin dua serial yang on going.  Sisyphus the Myth yang ditonton kadang males-malesan tapi masih cukup bikin penasaran, jadi sering saya percepat per 10 detik, loncat-loncat nontonnya.  Satunya lagi Vincenzo, yang menurut saya banyak lucunya, ini sih menarik karena plot utamanya tentang kejahatan yang dibalas dengan kejahatan. Asik aja ngeliat para penjahat beradu taktik, mudah-mudahan terus gitu sampai tamat haha plot twist di tiap episodenya cukup keren soalnya.

Jadi begitulah.  Untungnya saya tidak segitunya penasaran nunggu semua episode drakor yang saya ikutin, sebisanya aja, dan tentu saja saya nontonnya tidak sebaper anak muda jaman sekarang, yang mungkin sampe bisa ngefans dan hapal nama-nama pemainnya.  Saya penikmat biasa aja, yang bahkan sampai sekarang tidak mengerti dimana serunya serial Reply 1988 dan Hospital Playlist yang direkomendasikan beberapa teman.  Menurut saya biasa aja dan tidak menarik untuk ditonton haha.

Komentar

  1. Aduh Om Warm.. Reply 1988 ama Hospitals Playlist kan termasuk yang favorit dan bagus banget. Kekuatannya justru di dramanya yang ga aneh-aneh, mengalir sehari-hari, sehingga terasa dekat dengan kehidupan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah anehnya, saya belum klik dengan dua serial itu, saya sudah coba tonton beberapa episode, dan masih belum tertarik untuk melanjutkannya gimana dong :D apa mungkin karena apa katamu, terasa dekat dengan kehidupan, tapi bukan kehidupan kita, bukan dekat dengan kehidupan saya. jangan-jangan begitu sih ya

      Hapus
  2. Jung Saha namanya, pemerannya Stephanie Lee, kalo matanya agak belok kayaknya mirip Raline Shah wkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya, mb Saha. Owalah njenengan malah lebih hapal. Keren mas haha

      Hapus
  3. Aku biasanya kalo keabisan stok nonton ada temen yg hapal ini ceritanya apa ceritanya yg gmn. Nanya dulu, baru memutuskan nonton apa nggak. Ngga semua2 bisa aku ikutin ceritanya juga. Tadinya ga mau nonton yg on going, tapi justru yg gitu bikin bisa ngatur waktu ketimbang yg uda selese serinya lalu baru ditonton maraton.

    Mr Queen bener2 mencuri hatiku :)). Vincenzo yaa karena yg main dulu aku suka banget pas dia ikut RunningMan. When The Camellia Blooms, cerita tentang ibu. Itaewon Class, cerita tentang bikin warung. Sama ada cerita yg tentang anak magang di pabrik ramen, aku lupa apa judulnya. Baguss itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah lumayan jg referensimu. Itaewon Class awalnya aku suka, ke tengahnya males, akhirnya langsung loncat ke dua eps akhir. Biasanya gitu bagi drakor yang sepertinya menarik tp aku males ngikutin satu persatu eps-nya

      Hapus
  4. Wah pembahasan yang menarik mas RD 😆 Begini serunya blogging, bisa dapat inspirasi tulisan satu sama lain, maklum saya sering pula mendapatkan inspirasi dari tulisan manteman 😍

    Bicara mengenai drama, saya sebetulnya jarang lihat drama, lebih suka variety show, tapi meski jarang, bisa dibilang jumlahnya lebih banyak dari mas RD hahaha *pamer yang nggak berfaedah* ðŸĪŠ Dan memang drama itu based on selera sih ya, banyak yang bilang A bagus, belum tentu untuk kita bagus, and vice versa, yang bilang jelek pun bisa jadi untuk kita nggak jelek 😂

    Saya pun menonton Vincenzo itu karena rekomendasi teman blogger hihihi, baru sampai episode 2 😆 Semoga saya nggak berhenti di tengah jalan karena bosan. Ohya saya juga lihat Start Up, sampai saya tulis di blog sebab saya suka karakter NDS hahahahaha. Sekian info nggak penting dari saya ðŸĪĢ

    BalasHapus
    Balasan
    1. VIncenzo kocak sih hehe dan kalo start up, menarik liat drama dan semangat mereka membangun hidup, juga latar belakang masa lalu dan IT yang menarik. Seakan-akan mimpi bagi saya sih hehe

      Kalo variety show Korea saya justri ga ngikutin, pernah sekilas nonton running man dan bingung serunya dimana haha kalo acara semacam ginian saya seringnya malah nonton di channel waku waku japan dan History channel

      Hapus
  5. saya mau tanya, renungannya apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. renungannya kenapa itu drakor dua judul yg kata orang seru justru tidak menarik bagi saya. dalem lho itu

      Hapus
  6. sepakat. reply series juga saya ndak pernah bisa ngikutin ^^" padahal hampir semua orang bilang bagus ^^"

    lets eat paling seru season 2. saya suka banget itu sama mbaknya. klo maem nyenengin banget.

    klo sekarang lagi ngikutin mouse om warm. coba deh diintip :D drama ttg psycho2 gtu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lets eat itu asiknya pas dia makan sambil bilangin apa2 aja bahannya dan prosesnya gimana, sama gesturnya kala menikmatin makanan, mana pake dizoom pula :))

      kalo Mouse saya sdh nonton eps 1 dan 2 dan memutuskan mungkin ga melanjutkannya lg, plotnya bikin mouse dan sadisnya terlalu sangar euy

      Hapus
  7. Balasan
    1. saya nonton mouse sebentar aja, trus ga nerusin lg, mumet

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.