Langsung ke konten utama

#8 : cangkem.

. sebenernya, beberapa kalimat-kalimat yang saya susun pake aplikasi canva beberapa hari terakhir kemarin itu lebih untuk mengingatkan diri saya sendiri, yang ga bisa jaga mulut, menyemburkan hal-hal negatif mulu.  keinginan awal tahun untuk ngucapin hal-hal positif dan sisi baik dari segala sesuatu seringkali buyar.

melelahkan sebenarnya.

di sisi lain, daya nulis kok ya semakin menurun, boro-boro nulis secara analitis, secara terstruktur aja susahnya minta ampun.  Iya kalo keinginan sih ada, tapi otakku jadi stagnan, apa jangan-jangan keadaan sekeliling, maksudnya aura kantor yang terasa semakin megatif itu menguras pikiran juga ya, padahal ga ngaoa-ngapain juga. tapi yang namanya bikin malesin ya gimana.

jadi, sekarang sih emang enakan di rumah.

wesh, tuh kan makin ngaco aja tulisan ini, mending ngelaporin kondisi banjir di provinsi saya yang sebenernya semingguan ini hujan sudah tidak seintens minggu kemarin, tapi tetap saja beberapa tempat masih ada genangan air yang masih cukup tinggi, surut mungkin tapi dikit.  jadi ya rumah-rumah yang kemasukan air masih banyak, pengungsi masih tetap ada, untungnya posko-posko dan bantuan juga masih tetap ada, masalah mungkin cuma di kordinasi tapi salut sama relawan-relawan yang tanpa pamrih turun langsung membagikan bantuan ke tangan penduduk. lebih efektif.

jujur kordinasi pemerintah daerah payah sekali, jauh kalah sigap dengan relawan-relawan yang entah darimana berdatangan, dengan dana sendiri, yang dikumpulin dari orang-orang baik di seluruh penjuru negeri ini.  yang bikin bingung ya saat-saat evakuasi, lha mobil-mobil gede punya pemda mana gitu, kenapa pemimpin daerah ga merintahin untuk nurunin mobil-mobil dengan ban gede untuk turun ngebantu evakuasi masyarakat yang rumahnya tenggelam, ga nurunin dana atau paling tidak merintahin itu perusahaan-perusahaan untuk urunan ngebantu- paling tidak perusahaan-perusahaan tambang yang punya mobil-mobil gede untuk menurunkan armadanya. tuh kan saya jadi ngomel lagi.

habisnya geregetan je, jadi autopilot, untung pilot-pilotnya juga handal, ga kenal waktu, mobil damkar, mobil-mobil entah siapa turun, posko-posko bermunculan sporadis otomatis, donasi datang, bantuan mengalir, lalu pemerintah daerah ini fungsinya apa, rapat aja barusan dilakukan seminggu setelah kejadian, dan basi.  masih ada rapat-rapat ga penting, langsung action gitu ga bisa kah?

dan saya cuma bisa ngomel aja juga hehe ya gimana, pimpinan juga ga bisa dikritik, anti kritik mungkin, maunya cuma laporan yang isinya bagus-bagus saja, dikritik dikit manyun.

sebenernya gatel sekali tapi saya juga omong doang, action kurang. 

sudahlah, sekarang cuma berdoa smoga ga ada lagi banjir susulan, yang nyusahin orang banyak ini euy, seumur-umur baru kali ini liat air masuk rumah penduduk.  airnya juga bingung mau lari kemana lagi kalo di dataran rendah.

tapi gimana pun, sekali lagi musibah kali ini membuktikan bahwa people power itu nyata adanya, kalo ada masalah semua otomatis saling bantu, dan orang-orang baik masih banyak, kok. terimakasih dan salut untuk mereka.





Komentar

  1. Tetapi memang makin ke sini skill pemerintah kita dalam bekerja di lapangan makin turun.
    Terlihat sekali dengan penanganan pandemi ini, kek hilang akal apa yang harus dilakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga tegas yg jelas mas, ga tau prioritas, banyak kepentingan, mumet wes

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu